• Tidak ada hasil yang ditemukan

5.3 HASIL DAN PEMBAHASAN

6.3.2.3. Ekologi Perilaku Kawin

Merak hijau, hidup berkelompok, perkawinannya dengan sistem poligami (Delacour 1977, Hoyo et.al 1994, Hernowo 1995). Sistem poligami pada merak hijau jawa tersebut adalah bahwa merak hijau jantan dapat kawin dengan banyak merak hijau betina ataupun merak hijau betina dapat kawin dengan banyak merak hijau jantan. Hoyo et.al 1994, menyatakan bahwa merak hidup berkelompok dengan sistem harem poligini. Harem poligini tersebut dapat diartikan bahwa merak jantan menyebar diantara beberapa merak betina dalam kelompoknya. Berdasarkan penelitian ini, didapatkan fakta bahwa merak hijau jawa hidup secara kelompok dengan sistem poligyny tetapi jantan tidak memiliki harem, karena merak hijau jawa jantan tidak menguasai merak hijau jawa betina (merak hijau jawa jantan bukan pemimpin kelompok), tidak bisa memaksa untuk dipilih oleh betinanya, yang menentukan pilihan merak hijau jantan mana yang mengawini merak hijau jawa betina adalah merak hijau betina. Hal yang sama juga dilaporkan oleh beberapa pengamat merak biru mengamati bahwa yang menentukan merak biru jantan untuk mengawini merak biru betina adalah merak biru betina (Manning 1989, Petrie dkk 1991, Gadagkar 2003, Takahashi dkk 2007, Loyau dkk 2008). Dengan sistem perkawinan merak hijau jawa seperti yang diuraikan tersebut, mengindikasikan bahwa aliran gen dalam populasi merak hijau jawa terjadi secara bebas. Merak hijau jawa jantan dapat kawin dengan individu merak hijau jawa betina yang mana saja, juga demikian merak hijau jawa betina kawin dengan individu merak hijau jawa jantan mana saja yang disukai. Sistem

perkawinan merak hijau jawa tersebut merupakan strategi merak hijau jawa dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya dari segi aliran gennya yang secara bebas. Berdasarkan hasil analisis gen pada populasi merak hijau oleh Ya-Yong dkk 2004, bahwa keragaman genitik merak hijau di alam liar dan di pengkaran berbeda. Merak hijau yang hidup liar memiliki keragaman genitik yang lebih rendah dibandingkan yang dipenangkaran.

Perilaku menari dilakukan oleh merak hijau jawa jantan untuk menarik pasangannya. Perilaku menari merak hijau jawa umumnya dilakukan oleh merak hijau jantan dewasa, tetapi jantan remaja muda juga melakukan tarian tetapi lebih bersifat belajar menari. Maryanti 2007 dan Ramadhan 2008, menyatakan bahwa di TNB maupun di TNAP terdapat merak hijau jawa jantan remaja muda belajar menari. Perilaku menari dari merak hijau jantan dewasa pada umumnya dilakukan apabila bulu hiasnya sudah cukup lengkap dan panjang. Hernowo 1995, menghitung bulu hias yang berupa plong (Ocelli) merak hijau jawa dewasa di TNB sekitar 144 -160 bulu dan panjang bulu hias antara 1.00 – 1.300 cm. Perilaku menari tersebut dilakukan mulai awal musim berbiak sampai akhir musim kawin. Hernowo 1995, menyatakan bahwa merak hijau jawa di TNB mulai menari pada bulan Agustus akhir 1994 dan akhir menari pada bulan Desember akhir 1994. Musim kawin merak hijau jawa di TNB tahun 1994 Oktober sampai Desember (Hernowo, 1995). Musim kawin merak hijau jawa di TNAP tahun 2004 dimulai bulan Agustus dan berkhir pada bulan Nopember (Wasono, 2004). Berdasarkan pengamatan terhadap musim kawin merak hijau jawa di TNB maupun di TNAP telah terjadi pergeseran. Musim kawin merak hijau jawa di TNAP tahun 2006 dimulai bulan September akhir dan berakhir pada bulan Nopember, sedangkan pada tahun 2007 musim kawin dimulai bulan Oktober dan berakhir pada bulan Desember. Musim kawin di TNB pada tahun 2006 dimulai bulan Oktober dan berkhir bulan Januari, sedangkan tahun 2007 musim kawin dimulai bulan Nopember dan berakhir pada bulan Januari akhir. Perrin dan Birkhead (1983) menyebutkan bahwa salah satu faktor pendorong burung untuk melakukan perkembangbiakan adalah ketersediaan pakan. Carthy (1979) menyatakan bahwa cahaya, suhu dan kelembaban merupakan faktor eksternal yang menentukan waktu perkawinan burung. Merak hijau jawa di TNB maupun di TNAP menari dan kawin pada musim kemarau. Pada musim kawin dan perkembangbiakan merak hijau jawa melatekan telornya hanya satu kali setiap tahunnya (Hernowo 1995, Sativaningsih 2005. Maryanti 2007, Ramadhan 2008).

