BAB III PROFIL SANITASI KABUPATEN ACEH BARAT
3.2 Pengelolaan Air Limbah Kabupaten Aceh Barat
Pada umumnya masyarakat di wilayah Kabupaten Aceh Barat menggunakan dua sistem yaitu sistem terpisah dan sistem gabungan. Sistem terpisah yaitu
terjadinya pemisahan antara penyaluran air limbah dan air hujan. Air limbah dialirkan ke dalam Sistem Pembuangan Air Limbah (SPAL) yang berbentuk septik tank. Air hujan umumnya disalurkan melalui saluran drainase kota. Sistem gabungan yaitu semua air limbah tersebut masuk ke dalam satu wadah (septik tank). Pemerintah Kabupaten Aceh Barat telah melakukan pengadaan sarana dan prasarana yang berhubungan dengan pengelolaan limbah. Dari data Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Kebersihan dan Pertamanan, bahwa Kabupaten Aceh Barat telah memiliki Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT) sebanyak 1 unit. Pemerintah pun telah memiliki 2 unit mobil penyedot dan pengangkut tinja. Volume lumpur tinja yang dibuang ke ILPT ini berkisar 3 m3/hari.
3.2.1. Landasan Hukum
Undang-Undang Republik Indonesia:
1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1966 Tentang Hygiene.
III-98
2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1997 Tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia:
1. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 1990 Tentang Pengendalian Pencemaran Air
2. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 1999 Tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan.
3. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 2001 Tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air.
Keputusan Menteri Republik Indonesia:
1. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 35/MENLH/7/1995 tentang Program Kali Bersih.
2. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 112 Tahun 2003 tentang Baku Mutu Air Limbah Domestik.
3.2.2. Aspek Institusional
Pengelola air limbah di kabupaten Aceh Barat dilaksanakan oleh Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Kebersihan dan Pertamanan (BAPEDAL KP). Air limbah yang berasal dari tangki septik diangkut dengan mobil tinja kemudian dibuang ke Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT) yang ada sampaing lokasi TPA Jalan Kayu Putih desa Lapang Kecamatan Johan Pahlawan, meskipun instalasi tersebut sudah tidak melayani pengolahan lagi sejak tahun 2005, hal ini dikarenakan belum adanya IPLT yang lain di kabupaten Aceh Barat.
Sekitar 62,1% dari penduduk kabupaten Aceh Barat belum mengunakan sarana Mandi Cuci dan Kakus (MCK). Menggunakan MCK bersama/umum sebanyak 10,5%, sedangkan penduduk menggunakan jamban pribadi sebanyak 27,4%
III-99
umumnya ada di daerah perkotaan. Penduduk yang tidak memiliki MCK ini umumnya membuang limbahnya melalui sungai, saluran drainase, pantai, dll. Sedangkan jumlah dari septik tank, cubluk dan cemblung yang ada belum diketahui berapa banyak yang masih layak digunakan dan sesuaikan dengan kondisi tanah.
Institusi yang sangat berperan dalam pengawasan pembangunan septik tank adalah Institusi yang mengeluarkan Izin Mendirikan Bangunan (IMB), dimana dalam persyaratan IMB pemohon harus menyertakan Design Septik Tank. Selain itu Institusi Satpol PP atau ketertiban Umum juga sangat berperan dalam melaksanakan
penegakan hukum terhadap pencemaran lingkungan, terutama pencemaran terhadap sumber daya air.
Jumlah personil lapangan sebanyak 2 orang terdiri dari supir truk tinja dan kernet yang merangkap sebagai operator penyodotan tinja. Sedangkan di tempat Instalasi Pengolahan Limbah Tinja (IPLT) tidak ada personil yang ditugaskan, karena Instalasi Pengolahan Limbah Tinja (IPLT) sudah tidak berfungsi dan perlu perbaikan atau pembangunan baru. Untuk mengoptimalkan personil yang ada diperlukan
peningkatan kualitas staf di bidang perencanaan dan jumlah petugas lapangan dengan melakukan:
• Pelatihan Managemen untuk tingkat pimpinan.
• Pelatihan managemen pengolahan air limbah untuk pelaksana menengah (penanggung jawab perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, penyuluhan).
• Pelatihan khusus untuk tingkat pelaksanaan operasional lapangan (Operator truck, IPLT, dll).
Biaya pengelolaan lumpur tinja diperoleh dari Anggaran Pendapatan Belanja Kabupaten (APBK) Kabupaten Aceh Barat, biaya pengelolaan meliputi gaji pegawai dan operasional alat angkut. Sedangkan pendapatan yang diperoleh dari hasil pemungutan retribusi penyedotan kakus sebesar Rp. 14.500.000. Pendapatan
III-100
retribusi hanya mencapai 48% dari target sebesar Rp. 50.000.000. Besarnya tarif yang dikenakan sebesar Rp. 40.000 s/d Rp. 100.000,-.
