BAB III PROFIL SANITASI KABUPATEN ACEH BARAT
3.1.4. Drainase Lingkungan
III-88
Secara umum, sistem drainase dapat didefinisikan sebagai serangkaian
bangunan air yang berfungsi untuk mengurangi dan/atau membuang kelebihan air dari suatu kawasan atau lahan, sehingga lahan dapat difungsikan secara optimal.
Bangunan sistem drainase terdiri dari saluran penerima (interceptor drain), saluran pengumpul (collector drain), saluran pembawa (conveyor drain), saluran induk (main drain), dan badan air penerima (receiving waters). Di sepanjang sistem sering dijumpai bangunan lainnya seperti gorong-gorong, siphon, jembatan air (aquaduct), pelimpah, pintu-pintu air, kolam tando, dan stasiun pompa.
Dalam rangka pengembangan dan penataan kawasan permukiman dan peningkatan taraf hidup masyarakat di Kabupaten Aceh Barat, penanganan drainase merupakan salah satu prioritas yang perlu mendapatkan penanganan. Karena gangguan dan kerugian akan masalah banjir dan genangan telah mengakibatkan dampak penurunan kondisi sosial ekonomi masyarakat, kerusakan lingkungan pemukiman dan sektor-sektor ekonomi yang potensial.
Permasalahan saluran air ini juga menjadi bagian yang disurvey dalam studi Enviromental Health Risk Assissment (EHRA), dimana emunerator mengamati keberadaan saluran air di sekitar rumah terpilih. Saluran yang dimaksud adalah yang digunakan untuk membuang air bekas penggunaan rumah tangga (grey water). Bila ada, emunerator juga mengamati dari dekat apakah air di saluran itu mengalir atau tidak dan apa warnanya serta melihat juga apakah terdapat tumpukan sampah di dalam saluran air tersebut.
Saluran air yang memadai ditandai dengan aliran air yang lancar, warna yang cenderung bening atau bersih, dan tidak adanya tumpukan sampah di dalamnya.
III-89
Gambar 3. 7. Hasil Survey Keberadaan Saluran Air Hujan di Kabupaten Aceh Barat, 2010.
Hasil pengamatan studi Enviromental Health Risk Assissment (EHRA) di Kabupaten Aceh Barat menunjukkan bahwa sekitar 58% rumah tangga telah memiliki akses pada saluran air di depan atau di sekitar rumahnya. Sementara sekitar 42%
rumah tangga yang teramati tidak memiliki akses pada saluran air limbah.
III-90
Dari 1610 rumah tangga yang memiliki akses terhadap saluran air, sekitar 58,0% diamati memiliki saluran yang airnya mengalir. Sekitar 10% dilaporkan didapati
tidak berair/kering. Sehingga dapat diindikasikan sekitar 80% dari rumah tangga memiliki akses pada saluran air dan memiliki saluran air yang cukup memadai (mengalir atau tidak ada air). Rumah tangga yang diamati memiliki masalah dengan saluran airnya, yakni air dalam saluran tidak mengalir, mencakup sekitar 22% dari total rumah tangga yang memiliki akses pada saluran air limbah.
Gambar 3. 8. Hasil Survey Kondisi Saluran Limbah Rumah Tangga di Kabupaten Aceh Barat, 2010.
Warna air di saluran yang paling banyak dijumpai adalah kecoklatan dan kehitaman, sekitar 30% dan 27%. Warna Kecoklatan dan kehitaman ini
III-91
mengindikasikan adanya proses pembusukan bahan organik. Sementara, warna putih atau abu-abu mencakup 18%. Warna ini mengindikasikan penggunaan detergent atau sabun yang berlebihan dan terbuang ke saluran air. Kondisi paling rendah adalah yang berwarna bening/bersih, yakni sebesar 4,6% dari rumah tangga yang diamati.
Hal lain dari saluran air yang diamati adalah apakah terdapat tumpukan sampah di dalamnya ataukah saluran itu bersih dari sampah. Temuan dari studi Enviromental Health Risk Assissment (EHRA) menunjukkan sekitar 50,6% saluran air yang bisa diamati relatif bebas dari sampah. Sekitar 32,2% dijumpai memiliki sampah di dalam salurannya. Sisanya adalah saluran yang dilaporkan tidak bisa diamati oleh emunerator atau tidak ada data.
Gambar 3. 9. Hasil Survey Tumpukan Sampah di Saluran di Kabupaten Aceh Barat, 2010.
III-92
Pokok kedua dalam bagian ini adalah kebanjiran yang didefinisikan secara sederhana yakni datangnya air ke lingkungan atau ke dalam rumah yang tengah disurvey. Air yang datang bisa berasal dari manapun termasuk luapan sungai, laut ataupun air hujan. Besarnya banjir tidak dibatasi. Artinya, air bisa setinggi dada ataupun lebih rendah dari tinggi tumit orang dewasa.
