TINDAK PIDANA
4.3. Jenis-Jenis Pidana
4.3.1. Pidana Pokok 1. Pidana Mati
4.3.1.2. Pidana Penjara
Pidana penjara merupakan suatu pidana berupa pembatasan kebebasan bergerak dari seorang terpidana, yang dilakukan dengan menutup orang tersebut di dalam sebuah lembaga pemasyarakatan, dengan mewajibkan orang tersebut untuk mentaati semua peraturan tata tertib yang berlaku di dalam lembaga pemasyarakatan yang dikaitkan degan sesuatu tindakan tata tertib bagi mereka yang telah melanggar peraturan tersebut.85
Pidana penjara telah dikenal orang sejak abad ke-16. Sejak abad ke-17, pidana penjara mempunyai tujuannya yang tersendiri, yaitu bukan saja dengan maksud untuk menutup dan membuat jera narapidana, melainkan juga memperbaiki narapidana, terutama dengan mewajibkan mereka untuk menaati peraturan-peraturan tata tertib dan mendidik mereka secara sistematis untuk melakukan macam-macam pekerjaan.86
Terdapat 3 (tiga) sistem terkait dengan pelaksanaan pidana penjara. Pertama, sistem Pennsylvania (suatu negara bagian di Amerika Serikat) yang menghendaki narapidana
83 Ibid.
84 Lihat, Lamintang, Hukum Penitensier Indonesia, 51.
85 Ibid., 56.
86 Ibid., 56–57.
168
terusan ditutup sendiri-sendiri di dalam 1 (satu) kamar atau sel.
Kedua, sistem Auburne (satu kota dalam Negara Bagian New York di Amerika Serikat) yang menentukan bahwa narapidana pada siang hari disuruh bersama-sama bekerja, tetapi tidak boleh bicara. Ketiga, sistem Irlandia yang menghendaki narapidana mula-mula ditutup terus-menerus, tetapi kemudian dipekerjakan bersama-sama, dan tahap demi tahap diberi kelonggaran bergaul satu sama lain, sehingga pada akhirnya setelah tiga perempat dari lamanya hukuman sudah lampau, dimerdekakan dengan syarat.
Di Indonesia, seolah-olah ketiga sistem tersebut dikawinkan, yaitu biasanya beberapa orang narapidana dikumpulkan di dalam satu ruangan, juga apabila tidur, jadi tidak hanya kalau bekerja, tetapi ada kemungkinan narapidana yang nakal dapat ditutup sendiri dan satu kamar atau sel.87
Menurut sistem penentuan ancaman pidana di dalam KUHP, pada dasarnya pidana penjara itu merupakan satu-satunya ancaman pidana bagi kejahatan-kejahatan yang telah dilakukan dengan sengaja. Sementara itu, bagi kejahatan-kejahatan yang telah dilakukan dengan tidak sengaja, pidana penjara hampir selalu diancamkan secara alternatif dengan pidana kurungan.88
Pasal 12 ayat (1) KUHP mengatur, “Pidana penjara ialah seumur hidup atau selama waktu tertentu”. Pidana penjara seumur hidup dapat dimaknai bahwa terpidana wajib menjalankan pidana yang dijatuhkan kepadanya sejak putusan hakim telah berkekuatan hukum tetap (inkracht van gewijsde) sampai dengan yang bersangkutan meninggal dunia. Sementara itu, menurut ketentuan Pasal 12 ayat (2) KUHP, pidana penjara waktu tertentu paling pendek adalah 1 (satu) hari dan paling lama 15 (lima belas) tahun berturut-turut.
Namun, dalam keadaan-keadaan tertentu, pidana penjara waktu tertentu dapat dijatuhkan untuk 20 (dua) puluh tahun berturut-turut. Adapun keadaan-keadaan yang dimaksud sebagaimana ditentukan Pasal 12 ayat (3) KUHP adalah: (1) dalam hal kejahatan yang pidananya hakim boleh memilih antara pidana mati, pidana penjara seumur hidup, dan pidana penjara selama
87 Prodjodikoro, Asas-Asas Hukum Pidana Di Indonesia, 182–183.
88 Lamintang, Hukum Penitensier Indonesia, 56–57.
169 boleh memilih antara pidana penjara seumur hidup dan pidana penjara selama waktu tertentu; atau (3) dalam hal batas 15 (lima belas) tahun dilampaui sebab tambahan pidana karena perbarengan, pengulangan, atau karena ditentukan Pasal 52 KUHP89.
