• Tidak ada hasil yang ditemukan

Strategi Penanganan Sanitasi

Dalam dokumen BUPATI KABUPATEN ACEH BARAT (Halaman 142-147)

BAB IV RENCANA PROGRAM PENGEMBANGAN SANITASI

4.2. Strategi Penanganan Sanitasi

Sesuai aspek-aspek pendukung yang terkait dengan penanganan sanitasi, antara lain bidang kesehatan, perumahan, pekerjaan umum dan lingkungan hidup, maka strategi yang dilaksanakan diarahkan kepada :

1. Meningkatkan upaya lingkungan yang sehat dan perilaku hidup bersih serta sehat;

2. Meningkatkan kapasitas sistem, organisasi dan individu dalam meningkatkan kesehatan masyarakat;

3. Penataan lingkungan kawasan kumuh perumahan;

4. Mewujudkan keterpaduan perencanaan pembangunan drainase Kabupaten dengan perencanaan penataan ruang Kabupaten;

5. Meningkatkan dan memperhatikan relevansi kondisi kontur dalam perencanaan saluran drainase/gorong yang masih kurang diperhatikan;

6. Meningkatkan kapasitas dan kualitas pelayanan saluran drainase/gorong perKabupatenan dengan meningkatkan ketegasan sanksi dalam mengoptimalkan saluran drainase;

7. Meningkatkan kualitas dan kuantitas saluran drainase perKabupatenan;

IV-4

8. Meningkatkan kuantitas dan kualitas sarana sanitasi Kabupaten melalui rencana induk sistem sanitasi;

9. Meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam pembangunan sarana pengolahan air limbah dalam skala komunitas;

10. Meningkatkan aktivitas pencegahan dan penanggulangan pencemaran lingkungan.

Dari strategi sanitasi tersebut diaplikasikan dalam beberapa rencana program prioritas yang lebih operasional berikut indikator capaiannya, antara lain:

1. Meningkatnya pengetahuan, kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam meningkatkan kualitas hunian;

2. Meningkatnya kualitas infrastruktur perumahan/permukiman;

3. Tersusunnya masterplan drainase;

4. Terbangunnya dan terpeliharanya saluran drainase;

5. Terlaksananya pembangunan sarana dan prasarana perKabupatenan;

6. Terlengkapinya lingkungan permukiman yang memadai pada kawasan permukiman;

7. Tersedianya TPA yang memenuhi standart teknis;

8. Meningkatnya sarana pengolah sampah di sumbernya

Untuk pencapaian sararan pengelolaan sanitasi berbasis masyarakat, perlu adanya pembaharuan kebijakan pembangunan di bidang sanitasi dan meningkatkan pemberdayaan masyarakat dan organisasi lokal melalui proses pendukung yang mengarah pada pengembangan kapasitas dan penguatan kelembagaan. Dalam pelaksanaan pengelolaan sanitasi berbasis masyarakat perlu dilengkapi dengan perangkat dan mekanisme kerja berupa pedoman manajemen aspek kelembagaan

IV-5

dan pembiayaan yang disepakati dan dipahami oleh semua stakeholder, untuk menjamin sistem pengelolaan yang optimal dan berkelanjutan.

Kebijakan pembangunan sanitasi diarahkan pada peningkatan aksesibilitas masyarakat terhadap sarana dan prasarana sanitasi melalui peningkatan kesadaran masyarakat terhadap perilaku hidup bersih dan sehat, peningkatan peran serta seluruh pemangku kepentingan, serta pembangunan sarana dan prasarana sanitasi yang berbasis partisipasi masyarakat.

Dalam upaya penyusunan pedoman kerja perlu terlebih dulu mengkaji terhadap kendala-kendala dan faktor-faktor keberhasilan di masyarakat dalam kaitannya dengan pengelolaan sanitasi yang menyangkut aspek, yaitu pola-pola kelembagaan, pembiayaan, operasional, dan peran serta masyarakat yang dilandasi oleh kearifan lokal yang ada.

4.2.1. Konsep Pengembangan Ruang Berbasis Sanitasi Sehat

Konsep peruntukan lahan yang di terapkan adalah Flexible Zoning, artinya dalam bentuk ruang (Spatial). Peruntukan yang dimaksud tidak bermaksud mutlak, dalam kondisi tertentu, pemasukan aktivitas lain terhadap kawasan yang telah di tetapkan masih di perbolehkan, terutama demi tercapai perwujudan penggunaan lahan yang intensif dan tingkat efesiensi yang tinggi dari berbagai aktivitas yang saling berkaitan.

Peruntukan lahan Kabupaten direncanakan sedemikian rupa dalam satu kesatuan sistem yang saling terkait, tapi dinamis untuk dikembang lebih lanjut atau di integrasikan dengan lingkungan sekitarnya . Khusus untuk perumahan di tetapkan sedemikian rupa agar dapat mengakomodasikan pertumbuhan yang melompat-lompat (Discontinue). Artinya akomodatif terhadap tahapan pelaksanaan dan perlu di cadangkan jauh melebihi rencana yang dibutuhkan.

