• Tidak ada hasil yang ditemukan

Masa Reformasi

Dalam dokumen BUKU AJAR HUKUM PIDANA. Moch Choirul Rizal (Halaman 31-35)

1.4. Sejarah Singkat Hukum Pidana di Indonesia 1. Masa Kerajaan-Kerajaan di Nusantara

1.4.8. Masa Reformasi

Setelah Indonesia terbebas dari belenggu orde baru, perkembangan hukum pidana memasuki babak baru. Pada masa yang umum disebut “Masa Reformasi” ini, muncul beragam undang-undang yang memuat ketentuan-ketentuan terkait hukum pidana, baik pada aspek materiil maupun formil.

Pemerintah daerah, baik pada tingkat kabupaten, kota, maupun provinsi, juga diberikan hak untuk menyusun peraturan daerah (perda) yang memuat ketentuan-ketentuan hukum pidana. Di dalam undang-undang dan perda itulah banyak bermunculan tindak pidana baru yang sebelumnya tidak diatur dalam KUHP.

82 Han Bing Siong, “An Outline of The Resent History of Indonesian Criminal Law”, dalam Hamzah, Asas-Asas Hukum Pidana, 22–23.

83 Han Bing Siong, “An Outline of The Resent History of Indonesian Criminal Law”, dalam Ibid., 23.

84 Prodjodikoro, Asas-Asas Hukum Pidana Di Indonesia, 6.

85 Han Bing Siong, “An Outline of The Resent History of Indonesian Criminal Law”, dalam Hamzah, Asas-Asas Hukum Pidana, 24.

26

Oleh karena itulah, KUHP tidak lagi menjadi satu-satunya aturan hukum yang mengatur perihal perbuatan-perbuatan yang dilarang. Berikut adalah beberapa undang-undang yang dimaksud:

- Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (untuk selanjutnya cukup disebut “UU No. 8 Tahun 1999”);

- Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat (untuk selanjutnya cukup disebut “UU No. 5 Tahun 1999”);

- Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (untuk selanjutnya cukup disebut “UU No. 28 Tahun 1999”);

- Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers (untuk selanjutnya cukup disebut “UU No. 40 Tahun 1999”);

- Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 2000 tentang Rahasia Dagang (untuk selanjutnya cukup disebut

“UU No. 30 Tahun 2000”);

- Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (untuk selanjutnya cukup disebut “UU No. 31 Tahun 1999”) sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2001 (untuk selanjutnya cukup disebut “UU No. 20 Tahun 2001”);

- Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak (untuk selanjutnya cukup disebut

“UU No. 23 Tahun 2002”) sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2016 (untuk selanjutnya cukup disebut “UU No. 17 Tahun 2016”);

- Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2003 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme menjadi Undang-Undang (untuk selanjutnya cukup disebut “UU No. 15 Tahun 2002”) sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Republik

27 disebut “UU No. 5 Tahun 2018”);

- Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (untuk selanjutnya cukup disebut “UU No. 23 Tahun 2004”);

- Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2006 tentang Bantuan Timbal Balik dalam Masalah Pidana (untuk selanjutnya cukup disebut “UU No. 1 Tahun 2006”);

- Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban (untuk selanjutnya cukup disebut “UU No. 13 Tahun 2006”) sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 2014 (untuk selanjutnya cukup disebut “UU No. 31 Tahun 2014”);

- Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang (untuk selanjutnya cukup disebut “UU No. 21 Tahun 2007”);

- Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (untuk selanjutnya cukup disebut “UU No. 11 Tahun 2008”) sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2016 (untuk selanjutnya cukup disebut “UU No. 19 Tahun 2016”);

- Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis (untuk selanjutnya cukup disebut “UU No. 40 Tahun 2008”);

- Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi (untuk selanjutnya cukup disebut “UU No.

44 Tahun 2008”);

- Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (untuk selanjutnya cukup disebut “UU No. 22 Tahun 2009”);

- Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (untuk selanjutnya cukup disebut “UU No. 32 Tahun 2009”);

- Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika (untuk selanjutnya cukup disebut “UU No.

35 Tahun 2009”);

28

- Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang (untuk selanjutnya cukup disebut “UU No. 8 Tahun 2010”);

- Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pendanaan Terorisme (untuk selanjutnya cukup disebut “UU No. 9 Tahun 2013”);

- Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan (untuk selanjutnya cukup disebut “UU No. 18 Tahun 2013”);

- Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta (untuk selanjutnya cukup disebut “UU No.

28 Tahun 2014”);

- Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2016 tentang Paten (untuk selanjutnya cukup disebut “UU No. 13 Tahun 2016”);

- Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis (untuk selanjutnya cukup disebut “UU No. 20 Tahun 2016”); dan

- Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan (untuk selanjutnya cukup disebut “UU No. 6 Tahun 2018”).

Pada masa reformasi ini juga beberapa ketentuan dalam KUHP dinyatakan tidak berlaku lagi. Selain terbitnya undang-undang yang baru, ketidakberlakuan beberapa ketentuan dalam KUHP disebabkan adanya putusan atas pengujian materi (judicial review) terhadap beberapa pasal dalam KUHP yang diputuskan oleh Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia (MKRI). Berikut adalah beberapa putusan MKRI yang membuat ketentuan di dalam KUHP berubah maupun dinyatakan tidak berlaku lagi karena bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia (UUD NRI) Tahun 1945 (inkonstitusional):

- Putusan MKRI Nomor 013-022/PUU-IV/2006, tanggal 6 Desember 2006, yang di dalam amarnya menyatakan bahwa Pasal 134 KUHP, Pasal 136 bis KUHP, dan Pasal 137 KUHP bertentangan dengan UUD NRI Tahun 1945, sehingga tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat;

29 yang di dalam amarnya menyatakan bahwa Pasal 154 KUHP dan Pasal 155 KUHP bertentangan dengan UUD NRI Tahun 1945, sehingga tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat;

- Putusan MKRI Nomor 1/PUU-XI/2013, tanggal 16 Januari 2014, yang di dalam amarnya menyatakan bahwa frasa

“Sesuatu perbuatan lain maupun perlakuan yang tak menyenangkan” dalam Pasal 335 ayat (1) butir 1 KUHP bertentangan dengan UUD NRI Tahun 1945, sehingga tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. Melalui putusan ini, MKRI juga menyatakan bahwa Pasal 335 ayat (1) butir 1 KUHP menjadi “Barang siapa secara melawan hukum memaksa orang lain supaya melakukan, tidak melakukan atau membiarkan sesuatu, dengan memakai kekerasan, atau dengan memakai ancaman kekerasan, baik terhadap orang itu sendiri maupun orang lain”; dan

- Putusan MKRI Nomor 31/PUU-XIII/2015, tanggal 10 Desember 2015, yang di dalam amarnya menyatakan bahwa Pasal 319 KUHP sepanjang frasan “kecuali berdasarkan Pasal 316” bertentangan dengan UUD NRI Tahun 1945, sehingga tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat.

Dalam dokumen BUKU AJAR HUKUM PIDANA. Moch Choirul Rizal (Halaman 31-35)