4.4.4 Efektivitas Pesan Mengenai Indikator Pendekatan Rasa Takut
Berikut ini merupakan tabel penyajian frekuensi jawaban respoden untuk aspek indikator pendekatan rasa takut:
Tabel 4.19 Perempuan pengguna sepeda motor memiliki resiko melakukan pelanggaran lalu lintas apabila tidak mengambil lajur kiri.
Jawaban Frekuensi Persentase
Setuju 67 67%
Sangat Setuju 33 33%
Total 100 100%
Sumber: Pernyataan Kueisoner no.16, Olahan Peneliti.
Berdasarkan tabel di atas dapat dijelaskan bahwa dari 100 responden penelitian diketahui 67 orang cenderung menjawab setuju, sedangkan 33 orang sisanya menjawab sangat setuju dengan pernyataan yang mengatakan perempuan pengguna sepeda motor memiliki resiko melakukan pelanggaran lalu lintas apabila tidak mengambil lajur kiri. Hal ini didukung oleh pernyataan dari Veronika Santi (49 tahun, Wiraswata) yang mengatakan bahwa “Saya setuju lek
perempuan iso dadi korban lalu lintas habis mbaca Rubrik Metropolis Kamis, 20 Februari 2014”
Menurut Venus (2009, p.74) suatu pesan dapat dikatakan efektif, apabila isi pesan tersebut harus memiliki salah satu unsur yakni pendekatan rasa takut. Isi pesan paling tidak juga menyertakan pendekatan rasa rakut. Tetapi, himbauan rasa takut yang berlebihan akan mengakibatkan pesan tidak efektif. Komunikator harus berhati-hati dalam menggunakan himbauan rasa takut. Kita harus menyesuaikan karakteristik khalayak dan obyek kampanye yang disampaikan.
Suatu pesan dikemas supaya komunikan mengerti isi pemikiran komunikator sehingga terjadi timbal balik. Untuk menentukan efektivitas pesan salah satunya yakni daya tarik pesan sehingga pesan yang dirancang oleh komunikator memiliki “kekuatan”. Salah satu agar memiliki “kekuatan” tersebut, pesan tersebut harus menimbulkan rasa takut yaitu dimana suatu pesan dirancang sedemikikan rupa sehingga khalayak merasa takut, terancam, dan resah (Syam, 2002).
Pesan yang mengandung emosioal cenderung dapat mempengaruhi khalayak untuk mendukung tujuan dari pesan tersebut. Karena kebanyakan tindakan manusia cenderung berdasarkan emosi daripada pemikiran (Larson, 1986: 21). Hal tersebut didukung oleh Rakhmat (1991) yang menjelaskan bahwa salah satu alasan kenapa himbauan pesan emosional dibilang efekftif karena bahasa emosional dapat menguncang dan mengubah sikap khalayak, karena tindakan manusia lebih didasarkan pada emosi (Ritionga, 2005, p.58).
Pesan emosional tidak hanya mengandung suatu muatan yang positif dan menyenangkan, tetapi bisa juga mengandung muatan negatif seperti rasa cemas yang berkaitan dengan emosi seseorang (Aaker dan Myers, 1982). Dalam kampanye “Save Her: Lajur Kiri Lagi” obyek utama dalam kampanye ini adalah Perempuan yang cenderung bertindakan berdasarkan emosi daripada logika. Berdasarkan hasil wawancara dengan Eri Suhariyadi selaku ketua kampanye “Save Her” (Jumat, 21 Februari 2014) perempuan didapuk menjadi sasaran kampanye ini karena perempuan berpotensi menjadi korban laka lantas di jalan raya. Hal ini disebabkan karena perempuan tidak memahami mengendarai sepeda motor khusus matic serta kurangnya pemahaman tentang tertib lalu lintas.
Karena minimnya pengetahuan perempuan tentang tata tertib lalu lintas, maka, hal ini membuat perempuan menjadi cemas dan gelisah ketika menaiki sepeda motor di jalan raya. Hal ini disebabkan karena mereka tidak mempunyai sikap siaga apabila terjadi sesuatu pada dirinya ketika di jalan raya. Pearson (1985, p.196) mengatakan bahwa perempuan lebih cepat bereaksi dengan hati penuh ketegangan, cepat berkecil hati, cepat bingung, cepat cemas dan cepat takut.
