FKIP, Universitas Lampung e-mail: [email protected]
Abstrak
Etnik Lampung memiliki kearifan lokal yang harus dilestarikan keberadaannya oleh generasi muda. Salah satu bentuk kearifan lokal tersebut adalah etika dalam bertutur sapa. Etika atau norma-norma dalam bertutur sapa menjadi pegangan bagi kelompok etnis masyarakat Lampung untuk mengadakan komunikasi dan interaksi dalam kehidupan sehari-hari atau dalam acara-acara adat. Penelitian ini menggunakan metode desktiptif dengan memilih obyek penelitian faktor-faktor yang harus diperhatikan oleh pelaku tutur ketika melakukan kegiatan bertutur sapa. Penelitian ini menggunakan teknik observasi nonpatisipasi dengan teknik wawancara dan perekaman, sedangkan analisis datanya menggunakan analisis berdasarkan teori gabungan dari Koentjaraningrat, Poedjosoedarmo, dan Kartomiharjo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat etnis Lampung mempunyai etika bertutur sapa yang berkaitan erat dengan falsafah hidup adat istiadat mereka yang dikenal dengan istilah Pi-il Pesenggiri. Etika bertutur sapa masyarakat Lampung ditentukan oleh faktor perbedaan kerabat atau bukan kerabat, tingkat generasi, jenis kelamin, usia, urutan kelahian, asal lingkungan/keturunan keluarga, jenjang/ tingkatan adat, status perkawinan, agama, tujuan/ fungsi pembicaraan, asal etnis, dan tingkat hubungan penutur dan lawan tutur.
Kata kunci: etik budaya, tutur sapa, Etnik Lampung.
Lampung ethnic has local wisdom that must be preserved by the younger generation. One of local wisdom is speaking ethics. Ethics or norms in speech become the guidance for Lampung ethnic groups to organize communication and interaction in everyday life or in customary events. This study uses a descriptive method by selecting the object of research factors that must be considered by the conversation actor when doing the activity. This research uses non-participation observation technique with interview and recording technique, while data analysis uses analysis based on joint theory from Koentjaraningrat, Poedjosoedarmo, and Kartomiharjo. The results showed that the Lampung ethnic community has ethics that speak closely related to the philosophy of life of their custom known as Pi-il Pesenggiri. Ethics speak of the people of Lampung is determined by the factors of differentiated relatives or non-relatives, generation, gender, age, sequence of fights, origin of family / ancestry, adat level, marital status, religion, speaking objectives, ethnic origin, and level of speaker and opponent relationships.
Keywords: cultural ethic, spoken word, ethnic Lampung PENDAHULUAN
Setiap suku bangsa atau etnis di seluruh dunia mempunyai kebudayaan. Salah satu bentuk kebudayaan tersebut adalah dalam bentuk kearifan lokal yang tersimpan dalam bentuk bahasa. Adanya unsur bahasa dalam kebudayaan menunjukan keeratan hubungan antara bahasa dan kebudayaan. Hal ini ditunjukan antara lain oleh Kramch (2000:3). Kramch menyebutkan ada tiga hubungan antara bahasa dan kebudayaan. Pertama, bahwa bahasa mengekspresikan realitas budaya (language expresses cultural reality), Kedua, bahasa
merupakan penjelmaan realitas budaya (language embodies cultural reality), Ketiga, bahasa merupakan simbol realitas budaya (language symbolizes cultural reality).
Ketiga hubungan bahasa dan kebudayaan di atas, dapat dijumpai dalam kearifan lokal yang berbentuk bahasa daerah, termasuk bahasa Lampung sebagai kekayaan yang harus dilestarikan. Kearifan lokal adalah perangkat pengetahuan dan praktik-praktik pada suatu komunitas baik yang berasal dari generasi-generasi sebelumnya maupun dari pengalamannya berhubungan dengan lingkungan dan masyarakat lainnya untuk menyelesaikan secara baik dan benar persoalan dan/atau kesulitan yang dihadapi, yang memiliki kekuatan seperti hukum maupun tidak (Ahimsa-Putra, 2009:7). Salah satu contoh bentuk keraifan lokal adalah etika. Etika, yaitu nilai-nilai dan norma-norma yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya (Bertens; 2013:6).
