PERUNDANG-UNDANGAN
2.2. Batas-Batas Berlakunya Aturan Pidana dalam Perundangan-undangan menurut Tempat
2.2.5. Asas Ekstrateritorialitas
Pasal 9 KUHP mengatur, “Diterapkannya pasal-pasal 2-5, 7, dan 8 dibatasi oleh pengecualian-pengecualian yang diakui dalam hukum internasional.” Berdasarkan ketentuan pasal ini, keberlakuan asas teritorialitas, asas nasional aktif, asas nasional pasif, dan asas universalitas di dalam peraturan perundang-undangan pidana di Indonesia menjadi tidak mutlak atau dibatasi.
97 Pasal 479 l KUHP mengatur, “Barang siapa dengan sengaja dan melawan hukum melakukan perbuatan kekerasan terhadap seseorang di dalam pesawat udara dalam penerbangan, jika perbuatan itu dapat membahayakan keselamatan pesawat udara tersebut, dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima belas tahun.”
98 Pasal 479 m KUHP mengatur, “Barang siapa dengan sengaja dan melawan hukum merusak pesawat udara dalam dinas atau menyebabkan kerusakan atas pesawat udara tersebut yang menyebabkan tidak dapat terbang atau membahayakan keamananan penerbangan, dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima belas tahun.”
99 Pasal 479 n KUHP mengatur, “Barang siapa dengan sengaja dan melawan hukum menempatkan atau menyebabkan ditempatkannya di dalam pesawat udara dalam dinas, dengan acara apapun, alat atau badan yang dapat menghancurkan pesawat udara tersebut yang membuatnya tidak dapat terbang atau menyebabkan kerusakan pesawat udara tersebut yang dapat membahayakan keamanan dalam penerbangan, dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima belas tahun.”
100 Pasal 479 o KUHP mengatur, “(1) Dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara selama-lamanya dua puluh tahun apabila perbuatan dimaksud Pasal 479 huruf l, Pasal 479 huruf m, dan Pasal 479 huruf n itu: a. dilakukan oleh dua orang atau lebih bersama-sama; b. sebagai kelanjutan dari permufakatan jahat; c. dilakukan dengan direncanakan lebih dahulu; d. mengakibatkan luka berat bagi seseorang; (2) Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya seseorang atau hancurnya pesawat udara itu, dipidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara selama-lamanya dua puluh tahun.”
101 Sesuai ketentuan ini, tepat apa yang disampaikan oleh Bambang Poernomo, yaitu jelas tidak mungkin semua kepentingan hukum di dunia akan mendapat perlindungan, melainkan untuk kejahatan yang menyangkut tentang keuangan dan pelayaran. Lihat, Poernomo, Asas-Asas Hukum Pidana, 60.
99 yang lazim disebut dengan “asas ekstrateritorialitas”.
Di dalam Memorie van Toelichting, yang perlu mendapat perhatian di dalam Pasal 9 KUHP itu adalah tindak pidana, baik yang dilakukan orang di dalam maupun di luar negeri, apabila di dalamnya tersangkut orang-orang yang mempunyai apa yang disebut hak ekstrateritorial atau recht van exterrritorialiteit.102 Orang-orang yang dimaksud adalah sebagai berikut:103
- Para kepala negara asing yang sedang berkunjung atau singgah di suatu negara lain atas persetujuan pemerintah negara tersebut. Namun, ketentuan Pasal 9 KUHP dapat tidak berlaku apabila kepala negara asing tersebut melepaskan haknya atas kehendaknya sendiri, misalnya, karena kunjungannya itu bersifat tidak resmi atau tidak dalam kedudukannya. Hak ekstrateritorialitas ini tidak dimiliki oleh anggota keluarga atau lain-lain orang yang menyertai kepala negara tersebut dalam perjalanan atau kunjungannya.
- Para duta asing beserta keluarganya, termasuk juga pegawai-pegawainya.
- Para anak buah kapal perang negara asing yang sedang berkunjung atau singgah di suatu negara lain atas persetujuan pemerintah negara tersebut, meskipun sedang ada di luar kapal. Menurut hukum internasional, kapal perang itu merupakan wilayah negara yang memiliki kapal perang itu, sehingga tindak pidana yang dilakukan di atas kapal perang negara asing itu harus dipandang sebagai telah dilakukan di atas wilayah negara asing.
- Para tentara negara asing yang ada di dalam wilayah suatu negara atas persetujuan pemerintah negara itu.
- Para wakil badan-badan internasional, seperti utusan Perserikatan Bangsa-Bangsa, Palang Merah Internasional, dan lain sebagainya.
102 Lihat, Lamintang, Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia, 112.
103 Lihat, antara lain, Sastrawidjaja, Hukum Pidana (Asas Hukum Pidana Sampai Dengan Alasan Peniadaan Pidana), 108–109.; Lamintang, Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia, 113–166.
100
Adanya pengecualian terhadap orang-orang sebagaimana tersebut di atas tidak kemudian membuat Indonesia hanya berdiam diri tatkala mereka secara nyata telah mengancam atau membahayakan kepentingan nasional. Tentu, bukan dengan cara menuntut mereka menurut ketentuan hukum pidana nasional.