Selain itu menurut Women’s Health Australia (WHA) bahwa perilaku pengendara perempuan biasanya berusia 18 – 50 tahun mengalami penyimpangan, kesalahan, pelanggaran dan kecepatan yang berlebihan ketika berada di jalan raya. Berdasarkan analisis diatas, terdapat kecenderungan apabila perempuan tidak hanya menjadi sebagai pelaku melainkan juga korban di kecelakaan lalu lintas.
Hal ini didukung oleh Warpani (2002) yang bersumber dari Direktorat Jenderal Perhubungan Darat, besarnya persentase masing-masing faktor penyebab kecelakaan lalu lintas di Indonesia yaitu faktor manusia sebesar 93,52%. Menurut Syam (2002) dalam pesan tersebut harus memiliki pembuktian, dimana pesan dirancang untuk mengungkapkan data, fakta, angka, statistic, pendapat ahli atau hasil penelitian untuk menunjukkan kekuatan pesan yang kita susun. Melihat dari karakteristik perempuan seperti yang dijelaskan Pearson tidak heran apabila faktor manusia menjadi penyebab faktor kecelakaan terbesar di jalan raya, terutama perempuan.
Tabel 4.20 Tingkat kecelakaan khusunya perempuan pengguna sepeda motor semakin meningkat apabila tidak mengambil lajur kiri.
Jawaban Frekuensi Persentase
Setuju 67 67%
Sangat Setuju 33 33%
Total 100 100%
Sumber: Pernyataan Kueisoner no.17, Olahan Peneliti.
Berdasarkan tabel di atas dapat dijelaskan bahwa dari 100 responden penelitian diketahui 67 orang cenderung menjawab setuju, sedangkan 33 orang sisanya menjawab sangat setuju dengan pernyataan yang mengatakan perempuan pengguna sepeda motor memiliki resiko melakukan pelanggaran lalu lintas apabila tidak mengambil lajur kiri). Hal ini didukung oleh pernyataan dari Inneke Kemal (20 tahun, Mahasiswi) yang mengatakan bahwa “Aku setuju kalo tingkat
kecelakaan perempuan pengguna sepeda motor tambah naik lek gak ngambil lajur kiri sehabis Rubrik Metropolis Kamis, 20 Februari 2014”
Rubrik Metropolis dipilih dalam menyampaikan tujuan dari kampanye “Save Her” karena jangkauannya luas, mudah dibaca di mana saja dan kapan saja, mudah di dapat, serta dapat memuat informasi lebih banyak daripada poster. Hal
ini didukung oleh Morissan (2008, p.194) yang menjelaskan orang cenderung membaca, melihat, memperhatikan, medengar pesan komunikasi yang dapat menimbulkan simpati mereka atau hal-hal yang melibatkan kepentingan mereka.
Menurut Syam (2002) dalam pesan tersebut harus memiliki pembuktian, dimana pesan dirancang untuk mengungkapkan data, fakta, angka, statistic, pendapat ahli atau hasil penelitian untuk menunjukkan kekuatan pesan yang kita susun. Karena suatu pesan yang berisi mengenai fakta dapat menarik khlayak kampanye sehingga pesan tersebut mudah dipahami. Menurut Ritonga (2005, p.9) dampak atau pengaruh dari khalayak yang menerima pengemasan pesan yang berisi fakta ada tiga yakni, pengetahuan, pengalaman dan perilaku.
Berdasarkan analisis diatas, terdapat kecenderungan bahwa apabila suatu pesan dirancang dengan dengan menjelaskan suatu fakta maka, pesan tersebut mudah dipahami oleh suatu khalayak. Ketika responden mendapatkan suatu pengetahuan, dalam penelitian ini tentang tingkat kecelakaan dan pelanggaran perempuan pengguna sepeda motor. Selanjutnya, responden sudah menerima terpaaan pesan akan mengambil suatu tindakan untuk mencegah tingkat kecelakaan dan pelanggatan yakni dengan mengambil lajur kiri.
Tabel 4.21 Perempuan pengguna sepeda motor dikatakan tidak efektif untuk menjadi pelopor bagi orang lain agar tertib berlalu lintas.
