• Tidak ada hasil yang ditemukan

EDUKASI KESEHATAN MENTAL DITENGAH MASYARAKAT DESA

Dalam dokumen Sehat dan Sejahtera Pasca Pandemi Covid-19 (Halaman 151-161)

GENTAN PASCA PANDEMI COVID-19

Apriliani Yulianti Wuriningsih1, Alvi Yanti Maharani2,Ismira Arfiyanti2, Muhamad Anang Maruf3, Novendra Fajar Mulyono4, Sigit Prayitno4

1Program Studi Ilmu Keperawatan, Fakultas Ilmu Keperawatan, Universitas Islam Sultan Agung, Semarang, Indonesia

2Program Studi PsikoIogi, Fakultas PsikoIogi, Universitas IsIam SuItan Agung Semarang, Indonesia

3Program Studi Teknik Sipil, FakuItas Teknik, Universitas IsIam SuItan Agung Semarang, Indonesia

4Program Studi Ilmu Hukum, FakuItas Hukum, Universitas IsIam SuItan Agung Semarang, Indonesia

Email: [email protected]

Abstract

In Gentan Village, many people still do not know how important it is to maintain mental health. Our goal is to hold socialization to educate the gentan community on the importance of maintaining mental health after the covid-19 pandemic. Mental health is a crucial component of overall health. However, mental health concerns have not been emphasized in the majority of developing countries. The global mental health crisis has been exacerbated by the Coronavirus-19 (COVID-19) epidemic. The World Health Organization (WHO) recognizes mental health as an essential component of the 19 response. The COVID-19 pandemic, with its widespread transmission and high fatality rate, produces issues that can lead to mental illnesses. In Indonesia, mental health policies must optimize the integration of mental health services. During the COVID-19 epidemic, a community-based strategy can broaden the scope of mental health care. To provide comprehensive coverage of mental health care, governments should incorporate mental health services with community-based services.

Pendahuluan

Pada tanggal 31 Desember 2019, infeksi coronavirus 2019 (COVID-19) yang berawal Wuhan, Cina menjadi epidemi global karena wabah yang menular dari manusia ke manusia dala bentuk sindrom pernafasan akut parah. Penyebaran virus ini diduga berhubungan dengan jual beli daging hewan liar atau penangkaran di pasar hasil laut. Gejala

“Sehat dan Sejahtera Pasaca Pandemi Covid-19” || 141

umum yang terlihat pada penderita adalah demam, kelelahan, mialgia dan batuk, sedangkan secara spesifik penderita akan mengalami diare, hemoptisis (batuk darah), sakit kepala serta ekspektorasi. Komplikasi termasuk sindrom gangguan pernapasan akut, cedera jantung akut, dan infeksi bakteri sekunder (Huang et al., 2020). Hingga sekarang, total orang yang terjangkit Covid-19 semakin meningkat serta data penularan dan penyebaran meningkat, hasil klinis ,gejala, masa inkubasi dan reservoir, termasuk tingkat keberlangsungan hidup dikumpulkan dari seluruh dunia (Corman. dkk., 2020).

Upaya untuk menangani pandemi COVID-19 mengubah fokus dari faktor psikososial yang mempengaruhi masyarakat sebagai akibat dari pandemi. Problematika kesehatan mental dalam pandemi COVID-19 dapat menyebabkan masalah kesehatan jangka panjang.

Keadaan darurat kesehatan masyarakat yang diwujudkan oleh otoritas kesehatan global dengan memberlakukan pembatasan sosial dan isolasi diri atau karantina dan pembatasan mobilitas dapat mempengaruhi kesehatan mental masyarakat. (Gao, dkk., 2020; Pfefferbaum

& North, 2020; Spoorthy, dkk., 2020).

Mengutip salah satu isi dari buku Menulis di Kala Badai Covid-19 yang disunting oleh Prof. Dr. Drs. Ersis Warmansyah Abbas, BA, M.Pd. dan Ibu Neka Erlyani, S.Psi, M.Psi., wabah COVID-19 tidak hanya menyerang fisik tetapi juga menyerang psikis.

