BANDARHARJO
Hernandia Distinarista1, Alfida Fitratunissa Aldian2, Eva Nur Hidayah2, Hibrul Ummah2, Imma Hikmatun Nuzul2, Resky Septiyani2
1Program Studi Ilmu Keperawatan, Fakultas Ilmu Keperawatan, Universitas Islam Sultan Agung, Semarang, Indonesia
2Program Studi Kedokteran Umum, Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Sultan Agung, Semarang, Indonesia
Email: [email protected]
Abstrak
Kekerasan terhadap anak dan perempuan sering terjadi di dalam rumah tangga.
Berdasarkan penyuluhan yang dilakukan di Kelurahan Bandarharjo, Kecamatan Semarang Utara, Kota Semarang mayoritas masyarakat kurang paham mengenai pentingnya pengetahuan mengenai KDRT pada anak dan wanita, di mana telah diatur dan disebutkan dalam Undang Undang Republik Indonesia Nomor 23 tahun 2004 mengenai Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah tangga, pasal 5 disebutkan bahwasanya "setiap kekerasan yang dilakukan seseorang dalam rumah tangga baik dalam bentuk (a) Kekerasan fisik (b) Kekerasan psikis (c) Kekerasan seksual (d) Penelantaran rumah tangga". Dari banyaknya kasus kekerasan dalam rumah tangga yang sering terjadi di kelurahan Bandarharjo maka perlu dilakukan penyuluhan mengenai Pencegahan Kekerasan Dalam Rumah Tangga.
Tujuan dilakukannya kegiatan ini adalah untuk kembali menyadarkan kepada masyarakat pentingnya menyadari kasus kekerasan yang terjadi di dalam rumah tangga dan pencegahan kekerasan dalam rumah tangga.
Pendahuluan
Kekerasan Dalam Rumah Tangga atau KDRT merupakan suatu tindakan tehadap orang lain terutama wanita, yang dapat mengakibatkan timbulnya rasa sengsara atau derita yang dirasakan secara seksual, fisik, penelantaran rumah tangga, dan psikologis termasuk adanya ancaman bagi korban dengan melakukan tindakan secara memaksa yang melawan hukum
“Sehat dan Sejahtera Pasaca Pandemi Covid-19” || 125
dalam lingkup rumah tangga. Hal ini tercantum dalam Undang-Undang No 23 tahun 2004 tentang PKDRT pasal 1 butir 1 (Ramadani & Yuliani, 2015).
Beberapa faktor yang dapat menyebabkan Kekerasan Dalam Rumah Tangga yaitu : (a) penelantaran anak, penyimpangan psikologis, narkoba, dan kejadian kekerasan seksual yang pernah dialami (b) keluarga seperti pola asuh buruk, konflik pernikahan, rendahnya pengetahuan seksual ekonomi dan keterlibatan orang lain dalam rumah tangga (orang ketiga) (c) komunitas seperti status ekonomi, angka kriminalitas yang tinggi, banyaknya pengangguran, kurangnya pelayanan korban (d) lingkungan sosial seperti perubahan lingkungan, masalah ekonomi, masalah jenis kelamin, ekonomi yang rendah, penegakan hukum yang kurang baik, adat istiadat. (Ramadani & Yuliani, 2015). Kekerasan dalam rumah tangga memiliki 4 macam bentuk yaitu kekerasan fisik, kekerasan psikis, kekerasan seksual, dan penelantaran rumah tangga (Suryanti, 2018).
WHO mengatakan bahwasanya kekerasan seksual merupakan salah satu upaya dalam bentuk rayuan, komentar, dan tindakan seksual yang dilakukan kepada seseorang dengan cara terpaksa tanpa memandang hubungan diantara korban dan pelaku. Pemaksaan yang dilakukan mencakup tingkat kekuatan, intimidasi psikologis, pemerasan ataupun ancaman yang dapat menyakiti fisik korban (Hilmi, 2019).
Menurut Komnas Perempuan, kekerasan seksual terdiri dari beberapa bentuk diantaranya yaitu Tindakan Pemerkosaan, Tindakan mengancam seksual atau percobaan pemerkosaan, Penyerangan seksual kepada korban, Pemanfaatan seksual untuk kepentingan ekonomi, Tindakan jual beli perempuan dengan tujuan seksual, Pemaksaan Tindakan perkawinan, kehamilan, aborsi, kontrasepsi dan sterilisasi serta prostitusi, Perbudakan dan penyiksaan secara seksual, Penghukuman dengan nuansa seksual dan tidak manusiawi, praktik kegiatan budaya yang bertemakan seksual yang dapat mengancam atau mendiskriminasi perempuan serta pengendalian seksual melalui aturan dengan alasan moralitas dan agama. Namun, ada beberapa jenis kekerasan seksual yang belum diketahui (Komnas, 2017).
