HASIL DAN PEMBAHASAN
4.3 Diskusi Hasil
Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan peneliti dengan menggunakan
konsep retorika yang dicetuskan Aristoteles, maka dapat ditemukan penerapan
unsur-unsur retorika yang terdiri dari ethos, pathos, logos, dan lima kanon retorika
dalam penampilan stand up comedy Abdur Arsyad. Hal tersebut dilakukan untuk
mempengaruhi dapat mempengaruhi penontonnya, karena pada dasarnya retorika
dalam stand up comedy berfungsi untuk meyakinkan penonton untuk melihat
suatu realitas melalui visi atau sudut pandang yang sama dengan seorang komika.
Abdur menampilkan aspek ethos-nya (karakter, intelegensi, dan niat baik)
sebagai seorang komika yang berasal dari Indonesia bagian timur. Sebagai
seorang komika dari Indonesia bagian timur, Abdur memiliki pengalaman
mengenai ketimpangan sosial yang dirasakan seperti ketimpangan akan
penanganan bencana alam, pendidikan, pembangunan, dan lain sebagainya. Hal
tersebut akhirnya mempengaruhi Abdur untuk menyampaikan kritik sosial melalui
penampilan stand up comedy-nya.
Kemudian untuk aspek pathos, peneliti menampilkan reaksi-reaksi yang
diberikan oleh penonton terhadap penampilan stand up comedy Abdur. Untuk
dapat mempengaruhi dan mendapatkan reaksi dari penonton. Reaksi yang
ditampilkan penonton berupa reaksi terkejut, malu, bingung, kagum, dan tertawa.
khusus yang ditujukan kepada penontonnya guna menunjukkan bahwa Abdur
menghargai penontonnya. Selain itu, Abdur juga memasukkan beberapa nama juri
ke dalam materi stand up comedy-nya untuk mendapatkan reaksi dari para juri.
Pada aspek logos, Abdur menggunakan data-data, analogi, dan pemilihan
kata untuk memperkuat argumennya. Data-data yang ditampilkan dalam materi
stand up comedy Abdur dapat berupa angka maupun kata-kata. Abdur juga
menggunakan analogi dan pemilihan kata yang dijadikan bukti logis untuk
memperkuat argumennya agar materinya dapat mudah diterima dan masuk akal.
Namun, ada kalanya untuk menarik tawa penonton, Abdur membalikkan logika
pada materi stand up comedy-nya.
Penampilan stand up comedy juga tidak dapat dipisahkan dari lima kanon
retorika. Tahapan-tahapan dalam lima kanon retorika ini telah menjadi dasar bagi
para komika yang memiliki keterikatan dan tidak dapat dipisahkan satu sama
lainnya. Tahapan-tahapan tersebut bersifat berurutan dan sistematis. Menurut
West & Turner (2008) lima kanon retorika terdiri dari penciptaan, pengaturan,
gaya, ingatan, dan penyampaian. merupakan tahapan dari lima kanon retorika
yang terdapat dalam proses pembuatan materi stand up comedy Abdur Arsyad.
1. Penciptaan (invention)
Abdur Arsyad menemukan bahan untuk dijadikan materi stand up
comedy nya dari diri sendiri, teman, keluarga, dan lingkungan sekitarnya.
Arsyad (2018) mengatakan bahwa materi yang ia buat berasal dari
pengalaman pribadinya sendiri, mendengar cerita orang lain, dan juga dari
Dalam materi stand up comedy Abdur, informasi-informasi yang ia
sampaikan merupakan informasi mengenai kritik sosial akibat adanya
ketimpangan sosial yang dirasakan oleh masyarakat Indonesia bagian
timur. Informasi tersebut dikemas dalam sebuah materi stand up comedy
dan didasarkan pada pengalaman pribadinya sebagai seseorang yang
berasal dari sebuah daerah bernama Lamakera, di Nusa Tenggara Timur.
Selain itu, ia juga merasakan ketimpangan yang dirasakan pada saat ia
merantau ke Pulau Jawa, khususnya Kota Malang, ia merasa bahwa
kehidupan yang ia rasakan di Malang sangat berbeda dengan apa yang
dirasakan di Nusa Tenggara Timur.