Kesehatan mental adalah poin utama untuk mencapai kesehatan secara umum. Akan tetapi, di beberapa negara berkembang, problematika kesehatan mental bukanlah prioritas.

Pandemi virus corona 19 (COVID19) membuat hal tersebut menjadi isu utama di dunia.

World HEalth Organization (WHO) telah menyetujui bahwa kesehatan mental sebagai bagian integral dari tanggapannya terhadap COVID 19. Pandemi COVID-19 dapat menyebabkan masalah yang mengarah pada penyakit mental karena tingkat infeksinya yang cepat dan angka kematian yang tinggi. Kebijakan kesehatan jiwa Indonesia perlu memaksimalkan keterpaduan layanan kesehatan jiwa. Pendekatan berbasis komunitas dapat meningkatkan cakupan layanan kesehatan mental selama pandemi COVID-19. Pemerintah perlu mewujudkan layanan kesehatan mental dengan layanan berbasis masyarakat untuk menetapkan layanan kesehatan universal.

Salah satu hal yang bisa dilaksanakan agar kesehatan mental terjaga di masa pandemi adalah beradaptasi dengan situasi saat ini. Adaptasi perlu dibuat untuk menyelaraskan kebutuhan lingkungan dengan kebutuhan internal. Ini adalah ketika seseorang tidak memiliki kendali atas situasi, seseorang harus menerima sesuatu. Penyesuaian diri seseorang dinilai dari seberapa efektif ia mengatasi perubahan dalam hidupnya.

Anda dapat mulai menjaga kesehatan mental melalui penyesuaian dengan mengembangkan pola pikir dan motivasi Anda. Dalam situasi saat ini, mahasiswa dihadapkan pada apa yang disebut perkuliahan online. Namanya online, jelas suasananya sangat berbeda dengan perkuliahan biasanya, kita dapat langsung menyerap materi dan

“Sehat dan Sejahtera Pasaca Pandemi Covid-19” || 142

bertatap muka langsung bersama dosen yang hadir. Getaran yang tidak sama juga dapat menyebabkan penurunan motivasi. Meski mungkin tampak lebih mudah, kemungkinan stres tidak bisa diabaikan. Rasanya seperti pemahaman materi di webinar lebih lambat dan tidak cukup masuk ke memori dan pikiran.

Ada berbagai upaya untuk mengelola stres dan menjaga kesehatan mental di masa pandemi COVID-19. Contohnya upaya material dan immaterial, seperti:

1. Terlibat dalam kegiatan fisik, seperti olahraga ringan dengan gerakan mudah agar tetap bugar, atau hanya berjemur saat matahari terbit.

2. Melaksanakan kegiatan bermanfaat yang dapat mengurangi kebosanan dan dapat membuka peluang bisnis (misalnya berkebun, dan memasak)

3. Singkirkan kebiasaan tidak baik seperti merokok, minum alkohol, begadang, dan sebagainya agar kesehatan diri sendiri lebih dapat difokuskan.

4. Makan diet seimbang yang kaya serat, mineral, vitamin, karbohidrat, lemak sehat dan protein. Selain itu, konsumsi susu, kacang-kacangan, daging, ikan, sayuran, dan buah-buahan. Penggunaan vitamin dan suplemen untuk meningkatkan daya tahan tubuh juga tidak boleh diabaikan.

5. Berkomunikasi secara teratur dengan keluarga, teman dan teman menggunakan gadget.

Kini, individu masih dapat terhubung, berkomunikasi, dan berinteraksi dengan siapa saja, di mana saja, bahkan jika mereka sering berada di rumah. Kita dapat menelfon atau membuat panggilan video dengan menggunakan teknologi melalui aplikasi seperti Whatsapp atau Google Meet. Oleh karena itu, momen ini harus kita manfaatkan untuk saling menguattkan satu sama lain sehingga kita dapat melewati pandemi tanpa stres.

Selain itu, sebaiknya jangan membicarakan pandemi atau berita lain yang berpotensi memicu stres dalam interaksi Anda.