Masyarakat etnis Lampung mempunyai etika atau norma yang menjadi pegangan dalam mengatur perilaku ketika mereka melakukan komunikasi dan interaksi antarsesama etnis dan lain etnis baik yang masih ada hubungan kerabat maupun yang bukan kerabat. Etika tersebut terdapat dalam etika budaya bertutur sapa. Etika budaya tersebut banyak tidak diketahui oleh penutur asli etnis Lampung baik generasi tua maupun generasi muda. Dengan demikian, perlu diadakan penelitian untuk mengetahui bagaimana etika budaya bertutur sapa masyarakat etnis Lampung.
Dalam kegiatan bertutur sapa, pelaku tutur menggunakan berbagai istilah kebahasaan yang dikenal dengan istilah sapaan (term of address). Sapaan adalah morfem, kata, atau frase yang digunakan untuk saling merujuk dalam situasi pembicaraan dan yang berbeda-beda menurut sifat hubungan antara pembicara itu (Kridalaksana; 1982;14). Selanjutnya, Kridalaksana (1985:14) menyebutkan bahwa sapaan adalah seperangkat kata atau ungkapan yang digunakan untuk menyapa, menyebut, dan memanggil, para pelaku dalam suatu peristiwa bahasa.Sementara itu, Hadikusuma (1996:181) menyebut istilah sapaan dengan istilah Tutur/Tutor. Tutur/Tutor berarti panggilan, cara memanggil atau menyapa antara kerabat yang satu dengan anggota kerabat yang lain.
Sapaan atau Tutur/Tutor yang digunakan oleh masyarakat etnis Lampung digunakan untuk menunjukan sopan santun dan menentukan peran seseorang baik sebagai penyapa maupun pesapa. Penggunaan sapaan atau Tutur/Tutor yang tidak tepat akan mengakibatkan ketidaksopanan dan pelaku tutur itu akan dikatakan tidak tahu adat istiadat.Bahkan, dapat membuat lawan tutur merasa tersinggung harga dirinya karena turun jenjang/tingkatan adatnya.
Dalam menggunakan sapaan, terdapat berbagai faktor yang harus diperhatikan oleh para pelaku tutur. Poedjosoedarmo (1979:19) menyebutkan faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam bertutur sapa adalah tingkat formalitas hubungan antara O1 dan O2 (akrab, biasa), tingkat status sosial O1 dan O2 (bangsawan, kaya, miskin, berpangkat, keagamaan, berpendidikan tinggi), kehadiran orang ketiga (O3), situasi emosi O1 (marah, sedih, senang) watak O1 (sombong/congkak, alus), tujuan tutur merayu, membujuk), materi percakapan (keagamaan, kebatinan), dan jenis tuturan (lisan, tulisan).
Berbeda dengan pendapat Poedjosoedarmo, Koentjaraningrat (1980:138) membahas masalah istilah sapaan dalam istilah kekerabatan. Koentjaraningrat mengemukakan untuk menganalisis istilah kekerabatan, alih-alih sapaan terdapat sepuluh prinsip, yaitu (1) angkatan (ayah adalah angkatan +1 ke atas dari Ego), (2) percabangan keturunan (ayah adalah cabang 0, paman adalah cabang +1), (3) umur (kakak dan adik), (4) sex dari para kerabat (ayah dan ibu, kakek dan nenek), (5) sex dari para kerabat yang menghubungkan (saudara laki-laki dari ayah atau dari ibu), (6) sex dari si pembicara,(7) perbedaan antara kerabat ―darah‖ dan kerabat ―karena kawin‖ (orang tua dan mertua; saudara dan ipar), (8) keadaan hidup atau wafat dari kerabat yang menghubungkan, (9) principle of polarity (dua orang saling menyebut dengan sebutan yang berbeda), dan (10) prinsip umur dari kerabat penghubung.
Berbeda dengan kedua pakar di atas, Kartomiharjo (1981:89) menyebutkan bahwa faktor-faktor yang menentukan pemilihan dan penggunaan sapaan adalah (1) situasi(formal dan informal), (2) etnisitas (pribumi dan nopribumi), (3) hubungan kekerabatan dan nonkekerabatan, (4) tingkat keintiman (intim dan biasa), (5) status (lebih tinggi/di atas, sebaya, lebih rendah/di bawah), (6) umur, (7) jenis kelamin, (8) status perkawinan, dan (9) asal.
