BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.2 Landasan Teori
2.2.2 Dimensi Risiko
2.2.2.1 Pengertian Risiko
Hanggraeni (2014) mendefinisikan risiko sebagai kemungkinan dari suatu kejadian yang tidak diinginkan pada suatu waktu, secara konsep simple namun sulit untuk diterapkan. Besarnya risiko diukur dalam dimensi umum dari risiko dengan menerjemahkan dampak ke dalam unit agar semua event dapat dikuantifikasi.
Menurut PBI No.11/25/PBI/2009, risiko adalah potensi kerugian akibat terjadinya suatu peristiwa (events) tertentu dan manajemen risiko adalah serangkaian metodologi dan prosedur yang digunakan untuk mengidentifikasi, mengukur, memantau, dan mengendalikan risiko yang timbul dari seluruh kegiatan usaha bank.
Secara umum Vaughan dalam Darmawi (2010) menjelaskan bahwa risiko adalah peluang timbulnya kerugian (probability of loss), kesempatan timbulnya kerugian (chance of loss) atau sesuatu yang tidak pasti (uncertainty), penyimpangan dari hasil yang diharapkan (the dispersion of actual from expected
result). Sebagian besar risiko yang dihadapi oleh perusahaan harus dikelola
perusahaan yang bersangkutan.
Berdasarkan definisi-definisi risiko di atas dapat diambil kesimpulan bahwa risiko adalah potensi terjadinya suatu kejadian yang tidak diinginkan dan tidak terduga akibat adanya ketidakpastian kondisi di masa depan, yang mana dapat menyebabkan kerugian yang harus ditanggung perusahaan.
2.2.2.2 Sumber Risiko
Sumber risiko dapat berasal dari berbagai faktor. Sumber risiko dapat berasal dari proyek itu sendiri (Hanggraeni, 2014). Ada beberapa faktor eksternal yang menjadi risiko perusahaan, antara lain dari perubahan ekonomi,
perkembangan pasar finansial, dan bahaya yang timbul dari politik, hukum, teknologi, dan lingkungan demografi. Selain faktor eksternal, juga terdapat faktor internal antara lain kesalahan manusia, fraud, kegagalan sistem, gangguan produksi, dan risiko lainnya. Risiko kredit juga dapat diakibatkan oleh terkonsentrasinya penyediaan dana pada debitur, wilayah geografis, produk, jenis pembiayaan, atau lapangan usaha tertentu.
Sistem yang kuat dan dapat diandalkan sangat dibutuhkan untuk mengontrol seluruh aspek kehidupan dari seluruh tipe organisasi. Berdasarkan PBI No. 13/1/PBI/2011 bank melakukan penilaian terhadap risiko inheren dan kualitas penerapan manajemen risiko dalam kegiatan operasional terhadap delapan risiko, yakni risiko kredit, risiko pasar, risiko likuiditas, risiko operasional, risiko hukum, risiko stratejik, risiko kepatuhan, dan risiko reputasi.
2.2.2.2 Manajemen Risiko Kredit
Risiko kredit merupakan risiko yang dihadapi bank karena menyalurkan dananya dalam bentuk pinjaman kepada nasabah (Attar, dkk., 2014). Hal ini disebabkan oleh berbagai hal, nasabah tidak mampu memenuhi kewajibannya seperti pembayaran pokok dan bunga pinjaman, sehingga bank mengalami kerugian karena tetap mengeluarkan beban bunga untuk simpanan nasabah. Risiko kredit di sini juga termasuk risiko penurunan kredit yang diberikan oleh penerbitobligasi ataupun saham.
Pada dasarnya kredit yang dikeluarkan oleh bank bertujuan untuk membantu nasabah dalam membiayai usaha yang dijalankannya, namun tidak menutup kemungkinan dalam penyalurannya terjadi masalah atau kredit macet, baik itu masalah yang disengaja maupun yang tidak disengaja.
Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan kegagalan kredit sehingga perlu dilakukan analisis sebelum dana disalurkan kepada calon debitur antara lain:
1. Faktor Internal
1. Adanya self dealing atau tindak kecurangan dari aparat pengelola kredit.
2. Bank terlalu mengfokuskan terhadap jaminan. 3. Bank terlalu mengejar target.
4. Bank terlambat mencairkan pinjaman.
5. Kekurangan pengetahuan teknis pada pengelolaan kredit.
6. Pengelola kredit tidak tegas dan lemah melakukan monitoring penggunaan kredit.
7. Kebijakan kredit yang tidak tepat. 2. Faktor Eksternal
1) Kebijakan pemerintah (sosial, politik, ekonomi) yang berpengaruh terhadap operasional perusahaan.
2) Terjadinya bencana alam, kerusuhan yang merusak usaha debitor. 3) Itikad buruk dari debitur.
