Sukijan Athoillah1, Alifya Adila Az Zahra2, Daffa Afif Amaajid2, Ervina Shinta Nuria2, Putri Dian Puspa Anggraini2, Rizki Julyano2
1Program Studi Pendidikan Agama Islam, Fakultas Agama Islam, Universitas Islam Sultan Agung, Semarang, Indonesia
2Program Studi Kedokteran Umum, Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Sultan Agung, Semarang, Indonesia
Email: [email protected]
Abstrak
Stroke merupakan keadaan terganggunya suplai darah ke otak sehingga menyebabkan gangguan sensorik dan motorik pada salah satu sisi tubuh atau kedua sisi tubuh. Faktor risiko terjadinya stroke dapat dibagi menjadi dua yaitu faktor risiko yang dapat diubah (tekanan darah tinggi, gaya hidup berupa perilaku mengkonsumsi cerutu, konsumsi alcohol, dan kencing manis) dan yang tidak dapat diubah (genetik, umur, dan gender). Metode yang dipakai adalah metode kualitatif menggunakan pendekatan deskriptif dengan wawancara, dan observasi serta studi literature. Setelah kami melakukan pemeriksaan kesehatan kami menemukan bahwa banyak mayoritas warga setempat diatas 40 tahun dan memiliki tekanan darah sistolik berkisaran 130-140 mmHg. Hal ini sangat sesuai dengan kriteria sampel dalam artikel ilmiah kami. Penulis sebagai mahasiswa yang sedang melaksanakan program Kuliah Kerja Nyata/KKN bertujuan untuk menurunkan risiko stroke warga RW 4 Kelurahan Gebangsari dengan mengadakan pemeriksaan kesehatan gratis dan penyuluhan materi terkait pencegahan stroke.
Kata kunci : stroke, hipertensi, lansia Pendahuluan
Stroke merupakan suatu penyakit cerebrovascular yang mengganggu fungsi otak dan berhubungan dengan penyakit pada pembuluh darah ke otak (Amory & Weinberger, 2010).
Penyumbatan pada pembuluh darah menyebabkan gangguan pada pembuluh darah sehingga pecah dan mengganggu suplai darah ke otak yang berujung pada penyakit stroke. Tersumbat pembuluh darah ini dapat menyebabkan terputusnya peredaran oksigen serta nutrisi yang
“Sehat dan Sejahtera Pasaca Pandemi Covid-19” || 78
dibutuhkan oleh otak berujung pada kerusakan jaringan (Kuriakose & Xiao, 2020). Stroke dibagi menjadi dua tipe, yaitu stroke hemoragic dan stroke iskemik. Stroke hemoragic terjadi karena perdarahan akibat pembuluh darah yang pecah dijaringan otak, sedangkan stroke iskemik umumnya terjadi dikarenakan sumbatan emboli (Wayunah & Saefulloh, 2017).
Faktor risiko penyebab stroke terbagi menjadi faktor yang dapat diubah maupun tidak dapat diubah (Cui & Naikoo, 2019). Faktor yang tidak dapat diubah seperti genetic, jenis kelamin, dan usia (Widyaswara Suwaryo et al., 2019). Jenis kelamin laki-laki memiliki kemungkinan terkena stroke lebih tinggi dibandingkan dengan perempuan di usia lansia, sedangkan perempuan lebih berisiko terkena stroke pada usia dewasa (Mutiarasari, 2019).
Kejadian stroke mempunyai kemungkinan dua kali lipat lebih tinggi ketika berusia lebih dari 55 tahun dibandingkan dengan yang berusia dibawah 55 tahun. Namun ada juga sumber yang menyebutkan bahwa telah ditemukannya bukti-bukti peningkatan kejadian stroke pada sesorang yang berusia 20-54 tahun (A. Boehme, C. Esenwa, 2018).
Adapun faktor yang bisa kita ubah berupa tekanan darah tinggi, gaya hidup seperti perilaku mengkonsumsi cerutu, konsumsi alcohol, dan kencing manis (Habibi-Koolaee et al., 2018). Merokok dapat meningkatkan risiko terkena stroke secara tidak langsung yaitu dengan cara meningkatkan risiko terkena hipertensi yang kemudian dapat berakibat stroke pada usia lanjut (Widyaswara Suwaryo et al., 2019). Selain itu faktor-faktor yang dapat diubah juga berasal dari penyakit kardiovaskuler yaitu hipertensi, dislipidemia, diabetes melitus, obesitas.
Hipertensi mempengaruhi autoregulasi aliran darah ke otak yang berdampak pada percepatan muncul dan bertambah hebatnya aterosklerosis serta munculnya lesi spesifik pada arteri intraserebral. Semakin tingginya tekanan darah akan semakin tingginya risiko terjadi stroke, peningkatan tekanan darah terutama pada tekanan sistolik akan meningkat seiring dengan peningkatan usia (Wayunah & Saefulloh, 2017).