6. Mencari dan mengumpulkan informasi dengan lebih hati-hati. Di daya tengah wabah, informasi seputar Covid 19 yang belum bisa dipastikan akurat terus beredar. Individu mungkin mengalami ketakutan dan kecemasan sebagai akibat dari ini. Mulai lebih selektif dengan ilmu yang didapat, dan terus menerus mencari informasi yang lebih ceria dan menyenangkan.

7. Menanamkan kebiasaan pola hidup bersih dan sehat pada keluarga dan orang-orang sekitar terutamanya diri sendiri. Menjaga kesehatan tubuh adalah salah satu langkah terpenting yang mampu kita lakukan untuk memanej stres dan pemeliharaan kesehatan mental. Jika terpaksa harus keluar rumah, kita bisa melakukan upaya pencegahan kesehatan sesuai aturan pemerintah.

8. Bersyukur, berbagi, dan berdoa. Pandemi Covid-19 mempengaruhi hampir setiap elemen hidup manusia, baik individu atau masyarakat dengan berbagai kesulitan. Dalam skenario ini, selalu berusaha untuk mensyukuri apa yang kita miliki. Jika memungkinkan, cobalah

“Sehat dan Sejahtera Pasaca Pandemi Covid-19” || 143

untuk berbagi dengan orang lain, terutamanya orang-orang yang (lebih) terdampak oleh wabah ini.

9. Melakukan kontak dengan spesialis. Mencari perawatan profesional, seperti konseling psikiatri, untuk mengurangi rasa takut, khawatir, dan kecemasan bukanlah hal yang memalukan. Sebuah rumah sakit atau biro jasa psikologis, misalnya, dapat memberikan layanan psikologis atau profesional yang dapat diandalkan.

Metode Pelaksanaan

Metode pelaksanaan yang kami lakukan adalah dengan cara mengadakan sosialisasi di balai desa yang dihadiri oleh masyarakat disekitar desa gentan, namun lebih didominasi oleh ibu-ibu pkk.

Hasil dan Pembahasan

Kegiatan edukasi terhadap masyarakat sekitar mengenai penyuluhan kesehatan mental pada masa pandemi Covid-19 dilaksanakan di bulan Januari 2022 dengan target masyarakat Kelurahan Gentan Kecamatan Susukan. Antusias warga yang hadir pada kegiatan sosialisasi ini menunjukan bahwa masyarakat desa Gentan cukup sadar tentang pentingnya kesehatan mental, hasil yang kami dapat selama melangsungkan kegiatan tersebut ada sekitar 7 dari 10 orang yang mengalami gejala stress selama masa pandemi. Kebanyakan dari peserta mengalami gejala kelelahan berkepandangan, hilangnya motivasi dan kegelisahan. Hasil tersebut cukup relavan dengan data PDSKJI (Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia). Menurut World Health Organization (WHO, 1974) indikator dari kesehatan mental adalah sebagai berikut:

1. Sehat dari segi emosi

Individu yang sehat dari segi emosional mapu merasa tenang, bahagia, dapat mengendalikan diri serta puas dengan apa yang ada pada dirinya.

2. Sehat dari segi psikologis

Seseorang yang sehat dari segi psikologis mampu menerima seluruh kekurangan yang dimilikinya.

3. Sehat dari segi sosial

Seseorang yang sehat dari segi sosial mudah bergaul dengan orang laib serta dapat diterima dengan baik dalam lingkungan sosial.

4. Bebas dari masalah kesehatan mental

Seseorang tidak memiliki penyakit yang menyebabkan perubahan pada perilaku, mood serta cara berpikir.

Dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Jiwa Sedunia pada 10 Oktober 2020, WHO meluncurkan survei kesehatan jiwa dan terkait dengan keadaan dunia yang sedang

“Sehat dan Sejahtera Pasaca Pandemi Covid-19” || 144

menghadapi COVID-19. Temuan mengungkapkan bahwa sebagian besar negara melaporkan peningkatan akses ke layanan kesehatan yang dapat disimpulkan bahwa COVID 19 berdampak pada kesehatan mental. Walaupun begitu, kesehatan mental kurang diprioritaskan dalam rencana tanggap terhadap pandemi Covid-19 meskipun aspek kesehatan mental dan kesehatan fisik sama pentingnya. Menurut survei, setidaknya 83% dari 130 negara telah memasukkan kesehatan mental dalam rencana tanggap pandemi mereka (WHO, 2020c).

