• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR PUSTAKA

σ 2 dapat diduga oleh S 2 , dan µ dapat diduga oleh x rerata

4.3 HASIL DAN PEMBAHASAN 1 HASIL

4.3.2.6. Strategi Ekologi Populas

Strategi ekologi populasi merak hijau jawa merupakan cara ataupun taktik populasi dalam mempertahankan kelangsungan hidup populasi berkaitan dengan kondisi lingkungannya dengan mempertahankan kesehatan populasi. Menentukan ukuran populasi, memilih atau menentukan sistem perkawinan dalam kehidupannya, dan menggunakan habitat serta mengadaptasi berbagai tekanan merupakan strategi populasi merak hijau jawa. Ukuran populasi merak hijau jawa pada setiap tipe habitat berkisar 24 – 44 ekor. Ukuran populasi merak hijau jawa tersebut pada setiap habitat adalah tidak besar (< 100 ekor). Kecilnya ukuran populasi merak hijau jawa di taman nasional Baluran dan Alas Purwo diduga ada dua aspek penting yaitu (1) habitat yang sudah tidak memadai dan (2) adanya perburuanliar terhadap merak hijau jawa. Dengan ukuran populasi yang kecil tersebut memiliki konsekuensi variasi gen dalam populasi lebih tidak bervariasi ketimbang populasi berukuran besar. Aliran gen dalam populasi akan sangat dibatasi apabila populasi merak hijua jawa tersebut menjadi suatu metapopulasi. Menurut Gilpin and Hanski (1991) dinyatakan secara sederhana bahwa suatu metapopulasi terjadi apabila suatu populasi sudah tidak bisa hubungan antar populasi (sub-populasi) dalam suatu kawasan. Populasi atau sub populasi merak hijau jawa pada setiap habitat di TNB maupun di TNAP masih berhubungan satu dengan lainnya, sehingga dapat dikatakan populasi merak hijau jawa tersebut bukan merupakan suatu metapopulasi. Populasi ataupun sub populasi di berbagai

tipe habitat di TNB maupun di TNAP dapat bergerak bebas, aliran gen terjadi bebas antar populasi ataupun sub populasi. Hal ini mengindikasikan bahwa aliran gen dalam populasi pada setiap tipe habitat di kedua taman nasional tersebut masih berjalan dengan baik. Merak hijau jawa di TNB dan TNAP hidup secara berkelompok, ukuran kelompok kecil (2 - 4) ekor. Besaran ukuran kelompok tersebut diduga terkait dengan strategi populasi dalam menjaga kelangsungan hidupnya, kondisi habitat dan tekanan terhadap populasi. Ukuran kelompok merak hijau jawa baik di TNB maupun di TNAP yang dominan adalah kelompok yang terdiri atas 3 individu. Ukuran kelompok tersebut kemungkinan optimum dengan kondisi lingkungan di TNB dan TNAP.

Merak hijau jawa hidup dengan sistem poligami (polygyny) dengan perbandingan nisbah kelamin 1 jantan dibanding 4 betina. Merak hijau betina menentukan pilihan terhadap merak hijau jantan yang disukai. Hanya beberapa merak hijau jawa jantan yang sering mengawini banyak merak hijau jawa betina, sedangkan yang lain tidak terpilih. Merak hijau jantan yang terpilih diharapkan dapat menghasilkan keturunan yang dapat melangsungkan kehidupannya (survive).

Vigoritas populasi merak hijau jawa di TNB maupun TNAP cukup baik ditandai dengan pertumbuhan (natalitas) tetap berlangsung. Mortalitas karena perburuanliar terhadap populasi merak hijau jawa di TNB adalah faktor penekan populasi merak hijau yang sangat mengkhawatirkan. Diduga penurunan populasi merak hijau jawa di TNB sangat erat kaitannya dengan kegiatan perburuan. Bagaimanapun baiknya strategi ekologi populasi merak hijau jawa, tidak akan mampu bertahan bila menghadapi perburuanliar yang cukup besar tekanannya terhadap populasi.

4.4 SIMPULAN

1. Kelimpahan populasi merak hijau jawa lebih tinggi pada tipe habitat savanna di TNB, sedangkan di TNAP lebih terkonsentrasi di padang rumput Sadengan dan areal tumpangsari hutan tanaman jati Gunting.

2. Komposisi nisbah kelamin merak hijau jantan dewasa dengan betina dewasa di TNB maupun di TNAP adalah 1 jantan : 4 betina, kondisi tersebut mengindikasikan bahwa merak hijau jawa di TNB maupun TNAP hidup dalam sistem perkawinan poligami (polygyny).

