BAB II GAMBARAN UMUM KABUPATEN
2.6. Sosial Masyarakat
Kondisi kultur masyarakat di Kabupaten Aceh Barat terdiri dari beberapa sub etnis (suku bangsa) namun budaya Aceh lebih dominan mengakulturasi budaya masyarakat yang ada di Kabupaten Aceh Barat, budaya Aceh identik dengan Agama Islam sehingga Islam menjadi sendi kehidupan bermasyarakat, bernegara dan segala aspek kehidupan lainnya.
Sistem kekerabatan di Kabupaten Aceh adalah system keluarga luas, garis keturunan berdasarkan prinsip bilateral yang memperhitungkan garis keturunan dari ayah dan dari ibu. Hal tersebut hingga terimplimentasikan hingga kepada konsep perkawinan yang sering dilakukan antara sesame kerabat baik dari pihak ayah maupun dari pihak ibu, sehingga diperkampungan Aceh tidak jarang kita melihat hubungan kekerabatan yang begitu besar dan luas.
Masih besarnya penduduk miskin yang berada dibawah garis kemiskinan disebabkan oleh beberapa aspek yaitu kemiskinan struktural, konflik yang berkepanjangan, krisis ekonomi, musibah bencana gernpa bumi dan tsunami juga ditambah dengan naiknya harga bahan bakar minyak (BBM) dalam negeri berpotensi menambah jumlah masyarakat miskin.
II-41
Upaya penanggulangan kemiskinan difokuskan pada: Pertama, perluasan akses masyarakat miskin terhadap pendidikan, kesehatan, infrastruktur dasar, dan kesempatan memperoleh pekerjaan dan berusaha. Kedua, upaya penanggulangan kemiskinan memerlukan upaya yang bersifat pemberdayaan.
Upaya pemberdayaan masyarakat miskin menjadi penting karena akan menempatkan mereka bukan sebagai obyek melainkan subyek berbagai upaya penanggulangan kemiskinan. Untuk meningkatkan posisi tawar masyarakat miskin, diperlukan berbagai upaya pemberdayaan agar masyarakat miskin lebih berkesempatan untuk berpartisipasi dalam proses pembangunan.
Selain itu diperlukan upaya pemberdayaan agar masyarakat miskin dapat berpartisipasi dalam kegiatan ekonomi sehingga mengubah pandangan terhadap masyarakat miskin dari beban (liabilities) menjadi potensi (assets). Berbagai proses pemenuhan kebutuhan dasar dan pemberdayaan tersebut di atas perlu didukung oleh perbaikan sistem bantuan dan jaminan sosial serta kebijakan ekonomi yang pro-poor termasuk tata kelola pemerintahan yang baik.
Beberapa masalah pokok yang dihadapi oleh masyarakat miskin antara lain sebagai berikut: Pertama, rendahnya kemampuan daya beli dan kesadaran masyarakat akan pangan dengan gizi yang layak yang merupakan persoalan utama bagi masyarakat miskin. Kedua, terbatasnya akses atas kebutuhan dasar terutama pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur dasar. Selama ini kelompok masyarakat miskin dihadapkan pada masalah tingginya biaya pendidikan, oleh karena itu telah menyebabkan tingginya angka putus sekolah.
Hal ini masih terjadi terutama pada jenjang pendidikan menengah, karena alasan anak harus membantu orang tua mencari nafkah. Kelompok masyarakat miskin juga dihadapkan pada mahalnya biaya pengobatan dan perawatan, jauhnya tempat pelayanan kesehatan, dan rendahnya jaminan kesehatan. Ketiga, masih minimnya penanganan dibidang kesejahteraan sosial, baik ditingkat perorangan, keluarga
II-42
maupun kelompok masyarakat. Perlindungan sosial bagi masyarakat miskin, khususnya fakir miskin dan PMKS, diperlukan agar mereka dapat memenuhi kebutuhan dasar secara mandiri dan dapat mengakses sistem pelayanan social dasar, penyandang cacat, anak terlantar, anak korban penyalahgunaan NAPZA, gelandangan dan wanita rawan social ekonomi. Kelima, belum adanya rasa aman terhadap masyarakat yang tertimpa bencana, serta terjaminnya ketersediaan bantuan dan relokasi korban dalam situasi darurat sehingga dapat mengurangi penderitaan masyarakat yang terkena bencana.
