• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.5 Pembahasan Hasil Penelitian

5.5.2 Pengaruh Tata Kelola Perusahaan terhadap Risiko Kredit

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tata kelola perusahaan memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap risiko kredit, di mana hal ini sesuai dengan hipotesis penelitian yang menyatakan bahwa semakin tinggi tingkat tata kelola perusahaan, maka semakin rendah risiko kredit. Oleh karena itu, hasil

penelitian ini mengindikasikan bahwa semakin baik tata kelola perusahaan, maka semakin rendah kredit bermasalah yang ditanggung perbankan.

Menurut Daniri (2005) menjelaskan bahwa elemen-elemen penting yang perlu secara sistematik dikembangkan di perusahaan agar implementasi tata kelola berjalan secara efektif adalah sistem pengendalian internal, sistem audit, manajemen risiko, dan pelaporan perusahaan. Salah satu sumber pendapatan perbankan adalah bunga yang diterima dari kredit yang diberikan kepada nasabah. Semakin besar jumlah kredit yang disalurkan perbankan, maka semakin besar pula potensi risiko gagal bayar. Selain tidak diperolehnya pendapatan bunga, kredit bermasalah menyebabkan perbankan harus mengeluarkan tambahan untuk menangani hal tersebut, bahkan pokok pinjaman yang tidak kembali membuat bank harus mengeluarkan biaya cadangan kerugian untuk penghapusan kredit macet karena debitur gagal bayar. Kredit bermasalah sendiri seringkali muncul baik dari internal maupun eksternal perusahaan, seperti penyelewengan wewenang yang dilakukan karyawan ataupun penipuan yang dilakukan oleh nasabah palsu.

Hasil penelitian ini memberikan bukti bahwa bank dengan pelaksanaan tata kelola perusahaan yang baik dapat meminimalkan risiko kredit yang ada pada bank. Penilaian terkait risiko menjadi salah satu poin dalam pengungkapan informasi perbankan kepada publik, sehingga tingginya nilai tata kelola perusahaan menjelaskan bahwa pengelolaan risiko kredit telah sesuai dengan standar operasional perusahaan yang ditetapkan sehingga kemungkinan timbul kredit macet kecil. Selain itu, komitmen yang tinggi dari top management dan seluruh jajaran perusahaan terkait implementasi tata kelola perusahaan menjadikan perusahaan lebih ketat dalam penyaluran kredit sehingga tingkat kredit bermasalah diharapkan kecil.

Meningkatnya jumlah kredit bermasalah tentu akan berdampak pada operasional perbankan jangka panjang karena berarti bank tidak dapat menjalankan perusahaan sebagaimana mestinya karena macetnya perputaran uang dalam bank tersebut, akibatnya likuiditas bank tersebut pun akan menurun. Selanjutnya, kemampuan bank untuk melunasi liabilitas jangka pendeknya akan diragukan. Pinjaman yang tidak berjalan lancar dapat mengakibatkan manajer bank menambah biaya operasional untuk menghadapi risiko dari adanya pinjaman tidak lancar tersebut.

Penerapan tata kelola perusahaan dalam penelitian ini memberikan nilai positif bagi perusahaan untuk dapat membantu perusahaan perbankan mengontrol pemberian kredit kepada para debitur, hal ini terlihat dari hasil sampel yang digunakan sebagian besar memiliki nilai NPL yang berada di bawah batas ketentuan yang ditetapkan oleh BI, yaitu NPL gross sebesar 5%.

Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa setiap perbankan memiliki standar pengelolaan risiko kredit sehingga terdapat perbedaan juga dalam pengungkapan informasinya. Ada banyak faktor yang menyebabkan munculnya perbedaan dalam pengelolaan risiko kredit, seperti segmen nasabah, suku bunga, nilai tukar rupiah, inflasi, dan lain-lain. Hal ini lah yang melatarbelakangi pengungkapan risiko kredit dalam tata kelola perusahaan. keberhasilan dalam pengungkapan informasi dalam tata kelola perusahaan menjadikan perbankan sebagai perusahaan transparan. Perusahaan yang transparan merupakan indikator sebagai perusahaan berkelanjutan yang memberikan keamanan kepada nasabahnya.