2. Pengaturan (arrangement)
Dalam menyusun materi stand up comedy nya, Abdur memiliki
cara yang dirasa sama dengan comic-comic lainnya. Asyad (2018)
menjelaskan bahwa materi stand up comedy up adalah irisan dari dari tiga
himpunan. Himpunan yang pertama adalah himpunan pengetahuannya
komika, himpunan yang kedua adalah himpunan yang namanya
kepedulian komika, dan himpunan yang ketiga yaitu himpunan yang
namanya persona komika. Nah materi stand up itu selalu diambil dari
Gambar 4.2 Irisan Tiga Himpunan
Sumber : Dokumentasi Penulis
3. Gaya (style)
Abdur Arsyad memiliki gaya tersendiri dalam menyampaikan
materi stand up comedy-nya. Abdur memiliki gaya stand up comedy yang
berbeda dari beberapa komik lain, selain memuat materi mengenai
Indonesia bagian timur, penampilan stand up comedy Abdur juga
digunakan untuk menyampaikan kritik sosial mengenai
ketimpangan-ketimpangan yang dirasakan oleh masyarakat di Indonesia bagian timur.
Abdur menggunakan bahasa Indonesia dengan logat khas orang
timur yang menjadi penanda bahwa ia merupakan seorang comic yang
berasal dari Indonesia bagian timur. Abdur juga memilih beberapa gaya khas, seperti penggunaan kata “teman-teman” untuk menyapa
penontonnya, hal tersebut menunjukkan Abdur ingin merasa dekat dengan
penontonnya seperti berinteraksi dengan temannya sendiri. Abdur juga
menggunakan analogi untuk membuat materi stand up comedy-nya yang
penontonnya. Selain itu, Abdur juga mempunyai slogan yang menjadi ciri khasnya yaitu “Aduh Mama Sayange” yang sudah melekat di benak para
penontonnya. Abdur juga menggunakan susunan rima (I) dan (A), seperti
yang terlihat pada show 6 dan penampilannya di grand final.
Susunan rima (I) : Ini semua adalah tentang inspirasi, bersatu dalam satu
mimpi untuk Indonesia yang lebih harmoni. Teman-teman sudah enam
belas tahun kita tertatih dalam reformasi, ditipu oleh para politisi yang
katanya berikan bukti bukan janji, tapi begitu ada tangis suara minor di
pelosok negeri, mereka sibuk mencari koalisi bukan solusi.
Susunan rima (A) : Sebagai anak nelayan dari Lamakera, saya melihat
Indonesia itu seperti Kapal Tua, yang berlayar tak tahu arah. Arahnya ada,
hanya Nahkoda kita yang tidak bisa membaca. Mungkin dia bisa membaca
tapi tertutup hasrat membabi buta, hasrat hidupi keluarga, saudara, kolega,
dan mungkin istri muda.
4. Ingatan (memory)
Dalam tahap ini seorang comic harus mengingat teks atau materi
yang telah disusunnya untuk kemudian disampaikan pada khalayak atau
penontonnya. Tahap ini adalah tahap yang paling penting untuk
kesuksesan seorang comic dalam menyampaikan materinya didepan
khalayak. Seorang comic dapat melatih berulang-ulang ingatannya akan
materi stand up comedy-nya yang akan disampaikannya nanti. Kemudian,
ingatan ini tidak hanya mengacu pada ingatan sederhana saja, namun juga
luas termasuk juga proses yang mempengaruhi kita dalam memperoleh
dan mengolah informasi (Littlejohn & Foss, 2012).
Menyimpan penemuan, pengaturan, dan gaya di dalam benak
pembicara disebut dengan ingatan (West & Turner, Pengantar Teori
Komunikasi 2 : Analisis dan Aplikasi, 2008). Untuk mempermudah
mengingat materi stand up comedy-nya. Abdur menuliskan materinya
secara rinci lengkap dengan titik, koma, dan lain sebagainya. Tulisan
tersebut kemudian dihafalkan dan disampaikan melalui penampilan stand
up comedy dengan menggunakan gaya yang menjadi ciri khas Abdur.
5. Penyampaian (delivery)
Tahapan ini adalah tahapan terakhir, dimana seorang comic
mengeksekusi atau menyampaikan materi stand up comedy yang telah
dibuat dan diingatnya dihadapan khalayak secara lisan. Dalam tahap ini,
tingkah pola seorang comic juga sangat berperan bagi kesuksesan
penampilan comic tersebut. Abdur Arsyad menyampaikan materi stand up
comedy-nya yang memuat mengenai kritik sosial yang dirasakan oleh
masyarakat Indonesia bagian timur dengan baik. Penyampaian materi
tersebut didukung oleh kejelasan penyampaian materi Abdur yang
menggunakan bahasa Indonesia dengan logat orang timur. Abdur juga
memperkuat argument-nya dengan gerakan tubuh, seperti pada saat
Aristoteles dalam West & Turner (2008) juga menjelaskan bahwa
delivery secara spesifik berkaitan dengan manipulasi dari suara.