Fenomena ini merupakan realitas yang harus mandapat perhatian serius dalam program pembangunan tahun 2007. Pembangunan diselenggarakan secara holistik yang memiliki keterkaitan (linkages) yang signifikan dengan kegiatan sektoral melalu pendekatan multiplayer effect dengan membuat skala prioritas dari kegiatan yang dapat meningkatkan kehidupan sosial ekonomi kemasyarakatan. Penduduk miskin yang umumnya berpendidikan rendah harus bekerja apa saja untuk mempertahankan hidupnya. Kondisi tersebut menyebabkan lemahnya posisi tawar masyarakat dan tingginya kerentanan terhadap perlakuan yang merugikan disamping itu juga harus menerima pekerjaan dengan imbalan yang sangat rendah, tanpa sistem kontrak atau tidak adanya kepastian perlindungan hukum terhadap pekerja informal tersebut.
Kantong-kantong kemiskinan pada umumnya terdapat pada zona pesisir dan desa-desa terpencil dengan sumber mata pencaharian sebagai nelayan dan petani tradisional dengan upah dan pendapatan yang relatif kecil. Oleh karena itu perlu paradigma baru dalam memanfaatkan sumberdaya local sebagai potensi yang dapat dikembangkan dalam proses percepatan pembangunan serta mengurangi ketimpangan pembangunan. Potensi tersebut adalah pemanfaatan pengembangan kawasan-kawasan secara optimal sebagai pusat-pusat pertumbuhan (growth center) melalui pembentukan pengelompokan pemukiman baru sebagai daerah pertumbuhan ekonomi dan pengembangan perluasan kesempatan berusaha.
II-43
Disamping kondisi trauma masyarakat terhadap gempa dan tsunami, juga terdapat permasalahan lama yang juga masih menyisakan kepedihan mendalam yaitu korban konflik yang belum ditangani dengan maksimal, disamping karena menurunnya kemampuan organiasi sosial masyarakat dalam melaksanakan usaha-usaha kesejahteraan sosial dalam masyarakat.
Dari sudut pandang budaya pada umumnya semua jenis kebudayaan Aceh sangat terikat dan terkait dengan nilai-nilai Agama Islam, walaupun demikian ada beberapa bagian dalam kalangan masyarakat yang masih terpengaruh oleh kebiasaan.
Sebelum datangnya Agama Islam, hal ini dapat dilihat dalam adat istiadat masyarakat Aceh seperti hari-hari kenduri tolak bala, kenduri laot, kenduri blang, kenduri glee dan lain-lain.
Seperti halnya kondisi masyarkat Aceh Barat yang masih sangat dominan dengan berbagai kebudayaan tradisional. Pemerintah Nanggroe Aceh Darussalam pada tahun 2004 melalui Qanun Nomor 3 Tahun 2004 tentang Pembentukan Susunan Organisasi dan Tata Kerja Majelis Adat Aceh (MAA) NAD, dengan tujuan menggali kembali, memeliharan, melestarikan dan mengembangkan adat dan budaya Aceh sesuai dengan kebijakan pemerintah tentang pelaksanaan Syariat Islam, adapun langkah-langkah atau cara yang ditempuh dalam rangka mengembangkan adat dan budaya Aceh diantaranya menggali kembali adat budaya dan falsafah hidup yang luhur dan dihormati oleh masyarakat Aceh.
Kondisi kebudayaan masyarakat Kabupaten Aceh Barat yang masih sarat dengan keluhuran sejarah tidak hanya sebatas budaya dan adat yang sudah menjadi warisan atau tradisi turun temurun juga dalam beberapa Kebudayaan yang ada berusaha menggambarkan bagaimana kegigihan masyarakat pejuang dulu dengan penuh nilai-nilai perjuangan yang diimplementasikan lewat berbagai macam tarian dan hikayah yang menggambarkannya.
II-44
2.7. Perekonomian
Tingkat pertumbuhan ekonomi daerah dapat dilihat dari perkembangan nilai DRB Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) yang disajikan secara berkala setiap tahunnya.
Perbandingan nilai PDRB Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) tahun berjalan dengan tahun sebelumnya merupakan angka laju pertumbuhan ekonomi pada tahun berjalan tersebut. Pada tahun 2006 laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Aceh Barat mencapai angka 8,65%. Angka tersebut melampau target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 6,5% pada tahun 2006.
Tingginya tingkat pertumbuhan ekonomi Kabupaten Aceh Barat pada tahun 2006 cukup beralasan dimana aktivitas perekonomian di daerah ini meningkat tajam pasca musibah gempa dan tsunami pada Desember 2004. Sedangkan pada tahun 2005 dimana kegiatan ekonomi masih pada tahap pemulihan, pertumbuhan ekonomi mengalami penurunan sebesar minus 13,15%.