Kuliah Kerja Nyata (KKN) yaitu sebuah pengabdian mahasiswa terhadap masyarakat yang dilaksanakan dalam waktu, mekanisme kerja, dan persyaratan tertentu. Mahasiswa mengambil peran dalam belajar dan bekerja pada kegiatan pengembangan masyarakat.
KKN TEMATIK PASCA COVID-19 ber-BudAI adalah kegiatan pembelajaran perguruan tinggi yang diwujudkan dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi di mana pelaksanaan kegiatan tersebut dilakukan dengan cara membaur dengan masyarakat berdasarkan nilai-nilai Islam. Tema KKN TEMATIK tahun ini yaitu Sehat Dan Sejahtera Pasca Pandemi Covid-19 yang ditujukan bagi warga pada daerah tersebut yang terdampak covid 19. Pelaksanakan KKN dapat dilakukan dilapangan atau terjun lansung ke masyarakat
“Sehat dan Sejahtera Pasaca Pandemi Covid-19” || 126
disertai protokol kesehata yang ketat dan tetap mengikuti ketentuan nilai Budai Unissula.
Kkn Tematik yang bertema Sehat Dan Sejahtera Pasca Pandemi Covid-19 ber-BudAI adalah bentuk pembelajaran bagi mahasiswa dengan melakukan kegiatan langsung di tengah masyarakat dan terlibat aktif dan kreatif demi meningkatnya kualitas hidup masyararakat terutama warga pada daerah tersebut yang terdampak covid 19.
Dalam masyarakat, mahasiswa KKN dapat berperan sebagai : (1) komunikator di mana mahasiswa KKN bertugas menyampaikan pesan-pesan atau informasi yang bermanfaat kepada masyarakat mengenai kekerasan seksual dan pencegahannya. (2) fasilitator di mana mahasiswa KKN dapat menolong dan memudahkan masyarakat dalam memahami kekerasan seksual serta pencegahannya. (3) motivator di mana mahasiswa KKN dapat mendorong atau mendukung serta memotivasi hal positif kepada masyarakat dalam menghadapi KDRT. (4) inovator di mana mahasiswa KKN dapat menciptakan atau mengembangkan pengetahuan tentang kekerasan seksual agar dapat mencegahnya. (5) mediator di mana mahasiswa KKN dapat menjembatani atau media kepentingan masyarakat dengan pihak lain seperti KOMNAS.
Tabel.1 Rekap Penanganan Kasus Kekerasan Kelurahan Bandarharjo Kecamatan Semarang Utara Tahun 2021
No Bulan Kasus Alamat Yang Mendampingi Jumlah
1 Januari KDRT RT 5 RW 10 Komunitas Dewi Shinta
“Sehat dan Sejahtera Pasaca Pandemi Covid-19” || 127 Metode
Pelaksanaan Sosialisasi, penyuluhan , dan pembagian buku saku kekerasan seksual dilakukan pada hari Minggu, 23 Januari 2022 pukul 09.00 hingga 11.30. Kegiatan Pelaksanaan Sosialisasi, penyuluhan , dan pembagian buku saku kekerasan seksual ini terdiri dari beberapa tahap diantaranya:
a. Kami meminta izin kepada pihak desa untuk melaksanakan program Sosialisasi, penyuluhan , dan pembagian buku saku kekerasan seksual pada hari Jumat, 21 Februari 2022.
b. Kami melakukan koordinasi dengan kepala desa dan jajarannya untuk mengetahui informasi mengenai kondisi desa setempat.
c. Kami meminta izin,melalui Ketua PKK mengenai tempat untuk penyampaian sosialisasi.
d. Kami meminta masyarakat untuk mengikuti sosialiasi ini.
e. Kami mempersiapkan materi yang ingin disampaikan saat sosialisasi.
f. Pelaksanaan sosialisasi. Pelaksanaan sosialisasi ini dilaksanakan di Aula Kelurahan Bandarharjo, Semarang Utara, Kota Semarang, Jawa Tengah, Indonesia.
Materi yang diberikan pada saat sosialisasi dan penyuluhan adalah pencegahan kekerasan seksual pada rumah tangga pasca pandemi COVID-19.