Secara umum, tingkat risiko kredit pada perbankan yang terdaftar di BEI tahun 2011-2015 sudah cukup baik dengan masuk kategori sehat berdasarkan SE BI 6/23/DPNP, yaitu di atas 2% dan di bawah 5%. Hal ini didukung dengan kenaikan nilai rata-rata tata kelola perusahaan (CGI) dari tahun 2011-2014. Tata

kelola perusahaan yang baik menjadikan perbankan mampu menerapkan kebijakan terkait kredit dengan baik pula sehingga penyaluran kredit yang aman menyebabkan risiko kredit yang muncul rendah. Pada tabel 5.1 statistik deskriptif menerangkan bahwa risiko kredit relative rendah dan stabil, yaitu berkisar pada 2,47%, 2,45%, 2,34%, 2,74%, dan 2,67% pada tahun 2011-2015. Kenaikan risiko kredit disebabkan karena kondisi ekonomi yang cenderung melambat serta nilai tukar yang terus melemah sehingga menyebabkan perlambatan pertumbuhan ekonomi. Selain itu, penurunan suku bunga kredit yang lamban bisa menjadi salah satu komponen yang menyebabkan naiknya risiko kredit.

Hasil dalam penelitian ini, tentang adanya pengaruh tata kelola perusahaan terhadap risiko kredit, sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Permatasari dan Novitasary (2014) menunjukkan bahwa tata kelola perusahaan berpengaruh terhadap manajemen risiko. Temuan tersebut didukung oleh Roziq dan Danurwenda (2012) yang menyatakan bahwa tata kelola perusahaan secara signifikan berpengaruh terhadap risiko bisnis. Selain itu, Barbosa, et al. (2014) menjelaskan bahwa bank cenderung untuk memberikan kredit kepada perusahaan-perusahaan yang mengadopsi praktek tata kelola perusahaan dengan baik, sedangkan penerapan praktik tata kelola perusahaan dianggap sangat relevan dalam proses penilaian risiko kredit.

5.5.3 Pengaruh Tata Kelola Perusahaan terhadap Risiko Operasional

Jensen dan Meckling (1976) menyatakan perusahaan dengan tata kelola yang baik akan memiliki kinerja operasional yang lebih efisien. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tata kelola perusahaan memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap risiko operasional, di mana hal ini sesuai dengan hipotesis penelitian yang menyatakan bahwa semakin tinggi tingkat tata kelola perusahaan, maka semakin rendah risiko operasional. Oleh sebab itu, semakin

baik pelaksanaan tata kelola perusahaan, maka perusahaan dapat lebih efisien dalam mengelola biaya operasionalnya.

Idroes dan Sugiarto (2006) berpendapat bahwa peningkatan kualitas manajemen bank diperlukan untuk meningkatkan good corporate governance dari manajemen bank itu sendiri sehingga praktikpraktik perbankan yang tidak sehat (improper behavior) dapat diminimalisir atau dihilangkan. Parameter kinerja perbankan salah satunya dapat dilihat dari sisi efisiensinya. Efisiensi dalam dunia perbankan memang menjadi salah satu parameter kinerja yang cukup populer, namun efisiensi saja tidak cukup untuk menjadi parameter kinerja suatu bank. Risiko operasional melekat di setiap aktivitas bank, terutama terkait dengan berbagai masalah yang dapat diakibatkan oleh kegagalan proses di bank. Risiko operasional dapat berdampak langsung pada monetary losses berupa penambahan biaya untuk mengganti kerugian maupun non monetary losses yaitu kehilangan/penurunan kesempatan bank memperoleh pendapatan.

Tata kelola perusahaan membuat investor merasa aman karena menurunkan biaya modal (cost of capital) yang harus dikeluarkan oleh perusahaan. Akibat rendahnya risiko yang harus ditanggung oleh semua pihak terhadap perusahaan berupa biaya produksi rendah (low cost production). Kebalikannya, perusahaan dengan tata kelola buruk mempunyai tingkat risiko yang tinggi sehingga harus mengeluarkan biaya modal lebih tinggi dari biaya modal rata-rata dan perusahaan bekerja dengan high cost production.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengaruh tata kelola perusahaan terhadap risiko operasional lebih besar dibandingkan dengan pengaruh variabel lainnya. Hal ini menjelaskan bahwa item yang terdapat pada indeks tata kelola perusahaan berdasarkan OECD telah diungkapkan oleh perusahaan dalam laporan tahunan. Poin-poin penting tersebut dapat terlihat pada pengungkapan perusahaan terhadap informasi tentang keselamatan dan kesejahteraan

karyawan, operasional bisnis, biaya operasional, standar operasional perusahaan, sistem dan teknologi serta monitoring risiko dan operasional perusahaan. Hal ini menunjukkan kesadaran perusahaan untuk meningkatkan efisensi perusahaan terkait pengelolaan internal maupun eksternal perusahaan secara bertanggung jawab sehingga perusahaan menjalin kerjasama dengan perusahaan mitra, baik untuk mengalihkan risiko yang kemungkinan muncul seperti layanan asuransi dan leasing.