Secara sektoral pertumbuhan ekonomi dipicu oleh meningkatnya aktivitas pada sector Bangunan/Konstruksi, sektor Pertambangan dan Penggalian, sektor perdagangan, Hotel dan Restoran, dan sektor Industri. Secara sederhana dapat dijelaskan bahwa aktifitas pembangunan secara fisik membutuhkan bahan baku dari barang galian dan barang-barang dari hasil industri bahan bangunan, sehingga terjadi peningkatan pada transaksi perdagangan, aktivitas transportasi dan komunikasi.
Sektor Pertanian walaupun meningkat sebesar 6,93% pada tahun 2006, tetap memberikan dampak yang besar terhadap pertumbuhan ekonomi daerah Aceh Barat, karena sektor Pertanian memberikan kontribusi terbesar terhadap nilai PDRB Kabupaten Aceh Barat, terutama subsektor Tanaman Bahan Makanan dan subsektor Perkebunan. Pertumbuhan ekonomi daerah pada masa yang akan datang akan sangat dipengaruhi oleh pertumbuhan sector-sektor yang memberikan kontribusi terbesar terhadap PDRB yaitu sektor Pertanian, dan sector Perdagangan, Hotel dan Restoran (Sumber : BPS Aceh Barat).
II-45
Kabupaten Aceh Barat sebagai daerah yang memiliki potensi lahan agraris yang besar, sektor pertanian memegang peranan penting dalam meningkatkan perekonomian daerah dan kehidupan sosial ekonomi masyarakat mengingat sebagian besar penduduk khususnya masyarakat yang tinggal dipedesaan mempunyai mata pencaharian di bidang pertanian khususnya tanaman pangan terutama tanaman padi, palawija dan hortikultura sebagai sumber mata pencaharian sehari-hari.
2.7.1 Struktur Perekonomian
Struktur Perekonomian suatu daerah dapat dilihat dari besarnya kontribusi yang diberikan oleh masing-masing sektor ekonomi terhadap pembentukan nilai DRB (Atas Dasar Harga Berlaku maupun Atas Dasar Harga Konstan). Seperti halnya tahun-tahun sebelumnya, struktur perekonomian Kabupaten Aceh Barat tahun 2006 masih didominasi oleh sektor Pertanian. Sektor Pertanian (walaupun mengalami pertumbuhan jauh dibawah sektor Bangunan/Konstruksi) menempati urutan pertama dalam memberikan kontribusi terhadap total nilai PDRB. Sebesar 34,99% dari total PDRB ADHB Aceh Barat tahun 2006 berasal dari sektor Pertanian, mengalami sedikit penurunan dibanding kontribusi sektor ini pada tahun 2005 yang mencapai 36,32%.
Kontribusi terbesar kedua berasal dari sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran yaitu sebesar 24,12%. Kemudian diikuti oleh sektor Jasa-jasa sebesar 15,83% dan sektor Bangunan/Konstruksi sebesar 13,67%.
Lima sektor lainnya masih memberikan kontribusi dibawah 10% terhadap pembentukan nilai PDRB. Diharapkan sektor-sektor yang memberikan kontribusi terbesar terhadap nilai PDRB juga mengalami pertumbahan yang cukup tinggi pula.
Karena kontribusi yang besar dapat juga mengindikasikan banyaknya jumlah pelaku ekonomi pada sektor tersebut. Dapat disimpulkan bahwa sektor-sektor tersebut menguasai hajat hidup masyarakat. Seperti sektor Pertanian yang memberikan
II-46
kontribusi terbesar, ternyata sebagian besar penduduknya juga menggantungkan kehidupannya pada sektor Pertanian tersebut.
Sektor industri pada tahun 2006 memberikan kontribusi 1,27% terhadap nilai PDRB. Namun sektor ini mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi yaitu sebesar 9,61% pada tahun 2006. Setiap tahun kontribusi sektor industri memang masih kecil terhadap nilai PDRB, namun dengan pertumbuhan yang cenderung meningkat, sektor industri merupakan potensi yang besar bagi kegiatan perekonomian di daerah ini dimasa yang akan datang.
Struktur perekonomian Kabupaten Aceh Barat dalam dua tahun terakhir yakni tahun 2005 hingga 2006 Kontribusi Sektoral Terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) dan PDRB Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) sektor pertanian masih merupakan dominan, yakni pada tahun 2005 PDRB ADHB sebesar 36,32 sedangkan pada Tahun 2006 34,99 sedangkan pada Tahun 2005 PDRB ADHK sebesar 28,21 dan pada Tahun 2006 sebesar 27,76 sedangkan pada sektor lain masih ditentukan, sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor bangunan dan sektor jasa-jasa.