Respons normal terhadap ancaman yang dirasakan oleh masyarakat antara lain stres, kekhawatiran dan ketakutan serta respons normal terhadap ketidakpastian. (WHO, 2020c).

Dari hasil yang kami dapat, rata-rata masyarakat desa Gentan mengalami stress selama pandemi Covid-19. Dari pernyataan masyarakat desa tersebut kebanyakan penyebab dari stress yang mereka alami dikarenakan oleh tingkat kematian yang cukup tinggi di awal tahun munculnya pandemi. Hal tersebut membuat masyarakat gentan cukup merasakan kegelihasan dan ketakutan yang berlebih terhadap virus tersebut yang secara tidak langsung membuat imun tubuh mereka menurun karena pengaruh stress.

Setiap orang memberikan reaksi yang berbeda terhadap stres yang dialami. Menurut Caspi, Bolger, dan Ecken (Yusuf, 2018), dua respon terhadap stres yaitu sebagai berikut:

1. Respon emosional yaitu ada hubungan antara stres dan reaksi emosional dimana dari 96 wanita yang diinsrtruksikan untuk membuat buku harian selama 28 hari, ada hubungan antara stres dan emosi, termasuk marah, kekecewaan, kecemasan, ketakutan, depresi, kesedihan dan kesedihan.

2. Respon fisiologis. Ada banyak tanggapan yang bervariasi dari beberapa ahli mengenai respons yang membagi respon fisiologis menjadi 2 yaitu:

i) Respon Penerbangan, yang diberikan oleh Walter Canon (1932) yaitu tubuh memberikan respon fisiologis terhadap suatu ancaman dengan memobilisasi tubuh untuk melawan atau melarikan diri melarikan diri). Respon ini terjadi pada sistem saraf otonom tubuh.

ii) The General Adaption Syndrome, yaitu suatu respon tubuh terhadap stres dengan mengaktifkan tanda bahaya (alarm), perlawanan (resistance) dan juga kelelahan (exhaustion) yang dialami oleh individu (Selye, 1974). Tanda bahaya adalah suatu situasi yang tidak diinginkan yang terjadi ketika kenyataan tidak sesaui dengan keinginan individu dimana tubuh akan merespon dengan fight, flight atau freeze. Fight merupakan kondisi ketika tubuh memberi respon serta memutuskan untuk menghadapi masalah sedangkan flight terjadi apabila otak memberi peringatan bahwa ada sesuatu yang sedang terjadi dan individu memutuskan untuk melakukan sesuatu, serta freeze yaitu kondisi dimana otak menilai bahwa ketika individu menghadapi sesuatu, individu tersebut terlalu lambat untuk berlari tetapi terlalu kecil untuk melawan.

“Sehat dan Sejahtera Pasaca Pandemi Covid-19” || 145

Sumber: http://pdskji.org/home Sumber: http://pdskji.org/home

Gambar 1. Masalah Psikologis Terkait Gambar 2. Trauma Psikologis Terkait Pandemi Covid-19 di Indonesia Covid-19

Ketika melakukan sosialisasi tentang kesehatan mental di desa tersebut, kami sempat melakukan survey selama sosialisasi berlangsung. Survey tersebut bertujuan untuk mengetahui gejala gangguan mental apa saja yang dirasakan.

