• Tidak ada hasil yang ditemukan

Limbah Padat (Sampah)

Dalam dokumen BUPATI KABUPATEN ACEH BARAT (Halaman 81-87)

BAB III PROFIL SANITASI KABUPATEN ACEH BARAT

3.1.3. Limbah Padat (Sampah)

a. Sumber-Sumber Sampah Kabupaten Aceh Barat

Sumber-sumber sampah di Kabupaten Aceh Barat antara lain berasal dari:

1. Sampah Permukiman

Sampah ini berasal dari rumah tangga. Sampah ini berasal dari aktivitas dapur, sampah pohon di halaman maupun kegiatan rumah tangga lain.

2. Sampah Pasar

Sampah ini berasal dari kegiatan pasar, yang kebanyakan merupakan sisa sayur-mayur dan buah-buahan.

3. Sampah Hotel dan Penginapan

Sampah ini berasal dari semua kegiatan hotel atau penginapan. Sampah yang dihasilkan biasanya berupa sampah kertas, makanan. sampah dapur dan lain-lain.

4. Sampah Rumah Sakit

Sampah yang berasal dari aktivitas rumah sakit baik termasuk sampah yang berasal dari kegiatan laboratorium. Biasanya sampah yang dibuang di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) adalah sampah jenis non B3.

5. Sampah Jalan

Sampah yang berasal dari pejalan kaki, pengendara kendaraan maupun berasal dari pengguna jalan yang lain. Sampah jalan ditangani oleh penyapu jalan baik dalam pengumpulan maupun pengangkutan.

6. Sampah Perbengkelan

Sampah ini berasal dari kegiatan usaha perbengkelan yang berada di Kabupaten Aceh Barat. Sampah ini dapat berupa limbah cair seperti oli dan juga limbah padat seperti berbagai macam sisa onderdil kendaraan.

7. Sampah Perkantoran

Jumlah sarana perkantoran yang ada di kota memberikan kontribusi sampah yang umumnya berwujud kertas.

III-82

8. Sampah Sarana Pendidikan

Jenis sampah dari sarana pendidikan terdiri dari berbagai macam jenis sampah antara lain plastik, organik, kertas dan lain-lain.

b. Sarana Pengolahan

Belum ada instalasi pengkomposan, instalasi pembakaran sampah dan belum ada instalasi daur ulang sampah.

Tabel 3.11. Jumlah Timbulan dan Jumlah Sampah Per Kecamatan.

NO KECAMATAN TOTAL TIMBULAN

1 JOHAN PAHLAWAN 5,69 kg/hari/rumah

2 MEUREUBO 2,02 kg/hari/rumah

3 KAWAY XVI 2,16 kg/hari/rumah

4 SAMATIGA 2,37 kg/hari/rumah

Sumber: BAPEDAL Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Aceh Barat, 2010.

Tabel di atas memberikan gambaran bagaimana tingkat timbulan sampah tiap kecamatan di Kabupaten Aceh Barat per rumah tangga. Kecamatan Johan Pahlawan menyumbang timbulan sampah tertinggi di Kabupaten Aceh Barat dengan tingkat timbulan sampah mencapai 5,69 kg/hari/rumah. Hal ini didukung dengan jumlah kepadatan penduduk yang tinggi di kecamatan tersebut. Kecamatan Samatiga menyumbang timbulan sampah kedua terbesar yaitu 2,37 kg/hari/rumah. Dua kecamatan lainnya yaitu Kecamatan Kaway XVI dan Kecamatan Meureubo masing-masing menyumbang timbulan sampah sebesar 2,16 kg/hari/rumah dan 2,02 kg/hari/rumah.

Tabel 3.12. Perkiraan Total Timbulan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga.

NO JENIS SAMPAH TOTAL TIMBULAN

1 Sampah Perbengkelan 332,76 kg/hari

2 Sampah Perhotelan 1.412,50 kg/hari

3 Sampah Rumah Sakit 85,06 kg/hari

III-83

4 Sampah Perkantoran 325,66 kg/hari

5 Sampah sarana Pendidikan 2.447,25 kg/hari

6 Sampah Pasar 1.100 kg/hari

Sumber: BAPEDAL Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Aceh Barat, 2010.

Sampah pasar adalah sampah yang paling banyak menimbulkan timbulan sampah di Kabupaten Aceh Barat. Sampah yang berasal dari pasar menghasilkan timbulan sampah sampai 18.100 kg/hari. Pada posisi kedua, sampah sarana pendidikan menyumbangkan timbulan sampah mencapai 2.447,25 kg/hari. Secara berturut-turut terlihat bahwa sampah perhotelan, sampah rumah sakit, sampah perbengkelan dan sampah perkantoran menyumbangkan timbulan sampah dengan nilai 1.412,50 Kg/hari, 885,06 Kg/hari, 332,76 Kg/hari, dan 325,66 Kg/hari.