Sektor jasa-jasa selama lima tahun terakhir ini menunjukkan pertumbuhan yang semakin meningkat. Pada tahun 2002 sektor ini tumbuh sebesar 0,40%, selanjutnya secara bertahap pertumbuhan sektor ini mengalami peningkatan hingga mencapai 2,67% pada tahun 2006. Pada tahun 2006 hampir semua subsektor yang termasuk sektor ini mengalami peningkatan, kecuali subsektor hiburan, rekreasi, dan kebudayaan yang mengalami pertumbuhan lebih lambat dibanding tahun 2005.
2.7.2. Keuangan Daerah
Sesuai dengan Undang-undang Nomor 34 tahun 2000 tentang Pajak dan Retribusi Daerah, Undangundang Nomor 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah dan Undang-undang Nomor 11 tahun
II-47
2006 tentang Pemerintahan Aceh, Sumber Keuangan Daerah menjadi lebih banyak dan lebih luas. Berbagai sumber keuangan tersebut adalah Pendapatan Asli Daerah (PAD), dana perimbangan dan Dana Otonomi Khusus.
Pendapatan Asli Daerah (PAD) terdiri atas pajak daerah, Retribusi Daerah, keuntungan perusahaan daerah, zakat dan berbagai sumber PAD lainnya. Realisasi penerimaan pajak daerah selama lima tahun terakhir mengalami peningkatan yang fluktuatif, peningkatan yang tertinggi terjadi pada tahun 2006 yaitu sebesar 38,15% bila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Hal ini disebabkan oleh penambahan yang drastis jumlah objek pajak di wilayah Kabupaten Aceh Barat sebagai dampak dari pada proses rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana gempa dan tsunami, serta kemudahan kepemilikan kendaraan yang ditawarkan oleh para pelaku bisnis di bidang otomotif.
7.2.3. Dana Perimbangan
Dana perimbangan bersumber dari APBN, dimaksudkan untuk memberikan kepastian pendanaan daerah berdasarkan pasal 10 ayat (1) Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Dana perimbangan tersebut terdiri atas :
• Dana Bagi Hasil Pajak dan Bagi Hasil Bukan Pajak;
• Dana Alokasi Umum (DAU), dan;
• Dana Alokasi Khusus (DAK).
Pengalokasian Dana Perimbangan akan dilakukan dan dikoordinasikan dengan Pemerintah Provinsi Nanggroe terhadap pembagiana setiap tahunnya kepada Pemerintah Kabupaten Aceh Barat sesuai dana yang tersedia dan Peraturan yang berlaku.
II-48
2.7.4. Dana Otonomi Khusus
Dengan ditetapkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh (UUPA), berdasarkan pasal 183 ayat 2, Pemerintah Aceh mendapatkan dana otonomi khusus selama 20 tahun dengan rincian untuk tahun pertama yaitu mulai tahun 2008 sampai tahun kelima belas besarnya setara dengan 2% (dua persen) dari plafon Dana Alokasi Umum (DAU) Nasional dan untuk tahun keenam belas sampai dengan tahun kedua puluh setara dengan 1% (satu persen) dari plafon Dana Alokasi Umum (DAU) Nasional.
Diperkirakan dana otonomi khusus yang akan diterima oleh pemerintah Aceh pada tahun 2008 sebesar Rp. 3,8 milyar. Seterusnya pada tahun-tahun berikutnya sampai tahun kelimabelas meningkat rata-rata 10%, sebanding dengan peningkatan pendapatan menurut APBN yang dengan sendirinya akan meningkatkan penerimaan untuk Kabupaten Aceh Barat dari Dana Otonomi Khusus yang diberikan oleh Pemerintah Provinsi NAD secara proporsional.
2.7.5. Sumber Pendapatan Daerah Lainnya
Sumber pendapatan daerah lainnya berasal dari pemerintah (sumber-sumber yang sah dan tidak mengikat), di antaranya terdiri atas bantuan dana penyeimbang murni, bantuan dana penyeimbang kebijakan (ad.hoc) dan bantuan dana penyeimbang formasi pegawai. Berdasarkan struktur APBD tahun 2007, jenis penerimaan daerah lainnya disesuaikan dengan jenis pendapatan hibah, dana darurat, dana bagi hasil pajak dari provinsi dan pemerintah daerah lainnya, dana penyesuaian dan otonomi khusus serta bantuan keuangan dari provinsi atau pemerintah daerah lainnya.
II-49
2.8. Visi Dan Misi Kabupaten Aceh Barat