Gejala dan tanda stroke yaitu gerakan setengah badan melemah, kebas atau baal di setengah badan, penurunan kesadaran, kelumpuhan setengah wajah dan senyum tidak simetris (kelumpuhan saraf ke VII/ saraf fasialis dan saraf ke XII/saraf hipoglosus yang bersifat sentral) (Mutiarasari, 2019). Menurut National Institute of Neurological Disorders and Stroke (NINDS 2005), mati rasa atau kelemahan pada wajah, tangan, dan kaki khususnya pada salah satu sisi tubuh merupakan tanda awal dari. Selanjutnya yaitu, kebingungan, kesusahan berbicara dan/atau kesusahan dalam memahami kata-kata. Ketiga gangguan penglihatan pada satu atau kedua mata. Keempat pusing berputar, kesulitan berjalan, hilang keseimbangan atau koordinasi, dan yang terakhir adanya sakit kepala hebat tanpa alasan yang jelas (Nicol & Thrift, 2005)
Upaya yang dapat dilakukan untuk inhibisi stroke berupa inhibisi primer dan inhibisi sekunder. Inhibisi primer meliputi bagaimana perbaikan pola hidup dan pengaturan diri terhadap faktor risiko. Inhibisi ini diperuntukkan masyarakat yang sehat dan sebelumnya
“Sehat dan Sejahtera Pasaca Pandemi Covid-19” || 79
tidak pernah mengalami stroke, tetapi masuk pada kelompok masyarakat yang lebih berisiko.
Upaya-upaya Inhibisi primer yang dapat dilakukan yaitu pola makan diatur dengan sehat, beristirahat yang cukup dan penanganan stress, memeriksa kesehatan rutin dan menaati saran dari dokter (obat dan diet). Sedangkan untuk inhibisi sekunder yaitu berupa mengendalikan faktor risiko yang tidak bisa dirubah dan bisa dipergunakan untuk menandai masyarakat yang menderita stroke (Mutiarasari, 2019). Pencegahan-pencegahan lain yang bisa dilakukan adalah mengontrol tekanan darah dan kadar gula darah terutama bagi penderita hipertensi dan diabetes melitus (Di Legge et al., 2012).
Metode
Dalam pelaksanaan kegiatan KKN Tematik ini, metode yang dipakai adalah metode kualitatif menggunakan pendekatan deskriptif dengan wawancara, dan observasi serta studi literature. Observasi dan wawancara dilaksanakan secara langsung tanpa meninggalkan protokol Kesehatan. Sumber dari berbagai laman jurnal nasional kami gunakan untuk melakukan studi literatur. Teknik analisis yang digunakan, ialah, teknik analisis deskriptif.
Program kegiatan ini tertuju pada warga RW 4 kelurahan Gebangsari yang berusia lebih dari 55 tahun. Pelaksanaannya dilakukan secara tatap muka/langsung di wilayah RW 4 kelurahan Gebangsari kota Semarang.
Hasil dan pembahasan
Kegiatan KKN Tematik ini dimulai dengan pembekalan dari panitia KKN periode XIII Unissula, selanjutnya kami melaksanakan observasi pada lokasi pelangsungan program KKN-T. Observasi ini dilakukan secara langsung dengan tetap mematuhi protocol Kesehatan. Setelah itu kami membuat beberapa program kerja yang akan kami laksanakan selama KKN berlangsung. Kegiatan KKN Tematik Sehat dan Sejahtera Pasca Pandemi Covid-19 mulai dilaksanakan pada tanggal 17 Januari 2022 hingga 2 Februari 2022. Dalam pelaksanaannya kami didampingi oleh pihak Puskesmas Genuk dan dosen pembimbing lapangan yang dipilih oleh pihak panitia KKN Tematik Periode XIII Unissula. Adapun program yang kami laksanakan selama kegiatan KKN berlangsung yaitu sebagai berikut : 1. Perencanaan/diskusi program kerja Bersama dosen pembimbing lapangan
Pendampingan perencanaan program kerja selama kegiatan KKN Tematik bersama dosen pembimbing lapangan secara daring melalui zoom meeting. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 17 Januari 2022 dan dihadiri oleh kelompok KKN 121 dan Bapak Sukijan Athoillah, S.Pd.I, M.Pd.I sebagai dosen pembimbing lapangan kami.
“Sehat dan Sejahtera Pasaca Pandemi Covid-19” || 80
Gambar 1. Perencanaan/diskusi program kerja bersama dosen pembimbing lapangan 2. Pemeriksaan kesehatan bersama pihak puskesmas
Pemeriksaan kesehatan gratis bersama pihak puskesmas di RW 4 Kelurahan Gebangsari pada hari minggu 23 Januari 2022 secara luring terbatas dan mematuhi protocol Kesehatan. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui usia, tekanan darah, dan kadar gula darah sewaktu warga di wilayah sekitar yang mengikuti kegiatan senam di hari itu.
Kegiatan ini dilaksanakan di perbatasan antara RW 4 dan RW 3 Kelurahan Gebangsari dan dihadiri oleh warga sekitar.