Studi Enviromental Health Risk Assissment (EHRA) di Kabupaten Aceh Barat menemukan proporsi rumah tangga sekitar 33,4% yang melaporkan pernah
mengalami banjir. Seperti terlihat pada diagram berikut ini, proporsi terbesar, sekitar 62,3% rumah tangga, melaporkan tidak pernah mengalami banjir, sisanya menjawab tidak tahu dan tidak ada data.
Dari 538 rumah tangga yang melaporkan pernah mengalami banjir,
kebanyakan atau sekitar 24% melaporkan banjir terjadi dalam dua minggu yang lalu dan 20% melaporkan terjadi banjir dalam minggu ini dan 17% menyatakan banjir baru sebulan yang lalu. Secara total ditemukan 92% dari 538 rumah tangga yang
melaporkan mengalami banjir dalam tahun ini. Dengan kata lain, pengalaman banjir merupakan pengalaman yang belum lama berlalu dan kemungkinan besar masih kuat
III-93
dalam ingatan warga.
Gambar 3. 10. Hasil Survey Kondisi Banjir di Kabupaten Aceh Barat, 2010.
Gambar 3. 11. Hasil Survey Frekuensi Banjir di Kabupaten Aceh Barat, 2010.
Dari wawancara ditemukan bahwa kebanyakan rumah tangga yang pernah mengalami kebanjiran (538 rumah tangga), sekitar 50% mengalaminya secara rutin dalam kurun waktu tertentu. Sementara, 46,5% rumah tangga melaporkan kejadian banjir tidak berlangsung rutin dan sisanya menyatakan tidak tahu dan tidak ada data.
Dari sisi frekuensi, seperti dapat disimak pada diagram di bawah ini, yang paling umum dialami rumah tangga di Kabupaten Aceh Barat adalah yang terjadi beberapa kali dalam setahun (80%). Meski demikian proporsi rumah tangga yang mengalami banjir sekali dalam setahun sekitar 12%, sebulan sekali atau lebih sekitar 8% dan tidak ada data tergolong kecil yaitu sekitar 6%.
III-94
Gambar 3. 12. Hasil Survey Lama Air Akibat Banjir Mengering di Kabupaten Aceh Barat 2010.
Cukup banyak rumah tangga yang mengalami banjir dalam waktu cukup lama.
Seperti terbaca pada diagram di atas, sekitar 45% rumah tangga yang mengalami banjir secara rutin, mengalaminya dalam waktu lebih dari sehari. Sekitar 32,2%
mengalaminya dalam sehari. Proporsi rumah tangga yang mengalami banjir tidak lama (kurang dari sehari), yakni yang besarnya sekitar 20%. Proporsi ini terdiri dari rumah yang mengalami banjir beberapa jam (10%), setengah hari (5%), sekitar sejam (3,9%) dan kurang dari sejam (1,1%).
Banjir yang kebanyakan dialami rumah tangga di Kabupaten Aceh Barat pun terbilang rendah alias tidak tinggi. Yang paling banyak dilaporkan adalah banjir yang
III-95
tidak masuk rumah, yakni sebesar 35,4%. Sekitar 27% melaporkan banjir biasanya setinggi tumit orang dewasa (<5 cm). Rumah tangga yang melaporkan airnya setinggi setengah lutut orang dewasa (sekitar 20-30 cm) sekitar 12,5%. Sementara yang melaporkan airnya lebih tinggi dari lutut orang dewasa adalah kurang dari 10%.
Gambar. 3. 13. Hasil Survey Tinggi Air yang Masuk Rumah Saat Banjir di Kabupaten Aceh Barat, 2010.
Dibanding di rumah tangga, air yang masuk di pekarangan atau di sekeliling rumah jauh lebih tinggi. Seperti teramati dari diagram di atas, yang paling banyak dilaporkan adalah banjir yang masuk setumit orang dewasa (sekitar 5 cm), yakni sebesar 28%. Sekitar 27,0% melaporkan banjir biasanya setinggi setengah lutut orang dewasa (20-30 cm) di luar rumahnya. Rumah tangga yang melaporkan airnya selutut orang dewasa (sekitar 40-50 cm) mencakup sekitar 16%. Proporsi rumah tangga yang
III-96
mengalami banjir sepinggang atau lebih tinggi dil lingkungan rumahnya mencakup sekitar 29% dari total rumah tangga yang mengalami banjir secara rutin.
Gambar 3. 14. Hasil Survey Tinggi Air Masuk Perkarangan di Kabupaten Aceh Barat, 2010.