Tabel 3.13. Perkiraan Total Timbulan Sampah Spesifik

NO JENIS SAMPAH TOTAL TIMBULAN

1 Plastik 17.137.6 kg/hari

2 Organik 89.183,54 kg/hari

3 Kertas .132,67 kg/hari

4 Kaca 5.157,38 kg/hari

5 Besi 1.651,15 kg/hari

6 Jenis lainnya 209.85 kg/hari

Sumber: BAPEDAL Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Aceh Barat, 2010.

Dalam masalah persampahan dikabupaten Aceh Barat juga dilakukan studi Enviromental Health Risk Assessment EHRA yang mempelajari sejumlah hal pokok, yakni: 1) cara pembuangan sampah yang utama, 2) frekuensi dan pendapat tentang ketepatan pengangkutan sampah bagi rumah tangga yang menerima layanan pengangkutan sampah, 3) praktik pemilahan sampah, dan 4) penggunaan wadah sampah sementara di rumah.

Cara utama pembuangan sampah di tingkat rumah tangga diidentifikasi melalui jawaban verbal yang disampaikan responden. Dalam kuesioner tersedia 22 (dua puluh dua) opsi jawaban. Dua puluh dua opsi itu dapat dikategorikan dalam 4 (empat)

kelompok besar, yakni 1) Dikumpulkan di rumah lalu diangkut keluar oleh pihak lain, 2)

III-84

Dikumpulkan di luar rumah/di tempat bersama lalu diangkut oleh pihak lain, 3) Dibuang di halaman/pekarangan rumah, dan 4) Dibuang ke luar halaman/pekarangan rumah.

Di antara empat kelompok itu, cara-cara yang berada di bawah kategori 1 dan 2 atau yang mendapat layanan pengangkutan merupakan cara-cara yang memiliki risiko kesehatan paling rendah. Beberapa literatur menyebutkan bahwa cara pembuangan sampah di lobang sampah khusus, baik di halaman atau di luar rumah, merupakan cara yang aman pula. Namun, dalam konteks wilayah perkotaan, di mana kebanyakan rumah tangga memiliki keterbatasan ruang dan lahan, penerapan cara-cara itu dinilai dapat mendatangkan risiko kesehatan yang cukup besar. Dari sisi layanan

pengangkutan, studi Enviromental Health Risk Assessment (EHRA) melihat aspek frekuensi atau kekerapan dan ketepatan waktu dalam pengangkutan. Meskipun

sebuah rumah tangga menerima pelayanan, risiko kesehatan tetap tinggi bila frekuensi pengangkutan sampah terjadi lebih lama dari satu minggu sekali. Sementara,

ketepatan pengangkutan digunakan untuk menggambarkan seberapa konsisten ketetapan/kesepakatan tentang frekuensi pengangkutan sampah yang berlaku.

Di banyak kota di Indonesia, penanganan sampah merupakan masalah yang memprihatinkan. Dalam banyak kasus, beban sampah yang diproduksi rumah tangga ternyata tidak bisa ditangani oleh sistem persampahan yang ada. Untuk mengurangi beban di tingkat kota, banyak pihak mulai melihat pentingnya pengelolaan/pengolahan di tingkat rumah tangga, yakni dengan pemilahan sampah dan pemanfaatan atau penggunaan ulang sampah, misalnya sebagai bahan untuk kompos. Dengan latar belakang semacam ini, studi Enviromental Health Risk Assessment (EHRA) kemudian memasukkan pertanyaan-pertanyaan yang terkait dengan kegiatan pemilahan sampah di tingkat rumah tangga serta melakukan pengamatan yang tertuju pada kegiatan-kegiatan pengomposan.

Dalam tabel di bawah terlihat bahwa yang paling banyak dijumpai adalah rumah tangga yang membuang sampahnya di dalam rumah atau di tempat bersama

III-85

untuk kemudian diangkut petugas, yakni sebesar 24,8%. Persentase ini terdiri dari pengangkutan oleh petugas pemda/gampong (21,8%), petugas RT/RW (2,7%) dan perusahaan swasta (0,3%). Mengingat tidak semua warga dapat mengidentifikasi asal petugas pengangkut sampah, untuk selanjutnya tiga cara di atas dikatagorikan

kedalam 2 (dua) katagori saja, yakni membuang di rumah dan diangkut oleh petugas.

Kelompok kedua yang cukup besar adalah mereka yang membuang sampah ke halaman rumah mereka untuk kemudian dibakar, dikubur atau didiamkan saja.