Perilaku menari merak hijau jawa di lakukan di areal terbuka seperti di savana, areal tumpangsari, padang rumput bahkan rumpang ataupun jalan di TNB dan TNAP (Mulyana 1988, Winarto 1993, Hernowo 1995, Hernawan 2003, Sativaningsih 2005, Maryanti 2007, Yuniar 2007, Risnawati 2008, Ramadhan 2008). Dalam penelitian ini arena tari (lek) merak hijau jawa jantan ditemukan di jalan Batangan – Bekol TNB. Dipilihnya tempat terbuka merupakan strategi merak untuk bisa leleuasa menari (ukuran pegaran bulu hiasnya serta gerakan tarian) dan memudahkan betina untuk menemukan jantan dewasa (Hernowo 1995, Hernawan 2003, Sativaningsih 2005, Maryanti 2007, Ramadhan 2008). Dakin 2008, menyatakan bahwa merak biru melakukan tariannya pada areal yang terkena sinar matahari diduga ada kaitannya dengan penampilan bulu hiasnya.

Gambar VI 38. Arena tari (lek) merak hijau jawa di jalan Batangan-Bekol TNB

Ada tiga tahapan kawin pada merak hijau jawa di mulai dari rayuan untuk kawin (pra kopulasi), kawin (kopulasi) dan pasca kopulasi (Dwisatya, 2007). Namun demikian penelitian ini menemukan kasus kawin merak hijau jawa tanpa didahului proses rayuan yaitu terjadi di padang rumput Sadengan TNAP, merak hijau jawa betina turun dari pohon tengger, belari mencari tempat yang enak, kemudian mendekam dan merak hijau jawa jantan sudah lebih dulu turun dari tenggeran berespon berlari menuju merak betina tersebut segera menaiki merak hijau jawa betina tersebut untuk kopulasi. Kasus ini

ditemukan 2 kali kejadian. Kemungkinan proses rayuan tersebut telah didapatkan hari sebelumnya.

Pilihan/penentuan untuk pasangan kawin pada merak hijau jawa adalah dimiliki oleh merak hijau jawa betina. Pengamatan terhadap merak hijau jawa jantan untuk pasangan kawin dilakukan oleh marak hijau jawa betina jauh sebelum proses kawin. Pengamatan tersebut bisa dilakukan melalui tidur bersama dalam satu pohon tengger atau tidur di pohon tengger yang berdekatan, mengunjungi, mengamati tarian merak hijau jantan. Petrie dkk 1991, mencatat bahwa dalam mengamati pilihan terhadap merak biru jantan untuk pasangan kawin, paling sedikit dilakukan 4 kali kunjungnan dan pengamatan dilakukan oleh merak biru betina, baru mereka kawin. Hernowo, 1995 mengamati merak hijau jantan di taman nasional Baluran awal menari dilakukan pada bulan Agustus akhir dan awal kawin dilakukan pada bulan Oktober. Jeda waktu awal menari dengan kawin merupakan kesempatan bagi merak hijau jawa betina menentukan pilihan jantan yang akan mengawininya. Para pengamat merak biru india (Pavo cristatus), menyatakan bahwa yang menjadi faktor penarik untuk pasangan kawin dan kesuksesan kawin adalah banyaknya bulu hias (Occelli), keseimbangan bulu hias (symetric) dan panjang bulu hias (Manning 1989, Petrie dkk 1991, Gadagkar 2003, Loyau dkk 2008). Namun demikian Takahashi et. al 2008 menyatakan bahwa kesuksesan kawin pada merak biru dipengaruhi oleh tidak hanya faktor tersebut di atas tetapi secara keseluruhan fungsi merak biru jantan. Selain faktor merak biru jantannya Loyau dkk 2007, menyebutkan bahwa kesuksesan merak biru kawin juga dipengaruhi letak arena tari (lek) yang dekat tempat pakan. Selain faktor tersebut, getaran bulu hias pada saat merak biru menari dalam rangka menarik betinanya untuk kawin berpengaruh terhadap penentuan jantan yang dipilih (Gadagkar 2003, Dakin 2008). Hernowo, 1995 menyebutkan bahwa merak hijau jawa jantan di TNB, menari juga menggetarkan bulunya. Dakin 2008, menyatakan bahwa sinyal kasad mata (visual signalling) untuk perilaku kawin pada merak biru mempengaruhi kesuksesan kawin.