Merujuk pada ketentuan Pasal 32 ayat (1) KUHP, pidana penjara itu mulai berlaku sejak pidana tersebut diputuskan oleh hakim melalui putusan yang telah berkekuatan hukum tetap (inkracht van gewijsde) bagi terpidana yang sudah di dalam penahanan sementara. Di sisi yang lain, bagi terpidana yang tidak berada di dalam penahanan sementara, pidana penjara itu mulai berlaku sejak putusan hakim yang telah berkekuatan hukum tetap (inkracht van gewijsde) itu dijalankan.
Apabila terpidana berada di dalam penahanan sementara sebelum putusan berkekuatan hukum tetap, maka sebagaimana ketentuan Pasal 33 ayat (1) KUHP hakim dalam putusannya dapat menentukan bahwa waktu selama terpidana berada dalam penahanan sementara digunakan untuk mengurangi seluruh atau sebagiannya dari pidana penjara selama waktu tertentu yang dijatuhkan. P.A.F. Lamintang menyebutkan, pasal tersebut tidak mewajibkan hakim untuk memperhitungkan waktu di mana seorang terpidana berada di dalam penahanan sementara dengan lamanya pidana penjara yang akan ia jatuhkan bagi terpidana tersebut, melainkan hanya memberikan wewenang kepada hakim untuk berbuat demikian.90
Apabila hakim menjatuhkan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun atau pidana kurungan, tidak termasuk pidana kurungan pengganti, maka di dalam putusannya hakim dapat memerintahkan pula bahwa pidana tidak perlu dijalani. Demikian diatur di dalam Pasal 14a ayat (1) KUHP. Namun, hal tersebut dapat dikecualikan: (1) apabila pada kemudian hari ada putusan
89 Pasal 52 KUHP mengatur, “Bilamana seorang pejabat, karena melakukan tindak pidana, melanggar suatu kewajiban khusus dari jabatannya, atau pada waktu melakukan tindak pidana memakai kekuasaan, kesempatan atau sarana yang diberikan kepadanya karena .jabatannya, maka pidananya dapat ditambah sepertiga.”
90 Lamintang, Hukum Penitensier Indonesia, 68.
170
hakim yang menentukan lain yang disebabkan karena terpidana melakukan suatu tindak pidana sebelum masa percobaan yang ditentukan di dalam perintah tersebut di atas habis; atau (2) karena terpidana selama masa percobaan tidak memenuhi syarat khusus91 yang mungkin ditentukan dalam perintah itu. Di dalam berbagai literatur, inilah ketentuan yang mengatur perihal pidana percobaan.
Mengenai pidana percobaan, Pasal 14b ayat (1) KUHP mengatur, “Masa percobaan bagi kejahatan dan pelanggaran dalam pasal-pasal 49292, 50493, 50594, 50695, dan 53696 paling
91 Perihal “syarat khusus” ini, Pasal 14c ayat (1) KUHP menentukan bahwa terpidana dalam waktu tertentu, yang lebih pendek dari masa percobaannya, misalnya, harus mengganti segala sesuatu atau sebagian kerugian yang ditimbulkan oleh tindak pidana yang dilakukan. Syarat yang dimaksud, menurut Pasal 14c ayat (3) KUHP, tidak boleh mengurangi kemerdekaan beragama atau kemerdekaan berpolitik terpidana.
92 Pasal 492 KUHP mengatur: “(1) Barang siapa dalam keadaan mabuk di muka umum merintangi lalu lintas, atau mengganggu ketertiban, atau mengancam keamanan orang lain, atau melakukan sesuatu yang harus dilakukan dengan hati-hati atau dengan mengadakan tindakan penjagaan tertentu lebih dahulu agar jangan membahayakan nyawa atau kesehatan orang lain, diancam dengan pidana kurungan paling lama enam hari, atau pidana denda paling banyak tiga ratus tujuh puluh lima rupiah. (2) Jika ketika melakukan pelanggaran belum lewat satu tahun sejak adanya pemidanaan yang menjadi tetap karena pelanggaran yang sama, atau karena hal yang dirumuskan dalam pasal 536, dijatuhkan pidana kurungan paling lama dua minggu.”