Secara umum, tingkat risiko operasional pada perbankan yang terdaftar di BEI tahun 2011-2015 sudah cukup baik dengan masuk kategori sangat baik berdasarkan SE BI 6/23/DPNP, yaitu di bawah 94%. Hal ini didukung dengan kenaikan nilai rata-rata tata kelola perusahaan (CGI) dari tahun 2011-2014. Tata kelola perusahaan yang semakin baik menjadikan perusahaan lebih baik dalam mengelola kegiatan operasional ataupun penggunaan asset yang dimiliki sehingga lebih efisien. Meskipun pada tabel 5.1 statistik deskriptif menunjukkan bahwa risiko operasional mengalami peningkatan, akan tetapi masih dalam batas aman, yaitu 78,48%, 73,59%, 78,13%, 81,29%, dan 82,66%. Hal ini dapat disebabkan karena setiap langkah proses internal mengandung potensi munculnya risiko operasional. Selain dari segi internal, risiko operasional muncul dari segi eksternal seperti perubahan kebijakan yang dikeluarkan pemerintah terkait kebijakan ekonomi nasional. Kondisi-kondisi yang kurang stabil tersebut memaksa perbankan terus melakukan penyesuaian dalam sistem operasional prosedur yang dijalankan. Seringkali perbanka menngalami dampak yang lebih luas akibat kejadian yang jarang terjadi, seperti kejahatan yang dilakukan oleh sumber daya manusia bank itu sendiri. Oleh karena itu, pengungkapan informasi yang baik dapat membantu stakeholders dan shareholder dalam melakukan pengawasan akan tingkat risiko operasional yang dimiliki bank.

Temuan dalam penelitian ini, tentang adanya pengaruh tata kelola perusahaan terhadap risiko operasional, sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Chernobai, et al. (2011) yang menunjukkan tata kelola perusahaan berpengaruh signifikan terhadap risiko operasional. Hasil penelitian tersebut didukung oleh Liu dan Cortes (2015) yang menunjukkan bahwa

governance berpengaruh positif signifikan terhadap efisiensi operasional. 5.5.4 Pengaruh Risiko Kredit terhadap Kinerja Keuangan

Risiko kredit merupakan ancaman kerugian yang diderita perusahaan akibat ketidakmampuan debitur atau nasabah untuk mengembalikan pinjaman dari bank. Dari penelitian ini diperoleh hasil bahwa risiko kredit memiliki pengaruh negatif terhadap kinerja keuangan, di mana hal ini sesuai dengan hipotesis penelitian yang menyatakan bahwa semakin rendah risiko kredit, maka semakin tinggi tingkat kinerja keuangan. Oleh karena itu, hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa semakin sedikit kredit bermasalah, maka mempengaruhi tingkat profitabilitas perusahaan.

Pengelolaan risiko kredit secara tepat dapat meminimalkan kredit bermasalah yang seringkali dihadapi oleh perbankan. Berdasarkan ketentuan Bank Indonesia, non performing loan (NPL) merupakan salah satu indikator kesehatan kualitas asset bank di mana suatu bank harus mempunyai nilai NPL di bawah 5%. Tingkat kredit bermalah yang kecil membuat dana yang dikeluarkan bank dapat kembali beserta profit yang didapatkan dari bunga sehingga semakin banyak dana yang kembali beserta bunganya membuat profitabilitas perbankan meningkat.

Peningkatan kinerja keuangan menjelaskan bahwa biaya penyisihan penghapusan aktiva produktif (PPAP) dan cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) serta modal dari pemegang saham yang dicadangkan untuk menutupi kredit bermasalah menurun, sehingga laba perusahaan akan dapat meningkat,

dan berdampak secara langsung pada peningkatan nilai saham perusahaan. Dengan demikian, dividen yang diterima para pemilik modal akan meningkat sesuai dengan proporsi persentase investasi yang dilakukan dalam perusahaan.