IV-6

Pembangunan perumahan baru terutama di arahkan di ibu Kabupaten dan kecamatan atau desa jalur utama jalan Banda Aceh – Meulaboh, Meulaboh – Tapaktuan, Meulaboh – Geumpang Pidie. Permukiman baru di arahkan pengembangannya pada kecamatan Johan Pahlawan, Samatiga dan Meurebo. Namun demikian secara khusus perumahan pada bagian wilayah Kabupaten (Meulaboh) perlu di prioritaskan penataan peengembangannya, mengingat BWK tersebut saat ini memiliki kecenderungan perkembangan permukiman yang paling tiggi.

Rencana kawasan perumahan di tetapkan untuk dapat menampung sejumlah 129.732an jiwa penduduk saat ini sampai dengan tahun 2026, dengan ketetapan (rata-rata) 1 unit rumah untuk 3-5 anggota keluarga. Perhitungan jumlah rumah saat ini di dasarkan kepada data resmi Podes 2005 yaitu sebanyak 16.650 unit rumah.

Apabila di gunakan standar satu unit rumah membutuhkan kavling besar dengan ukuran 270 m² ,kavling sedang ukuran 150 m² maka kebutuhan ruang untuk kawasan perumahan masing-masing untuk lima tahun pertama (tahun 2011) dan tahun 2026 dapat dilihat pada tabel:

Tabel 4.1. Rencana Kebutuhan dan Penambahan Perumahan di Kabupaten Aceh Barat.

Sumber: Podes 2005 dan analisa konsultan

Usulan Kebijakan Pembangunan Perumahan:

1. Sarana Unit Lingkugan Perumahan

Sarana unit lingkungan perumahan berada berada di setiap pusat lingkungan perumahan sesuai dengan hirarkinya. Jenis sarana yang terdapat pada setiap

IV-7

pusat lingkungan perumahan tersebut yakni perdagangan, perkantoran/jasa bangunan umum, pendidikan kesehatan, peribadatan dan ruang terbuka hijau.

2. Distribusi Kepadatan Penduduk di Kawasan Perumahan

Penyebaran kepadatan penduduk untuk seluruh wilayah kabupaten Aceh Barat sampai tahun 2011 ditetapkan berdasarkan kepadatan penduduk bersih dan kepadatan penduduk Kabupaten

3. Pola Pembangunan Lingkungan Perumahan

Pola pembangunan kawasan perumahan di kabupaten Aceh Barat diarahkan berpedoman pada perumahan yang ada dengan meningkatkan kualitas lingkungan perumahan tersebut. Prioritas penataan kawasan perumahan di kabupaten Aceh Barat pada daerah perumahan di pusat Kabupaten Meulaboh.

Kegiatan perdagangan ditempatkan pada sub-sub pusat Kabupaten, pusat-pusat lingkungan perumahan dan pada koridar jalan arteri. Barang-barang yang di jual disini adalah konsumsi harian penduduk dan berbentuk barang eceran. Seluruh kecamatan perlu dilengkapi dengan sebuah pasar eceran (retail) yang refresentatif sekaligus mengedepankan komponen-komponen penting berbasis sanitasi sehat.

Demikian juga untuk kegiatan industri dalam skala kecil atau industri rumah tangga yang bersifat tidak polutif di bolehkan berlokasi secara acak di dalam Kabupaten, tetapi pada saat pengajuan izin usahanya, pemilik usaha harus dapat menunjukkan rencana pengelolaan limbah yang ditimbulkannya. Jika kegiatan usahanya tidak sesuai dengan kaidah sanitasi sehat, maka pemerintah dapat mencabut izin usahanya.

4.2.2. Konsep Pengembangan Kepariwisataan Berbasis Sanitasi Sehat

Rencana pengembangan periwisata yang hendak direncanakan pemerintah bertujuan untuk meningkatkan kontribusi sektor ini di dalam pengembangan

IV-8

perekonomian, terutama dalam peningkatan Pendapatan Asli Daerah, dan yang lebih utama adalah untuk mengembangkan segala potensi obyek dan daya tarik wisata yang dimiliki agar dapat memberikan hasil yang optimal. Untuk tujuan itu dilakukan beberapa pendekatan dengan mempertimbangkan bahwa dalam aktivitas pembangunan fisik guna penyediaan sarana,prasarana, dan sarana penungjang harus tetap dapat dilakukan dengan pola pembangunan yang berwawasan lingkungan sehingga potensi dan kualitas lingkungan yang ada tetap dapat dipelihara dan di kembangkan secara arif dan bijaksana. Menyadari kemampuan dan keterbatasan yang dimiliki Pemerintah Kabupaten Aceh Barat, maka pengembangan pariwisata akan di lakukan dengan suatu strategi pengembangan yang dibuat khusus sesuai dengan urutan skala prioritas pengembangan melalui evaluasi dan inventarisasi potensi obyek wisata dan daya tarik wisata yang dimiliki. Pengembangan perbaikan dan peningkatan prasarana pendukung seperti jalan, drainase, air bersih, air limbah, persampahan, listrik dan jaringan telekomunikasiserta sarana dan prasarana penunjang lainnya.

Dalam dokumen BUPATI KABUPATEN ACEH BARAT (Halaman 142-147)