Berikut adalah tabel data survey kami yang dikategorikan berdasarkan gejala yang dialami dan tindakan atau upaya apa saja yang sudah dilakukan selama mengalami gejala tersebut:

Tabel 1. Gejala Kesehatan Mental yang Dialami Masyarakat Gentan

NO GEJALA YANG MENGALAMI

1. Cemas Berlebihan 11

2 Gelisah 6

3 Lelah Berkepanjangan 3

4 Kurang bersemangat 14

5 Hilangnya motivasi 7

6 Tidur tidak nyenyak 9

7 Pusing 10

8 Berhalusinasi 0

Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui bahwa masyarakat di desa gentan cukup banyak yang mengalami gejala masalah kesehatan mental. Masyarakat desa Gentan cukup

“Sehat dan Sejahtera Pasaca Pandemi Covid-19” || 146

sadar akan pentingnya kesehatan mental sehingga gejala kesehatan mental yang dialami cukup teratasi karena dari beberapa pertanyaan yang kami ajukan masyarakat desa tersebut memiliki carater sendiri untuk mengatasi masalah mental. Berikut adalah tabel yang berisi beberapa pertanyaan yang kami ajukan selama melakukan sosialisasi di desa tersebut beserta jawaban yang mereka berikan serta persentasi keberhasilan dari tindakan yang mereka lakukan untuk mengatasi masalah kesehatan mental ynag mereka alami.

Tabel 2. Survei Keberhasilan menangani masalah mental No Pertanyaan Jawaban Tindakan

“Sehat dan Sejahtera Pasaca Pandemi Covid-19” || 147

Dari hasil tabel diatas menurut kami beberapa tindakan yang dilakukan guna mengatasi masalah yang dialami cukup tepat sebagai bentuk pertolongan pertama, hanya saja ada beberapa pernyataan yang kurang tepat seperti tindakan dalam mengatasi gangguan makan menurut kami untuk yang lebih tepatnya adalah pergi jalan-jalan atau refreshing.

Penutup

Pengertian kesehatan jiwa tidak terlepas dari pemahaman tentang kesehatan jasmani dan penyakit. Beberapa penelitian sebelumnya mengungkap bahwa terdapat korelasi antara kesehatan fisik dan mental seseorang, dimana mereka yang memiliki keluhan medis menunjukkan masalah psikologis hingga tingkat gangguan jiwa, dan lain-lain Gangguan mental juga menunjukkan masalah kesehatan mental serta disfungsi fisik (Dewi, 2012).

“Sehat dan Sejahtera Pasaca Pandemi Covid-19” || 148

Stresor psikososial merupakan suatu situasi atau kejadian yang dapat mengubah hidup seseorang sehingga dipaksa untuk adaptasi atau menyesuaikan diri sebagai respons terhadap tekanan mental (stresor) yang muncul. Walaupun begitu, tidak semua orang bisa beradaptasi dan mengatasi masalah yang dihdapi sehingga berujung pada masalah kesehatan mental.

Pandemi COVID-19 adalah suatu peristiwa yang tidak wajar yang berdampak pada kesejahteraan mental dan psikososial setiap orang. Situasi kesehatan mental setiap orang berbeda-beda, yang berarti situasi ini semakin menuntut pembahasan kesehatan mental, terutama selama pandemi COVID-19, yang telah menyebabkan pemberdayaan individu, keluarga, dan masyarakat untuk menjaga kesehatan mental wajah. Perubahan dalam kehidupan sehari-hari selama pandemi COVID-19. Pandemi COVID-19 dapat berpengaruh terhadap kehidupan kita sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan pola perjalanan dan aktivitas selama pandemi. Dalam melakukan survei ini, dampak kesehatan mental dapat diperhitungkan dari aspek epidemiologi dan sosiodemografi wisatawan. Berdasarkan temuan kami selama proses sosialisasi, kami mengonfirmasi bahwa ada perubahan pola perjalanan dan aktivitas selama pandemi COVID-19, dan perubahan ini dikaitkan dengan menurunnya tingkat kesehatan mental. Hasil analisis mengungkapkan bahwa beberapa kondisi kesehatan mental seperti depresi dan kebosanan berkaitan dengan pola perjalanan yang berkurang, sedangkan kelelahan tidak terkait dengan aktivitas hidup sehari-hari.