Gambar 2. Pemeriksaan kesehatan bersama pihak Puskesmas
“Sehat dan Sejahtera Pasaca Pandemi Covid-19” || 81 3. Penyuluhan pencegahan stroke
Penyuluhan pencegahan stroke merupakan salah satu program kerja yang dilakukan untuk mengedukasi warga di wilayah RW 4 Kelurahan Gebangsari terkait definisi, tanda dan gejala, faktor risiko, dan pencegahan stroke. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari minggu 30 Januari 2022 di Balai RW 4 Kelurahan Gebangsari secara luring dan daring melalui zoom meeting pukul 16.00 WIB dan didampingi oleh dosen pembimbing lapangan kami.
Pada acara ini didatangi oleh warga di wilayah sekitar dan juga mahasiswa kelompok KKN lain yang turut ikut serta meramaikan acara ini.
Gambar 3. Penyuluhan pencegahan stroke Penutup
• Stroke merupakan keadaan terganggunya suplai darah ke otak sehingga menyebabkan gangguan sensorik dan motorik pada salah satu sisi tubuh atau kedua sisi tubuh.
• Faktor risiko stroke dibagi menjadi dua yaitu yang dapat diubah (hipertensi, gaya hidup seperti perilaku merokok, konsumsi alcohol, dan diabetes melitus) dan faktor yang tidak dapat diubah (genetic, usia, dan jenis kelamin).
• Gejala dan tanda stroke antara lain gerakan setengah badan melemah, kebas atau baal di setengah badan, penurunan kesadaran, kelumpuhan setengah wajah dan senyum tidak
“Sehat dan Sejahtera Pasaca Pandemi Covid-19” || 82
simetris (saraf VII/saraf fasialis dan saraf XII/saraf hipoglosus mengalami kelumpuhan yang bersifat sentral).
• Cara mencegah stroke dapat berupa mengontrol faktor-faktor yang dapat diubah contohnya mengontrol tekanan darah, menurunkan kebiasaan merokok, dan mengontrol gula darah dan lain-lain.
• Kegiatan-kegiatan selama KKN Tematik yang berupa pemeriksaan kesehatan dan penyuluhan pencegahan stroke semoga dapat bermanfaat bagi warga RW 4 Kelurahan Gebangsari dan bagi para pembaca.
Daftar Pustaka
A. Boehme, C. Esenwa, M. E. (2018). Stroke: Risk factors and prevention. Journal of the
Pakistan Medical Association, 60(3), 412.
https://doi.org/10.1161/CIRCRESAHA.116.308398.Stroke
Amory, C. F., & Weinberger, J. (2010). Cerebrovascular Disease. Textbook of Diabetes:
Fourth Edition, 698–709. https://doi.org/10.1002/9781444324808.ch42
Cui, Q., & Naikoo, N. A. (2019). Modifiable and non-modifiable risk factors in ischemic stroke: A meta-analy. African Health Sciences, 19(2), 2121–2129.
https://doi.org/10.4314/ahs.v19i2.36
Di Legge, S., Koch, G., Diomedi, M., Stanzione, P., & Sallustio, F. (2012). Stroke prevention: Managing modifiable risk factors. Stroke Research and Treatment, 2012.
https://doi.org/10.1155/2012/391538
Habibi-Koolaee, M., Shahmoradi, L., Niakan Kalhori, S. R., Ghannadan, H., & Younesi, E.
(2018). Prevalence of Stroke Risk Factors and Their Distribution Based on Stroke Subtypes in Gorgan: A Retrospective Hospital-Based Study - 2015-2016. Neurology Research International, 2018. https://doi.org/10.1155/2018/2709654
Kuriakose, D., & Xiao, Z. (2020). Pathophysiology and treatment of stroke: Present status and future perspectives. International Journal of Molecular Sciences, 21(20), 1–24.
https://doi.org/10.3390/ijms21207609
Mutiarasari, D. (2019). Ischemic Stroke: Symptoms, Risk Factors, and Prevention. Jurnal Ilmiah Kedokteran Medika Tandulako, 1(1), 60–73.
Nicol, M. B., & Thrift, A. G. (2005). Knowledge of risk factors and warning signs of stroke.
Vascular Health and Risk Management, 1(2), 137–147.
https://doi.org/10.2147/vhrm.1.2.137.64085
Wayunah, W., & Saefulloh, M. (2017). Analisis Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Stroke Di Rsud Indramayu. Jurnal Pendidikan Keperawatan Indonesia, 2(2), 65.
https://doi.org/10.17509/jpki.v2i2.4741
“Sehat dan Sejahtera Pasaca Pandemi Covid-19” || 83
Widyaswara Suwaryo, P. A., Widodo, W. T., & Setianingsih, E. (2019). Faktor Risiko yang Mempengaruhi Kejadian Stroke. Jurnal Keperawatan, 11(4), 251–260.
https://doi.org/10.32583/keperawatan.v11i4.530
“Sehat dan Sejahtera Pasaca Pandemi Covid-19” || 84