Permasalahan keuangan yang dihadapi perbankan akan semakin menjadi rumit jika bank dalam rangka memperoleh penghasilan atau profit yang diharapkan, hanya atau lebih berkonsentrasi pada pengelolaan earning assets yang berupa kredit dan kurang memperhatikan earning assets dalam bentuk lain yang memiliki prospek yang baik seperti surat-surat berharga, penempatan dana pada bank lain, dan penyertaan modal bank pada lembaga keuangan yang bukan bentuk bank atau perusahaan lain (fee base income). Dalam rangka mengurangi dampak negatif dari adanya risiko kredit (NPL) yang tinggi, fee base

income memiliki peranan yang sangat penting. Pendapatan yang tinggi dari

pengelolaan asset ini dapat menutup kerugian yang timbul akibat risiko kredit. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengaruh risiko kredit terhadap kinerja keuangan lebih kecil dari pada pengaruh terhadap variabel lainnya. Hal ini menjelaskan bahwa bank memberikan perhatian khusus terhadap standar pemberian kredit. Oleh karena itu, dengan adanya peningkatan pengawasan dan standar secara intensif dapat mengurangi risiko kredit yang muncul. Pengawasan kredit yang ketat menyebabkan jumlah kredit yang diberikan terkontrol sehingga risiko akan menurun. Hal ini dapat dilihat bahwa rata-rata perbankan di Indonesia masuk dalam kategori sehat selama periode penelitian sehingga dapat dikatakan bahwa perbankan telah berhasil meminimalisir risiko kredit. Kenaikan tingkat risiko kredit tidak berdampak terhadap kinerja keuangan selama jumlah risiko yang muncul di bawah cadangan kerugian perbankan. Apabila cadangan Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif (PPAP) tidak mencukupi untuk menutupi kenaikan NPL, maka kredit macet tersebut harus diperhitungkan sebagai beban (biaya) yang langsung berpengaruh terhadap keuntungan bank.

Keuntungan yang tidak mencukupi untuk menutup beban tersebut menyebabkan pengakumulasian beban kepada modal.

Secara umum, tingkat kinerja keuangan pada pada perbankan yang terdaftar di BEI tahun 2011-2015 mengalami penurunan, yaitu berkisar pada 0,13, 0,12, 0,07, dan 0,10. Hal ini menunjukkan bahwa harga saham perbankan dalam kondisi undervalued. Nilai Tobin’s Q di bawah 1 merefleksikan ekspektasi pasar bahwa perusahaan telah gagal mencapai tujuan value maximizing, yang mana nilai perusahaan di bawah nilai yang tercatat di pasar. Kinerja tersebut tidak terlepas dari berbagai kebijakan yang ditempuh Bank Indonesia dan pemerintah untuk menjaga stabilitas makro dan momentum pertumbuhan ekonomi nasional ditengah perlambatan ekonomi dunia. Kinerja intermediasi perbankan dapat dipertahankan pada tingkat pertumbuhan yang aman bagi perekonomian dengan ditunjang stabilnya tingkat risiko kredit yang berkisar pada 2,5%. Kebijakan yang diambil guna meminimalisir pengaruh kenaikan tingkat risiko kredit terhadap kinerja keuangan adalah dengan penggunaan biaya cadangan penghapusan aktiva produktif pada setiap outstanding pinjaman nasabah.

Temuan dalam penelitian ini, tentang adanya pengaruh risiko kredit terhadap kinerja keuangan, sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Attar, dkk. (2014) yang menunjukkan bahwa penerapan manajemen risiko (kredit, likuiditas dan operasional) secara simultan berpengaruh terhadap kinerja keuangan perbankan. Hasil penelitian tersebut didukung oleh Poudel (2012) dan Arif dan Anees (2012) bahwa non performing loan (NPL) berpengaruh signifikan negatif terhadap kinerja keuangan.

5.5.5 Pengaruh Risiko Operasional terhadap Kinerja Keuangan

Risiko oprasional merupakan risiko yang sering kali muncul dari masalah internal perusahaan. Risiko ini terjadi disebabkan oleh lemahnya sistem kontrol

manajemen yang dilakukan oleh internal perusahaan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa risiko operasional memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap kinerja keuangan, di mana hal ini sesuai dengan hipotesis penelitian yang menyatakan bahwa semakin rendah risiko operasional, maka semakin tinggi tingkat kinerja keuangan. Oleh karena itu, hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa semakin kecil biaya modal yang dianggarkan untuk mengantisipasi adanya kerugian operasional, maka semakin tinggi profitabilitas perusahaan.