Jawaban Frekuensi Persentase
Tidak Setuju 21 21%
Setuju 54 54%
Sangat Setuju 25 25%
Total 100 100%
Sumber: Pernyataan Kueisoner no.18, Olahan Peneliti.
Berdasarkan tabel di atas dapat dijelaskan bahwa dari 100 responden penelitian diketahui 54 orang cenderung menjawab setuju, 25 orang menjawab sangat setuju apabila Perempuan pengguna sepeda motor dikatakan tidak efektif untuk menjadi pelopor bagi orang lain agar tertib berlalu lintas. Sedangkan 21 orang menjawab sangat tidak setuju tidak setuju untuk pernyataan indikator tersebut.
Dalam pernyataan indikator penelitian ini, proses penyampaian pikiran atau pesan dari Pihak Jawa Pos kepada respoden tidak diterima dengan baik. Hal ini dibuktikan dari 79 orang responden justru tidak menyetujui apabila perempuan dikatakan sebagai pelopor bagi orang lain agar tertib berlalu lintas. Hal ini didukung oleh pernyataan dari Karina Wulanasari (30 tahun, Pegawai Swasta) “Saya ngomong gak efektif soalnya saya tak tertarik dengan topic yang dibahas” Menurut Wilbur Schramm untuk salah faktor penunjang komunikatif yang efektif adalah pesan harus dirancang dan disampaikan sedemikan rupa agara dapat menarik perhatian sasaran yang dimaksud (Effendy, 2003). Berdasarkan analisis diatas, terdapat kecenderungan apabila suatu pesan tersebut tidak menarik komunikan maka, komunikan cenderung tidak setuju dengan suatu pesan yang disampaikan. Sehingga penyampaian pesan dari komunikator ke komunikan tidak berjalan efektif.
Tabel 4.22 Perempuan pengguna sepeda motor tidak efekif untuk membudayakan keselamatan di jalan apabila tidak mengambil lajur kiri.
Jawaban Frekuensi Persentase
Tidak Setuju 21 21%
Setuju 56 56%
Sangat Setuju 23 23%
Total 100 100%
Sumber: Pernyataan Kueisoner no.19, Olahan Peneliti.
Berdasarkan tabel di atas dapat dijelaskan bahwa dari 100 responden penelitian diketahui 56 orang cenderung menjawab setuju, 23 orang menjawab sangat setuju apabila Perempuan pengguna sepeda motor dikatakan tidak efektif untuk menjadi pelopor bagi orang lain agar tertib berlalu lintas. Sedangkan 21 orang menjawab sangat tidak setuju tidak setuju untuk pernyataan indikator tersebut.
Menurut Venus (2009, p.74) suatu pesan dapat dikatakan efektif, apabila isi pesan tersebut harus memiliki salah satu unsur yakni pendekatan rasa takut. Isi pesan paling tidak juga menyertakan pendekatan rasa rakut. Tetapi, himbauan rasa takut yang berlebihan akan mengakibatkan pesan tidak efektif. Komunikator harus
berhati-hati dalam menggunakan himbauan rasa takut. Kita harus menyesuaikan karakteristik khalayak dan obyek kampanye yang disampaikan.
Dalam pernyataan indikator penelitian ini, proses penyampaian pikiran atau pesan dari Pihak Jawa Pos kepada respoden tidak diterima dengan baik. Hal ini dibuktikan dari 79 orang responden justru tidak menyetujui apabila perempuan dikatakan sebagai pelopor bagi orang lain agar tertib berlalu lintas. Menurut pernyataan Ria Larasati (33 tahun, Pegawai Negeri) menjelaskan “Saya gak setuju
karena menurut saya informasi e gak penting”
Menurut Wilbur Schramm untuk salah faktor penunjang komunikatif yang efektif adalah pesan harus membangkitkan kebutuhan pribadi pihak komunikan (Effendy, 2003). Berdasarkan analisis diatas, terdapat kecenderungan apabila suatu pesan tersebut tidak memenuhi komunikan maka, komunikan cenderung tidak setuju dengan suatu pesan yang disampaikan. Sehingga penyampaian pesan dari komunikator ke komunikan tidak berjalan efektif.
4.4.5 Efektivitas Pesan Mengenai Indikator Kreativitas dan Rasa Humor