93 Pasal 504 KUHP mengatur: “(1) Barang siapa mengemis di muka umum, diancam karena melakukan pengemisan dengan pidana kurungan paling lama enam minggu. (2) Pengemisan yang dilakukan oleh tiga orang atau lebih, yang berumur di atas enam belas tahun, diancam dengan pidana kurungan paling lama tiga bulan.”
94 Pasal 505 KUHP mengatur: “(1) Barang siapa bergelandangan tanpa pencarian, diancam karena melakukan pergelandangan dengan pidana kurungan paling lama tiga bulan. (2) Pergelandangan yang dilakukan oleh tiga orang atau lebih, yang berumur di atas enam belas tahun diancam dengan pidana kurungan paling lama enam bulan.”
95 Pasal 506 KUHP mengatur, “Barang siapa menarik keuntungan dari perbuatan cabul seorang wanita dan menjadikannya sebagai pencarian, diancam dengan pidana kurungan paling lama satu tahun.”
96 Pasal 536 KUHP mengatur: “(1) Barang siapa terang dalam keadaan mabuk berada di jalan umum, diancam dengan pidana denda paling banyak
171 tahun.” Sementara itu, menurut Pasal 14b ayat (2) KUHP, waktu pelaksanaan pidana percobaan dimulai pada saat putusan hakim telah berkekuatan hukum tetap (inkracht van gewijsde) dan telah diberitahukan kepada terpidana. Pasal 14b ayat (3) KUHP memberikan ketentuan bahwa waktu pelaksanaan pidana percobaan tidak dihitung selama terpidana ditahan secara sah.
Selanjutnya, di dalam praktik pelaksanaan pidana penjara di Indonesia, dikenal juga istilah pelepasan bersyarat. Pasal 15 ayat (1) KUHP mengatur, “Jika terpidana telah menjalani dua pertiga dari lamanya pidana penjara yang dijatuhkan kepadanya, yang sekurang-kurangnya harus sembilan bulan, maka ia dapat dikenakan pelepasan bersyarat. Jika terpidana harus menjalani beberapa pidana berturut-turut, pidana itu dianggap sebagai satu pidana.” Leden Marpaung mengungkapkan, pelepasan bersyarat diadakan dengan maksud untuk mengadakan masa peralihan antara ketidakbebasan di penjara dengan kebebasan penuh dalam masyarakat.97
Selain telah ditentukan limitasi pidana penjara yang telah dilaksanakan, KUHP juga menentukan adanya syarat umum yang harus dipenuhi agar terpidana dapat diberikan pelepasan bersyarat. Menurut Pasal 15a ayat (1) KUHP, yang termasuk sebagai syarat umum adalah terpidana tidak akan melakukan tindak pidana dan perbuatan lain yang tidak baik. Di samping adanya syarat umum, menurut Pasal 15a ayat (2) KUHP, juga boleh ditambahkan adanya syarat-syarat khusus mengenai kelakukan terpidana, asal saja tidak mengurangi kemerdekaan beragama dan berpolitik. Syarat-syarat yang dimaksud dapat
dua ratus dua puluh lima rupiah. (2) Jika ketika melakukan pelanggaran belum lewat satu tahun sejak adanya pemidanaan yang menjadi tetap karena pelanggaran yang sama atau yang dirumuskan dalam pasal 492, pidana denda dapat diganti dengan pidana kurungan paling lama tiga hari. (3) Jika terjadi pengulangan kedua dalam satu tahun setelah pemidanaan pertama berakhir dan menjadi tetap, dikenakan pidana kurungan paling lama dua minggu. (4) Pada pengulangan ketiga kalinya atau lebih dalam satu tahun, setelah pemidanaan yang kemudian sekali karena pengulangan kedua kalinya atau lebih menjadi tetap, dikenakan pidana kurungan paling lama tiga bulan.
97 Marpaung, Asas, Teori, Dan Praktik Hukum Pidana, 109.
172
diubah atau dihapus sebagaimana ditentukan oleh Pasal 15a ayat (5) KUHP.
Apabila terpidana yang diberi pelepasan bersyarat selama masa percobaan melakukan hal-hal yang melanggar syarat-syarat yang telah ditentukan kepadanya, maka sebagaimana ketentuan Pasal 15b ayat (1) KUHP, pelepasan bersyarat tersebut dapat dicabut. Di dalam keadaan demikian, menurut Pasal 15b ayat (2) KUHP, waktu selama terpidana dilepaskan bersyarat sampai menjalani pidana lagi, tidak terhitung sebagai waktu menjalankan pidananya.