METODE PENELITIAN
Sesuai dengan tujuan penelitian yang dikemukakan, untuk mengetahui atau mendeskripsikan etika budaya tutur masyarakat etnis Lampung, penulis menggunakan metode deskriptif dengan memilih subyek penelitian faktor-faktor yang harus diperhatikan oleh pelaku tutur ketika melakukan kegiatan bertutur sapa. Untuk memperoleh data yang diperlukan, penulis memperolehnya dari nara sumber yang berperan sebagai ketua adat dan penutur-penutur asli etnis Lampung yang bertempat tinggal di wilayah Bandar Lampung. Penelitian ini menggunakan teknik observasi nonpatisipasi dengan teknik wawancara dan perekaman, sedangkan analisis datanya menggunakan analisis berdasarkan teori gabungan dari Koentjaraningrat, Poedjosoedarmo, dan Kartomiharjo.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan pengumpulan data yang telah dilakukan, penelitian ini menghasilkan beberapa faktor yang menentukan etika bertutur sapa yang harus diperhatikan oleh masyarakat etnis Lampung. Beberapa faktoryang harus dipatuhi oleh para pelaku tutur tersebut adalah berkaitan dengan faktor-faktor : (1) hubungan kerabat atau bukan kerabat, (2) tingkat generasi, (3) jenis kelamin, (4) usia,(5) urutan kelahiran, (6) asal lingkungan/keturunan keluarga, (7) jenjang/tingkatan adat, (8) status perkawinan, (9) agama, (10) situasi pembicaraan, (11) tujuan/ fungsi pembicaraan, (12) asal etnis, dan (13) tingkat hubungan penutur dan lawan tutur. Berikut ini adalah pembahasan masing-masing faktor yang dimaksudkan.
1. Hubungan Kerabat atau Bukan Kerabat
Faktor hubungan kerabat atau bukan kerabat menentukan etika bertutur sapa. Hal ini berkaitan dengan pemilihan danpenggunaan istilah sapaan. Seseorang disebut berkerabat dalam masyarakat etnis Lampung adalah apabila para pelaku tutur itu ada pertalian darah, karena tali perkawinan, atau karena saudara akuan (saudara angkat). Sebaliknya, yang disebut bukan kerabat bila tidak ada hubungan darah, keturunan, tidak ada tali perkawinan, atau tidak ada hubungan saudara angkat pada para pelaku tutur. Pelaku tutur yang mempunyai hubungan kerabat akan menggunakan istilah sapaan yang berbeda dengan pelaku tutur yang tidak mempunyai hubungan kerabat. Istilah sapaan yang sangat berbeda digunakan oleh pelaku tutur yang masih berkerabat terutama terlihat padapenggunaan istilah sebutan (term of reference)
Contoh:
Kajong : istilah sebutan yang digunakan untuk menyebut suami/isteri bernada biasa atau kurang sopan.
Mengiyan/Mungiyan/Anggoman : Istilah sebutan yang digunakan untuk menyebut suami/isteri bernada sopan.
Ulun tuha/ ulun tuho : istilah sebutan untuk kedua orang tua (ayah dan ibu). Kamaman/kemaman : istilah sebutan untuk saudara laki-laki dari ayah/ibu. Kaminan/Kemainan: istilah sebutan untuk saudara perempuan dari ayah/ibu. Contoh kalimat:
1. Kenalko sinji kajongku.‗Kenalkan ini suami/isteriku.‘
2. Ulun tuhaku wat lamban di Tanjungkarang. ‗Orang tuaku punya rumah di Tanjungkarang.‘
3. Kemamanku ghadu jadi bupati limo taun sai liwat.‗Saudara laki-laki ayah/ibuku sudah jadi bupati lima tahun yang lalu.‘
4. Ghambetembuk yu, jemoh di kampus. ‗Kita bertemu ya, besok di kampus.‘ 2. Faktor Tingkat Generasi
Faktor tingkat generasi pelaku tutur menentukan etika dalam bertutur sapa. Tingkat generasipelaku tutur berbeda, akan berbeda pula memilih atau menggunakan istilah sapaannya.
Contoh:
Ulun Tuha/ulun tuho : sebutan untuk orang tua Ego (bapak-ibu +1). Akas/bakas/datuk/tamong: sapaan, panggilan untuk kakek (+2). Nyaik/Siti/ombai : sapaan, panggilan untuk nenek (+2).
Tuyuk/uyut: sapaan, panggilan untuk buyut (+3). Sanak: sebutan untuk anak (-1).