3.2.3. Cakupan Layanan
Secara umum pengelompokan buagan limbah domestik Kabupaten Aceh Barat dibagi 2 macam yaitu: Limbah dari buangan manusia (jamban umum, pribadi atau jamban bersama) dan Limbah dari cuci dan mandi. Pada umumnya sistem limbah domestik rumah tangga tidak ditangani secara khusus melainkan dengan pengelolaan secara on site individual. Limbah yang dihasilkan pada umumnya berasal dari WC dan mandi-cuci. Air mandi dan cuci masuk ke dalam air hujan sedangkan dari WC masuk kedalam septik tank yang tergabung dengan bidang resapan.
Tangki septik setelah beberapa waktu kemudian akan penuh dengan Lumpur, dan akan di ambil oleh truck tinja. Pengelolaan limbah penanganan aktivitas MCK di kabuaten Aceh Barat di tinjau dari jumlah desa yang umumnya penduduk
menggunakan sarana pribadi, jamban bersama, jamban umum atau tidak ada fasilitas, dan peninjauan lainnya tidak adalah dari sudut jenis pembuangan di desa/kecamatan.
Pada umumnya lokasi di Aceh Barat mempunyai lahan yang cukup luas, sehingga apabila bila di perhitungkan sampai 10 tahun kedepan tidak terjadi tekanan penduduk dan masalah lingkungan berkaitan dengan system sanitasi baik perorangan maupun kolektif, kecuali yang bersifat kasuistis/lokasi dan sebab tertentu sehingga perlu di tanggulangi. Akibat dari Tsunami 26 Desember 2004 lalu, kerusakan yang terjadi pada kota pada kota /kabupaten yang tidak memiliki fasilitas unit Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT) pada umumnya hilangnya aksesibilitas masyarakat terhadap pelayanan sanitasi akibat hancurnya rumah termasuk rusaknya fasilitas jamban dan septik tank. Setelah bencana fasilitas IPLT secara umum instalasinya tidak dapat beroperasional lagi.
Sesuai dengan hasil survey kesehatan lingkungan maka di wilayah Kabupaten Aceh Barat dapat kita ketahui bahwa ada 22.481 jamban dengan jenis jamban leher
III-101
angsa dan juga terdapat 36.714 unit Sistem Pembuangan Air Limbah (SPAL). Secara umum semua fasilitas jamban dan SPAL dibangun oleh lembaga donor dan lembaga nasional dan internasional yang membangun rumah bantuan di kabupaten Aceh Barat.
Tabel 3.15. Kondisi Fasilitas penanganan limbah domestik di Kabupaten Aceh Barat
Kecamatan
Sumber: DED Air limbah kabupaten Aceh Barat.
3.2.4. Aspek Teknis dan Teknologi 3.2.4.1. Aspek Teknis
Ada beberapa pengolahan limbah tinja yang sudah dilakukan dikabupaten Aceh Barat, misalnya:
- Pengolahan secara individual
Limbah yang dihasilkan di kabupaten Aceh Barat pada umumnya berasal dari WC dan mandi-cici. Air mandi dan cuci masuk ke dalam air hujan sedangkan dari WC masuk kedalam septic tank yang tergabung dengan bidang resapan. Tanki septic setelah beberapa waktu kemudian akan penuh dengan Lumpur, dan akan di ambil oleh truk tinja. Pengelolaan secara individual atau bon site sanitation dilakukan oleh masing-masing rumah tangga.
- Pengolahan Air Limbah Dengan Fasilitas Bersama,
III-102
Prisipnya sama dengan fasilitas individu. Yang membedakan adalah volume, pengelolaan dilakukan secara individu atau on site sanitation dilakukan oleh satu atau lebih rumah secara bersama.
- Pengelolaan Air Limbah Komunal,
Limbah yang dihasilkan pada umumnya berasal dari WC dan mandi-cici. Air mandi dan cuci masuk ke dalam air hujan sedangkan dari WC masuk kedalam septic tank yang tergabung dengan bidang resapan. Tanki septic setelah beberapa waktu kemudian akan penuh dengan Lumpur, dan akan di ambil oleh truk tinja. Satu unit MCK bisa terdiri dari 4-5 WC dengan satu septic tank.
Pengelolaan secara individu atau on site sanitation yang dilakukan oleh satu atau lebih rumah secara bersama. Penyebaran lokasi fasilitas dengan angka tersebut diatas relative menyebar.
3.2.4.2. Aspek Teknologi
Berbicara pada aspek teknlogi, maka ditinjau dari kondisi sarana dan prasarana sistem IPLT yang Ada di Kabupaten Aceh Barat, misalnya:
a. Sarana dan Prasarana Penduduk
Fasilitas jamban umumnya dimiliki penduduk adalah:
- Bangunan atas, berupa kloset leher angsa. Kloset umumnya berupa kloset duduk dan jongkok yang terbuat dari keramik atau batu bata dilapisi porland cement.