3. Struktur umur populasi merak hijau jawa di TNB maupun di TNAP membentuk seperti piramida terbalik dengan jumlah merak dewasa dominan sekitar 67.70 %. Kesehatan populasi merak hijau jawa baik di TNB maupun TNAP relatif cukup baik, indikator parameter demografi populasi menunjukan kondisi baik (natalitas, pertumbuhan dan survival cukup baik).

4. Sebaran lokal merak hijau jawa di TNB maupun di TNAP adalah acak

berkelompok, terkait dengan ketersediaan sumberdaya pakan pada areal terbuka pada setiap tipe habitat serta pergerakan populasi.

5. Srategi merak hijau jawa dalam menghapi berbagai tekanan terhadap populasi yaitu ukuran populasi relatif kecil pada setiap tipe habitat berkaitan dengan ketersedian sumberdaya yang dibutuhkan oleh merak hijau jawa terutama pakan.

DAFTAR PUSTAKA

Brickle, N. W. 2002. Habitat use, predicted distribution and conservation of green peafowl (Pavo muticus) in Dak Lak Province, Vietnam. Biological Conservation Journal . 105 : 189-197

Collar, N.J. and Andrew, P. 1998. Birds To Watch. ICBP Tech. Publication 8. Cambridge. U K.

Delacour, J. 1977. The Pheasant of the World (2 nd Edition) Spurr Publication. Saiga Publising Co Ltd Surr GU 26 GTD. England.

Dumkeaw J. Mekvichai W and Parriyanonth P, 2008. Seasonal Distribution of Green Peafowl (Pavo muticus Linnaeus 1766) In Pa Miang Sub District, Doi Saket District, Chiang Mai Province. Paper presented at 35 th Congress On Science and Technology of Thailand.

Fowler, J and L. Cohen 1986. Statistics for Ornithologists. Brithis Thrust for Ornithologist Guide No 22. Hertfurdshire.

Gilpin M. E and Hanski, I. 1991. Metapopulation dynamics : empirical and theoretical investigations. Biological Journal of the Linnean Society 42 : 73 – 78.

Hernawan, E. 2003. Studi Populasi dan Habitat Merak Hijau (Pavo muticus Linnaeus 1766), di Hutan Ciawitali BKPH Buah Dua dan BKPH Songgom KPH Sumedang. Skripsi Jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan Fakultas Kehutanan IPB. Bogor. Tidak Diterbitkan.

Hernowo, J. B. 1995. Ecology and Behaviour of the Green Peafowl (Pavo muticus

Linnaeus 1766) In the Baluran National Park. East Java, Indonesia. Master Thesis Faculty of Forestry Science, Goerg August University Gottingen. Germany. ---. 1997. Population Study of Javan Green Peafowl (Pavo muticus muticus

Linnaeus 1758) With Three Different Methods In Baluran National Park, East Java Indonesia. Media Konservasi Vol. V, No 2 : 61- 66.

---.--1999. Habitat and Local Distribution of Javan Green Peafowl (Pavo muticus muticus Linnaeus 1758) In Baluran National Park, East Java. Media Konservasi Vol. VI, No 1 p : 15 – 22.

Hernowo, J.B and Hernawan, E. 2003. Population and Habitat Study of Javan Green Peafowl ( Pavo muticus muticus Linnaeus 1758 ) at Ciawitali Teak forest Plantation of BKPH Buahdua and BKPH Songgom, KPH Sumedang. Media Konservasi Vol. VIII, no. 3, p : 117 – 126.

Hernowo, J.B and Wasono, W. T. 2006. Population and Habitat of Javan Green Peafowl (Pavo muticus muticus Linnaeus 1758) at Alas Purwo National Park. Media Konservasi Vol. XI, no. 3, p : 83 – 88.

Johnsgard, P. A. 1986. The Pheasants of the World. Oxford University Press. London. Kuroda, N. 1936. Birds of Island of Java. Vol 2. Non – Passeres. Published By The

Author Tokyo.

Ludwig, J. A and Reynolds J. F. 1988. Statistical Ecology A Primer on Methods and Computing. John Wiley & Sons. Canada

Liu, Y. Han, L. Xie, Y. Wen, Y. and Ziang, R. 2007. The status and habitat use of green peafowl Pavo muticus in Shuangbai Konglonghe Nature Reserve, China. © 2009 World Pheasant Association International Journal of Galliformess Conservation, 1, 32 – 35.

Mackinnon, J. 1988. A Field Guide to the Birds of Java and Bali. Gadjah Mada Press. Yogyakarta.