Persentase kelompok ini adalah sebanyak 49,5%. Sementara, mereka yang membuang ke tempat terbuka mencakup sekitar 25,8%, terdiri dari mereka yang membuang ke sungai, kali kecil, selokan dan kolam ikan/tambak. Data tabel 1 (Cara Pembuangan Sampah) memang kurang bermakna dalam memberikan gambaran mengenai tingkat risiko kesehatan lingkungan yang dihadapi oleh masyarakat. Seperti telah disampaikan sebelumnya, penanganan sampah yang aman adalah di mana rumah tangga mendapat layanan pengangkutan yang memadai. Untuk kepentingan identifikasi tingkat risiko kesehatan lingkungan, rincian cara pembuangan di atas kemudian disederhanakan utamanya berdasarkan dua kategori besar, yakni 1) penerima layanan sampah dan 2) non penerima layanan sampah.

Tabel 3. 14. Cara Pembuangan Sampah

No Cara Pembuangan Sampah %

1 Dikumpulkan di rumah, diangkut petugas dari pemerintah / pemda/

kelurahan 12,6

2 Dikumpulkan di rumah, diangkut petugas dari masyarakat/ dikelola RT

atau RW 0,9

3 Dikumpulkan di rumah, diangkut petugas dari perusahaan swasta

1,7

III-86

4 Dikumpulkan di sebuah tempat bersama, diangkut petugas dari

pemerintah / pemda / kelurahan 2,9

5 Dikumpulkan di sebuah tempat bersama, diangkut petugas dari

masyarakat / dikelola RT atau RW 0,7

6 Dikumpulkan disebuah tempat bersama, diangkut petugas dari

perusahaan swasta 1,5

7 Dibuang di halaman rumah: ke dalam lubang lalu dikubur 6,4 8 Dibuang di halaman rumah: ke dalam lubang lalu dibakar

34,5 9 Dibuang di halaman rumah: ke dalam lubang dan didiamkan

2,4 10 Dibuang di halaman rumah: Tidak ada lubang / ditumpuk & didiamkan

1,4 11 Dibuang di halaman rumah: tidak ada lubang / ditumpuk lalu dibakar

20,6

12 Dibuang dihalaman rumah, ke kolong rumah 0,4

13 Dibuang di luar halaman rumah: ke tempat pembuatan sampah (TPS

Resmi) /Depo 1,0

14 Dibuang di luar halaman rumah: ke lubang sampah / tempat

pembuangan 0,7

15 Dibuang ke luar halaman rumah: ke sungai 1,9

16 Dibuang ke luar halaman rumah: ke kali/ sungai kecil 0,6 17 Dibuang di luar halaman rumah: ke selokan/ parit 0,5 18 Dibuang di luar halaman rumah: ke lubang galian/ kolam ikan/ tambak 0,7 19 Dibuang di luar halaman rumah: ke ruang terbuka 1,7 20 Dibuang di luar halaman rumah: tidak tahu dimana 0,3

21 Langsung dibakar 5,3

22 Langsung dikubur 0,5

23 Lainnya (sebutkan) 0,4

Total 100,0

Terkait dengan penerimaan layanan pengangkutan sampah, diagram dibawah menunjukkan bahwa sekitar 21,4% dari total rumah tangga di Kabupaten Aceh Barat mengakui menerima layanan pengangkutan. Sementara, sekitar 78,1% melaporkan belum menerima layanan pengangkutan dan sebesar 0,5% tidak memberikan komentarnya.

III-87

Gambar 3.6. Hasil Survey Penerima layanan Pengangkutan Sampah di Kabupaten Aceh Barat, 2010.

Bagi yang mendapatkan layanan, maka frekuensi pengangkutan yang diterima adalah pengangkutan setiap hari 7,2%. Sekitar 9,2% rumah tangga melaporkan sampahnya diangkut beberapa kali dalam seminggu. Sekitar 1,2% rumah tangga melaporkan sampahnya diangkut sekali dalam seminggu. Sekitar 1,0% yang menerima layanan beberapa kali dalam sebulan dan setiap bulan sekitar 0,4%.

Sisanya rumah tangga yang lain dan maypritas yaitu 79,4% yang tidak tahu seberapa sering sampah diangkut oleh petugas.

Standar minimum dalam indikator-indikator global tentang layanan angkutan sampah rumah tangga adalah seminggu sekali. Dengan demikian, maka kebanyakan rumah tangga di Kabupaten Aceh Barat yang menerima layanan pengangkutan sampah sebetulnya dapat dikategorikan telah mendapat layanan yang memadai.

Hanya sedikit yang belum mendapatkan layanan yang memadai dalam hal frekuensi pengangkutan.

Dalam dokumen BUPATI KABUPATEN ACEH BARAT (Halaman 81-87)