- Bangunan bawah, berupa cebluk tunggal dengan kontruksi buis beton dan cebluk komunal dengan kontruksi papan atau buis beton yang berfungsi yang berfungsi untuk meneria buangandari kakus (tinja+black water).
b. Sarana dan Prasarana pengelola
III-103
Sarana dan prasaran yang dipakai oleh pengelola limbah domestik baik swasta maupun Pemerintah, dalam hal ini Badan Pengendalian Dampak Lingkungan
Kebersihan dan Pertamanan (BAPEDALKP) meliputi : - Truck Tinja.
- IPLT (Instalasi Pengelolaan Lumpur Tinja) yang sudah tidak berfungsi optimal lagi.
3.2.5. Peran Serta Masyarakat dan Gender dalam Penanganan Limbah Cair Masyarakat mempunyai perannya masing-masing sesuai dengan tingkat kesadaran akan kesehatan lingkungan dan kemampuan finansialnya masing-masing.
Masyarakat yang telah mampu, umumnya telah memiliki fasilitas penanganan limbah cair dengan baik. Namun masyarakat yang belum memiliki kemampuan finansial, penyediaan sarana ini menjadi sulit bagi mereka. Sehingga dapat kita katakan dengan kondisi masyarakat dengan berbagai latar belakang yang dimilikinya, penanganan leimbah ini belum maksimal. Hal ini terlihat dari data kesehatan lingkungan bahwa 36.714 rumah yang disurvey, hanya 6.820 rumah (18%) yang memiliki Sistem
Pembuangan Air Limbah (SPAL) memenuhi syarat, sedangkan sisanya sebesar 82%
berada dalam kondisi tidak memadai.
Secara keseluruhan tingkat kesadaran penduduk Aceh Barat dalam hal
penaganan air limbah khusunya limbah Lumpur tinja masih rendah hal ini dapat dilihat dari masyarakat yang memiliki sarana MCK baru mencapai 27,4%. Untuk meningkat peran serta masyarakat ini perlu:
• Mengefektifkan pelaksanaan pengawasan.
• Melakukan penyuluhan dan sosialisasi secara terprogram untuk menggugah masyarakat agar berperan aktif dalam menjaga lingkungannya.
• Mempersiapkan tenaga penyuluh.
• Mulai melakukan pelatihan air limbah kepada tenaga formal (Pemerintah Daerah) dan pimpinan informal masyarakat (tokoh masyarakat) yang akan di
III-104
gunakan sebagai ujung tombak pelaksanaan penyuluhan kepada masyarakat pada tahap selanjutnya.
• Membuat panduan untuk program penyuluhan.
3.2.6. Permasalahan
1. Pada pengelolaan air limbah individual di kota Meulaboh masalahnya adalah kondisi tanki yang tak kedap air. Pada kondisi tertentu, dimana penduduk akan meningkat maka kondisi ini di antisipasi untuk ditangani yaitu sesuai yaitu sesuai proyeksi produksi dan penanganan air limbah, mulai tahun 2007 mulai diperkenalkan septik tank kedap air yang jumlahnya meningkat bertahap hingga akhir tahun pencemaran (2026).
2. Masih ada pandangan dari masyarakat yang beranggapan bahwa pengelolaan limbah ini tidak begitu mendesak atau tidak menjadi perhatian bagi masyarakat.
Masyarakat masih menggunakan cara yang tidak sehat yaitu dengan memanfaatkan badan sungai atau saluran drainase untuk memenuhi kebutuhan sarana prasarana pengelolaan limbah cair ini.
3. Untuk wilayah yang memiliki tingkat kepadatan penduduk yang tinggi dan juga ketersediaan lahan yang tidak begitu luas bagi penyediaan Sitem Pembuangan Air Limbah (SPAL), tentunya sistem SPAL berskala rumah tangga lebih sulit diterapkan karena keterbatasan lahan yang dimiliki. Hal ini tentunya harus menjadi perhatian kita semuanya.
4. Unit pengolahan tinja yang dimiliki Pemerintah Kabupaten Aceh Barat sudah penuh dan bahkan dua bak penampungnya sudah rusak sehingga tidak dapat difungsikan lagi. Hal ini tentunya akan sangat berpengaruh kepada pengelolaan limbah cair.
III-105
5. Belum adanya perangkat hukum (Qanun) untuk mendukung beroperasinya pengelolaan air limbah antara lain:
o Qanun yang berisi tentang larangan dan sangsi bagi masyarakat yang membuang air limbahnya yag dapat menganggu sumber daya air (disungai, saluran drainase, pantai dll).
o Perlu merevisi Qanun tentang Retribusi Penyedotan Kakus.