Dengan adanya program sosialisasi ini diharapkan dapat mengedukasi seluruh warga Desa Bandarharjo dan dapat menyebarkan bagaimana cara pencegahan kekerasan seksual terhadap rumah tangga kepada keluarganya. Kegiatan sosialisasi kepada masyarakat ini tentu didukung oleh pihak-pihak lain sehingga kegiatan dapat berjalan lancar. Pelaksanaan sosialisasi kepada masyarakat yang berhasil juga tidak terlepas dari kontribusi pihak desa dan antusiasme warga Kelurahan Bandarharjo.
Hasil dan Pembahasan
KKN yang dilakukan selama 17 hari yaitu pada tanggal 17 Januari 2022 hingga 02 Februari 2022 dapat membrikan manfaat yang sangat besar trhadap mahasiswa maupun masyarakat desa sekitar. KKN ini dilaksanakan di Kel. Bandarharjo, Kec. Semarang Utara, Kta Semarang, Jawa Tegah. Lurah Kelurahan Bandarharjo dan perangkat desa serta masyarakat sekitar sangat mendukung adanya kegiatan KKN tematik ini, diizinkannya kelompok kami untuk melaksanakan KKN di desa setempat. Mengingat kegiatan KKN ini adalah tematik pasca pademi covid-19, maka kelompok KKN Tematik 129 berinisiatif untuk mengadakan penyuluhan KDRT dalam hal kekerasan seksual pasca pandemi covid-19.
Menurut penulis, pada pandemi covid-19 kasus KDRT sering terjadi. Terutama menurut salah satu warga anggota PKK Kelurahan Bandarharjo yang menyampaikan bahwa kasus kekerasan Seksual di Kelurahan Bandarharjo sering terjadi. Sebelum melakukan penyuluhan, kami membagikan buku saku mengenai materi yang akan disampaikan. Diharapkan seluruh
“Sehat dan Sejahtera Pasaca Pandemi Covid-19” || 128
masyarakat yang mengikuti kegiatan penyuluhan dapat lebih memahami materi yang akan disampaikan saat penyuluhan dengan tujuan dapat sedikit membantu dalam pemahaman mengenai kekersan seksual dan pencegahan kekrasan seksual.
Adapun program KKN yang penulis lakukan yaitu sebagai berikut:
1. Membagikan buku saku mengenai Kekerasan Seksual Dalam Rumah Tangga Pasca Pandemi Covid-19 kepada masyarakat
2. Sosialisasi mengenai Kekerasan Seksual Dalam Rumah Tangga Pasca Pandemi Covid-19 kepada masyarakat di Kelurahan Bandarharjo,
3. Melakukan tanya jawab terkait kasus kekerasan seksual
Kegiatan sosialisasi diikuti oleh kurang lebih 25 warga yang dilaksanakan di Aula Kelurahan Bandarharjo. Sosialisasi juga diikuti oleh Lurah Kelurahan Bandarharjo, Bu Emi Setiana Estu Handayani, S.E. sekaligus memantau kegiatan yang kami lakukan dan diikuti juga oleh Komunitas Dewi Sinta yaitu komunitas yang menangani kasus KDRT di Kelurahan Bandarharjo.
Salah satu faktr penyebab terjadinya KDRT yang sering terjadi yaitu komunikasi yang tidak baik sehingga kemungkinan timbulnya konflik dan berujung pada KDRT akan lebih besar. Namun, ada cara untuk mencegah kekerasan seksual dalam rumah tangga yaitu dengan konsep keluarga yang harmonis serta adanya terapi spiritual.
Adapun macam-macam kekerasan seksual yang dapat dialami, sebagai berikut : 1. Tindakan Pemerkosaan,
2. Tindakan mengancam seksual atau percobaan pemerkosaan, 3. Penyerangan seksual kepada korban
4. Pemanfaatan seksual untuk kepentingan ekonomi, 5. Tindakan jual beli perempuan dengan tujuan seksual,
6. Pemaksaan Tindakan perkawinan, kehamilan, aborsi, kontrasepsi dan sterilisasi serta prostitusi
7. Perbudakan dan penyiksaan secara seksual,
8. Penghukuman dengan nuansa seksual dan tidak manusiawi
9. Praktik kegiatan budaya yang bertemakan seksual yang dapat mengancam atau mendiskriminasi perempuan serta
10. Pengendalian seksual melalui aturan dengan alasan moralitas dan agama.
Dari program yang penulis lakukan, ada beberapa output yang kami dapat yaitu dari adanya kegiatan membagikan buku saku sehingga masyarakat dapat meningkatkan budaya literasi, rasa ingin tahu, serta adanya ilmu yang bisa didapat dan dibaca berulang kali. Pada saat membagikan buku saku, terlihat antusias warga yang hadir untuk membaca buku saku yang sudah penulis bagikan.