Ompu/umpu/uppu : sapaan, panggilan, sebutan untu cucu (-2) Contoh kalimat:
Ulun tuhaku tinggal umi tenggalan. ‗Orang tuaku tinggal ibu sendiri.‘
Permisei, Akas. Sikam haga mulang ganta. ‗Permisi, Kakek. Saya mau pulang sekarang.‘ Nyaik, dipa Nyaik ngejamuk segubalni?‗Nenek, di mana Nenek menyimpan
segubalnya?‘
Tuyuk, nyo kabakh? Kak saka gham mak tungga. ‗Buyut, apa kabar? Sudah lama kita tidak bertemu.‘
Kahut, dang ujan-ujanan, Uppuku. Tini nikew maghing. ‗Sayang, jangan hujan-hujanan, Cucuku. Nanti kamu sakit.‘
3. Faktor Jenis Kelamin
Faktor jenis kelamin para pelaku tutur ikut menentukan etika bertutur sapa. Penggunaan istilah sapaan atau sebutan untuk pelaku tutur laki-laki akan berbeda dengan sapaan atau sebutan untuk pelaku tutur jenis kelamin perempuan.
Contoh:
Atu : istilah sapaan yang digunakan untuk menyapa lawan tutur perempuan. Abang: istilah sapaan yang digunakan untuk menyapa lawan tutur laki-laki.
Akan: istilah sapaan untuk menyapa orang tua laki-laki (ayah/bapak) dalam keluarga bangsawan.
Mulei/muli : sebutan untuk menyebut seorang perempuan yang belum menikah (gadis) . Meghanai/meranai : sebutan untuk menyebut seorang laki-laki yang belum menikah (bujang).
Contoh kalimat:
Sikam ucapko tekhima kasih nihan jama Atu sai ghadu bersedia ghatong di lamban sikam. ‗Saya ucapkan terima kasih banyak kepada Atu (saudara perempuan) yang sudah bersedia datang di rumah saya.‘
Bang, Abang, mejong pai dija !‗Bang, Abang, duduklah sini !‘
Mulei-mulei Lampung sikop-sikop khupani. Gadis-gadis Lampung cantik-cantik wajahnya.‘
4. Faktor Usia
Faktor usia merupakan faktor yang diperhatikan dalam etika bertutur sapa.
Terdapat istilah-istilah sapaan tertentu yang bisa dan tidak bisa digunakan oleh pelaku tutur. Istilah-istilah sapaan yang mempunyai aturan tertentu dalam penggunaannya ditemukan pada istilah kata ganti orangdan nama diri yang disesuaikan dengan tingkat atau perbedaan usia pelaku tutur, tingkat hubungan pelaku tutur, tujuan pembicaraan, dan situasi pembicaraan. Sapaan nama diri hanya boleh digunakan oleh penutur yang usianya lebih tua/di atas lawan tutur kepada lawan tutur yang usianya lebih muda/di bawah penutur. Sebaliknya, hal ini tidak boleh dilakukan oleh penutur yang usianya lebih muda/di bawah kepada lawan tutur yang usianya lebih tua/di atas penutur.
Contoh :
Nyak ‗saya‘ : istilah kata ganti orang pertama tunggal, dipakai untuk menyebut diri Ego kepada lawan tutur, tingkat hubungan akrab, dalam situasi nonformal/tidak resmi.
Sikam‗saya‘ : istilah kata ganti orang pertama tunggal, dipakai untuk menyebut diri Ego kepada lawan tutur, tingkat hubungan biasa, situasi formal/nonformal, tujuan untuk menghormati, dan bermakna sopan.
Niku/nikew ‗kamu/engkau‘ : istilah kata ganti orang kedua tunggal, untuk menyapa lawan tutur, tingkat hubungan akrab, situasi nonformal/tidak resmi.
Puskam/pusikam ‗kamu/engkau/Anda :istilah kata ganti orang kedua tunggal, untuk menyapa lawan tutur, tingkat hubungan akrab, situasi formal/lnonformal, tujuan untuk menghormati, dan bermakna sopan.
Contoh kalimat:
Di, Adi, nyak haga lapah, yu. ‗Di, Adi, saya mau pergi, ya.‘
Sikam kilu maap, rik sikam ngelakuko nayah kesalahan dilom mimpin acara seminar proposal sinji. ‗Saya minta maaf jika saya melakukan banyak kesalahan dalam memandu/memimpin acara seminar proposal ini.‘
Pendi, niku disepok gukhu. ‗Pendi, kamu dicari guru.‘
Silahko Puskam ngelanjutko pelajaran selanjutni. ‗Silakan kamu/engkau/Anda melanjutkan pelajaran berikutnya.‘
Fit, haga lapah dipa niku malam minggu jemoh? ‗Fit, mau pergi ke mana kamu malam minggu besok?