Aristoteles menghimbau para pembicara, atau dalam penelitian ini yaitu
seorang comic, untuk menggunakan tingkatan nada, ritme, volume, dan
emosi yang sesuai. Abdur juga telah menerapkan hal tersebut dalam
penampilan stand up comedy-nya. Hal tersebut terlihat dari penekanan
yang diberikan Abdur pada pengucapan kata “Aduh Mama Sayange” yang
merupakan slogan atau ungkapan khusus yang dimiliki Abdur untuk
menggambarkan kekecewaannya terhadap realitas sosial yang ada.
Pokok bahasan lain dalam penelitian ini yaitu untuk melihat alasan
mengapa Abdur menyampaikan kritik sosial melalui penampilan stand up
comedy-nya? Abdur menyampaikan materi yang memuat mengenai kritik sosial
yang ditujukan kepada pemerintah. Kritik sosial tersebut timbul dari keresahan
pribadi yang dirasakan oleh Abdur dan lingkungan sekitarnya. Abdur merasakan
adanya ketimpangan sosial yang terjadi di Indonesia bagian timur dan Indonesia
bagian barat. Hal tersebut yang membuat ia menyuarakan suara-suara minoritas
melalui stand up comedy. Arsyad dalam Wardhani (2015) mengatakan ia juga
ingin menyampaikan pesan kepada teman-temannya untuk semangat dan tidak
rendah diri, orang timur pasti bisa walaupun serba terbatas.
Ketertarikan Abdur pada dunia stand up comedy didasari oleh keunikan
stand up comedy menurut Abdur. Arsyad (2018) mengatakan bahwa stand up
penontonnya siap dengan itu. Jadi panggung stand up comedy itu adalah
panggung yang sangat baik untuk kita membawa pendapat-pendapat kita tentang
kehidupan. Untuk tempat protes, tempat beragumen, itu paling enak, karena orang
datang dengan niat untuk duduk dan mendengar itu. Alasan tersebut kemudian
yang memperkuat mengapa Abdur menyampaikan kritik sosial melalui
penampilan stand up comedy-nya.
Danesi (2010) mengatakan bahwa komedi erat kaitannya dengan kegiatan
seni melibatkan representasi dalam wujud yang berdisiplin dan mengandung
keahlian, yang memerlukan sebuah cara dalam memandang dunia. Keahlian
Abdur dalam menyampaikan kritik sosial dituangkan dalam materi stand up
comedy-nya. Abdur menganggap bahwa pada dasarnya, setiap komika pasti
menyampaikan kritik sosial, hanya saja kemasannya yang berbeda. Abdur
mengemas penyampaian materi kritik sosialnya yang didasarkan pada pengalaman
pribadinya mengenai ketimpangan sosial yang ia rasakan di Indonesia bagian
timur. Abdur menyampaikan kritik sosialnya secara terang-terangan atau secara
tersurat, berbeda dengan komika lain yang mungkin tersirat.
Berdasarkan analisis yang sudah dilakukan oleh peneliti, kritik sosial yang
terdapat pada materi stand up comedy Abdur di show 1, show 6, show 9, dan
grand final sajak kapal tua disebabkan ketimpangan sosial yang dirasakan oleh
masyarakat Indonesia bagian timur. Peneliti menemuka beberapa kategori kritik
sosial yang disampaikan Abdur pada materi stand up comedy-nya, seperti kritik
terhadap penanganan bencana alam, kritik terhadap pendidikan, kritik terhadap
penanganan bencana alam disampaikan Abdur dengan menggunakan kasus
pemberitaan meletusnya Gunung Rokatenda yang tertutup oleh banjir Jakarta. Hal
tersebut terdapat pada penampilannya di show 1, “Wajar kalo teman-teman tidak
tau, karena memang berita Rokatenda meletus pada waktu itu, itu tertutup dengan banjir Jakarta”. Abdur menyindir ketimpangan penanganan bencana alam tersebut
dengan kalimat yang menggambarkan seolah-olah pemerintah tidak peduli dengan Rokatenda, “Rokatenda, selama empat bulan meletus itu negara cuma rugi seribu
rupiah, iya, dua koin lima ratus untuk tutup telinga”.
