• Tidak ada hasil yang ditemukan

Rencana Peningkatan Pengelolaan Limbah Cair

Dalam dokumen BUPATI KABUPATEN ACEH BARAT (Halaman 147-153)

BAB IV RENCANA PROGRAM PENGEMBANGAN SANITASI

4.3. Rencana Peningkatan Pengelolaan Limbah Cair

Target pengelolaan air limbah diarahkan melalui upaya-upaya intensif baik yang dilakukan oleh Pemerintah maupun peningkatan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya kondisi sanitasi lingkungan yang baik, dalam hal ini perlu dilanjutkan terus dengan memperhatikan kegiatan penyuluhan secara intensif serta menggunakan cara yang sesuai dengan lingkungan setempat.

Sistem penanganan air limbah di Kabupaten Aceh Barat menggunakan sistem pembuangan on site, sehingga dianjurkan menggunakan metode septic tank (tunggal atau kembar). Penanganan pembuangan sistem on site memerlukan transportasi lumpur tinja untuk pengosongan tanki dengan menggunakan truk berkapasitas 2-4 atau 6 meter kubik atau menggunakan trailer untuk melayani penyedotan daerah padat dengan jalan relatif sempit.

IV-9

Strategi peningkatan pengelolaan air limbah di Aceh Barat juga ikut mengacu pada target-target yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Pusat yaitu:

1) Target Nasional

Target/sasaran pambangunan masalah air limbah diarahkan untuk dapat dilaksanakan melalui beberapa cara : yaitu dengan pengelolaan pembuangan limbah sistem setempat (on site sanitation disposal system)

a) Sistem Individual

Sistem pembuangan setempat, yang dilakukan masyarakat dengan jamban/kakus tipe cubluk atau dengan tangki septic perlu didukung dengan usaha penyuluhan dan perbaikan serta pemeliharaan kondisi dari fasilitas tersebut. Fasilitas pengurasan tangki septic dan pengadaan tempat pembuangan lumpur tinja harus disediakan untuk melayani masyarakat pemakai.

b) Sistem Komunal

Sistem pembuangan limbah setempat secara komunal yang sudah dikenal berupa fasilitas MCK disamping memberikan manfaat yang nyata juga menimbulkan dampak negatif yang umumnya disebabkan kurangnya kesadaran masyarakat dalam hal kebersihan dan kesehatan lingkungan.

Program penyediaan fasilitas MCK perlu disesuaikan dengan kebiasaan masyarakat setempat dan didukung oleh program penyuluhan kesehatan yang intensif. Fasilitas MCK terutama diarahkan untuk daerah-daerah dengan tingkat ekonomi rendah.

2) Kebijaksanaan dan Strategi Penanganan Air Limbah Domestik

a) Peningkatan pembangunan, pengelolaan prasarana dan sarana sanitasi, untuk meningkatkan kualitas lingkungan hidup dan menjaga kelestarian lingkungan

IV-10

b) Penyelenggaraan pembangunan prasarana dan sarana sanitasi yang terjangkau oleh masyarakat luas sampai kepada yang berpenghasilan rendah.

c) Pengembangan rekayasa teknis untuk mendapatkan teknologi tepat guna yang sederhana.

d) Penyelenggaraan pembangunan yang berwawasan Iingkungan dan berkelanjutan.

e) Penetapan dan penerapan pemberlakuan harus memenuhi baku mutu lingkungan di kawasan perumahan dan pemukiman.

f) Peningkatan peran serta swasta dan masyarakat.

g) Pengembangan system pendanaan.

h) Pemantapan kelembagaan.

i) Peningkatan pemanfaatan, operasi dan pemeliharaan prasarana dan sarana sanitasi yang telah dibangun.

j) Penyelenggaraan pembangunan prasarana dan sarana sanitasi yang terpadu dengan program/sektor lain.

k) Peningkatan kemandirian masyarakat dalam penyediaan dan penye!enggaraan pembangunan prasarana dan sarana sanitasi.

3) Strategi Teknis

a) Memenuhi kebutuhan prasarana dan sarana sanitasi.

b) Menentukan spesifikasi teknis minimum prasarana dan sarana dasar sanitasi.

c) Mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan.

d) Memperbaiki kemampuan daya dukung lingkungan.

IV-11

e) Menentukan standar baku mutu lingkungan permukiman yang sehat.

f) Mendorong terlaksananya operasi dan pemeliharaan prasarana dan sarana dasar sanitasi.

g) Menyiapkan rencana pengelolaan secara terpadu sebelum pelaksanaan.

4) Strategi Finansial/Pendanaan

a) Menciptakan iklim pendanaan yang memungkinkan dan menarik dunia usaha untuk ikut membiayai penyediaan dan pengelolaan prasarana dan sarana dasar.

b) Menggali sumber dana masyarakat untuk ikut membiayai dan pengelolaan prasarana dan sarana dasar sanitasi.

c) Menyempurnakan mekanisme sistem bantuan keuangan untuk penyediaan prasarana dan sarana dasar sanitasi.

5) Strategi Kelembagaan/Peraturan Perundang-undangan a) Meningkatkan fungsi kelembagaan yang sudah ada

b) Mendorong terbentuknya lembaga pengelola sarana dan prasarana sanitasi.

c) Mendorong pelaksanaan perundang-undangan.

d) Melengkapi peraturan dan perundangan yang ada.

e) Meningkatkan kemampuan sumber daya manusia.

f) Meningkatkan jumlah tenaga ahli sanitasi.