Penyusunan anggaran biaya operasional dapat dikatakan baik apabila jumlahnya tidak terlalau besar sehingga dapat membantu dalam mencapai tujuan perusahaan untuk meningkatkan laba. Tercapainya realisasi anggaran sesuai dengan yang telah disusun dan ditentukan, menunjukkan bahwa pengolaan atas risiko yang mungkin muncul sudah baik. Tingginya risiko operasional menunjukkan bahwa bank belum mampu mendayagunakan sumber daya yang dimiliki atau belum mampu menjalankan kegiatan usahanya secara efisien. Meningkatkan BOPO menunjukkan bahwa perusahaan lebih banyak mengeluarkan biaya operasional dalam menghasilkan laba. Kondisi ini menjelaskan bahwa perusahaan memang menghasilkan laba besar, akan tetapi tidak efisien dalam melakukan operasionalnya sehingga terdapat ketidak efektivan dalam memanfaatkan keseluruhan aktiva yang dimilki.

Investor menilai kinerja perusahaan baik apabila perusahaan memiliki biaya modal rendah sehingga mendorong para investor untuk berinvestasi. Banyaknya investor yang tertarik menanamkan dananya di perusahaan akan meningkatkan permintaan investasi dan kemudian hukum ekonomi berlaku, jika permintaan naik maka harga saham akan naik pula. Kenaikan harga saham merupakan rantai pertumbuhan perusahaan dan peningkatan kemakmuran para

jangka panjang. Disebabkan karena adanya ketidakpastian proses, pencatatan, kegagalan sistem, kepatuhan kepada pihak regulator dan lain-lain, terdapat kemungkinan bahwa biaya operasional akan mengalami perbedaan dari apa yang diharapkan, dan lebih lanjut akan mempengaruhi laba bersih (Khan dan Ahmed, 2008).

Hasil temuan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa risiko operasional dalam perbankan relative kecil, yang mana dapat dilihat dari tingkat efisiensi perbankan. Sebagian besar perusahaan telah berhasil menjaga kestabilan tingkat efisiensi berdasarkan peraturan yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia yaitu di bawah 94%. Hal ini menunjukkan bahwa perbankan dalam menjalankan fungsi kehati-hatian dalam operasionalnya sudah cukup bagus sehingga tidak memunculkan risiko-risiko lain akaibat gagalnya operasional bank, seperti gagal dalam memilih nasabah yang mengajukan kredit atau jumlah kredit yang diberikan, dan lain sebagainya. Risiko operasional berpengaruh relatif kecil terhadap kinerja keuangan, yang mana dapat diartikan bahwa manajemen perbankan sudah mengantisipasi atau mengelola risiko tersebut secara sistematis. Perbankan melakukan langkah-langkah dalam mengelola risiko operasional dengan beberapa strategi seperti pengalihan risiko. Pengalihan risiko operasional dapat dicontohkan seperti penggunaan asuransi dalam kredit motor yang diberikan perbankan.

Secara umum, tingkat kinerja keuangan pada pada perbankan yang terdaftar di BEI tahun 2011-2015 mengalami penurunan, yaitu berkisar pada 0,13, 0,12, 0,07, dan 0,10. Penurunan tingkat kinerja keuangan diiringi dengan kenaikan risiko operasional. Meningkatnya tingkat BOPO menunjukkan belum optimalnya margin pendapatan operasional bank terhadap biaya operasionalnya yang menunjukkan tidak efisiennya kegiatan usaha bank. Tidak efisiennya bank seringkali disebabkan oleh beberapa faktor, seperti tidak mampunya manajemen

dalam mengelola bank akibat rendahnya sumber daya manusia yang dimiliki, rendahnya pemasaran produk, biaya operasional terlalu tinggi karena sistem bunga dan lokasi bank yang kurang strategis. Hal ini menunjukan tingkat efisiensi perbankan masih rendah sehingga perbankan harus menganalisa permasalahan dasar terkait operasional yang harus ditekan untuk meningkatkan efisiensi kinerja perbankan. Tingkat minimal BOPO sebesar 94% berdasarkan SE BI 6/23/DPNP terbilang cukup besar, sehingga Otoritas Jasa Keungan (OJK) berencana untuk menurunkan risiko operasional di level 60%.

Temuan dalam penelitian ini, tentang adanya pengaruh risiko operasional terhadap kinerja keuangan, sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Attar, dkk. (2014) yang menunjukkan bahwa penerapan manajemen risiko (kredit, likuiditas dan operasional) secara simultan berpengaruh terhadap kinerja keuangan perbankan. Hasil tersebut didukung oleh penelitian Ongore dan Kusa (2013) yang menunjukkan bahwa faktor-faktor khusus bank berpengaruh terhadap kinerja bank, kecuali variabel likuiditas. Selain itu, Gillet, et al. (2010) menjelaskan bahwa hilangnya nilai pasar disebabkan oleh pengumuman jumlah kerugian operasional.