“Sehat dan Sejahtera Pasaca Pandemi Covid-19” || 129
Selain itu, pada saat kegiatan sosialisasi disampaikan, warga antusias untuk menyimak materi yang disampaikan serta mencocokan materi yang kami sampaikan dengan yang ada di buku. Hal ini dapat meningkatkan rasa ingin tahu masyarakat dan memudahkan masyarakat dalam memahami materi mengenai kekerasan seksual dalam rumah tangga.
Pada akhir kegiatan, kami lakukan sesi tanya jawab kepada warga dengan dibantu oleh Komunitas Dewi Sinta. Hal ini bisa menjadi salah satu bentuk dorongan kepada masyarakat untuk menceritakan kejadian yang dialami serta memudahkan komunitas untuk membantu masyarakat dalam memahami kasus KDRT yang terjadi di Kelurahan Bandarharjo.
Gambar 1. Materi KDRT Penutup
Berdasarkan dari hasil seluruh pemaparan diatas, kesimpulannya yaitu pencegahan kekerasan seksual dalam rumah tangga pasca pandemi COVID-19 khususnya di Desa Bandarharjo dapat berjalan dengan baik apabila mengikuti beberapa faktor yang harus diperhatikan oleh seluruh lapisan masyarakat, diantaranya :
1. Mengedukasi diri sendiri (masyarakat) mengenai apa itu KDRT, bagaimana cara pencegahannya , dan bagaimana sosialisasi pencegahan kekerasan seksual dalam rumah tangga dapat diterapkan di Kel. Bandarharjo.
2. Memahami penyebab adanya KDRT di dalam keluarganya
3. Menanamkan rasa optimisme kepada masyarakat dan keluarga agar mengetahui bagaimana pencegahan terhadap KDRT pasca pandemi COVID-19.
“Sehat dan Sejahtera Pasaca Pandemi Covid-19” || 130
Sebagai warga Indonesia yang baik dan bertanggung jawab memang seharusnya kita mengambil peran yang penting sama halnya dengan pemerintah yang turut membantu memberi pemahaman terhadap pencegahan kekerasan seksual dalam rumah tangga pasca pandemi COVID-19.
Daftar Pustaka
Hilmi, M. F. (2019). Kekerasan Seksual dalam Hukum Internasional. Universitas Airlangga, 2(6), 2199. https://doi.org/10.20473/jd.v2i6.15949
Komnas, P. (2017). Bentuk Kekerasan Seksual. Occupational Medicine, 53(4), 130.
Ramadani, M., & Yuliani, F. (2015). Kekerasan Dalam Rumah Tangga (Kdrt) Sebagai Salah Satu Isu Kesehatan Masyarakat Secara Global. Jurnal Kesehatan Masyarakat Andalas, 9(2), 80. https://doi.org/10.24893/jkma.9.2.80-87.2015
Suryanti, S. (2018). Kekerasan Dalam Rumah Tangga (Analisis Fakta Sosial Berbasis Konseling Feminis Terhadap Ketimpangan Gender). Musawa: Journal for Gender Studies, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 10(1), 1–22.
https://doi.org/10.24239/msw.v10i1.385
Manan, M. ’Azzam. (2018). Kekerasan dalam rumah tangga dalam perspektif sosiologis.
Jurnal Legislasi Indonesia, 5(3), 9–34. https://e-jurnal.peraturan.go.id/index.php/jli/article/view/299
Arfa, N. (2014). Analisis Yuridis Terhadap Tindak Pidana Kekerasan Seksual Dalam Rumah Tangga Menurut Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 Tentang Kekerasan Dalam Rumah Tangga. VII, 41–58.
Syah, A. (2018). Tindak Pidana Kekerasan Seksual Dalam Rumah Tangga Dalam Perspektif Hukum Pidana Islam (Analisis Putusan Hakim No Perkara: 51/Pid.Sus/2016/Pnbkj).
Fakultas Syari’ah Dan Hukum Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Darussalam - Banda Aceh, 41.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2012). Pedoman Pengendalian Kekerasan Dalam Rumah Tangga. http://www.p2ptm.kemkes.go.id/dokumen-ptm/pedoman-pengendalian-kekerasan-dalam-rumah-tangga
Syarifuddin. (2021). Penanganan dan Pencegahan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) Terhadap Perempuan dan Anak. Fakultas Hukum UISU Medan, 2(4), 623–634.
Kustanty, U. F. (2018). Pencegahan, Perlindungan dan Penanganan Kekerasan Terhadap Anak dan Remaja. STAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung, 2(January), 6.
“Sehat dan Sejahtera Pasaca Pandemi Covid-19” || 131