Mulyana. 1988. Studi Habitat Merak Hijau (Pavo muticus Linnaeus 1766) di Resort Bekol, Taman Nasional Baluran, Jawa Timur. Skripsi Jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan Fakultas Kehutanan IPB. Bogor. Tidak Diterbitkan.

Palita, Y. 2002. Kajian Penyebaran Lokal, Habitat dan Perilaku Merak Hijau (Pavo muticus muticus Linnaeus 1758) di Taman Nasional Meru Betiri. Jawa Timur. Skripsi Program Diploma IV Kehutanan, Fakultas Kehutanan IPB. Bogor. Tidak Diterbitkan.

Pinthong T. and Meckvichai, W 2008. Influence of predator abundance and human activities on green peafowl (Pavo muticus) abundance in Huai Kha Khaeng Wildlife

Sanctuary. Paper presented at 35 th Congress On Science and Technology of Thailand

Ponsena P. 1988. Biological characteristics and breeding behaviours of green peafowl (Pavo muticus Linnaeus in Huai Kha Khaeng Wildlife Sanctuary. Thai J. For. 7 : 303 – 313.

Ramadhan G, F. 2009. Ekologi Perilaku Merak Hijau (Pavo muticus Linnaeus, 1766) di Taman Nasinal Alas Purwo dan Taman Nasional Baluran, Jawa Timur. Skripsi. Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan IPB, Institut Pertanian Bogor. Bogor. Tidak Diterbitkan

Rini, I.S. 2005. Studi Ekologi Pakan dan Perilaku Makan Merak Hijau (Pavo muticus

Linnaeus 1766) di Taman Nasional Alas Purwo, Jawa Timur. Skripsi Jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan Fakultas Kehutanan IPB. Bogor. Tidak Diterbitkan. Risnawati, R. 2008. Analisis Population dan Habitat Merak Hijau (Pavo muticus Linnaeus,

1766) Di Taman Nasinal Alas Purwo dan Taman Nasional Baluran, Jawa Timur. Skripsi. Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan IPB, Institut Pertanian Bogor. Bogor. Tidak Diterbitkan.

Sumbara, B 2006. Studi Ekologi Merak Hijau (Pavo muticus Linnaeus, 1766) di Hutan Pinus Cikuray BKPH Bayongbong, KPH Garut. Jawa Barat. Tugas Akhir Diploma III. Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata. Fakultas Kehutanan IPB. Bogor.Tidak Diterbitkan

Supratman, A.1998. Kajian Pola Penyebaran dan Kharakteristik Habitat Merak Hijau (Pavo muticus Linnaeus 1766) Pada Musim Tidak Berbiak di Resort Rowobendo Taman Nasional Alas Purwo, Jawa Timur. Skripsi Jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan Fakultas Kehutanan IPB. Bogor. Tidak Diterbitkan.

van Balen, B. Prawiradilaga, D.M. Indrawan, M. Marakarmah, A. Dirgayusa, I.W.A. and Isa, M.A. 1991. Notes on the Distribution and Status of green Peafowl on Java. World Pheasant Association – Worldwide Fund for Nature, Indonesia Programme. Bogor.

Wasono, W. T. 2005. Populasi dan Habitat Merak Hijau (Pavo muticus Linnaeus 1766) di Taman Nasional Alas Purwo, Jawa Timur. Skripsi Jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan Fakultas Kehutanan IPB. Bogor. Tidak Diterbitkan.

Winarto, R. 1993. Beberapa Aspek Ekologi Merak Hijau ( Pavo muticus Linnaeus 1766) Pada Musim Berbiak di Taman Nasional Baluran, Jawa Timur. Skripsi Jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan Fakultas Kehutanan IPB. Bogor. Tidak Diterbitkan. Yuniar, A. 2007. Studi Population dan Habitat Merak Hijau (Pavo muticus Linnaeus, 1766)

di Taman Nasinal Alas Purwo dan Taman Nasional Baluran, Jawa Timur. Skripsi. Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan IPB, Institut Pertanian Bogor. Bogor. Tidak Diterbitkan.

5.1 PENDAHULUAN 5.1.1 Latar Belakang

Merak hijau jawa (Pavo muticus muticus) tersebar di beberapa tipe habitat yaitu hutan hujan tropika dataran rendah di jawa, hutan musim, savanna dan hutan jati. Sebaran merak hijau di Jawa menjadi terpencar dan terkelompok di areal yang sempit disetiap penyebaran lokalnya (Hernowo, 1995). Pada saat ini habitat yang memungkinkan untuk mendukung kehidupan merak hijau jawa pada hutan konservasi dan lindung (Taman Nasional, Suaka Margasatwa, Cagar Alam, Hutan Lindung) serta sebagian hutan jati. Habitat merak hijau jawa tersebar secara terfragmentasi dan terisolasi secara bentang alam yang luas.