5.5.6 Pengaruh Tata Kelola Perusahaan terhadap Kinerja Keuangan melalui

Risiko Kredit

Secara teoritis pelaksanaan tata kelola perusahaan dapat meningkatkan kinerja keuangan serta mengurangi risiko yang mungkin dilakukan oleh dewan dengan keputusan yang menguntungkan sendiri. Selain itu, tata kelola perusahaan dapat meningkatkan kepercayaan investor membuat mereka merasa aman untuk menanamkan modalnya sehingga akan berdampak terhadap kinerjanya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat tata kelola perusahaan maka semakin meningkatkan kinerja keuangan bank, dan tentunya ini akan berdampak baik terhadap risiko kredit. Hal ini terjadi karena

pengelolaan risiko kredit yang baik berperan sebagai penyangga untuk memaksimalkan pelaksanaan tata kelola perusahaan, sehingga semakin tinggi tata kelola perusahaan akan berdampak terhadap meningkatnya kinerja keuangan.

Memahami hubungan antara return dan risiko merupakan dasar dari proses keputusan investasi karena tujuan utama investasi adalah untuk meningkatkan kesejahteraan investor (Tandelilin, 2010). Perusahaan dengan tata kelola yang baik memiliki kinerja kredit yang lebih efektif. Hal ini terjadi karena manajer bekerja secara efektif dan efisien sehingga dapat menurunkan biaya modal dan meminimalkan risiko, baik risiko kredit maupun risiko operasional. Biaya modal yang rendah menjadi peluang untuk menggunakan aliran kas untuk dikelola sehingga muncul peluang untuk menghasilkan profitabilitas yang tinggi. Apabila nilai risiko kredit dalam jumlah tinggi, maka dapat dipastikan bahwa tata kelola perusahaan kurang/tidak berjalan sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan perusahaan sehingga profitabilitas perusahaan berkurang.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa risiko kredit merupakan mediator tata kelola perusahaan terhadap kinerja keuangan. Pengaruh yang kecil dapat diartikan bahwa tingkat risiko kredit kurang berpengaruh secara signifikan dalam pengaruh mediasi. Hal ini menjelaskan bahwa perbankan telah menerapkan strategi di mana tingkat risiko kredit tidak berpengaruh secara dominan terhadap kinerja keuangan. Strategi tersebut diterapkan telah sesuai dengan peraturan yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia, di mana tingkat kredit bermasalah diawasi secara ketat oleh pihak internal maupun eksternal. Melalui risiko kredit para manajer dapat memaksimalkan profitabilitas secara efektif sehingga dapat meminimalisir jumlah kredit bermasalah yang dapat mengurangi keuntungan dalam rangka mencapai tujuan perusahaan. Dengan kata lain, semakin rendah

tingkat risiko kredit perusahaan, maka semakin tinggi kinerja keuangan dalam menjalankan operasional perusahaan.

Perusahaan yang memiliki nilai Tobin’s Q < 1 menggambarkan bahwa saham dalam kondisi undervalued. Manajemen telah gagal dalam mengelola aktiva perusahaan. Potensi pertumbuhan investasi rendah. Perusahaan dengan nilai Tobin’s Q yang rendah umumnya berada pada industri yang sangat kompetitif atau industri yang mengecil. Pada tabel 5.1 statistik deskriptif ditunjukkan bahwa rata-rata Tobin’s Q sebesar 0,1184 lebih kecil dibandingkan standar deviasinya 0,28743 sehingga menunjukkan bahwa terdapat perbadaan yang cukup mencolok antar bank.

Penurunan kinerja perbankan sendiri disebabkan oleh siklus ekonomi Indonesia. Pelaksanaan tata kelola perusahaan yang baik mampu menjadi sinyal keberlanjutan perbankan tersebut. Informasi yang tercantum dalam laporan tata kelola perusahaan menjadi bahan monitoring bagi pihak berkepentingan sehingga mereka merasa aman atas dana yang diinvestasikan. Profitabilitas yang menurun terjadi karena penurunan net interest margin (NIM) dan kenaikan biaya penghapusan kredit. Penurunan NIM sendiri tidak terlepas dari dikeluarkannya kebijakan moneter sedangkan kenaikan biaya penghapusan