Mengutip pendapat Hazewinkel-Suringa sebagaimana di dalam buku karangan P.A.F. Lamintang, lazimnya, yang dapat dilakukan adalah memerintahkan orang tersebut meninggalkan Indonesia, meminta kepada negara yang telah mengirimkannya ke Indonesia untuk memanggil kembali orang tersebut, dan/atau menuntut ganti rugi kepada negara yang telah mengirimkan orang itu ke Indonesia.104
Ada 2 (dua) alasan yang kuat mengapa asas ekstrateritorialitas ini menjadi penting untuk dipertahankan dan kemudian tetap diberlakukan. Pertama, di dalam kebijakan hukum nasional, Indonesia memberikan pengakuan atas berlakunya hukum internasional, termasuk di dalam hukum pidana. Kedua, semakin meningkatnya pergaulan negara-negara di dunia yang memerlukan adanya jaminan dan ketentuan bagi kepentingan suatu negara terhadap negara yang lain yang didasarkan pada asas hukum dan perjanjian internasional yang ada sesuai dengan perkembangan zaman.105
Kesimpulan
- Asas legalitas (principle of legality) adalah asas yang menentukan bahwa suatu perbuatan itu hanya merupakan tindak pidana apabila ditentukan demikian oleh undang-undang. Dasar pemikirannya adalah untuk menjamin kepastian hukum. Pasal 1 ayat (1) KUHP mengandung asas tersebut.
- Pemaknaan terhadap asas legalitas: (a) tidak ada suatu perbuatanpun yang dilarang (diharuskan) dan diancam dengan pidana, kalau hal itu sebelumnya tidak dinyatakan dalam suatu ketentuan undang-undang; (b) untuk
104 Lihat, Lamintang, Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia, 113.
105 Poernomo, Asas-Asas Hukum Pidana, 61.
101 analogi (qiyas); dan (c) ketentuan-ketentuan hukum pidana itu tidak boleh berlaku surut (nonretroaktif).
- Dasar pemikiran adanya asas teritorialitas adalah setiap negara yang berdaulat itu wajib menjamin ketertiban hukum di wilayahnya. Negara berdaulat itu berhak memidana orang yang melakukan tindak pidana di wilayah kedaulatannya. Asas ini terkandung di dalam Pasal 2 KUHP dan Pasal 3 KUHP.
- Dasar pemikiran adanya asas nasionalitas aktif (asas personalitas) adalah peraturan hukum pidana negara yang berdaulat itu selalu mengikuti warganya. Jadi, peraturan hukum pidana itu berlaku bagi setiap warga negara yang melakukan tindak pidana tertentu di luar wilayah negaranya. Asas ini terkandung di dalam Pasal 5 KUHP dan Pasal 6 KUHP.
- Dasar pemikiran adanya asas nasionalitas pasif (asas perlindungan) adalah setiap negara yang berdaulat itu wajib melindungi kepentingan nasionalnya yang dilanggar di luar wilayahnya meskipun pelanggarnya itu adalah orang asing.
Asas ini terkandung di dalam Pasal 4 butir 1, butir 2, dan butir 3 KUHP, Pasal 7 KUHP, dan Pasal 8 KUHP
- Dasar pemikiran adanya asas universalitas adalah setiap negara yang berdaulat diangap sebagai anggota dari negara dunia yang wajib melakukan hukum pidana negaranya. Oleh karena itu, wajib melindungi kepentingan hukum seluruh dunia. Asas ini terkandung di dalam Pasal 4 butir 2 KUHP dan Pasal 4 butir 4 KUHP.
- Keberlakuan 4 (empat) asas sebelumnya tidak mutlak, karena ada beberapa pengecualian oleh hukum internasional. Dasar hukum pengakuan atas adanya asas ekstrateritorialitas ini adalah Pasal 9 KUHP.
Soal-Soal Latihan
1. Apa perbedaan antara ruang lingkup berlakunya hukum pidana menurut waktu dengan menurut tempat?
102
2. Apa makna adanya asas legalitas di dalam keberlakuan hukum pidana di Indonesia?
3. Apa dasar pemikiran atas adanya asas teritorialitas yang terkandung di dalam KUHP di Indonesia?
4. Apa perbedaan antara asas nasionalitas aktif dengan asas nasionalitas pasif?
5. Mengapa keberlakuan asas teritorialitas, asas nasionalitas aktif, asas nasionalitas pasif, dan asas universalitas tidak mutlak?
Umpan Balik
Mahasiswa dapat mengajukan hal-hal tentang kondisi yang dialami dan diharapkannya untuk memahami materi bahasan terkait. Beberapa tugas mandiri mahasiswa direspon dengan memberikan tanggapan balik terkait materi pokok bahasan.
Daftar Pustaka
Lamintang, P.A.F. Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia.
Bandung: Sinar Baru, 1984.
Luthan, Salman. “Asas Dan Kriteria Kriminalisasi.” Jurnal Hukum 16, no. 1 (2009).
Marpaung, Leden. Asas, Teori, Dan Praktik Hukum Pidana.
Jakarta: Sinar Grafika, 2008.
Mertha, I Ketut. Buku Ajar Hukum Pidana. Denpasar: Fakultas Hukum Universitas Udayana, 2016.
Moeljatno. Asas-Asas Hukum Pidana. Jakarta: Rineka Cipta, 2009.
Poernomo, Bambang. Asas-Asas Hukum Pidana. Semarang:
Ghalia Indonesia, 1981.
Prodjodikoro, Wirjono. Asas-Asas Hukum Pidana Di Indonesia.
Bandung: PT Refika Aditama, 2009.
———. Tindak-Tindak Pidana Tertentu Di Indonesia. Bandung:
Eresco, 1986.
Sahetapy, J.E. Hukum Pidana. Yogyakarta: Liberty, 1996.
Saleh, Roeslan. Asas Hukum Pidana Dalam Perspektif. Jakarta:
Aksara Baru, 1981.
Santoso, Topo. Hukum Pidana: Suatu Pengantar. Depok:
Rajawali Pers, 2020.
Sastrawidjaja, Sofjan. Hukum Pidana (Asas Hukum Pidana
103 Armico, 1995.
Utrecht, E. Rangkaian Sari Kuliah Hukum Pidana I. Jakarta:
Penerbitan Universitas, 1958.
104
105