Taman Nasional Baluran dan Alas Purwo merupakan salah satu tempat penyebaran merak hijau jawa di Ujung Timur P Jawa. Taman Nasional Baluran memiliki tipe habitat yang khas savanna dan hutan musim, tetapi taman nasional Alas Purwo memiliki tipe habitat lebih beragam diantaranya hutan hujan dataran rendah, padang rumput hutan tanaman jati serta hutan jati tumpangsari.

Berkaitan dengan tipe habitat, kelimpahan populasi merak hijau jawa memiliki perbedaan. Menurut Hernowo (1997), kelimpahan populasi merak hijau jawa di TN Baluran paling banyak pada tipe habitat savana-hutan musim dibandingkan tipe habitat lainnya. Hernawan (2003), mendapatkan kelimpahan merah hijau jawa di hutan jati KPH Sumedang di perbatasan hutan jati tumpang sari dengan hutan jati klas umur IV ke atas. Tekanan terhadap habitat merak hijau jawa cukup besar, namun demikian faktanya merak hijau jawa di lapang masih ada. Tentunya merak hijau jawa memiliki strategi ekologi dalam menggunakan habitat untuk tetap bertahan hidup dari berbagai gangguan. Untuk mengetahui lebih lanjut terhadap strategi merak hijau jawa dalam menggunakan habitat tersebut sangat menarik menganalisis fungsi habitat seperti tempat makan, peneduh, tempat berlindung, tempat tidur, menari dan tempat bersarang serta mengetahui kharakteristik fungsi habitat, habitat kesukaan serta habitat yang ideal bagi merak hijau jawa.

Tujuan

Tujuan dari topik penelitian adalah untuk mendapatkan data dan informasi mengenai parameter habitat merak hijau jawa dengan menganalisis dan mensintesis mengenai 1. Kharakteristik fungsi habitat pakan, berteduh, berlindung, tengger, tempat menari, dan

tempat bersarang di TNB dan TNAP

2. Habitat ideal bagi merak hijau jawa berkaitan dengan komponen habitat penting bagi kehidupan merak hijau jawa

3. Strategi adaptasi ekologi terhadap kondisi tipe habitat, serta faktor habitat penentu dan habitat ideal merak hijau jawa

5.2 METODA

Kajian tetang habitat merak hijau jawa di Taman Nasional Baluran dan Alas Purwo telah dilakukan selama 10 bulan dari Juni sampai Oktober 2006 dan Agustus sampai Desember 2007. Fokus kajian habitat merak hijau jawa di kedua taman nasional tersebut dengan pendekatan tipe habitat. Di Taman Nasional Baluran studi difokuskan di resort Bekol yang mencakup tipe habitat savanna, hutan pantai, hutan musim dan hutan selalu hijau, sedangkan di Taman Nasional Alas Purwo dipusatkan pada resort Rowobendo mencakup hutan tropika dataran trendah dan padang rumput Sadengan, hutan campuran dan tumpangsari Rowobendo, hutan jati dan tumpangsari Gunting dan hutan jati Ngagelan serta Sumber Gedang.

Contoh lokasi pengamatan untuk kajian habitat merak hijau jawa di Taman Nasional Baluran meliputi areal seluas 4 km x 3 km (1 200) yang memiliki empat tipe habitat utama yaitu savanna, hutan pantai, hutan musim, dan hutan selalu hijau mengikuti Hernowo 1999. Pada setiap tipe habitat digunakan jalur secara kontinyu untuk mengetahui komposisi dan struktur vegetasi. Disamping itu dilakukan pengamatan di tempat minum, tempat istirahat, tempat bertengger untuk mengetahui fungsi habitat dalam mendukung kehidupan merak hijau jawa.

Analisis terhadap habitat merak hijau jawa difokuskan di lima tempat sebaran lokal merak di resort Rowobendo yaitu di padang rumput Sadengan dan hutan tropik dataran rendah, hutan tanaman campuran, hutan tanaman jati dan tumpangsari Gunting, hutan tanaman jati Ngagelan dan Sumber Gedang.

Habitat merak hijau jawa dipertelakan dengan pendekatan analisis vegetasi. Untuk analisis data, nilai kuantitatif vegetasi digunakan dalam menggambarkan komposisi dan struktur vegetasi di setiap tipe habitat. Indeks nilai penting vegetasi yang menggambarkan kondisi habitat tersebut. (Mueller and Dumbois 1983, Soerianegara dan Indrawan 1985)

INP = FR+KR+DR