Kritik sosial yang ditampilkan pada show 6 merupakan kritik pada bidang
pendidikan yang dikaitkan dengan materi politik yang bertemakan pemilihan
umum. Abdur menyampaikan kritikannya dengan menyebutkan bahwa rata-rata
masyarakat di Indonesia bagian timur masih buta huruf. Abdur juga menyebutkan
selama pendidikan di Indonesia belum merata, demokrasi akan selalu rusak. Hal
tersebut dikarenakan hasil akhir demokrasi di Indonesia dinilai melalui kuantitas
bukan kualitas.
Kritik sosial selanjutnya yaitu kritik sosial pada bidang pembangunan.
Abdur menggunakan analogi tribun untuk menggambarkan Indonesia bagian barat
dan timur. Kalimat kritik Abdur terhadap pembangunan terdapat pada
penampilannya di show 9, “Tapi teman-teman, paling tidak enak itu kalo kalian
nonton dari tribun Timur. Karena kalo di tribun barat itu, di tribun barat itu nonton
pake lampu, cahaya terang, kelap-kelip dimana-mana, tapi di tribun timur itu masih gelap, listrik tidak ada”.
Kritik sosial yang terakhir yaitu kritik yang ditujukan kepada pemerintah
atau presiden yang telah menjabat. Abdur mengemas kritikannya kepada enam
orang mantan presiden Indonesia dengan analogi nahkoda. Abdur
menganalogikan Indonesia sebagai sebuah kapal tua yang dipimpin oleh seorang
nahkoda yang mempunyai cerita masing-masing selama masa jabatannya.
Menurut Abdur kritik sosial merupakan kondisi ideal di dalam otaknya,
yang bisa saja berbeda dengan kondisi ideal di mata orang lain. Abdur
menyampaikan kondisi ideal yang berada di pikirannya melalui stand up comedy.
Melalui wawancara yang telah dilaksanakan oleh penulis dengan Abdur Arsyad,
Abdur menjelaskan bahwa
Sebenarnya kondisi, stand up, panggung stand up itu kondisi ideal kita untuk kita protes, sebenarnya ya. Karena itu tadi, kita tu, kalo misalkan kita turun di jalan, kita ngomongin di jalan, yang pertama kita mengganggu orang karena itu membuat macet. Kemudian yang kedua enggak nyaman juga, karena panas. Kemudian orang yang mau mendengarkan juga sibuk dengan dunianya masing-masing, dia tidak, dia tidak keluar rumah untuk dengan niat mendengar itu di jalan. Jadi, kadang-kadang agak sulit, karena itupun bisa terblow up ketika wartawan mungkin ada, tapi ketika massa kita dikit juga wartawan malas nulis juga. Nah panggung stand up itu bisa menghilangkan itu semua, panggung stand up itu kita buat materi sebaik mungkin, dan penonton itu datang, kadang bayar malah, kalo bukan open mic kan dia bayar, dia bayar, dia datang dan dia siapkan otak dan pikirannya untuk menerima dan dia tau komika-komika ini akan berbicara dengan sudut pandang mereka gitu, dan dia siap untuk menerima itu. Dan ketika dia tertawa dan dia senang, dan dia pulang, bercerita hal-hal itu ke orang lain, orang-orang lain akan mendengarkan itu juga gitu, dan itu yang keren menurut saya. Ketika, taruhlah ketika misal kondisi idealnya semua orang nonton stand up, kemudian semua comic juga membawakan materi yang bagus-bagus, wah saya rasa, saya yakin peradaban kita berubah, saya yakin nggak ada orang yang nyebrang sembarangan, yang buang sampah sembarangan (Arsyad A. , 2018).
Kritik sosial dalam penampilan stand up comedy Abdur Arsyad digunakan
untuk merubah pandangan terhadap tatanan sosial yang dominan, dalam hal ini
yaitu adanya ketimpangan yang di rasakan oleh masyarakat Indonesia bagian
timur yang suaranya diwakilkan oleh Abdur. Abdur berharap melalui stand up
comedy-nya, kritik sosial lebih mudah disampaikan dan diterima oleh segala
lapisan kalangan, sehingga nantinya akan dapat membawa perubahan, khususnya
pemerataan pembangunan yang tidak hanya menjadi janji-janji dari para calon
109