4) Adanya penyalahgunaan fasilitas kredit. 5) Pemalsuan usaha.
6) Menggunakan anggunan milik pihak ketiga. 7) Debitur melarikan diri.
8) Jaminan yang tidak marketable, sehingga sulit melakukan likuidasi pada saat kredit macet.
Menurut Peraturan Bank Indonesia Nomor 13/1/PBI/2011 tentang Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum, semakin tinggi nilai NPL (di atas 5%)
maka bank tersebut tidak sehat. Apabila nilai NPL tinggi maka akan menyebabkan penurunan laba yang akan diterima oleh bank. NPL mencerminkan risiko kredit, semakin kecil NPL semakin kecil pula risiko kredit atau kredit macet yang ditanggung oleh pihak bank. Rasio ini juga menggambarkan kemampuan bank dalam memenuhi likuiditasnya dengan jalan mengadakan pergeseran/penarikan kreditnya yang outstanding untuk memenuhi permintaan kredit lainnya. Apabila tingkat NPL tinggi maka akan berpengaruh pada tingkat kesehatan bank, yang akan menyebabkan penurunan tingkat kesehatan bank.
2.2.2.3 Manajemen Risiko Operasional
Risiko operasional adalah risiko yang antara lain disebabkan ketidakcukupan dan atau tidak berfungsinya proses internal, kesalahan manusia, kegagalan sistem, atau adanya problem eksternal yang mempengaruhi operasional bank (Setiawaty, 2016). Untuk meminimalkan risiko yang terjadi, maka perbankan wajib menerapkan manajemen risiko operasional agar risiko tersebut bisa dideteksi, dikendalikan dan diatasi kemunculannya. Menurut SEBI No.5/21/DPNP/2003, proses penerapan manajemen risiko operasional adalah melakukan identifikasi terhadap faktor penyebab timbulnya risiko operasional yang melekat pada seluruh aktivitas fungsional, produk, proses dan sistem informasi yang berdampak negatif terhadap pencapaian sasaran organisasi bank.
Biaya operasional adalah semua biaya yang berhubungan langsung dengan kegiatan usaha bank yang dirinci sebagai berikut (Dendawijaya, 2005):
1. Biaya bunga, adalah semua biaya atas dana-dana yang berasal dari Bank Indonesia, bank-bank lain, dan pihak ketiga bukan bank.
2. Biaya valuta asing lainnya, adalah semua biaya yang dikeluarkan bank untuk berbagai transaksi devisa.
3. Biaya tenaga kerja, adalah seluruh biaya yang dikeluarkan bank untuk membiayai pegawainya.
4. Penyusutan, adalah seluruh biaya yang dikeluarkan untuk penyusutan benda-benda tetap dan inventaris.
5. Biaya lainnya, seperti premi asuransi/jaminan kredit, sewa gedung kantor/ rumah dinas dan alat-alat lain, biaya pemeliharaan.
Pendapatan operasional terdiri atas semua pendapatan yang merupakan hasil langsung dari kegiatan usaha bank yang benar-benar diterima. Pendapatan bunga terdiri dari (Dendawijaya, 2005):
1. Hasil bunga, adalah pendapatan bunga, baik dari pinjaman yang diberikan maupun dari penanaman yang dilakukan bank seperti giro, simpanan berjangka, obligasi, dan surat pengakuan utang lainnya.
2. Provisi dan komisi, adalah pendapatan yang diterima oleh bank dari berbagai kegiatan yang dilakukan bank, seperti provisi kredit, komisi pembelian, dan lain-lain.
3. Pendapatan valuta asing lainnya, adalah keuntungan yang diperoleh bank dari berbagai transaksi devisa.
4. Pendapatan lainnya, adalah hasil langsung dari kegiatan operasional lainnya yang tidak termasuk dalam rekening pendapatan diatas, misalnya dividen yang diterima dari saham yang dimiliki.
Rasio yang digunakan untuk mengukur risiko operasional adalah BOPO. BOPO sering disebut sebagai rasio efisiensi, yaitu rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen bank dalam mengendalikan biaya
operasional terhadap pendapatan operasionalnya. Salah satu yang mempengaruhi profitabilitas adalah efisien dalam menekan biaya operasi dan non operasi. Bank yang efisien dalam menekan biaya operasionalnya dapat mengurangi kerugian sehingga pendapatan dan laba meningkat.
Berdasarkan SEBI No.6/23/2004, nilai maksimal BOPO adalah sebesar 94%. Jika suatu bank memiliki nilai BOPO lebih dari ketentuan yang telah ditentukan maka bank tersebut masuk dalam kategori tidak efisien, karena semakin tinggi BOPO berarti peningkatan biaya operasionalnya semakin besar daripada peningkatan pendapatan operasional sehingga laba yang diperoleh turun.