6) Strategi Pencapaian Sasaran Sub Program Air Limbah

a) Mengembangkan teknologi sanitasi dasar tepat guna yang terjangkau oleh masyarakat berpenghasilan rendah.

IV-12

b) Mengembangkan sistem pengelolaan air Iimbah terpusat terutama di kawasan potensial, serta mengembangkan sistem perpipaan air limbah sederhana bagi kawasan kumuh dan padat.

c) Mengembangkan dan memantapkan kelembagaan pengelolaan air limbah melalui pembentukan unit pengelola air limbah, dinas atau perusahaan daerah serta mendorong kemitraan dengan dunia usaha dan masyarakat.

d) Mengembangkan percontohan sarana pengelolaan air limbah pedesaan serta memasyarakatkan pembuatan sarana sanitasi sederhana.

e) Menentukan tolak ukur mutu lingkungan air di dalam kawasan perumahan dan pemukiman.

f) Mengembangkan system pendanaan subsidi silang, system bantuan keuangan dan peran serta dunia usaha.

g) Mempercepat terwujudnya peraturan dan perundang-undangan yang menyangkut pengelolaan air limbah.

7) Strategi Promosi

a) Melaksanakan apresiasi maupun pelatihan untuk meningkatkan pengelola sarana dan prasarana sanitasi.

b) Melaksanakan training untuk meningkatkan pengelola prasarana dan sarana air limbah.

c) Melaksanakan pelatihan teknis.

d) Melaksanakan kegiatan penyuluhan untuk meningkatkan kesadaran dan peran serta masyarakat dalam rangka mencapai hasil pengelolaan yang optimal.

e) Meningkatkan peran pemerintah daerah dalam penyediaan dan pengelolaan prasarana dan sarana sanitasi.

IV-13

f) Meningkatkan kesadaran dan kemandirian masyarakat akan kesehatan Iingkungan permukiman.

g) Meningkatkan kemandirian masyarakat dalam pengadaan prasarana dan sarana sanitasi.

8) Pembangunan Berwawasan Lingkungan

Pembangunan prasarana dan sarana air Iimbah harus memperhatikan dampak samping yang mungkin timbul akibat penyebaran wabah melalui pencemaran dan bidang resapan dan konstruksinya harus benar-benar diperhatikan agar tidak mencemari air tanah.

4.3.1. Proyeksi Timbulan Limbah Domestik

Jika kita kaitkan dengan keriteria (menurut petunjuk teknis pencemaran, pembangunan dan pengelolaan bidang KE-PLP-PAN perkotaan dan perdesaan, Dept.

PU 1999 laju timbulan Lumpur sebesar 0,5 orang /hari). Timbulan limbah diproyeksikan hingga tahun 2011 dan 2026, Volume limbah meningkat dari 538 m³ menjadi 1964 m³, diperlukan septic tank komunal 22 unit sampai tahun 2011 untuk menambah 10%

tingkat pelayanan per tahun.

Tabel 4.2. Rencana Pelayanan Air Limbah Kabupaten Aceh Barat.

No Kecamatan Target Pelayanan Air Buangan (m3)

2009 2010 2011 2012 2013

1 Kaway XVI 14410 14958 15528 16119 16732

2 Johan Pahlawan 57081 59254 61509 63851 66281

3 Meureubo 29160 30270 31423 32619 33860

4 Samatiga 25929 26916 27941 29004 30108

TOTAL 126580 131398 136401 141593 146981

Sumber : Hasil Analisis (RPIJM Aceh Barat 2009-2013)

Dari Tabel Rencana Pelayanan Air Limbah Kabupaten Aceh Barat di atas dapat dijelaskan bahwa data yang digunakan sebagai dasar perhitungan target pelayanan air

IV-14

buangan 2012 sampai dengan 2027 adalah data 2007. Pada tahun 2007 menunjukkan bahwa Kecamatan Johan Pahlawan merupakan kecamatan yang membutuhkan pelayanan air buangan terbesar yaitu 57.081 m3. Sedangkan Kaway XVI merupakan kecamatan terendah yang membutuhkan pelayanan air limbah yaitu sebesar 14.410 m3. Selanjutnya tahun 2012 hingga tahun 2027 menunjukkan bahwa kebutuhan pelayanan air limbah terus meningkat seiring dengan pertambahan penduduk.

4.3.2. Alternatif Penanganan Masalah

Penanganan bisa difokuskan sosialisasi pengelolaan individual karena hal ini sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk serta antisipasi peningkatan ekonomi.

Secara bertahap dilakukan sosialisasi yang bertujuan untuk:

- mengurangi jumlah penduduk yang membuang limbah domestic tanpa dikelola atau pembuatan tanki septic yang kedap air.

- Menlakukan pengelolaan limbah domestic terpusat untuk skala perkotaan.

Secara umum penananganan untuk peningkatan sanitasi di kota Meulaboh kecamatan Johan Pahlawan dapat dilakukan sebagai berikut:

Dalam dokumen BUPATI KABUPATEN ACEH BARAT (Halaman 147-153)