Daftar Pustaka

Anggi Miskarani S, Novia Listina, Nanda Mauludi Humaydi, Drs. Fakhrurazi Reno Sutan., Ma (2021). Menjaga Kesehatan Mental Di Masa Pandemi Covid19 Melalui Webinar, Prosiding Seminar Nasional Pengabdian Masyarakat Lppm Umj. 216, 1-4.

Evi Deliviana, Maria Helena Erni, Putri Melina Hilery, & Novi Melly Naomi (2020). Pengelolaan Kesehatan Mental Mahasiswa Bagi Optimalisasi Pembelajaran Online Di Masa Pandemi Covid-19, Jurnal Selaras. Kajian Bimbingan Dan Konseling Serta Psikologi Pendidikan. 3(2), 129-138.

Masyah, Barto. (2020). Pandemi Covid 19 Terhadap Kesehatan Mental Dan Psikososial, Mahakam Nursing Journal. 2(8), 353-362.

Muhamad Rizki, Dwi Prasetyanto, & Andrean Maulana (2021). Kesehatan Mental Dan Perubahan Aktivitas-Perjalanan Saat Pandemi Covid-19 Di Indonesia, Rekayasa Hijau: Jurnal Teknologi Ramah Lingkungan. 5(2), 125-135.

Pebrianti Dwi, Kartika & Armin (2021). Pentingnya Menjaga Kesehatan Jiwa Saat Pandemi Covid-19, Jurnal Abdimas Kesehatan (Jak). 3(2), 178-184.

“Sehat dan Sejahtera Pasaca Pandemi Covid-19” || 149

Rasianna Br. Saragih & Eka Vuspa Sari (2021). Perilaku Komunikasi Keluarga: Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental Di Masa Pandemi Covid-19, Jurnal Sosiologi Nusantara.

7(2), 253-266.

Ridio, Ilham Akhsanu (2020). Pandemi Covid-19 Dan Tantangan Kebijakan Kesehatan Mental Di Indonesia, Insan: Jurnal Psikologi Dan Kesehatan Mental. 5(2), 162-171.

Salsabila, Nasya Andini (2020). Menjaga Kesehatan Mental Di Masa Pandemi, Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Indonesia.

Setyaningrum, Wahyu & Yanuarita, Heylen Amildha (2020). Pengaruh Covid-19 Terhadap Kesehatan Mental Masyarakat Di Kota Malang. Jurnal Ilmu Sosial Dan Pendidikan.

4(4), 550-556.

Siti Rahmawati, M.Psi, Psikolog; Masni Erika Firmiana, S.Sos, M.Si; & Andri Hadiansyah, M.Psi, Psikolog (2021). Manajemen Stress Dan Menjaga Kesehatan Mental Di Masa Pandemi Covid 19. Program Studi Psikologi, Fakultas Psikologi Dan Pendidikan, Universitas Al Azhar Indonesia.

Syarifuddin, Surya & Ponseng, , Nur Afni (2021). Penyuluhan Kesehatan Mental Di Masa Pandemi Covid-19, Selaparang. Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan. 5(1), 850-853.

Taufiqy, Athaya. (2021). Kesehatan Mental Mahasiswa Fakultas Kedokteran Di Masa Pandemi Covid-19, Arteri : Jurnal Ilmu Kesehatan. 2(4), 113-120.

Wijoyo, Hadion & Surya, Julia (2020). Analisis Penerapan Meditasi Samatha Bhavana Di Masa Covid-19 Terhadap Kesehatan Mental Umat Buddha Vihara Dharma Loka Pekanbaru, Sej (School Education Journal). 10(2), 121130.

Yuli Asmi Rozali, Novendawati Wahyu Sitasari, Amanda Lenggogeni (2021). Meningkatkan Kesehatan Mental Di Masa Pandemic, Jurnal Abdimas. 7(2), 109-113.

“Sehat dan Sejahtera Pasaca Pandemi Covid-19” || 150

Chapter

19

CEGAH STUNTING DAN

PENGENDALIAN LAJU PENYEBARAN

Dalam dokumen Sehat dan Sejahtera Pasca Pandemi Covid-19 (Halaman 151-161)