5. Faktor Urutan Kelahiran
Faktor urutan kelahiran pelaku tutur merupakan hal yang menentukan etika bertutur sapa. Urutan kelahirannya berbeda akan berbeda pula istilah yang digunakannya.
Contoh:
Pak Balak/Pak Wo : istilah sapaan dan sebutan yang digunakan untuk menyapa dan menyebut saudara tertua laki-laki dari ayah/ibu Ego.
Pak Ngah: istilah sapaan dan sebutan yang digunakan untuk menyapa dan menyebut saudara dari ayah/ibu yang lahir pada urutan tengah.
Pak Su : istilah sapaan dan sebutan yang digunakan untuk menyapa dan menyebut saudara dari ayah/ibu yang lahir pada urutan bungsu/terakhir.
Kanjeng : istilah sapaan untuk menyapa saudara yang lahir urutan pertama. Kiay: istilah sapaan untuk menyapa saudara yang lahir kedua.
Daying : istilah sapaan untuk menyapa saudara yag lahir ketiga. Batin : istilah sapaan untuk menyapa saudara yang lahir keempat.
Contoh kalimat:
Asalamualaikum, Pak Balak. Sikam kilu maap haga ngeganggu Puskam. ‗Asalamualaikum, Pak Balak. Saya minta maaf mau mengganggu Anda.
PakNgah, payu kidah gham lapah-lapah. „Pak Ngah, ayolah kita jalan-jalan.‘ Mengan pai di ja, Pak Su!‗Makanlah di sini, Pak Su!
6. Faktor Asal Lingkungan/keturunan Keluarga
Faktor asal lingkungan/keturunan keluarga perlu diperhatikan dalam etika bertutur sapa. Asal lingkungan keluarga atau asal keturunan berbeda akan berbeda pula istilah sapaan yang digunakannya.
Contoh:
Abi : istilah sapaan untuk menyapa ayah/bapak dalam lingkungan agamis. Umi/ummei: istilah sapaan untuk menyapa ibu dalam lingkungan agamis.
Akan : istilah sapaan untuk menyapa bapak yang berasal dari keturunan bangsawan. Ubak/bapak: istilah sapaan untuk menyapa bapak dalam keluarga biasa.
Contoh kalimat:
Abi, sikam haga kuliah, Bi.‗Bapak, saya mau kuliah, Pak.‘
Payu kudai, Mi... gham lapah-lapah mit mall. ‗Ayolah, Bu...kita jalan-jalan ke mall.‘ Akan, sikam kilu ijin haga mit pasakh.Bapak, saya minta ijin mau pergi ke pasar.‘
Apikah Ubak benokh haga mulang ganta? ‗Apakah Ayah/Bapak benar mau pulang sekarang?‘
7. Faktor Jenjang/tingkatan Adat
Faktor perbedaan jenjang/tingkatan adat menentukan etika bertutur sapa. Berbeda jenjang/tingkatan adatnya berbeda pula istilah sapaan yang digunakannya.
Contoh jenjang/tingkatan adat Lampung Abung dan Pubian:
Suttan : istilah sapaan untuk menyapa lawan tutur yang berada pada jenjang/tingkatan adat pertama/tertinggi.
Tuan : istilah sapaan untuk menyapa lawan tutur yang berada pada jenjang/tingkatan kedua.
Pengiran : istilah sapaan untuk menyapa lawan tutur yang berada pada jenjang/tingkatan ketiga.
Contoh kalimat:
Nyo kabar, Suttan Syah Alam?‗Apa kabar, Suttan Syah Alam?‘ Silako kukhuk, Tuan Indeman! ‗Silakan masuk, Tuan Indeman!‘
Pengiran Rajo Budiman rik keluarga balak sai sikam hurmati. Pengiran Rajo Budiman dan keluarga besar yang saya hormati.‘
8. Faktor Status Perkawinan
Faktor status perkawinan pelaku tutur menentukan etika bertutur sapa. Pelaku tutur yang berstatus belum menikah akan disapa atau disebut dengan sapaan atau sebutan berbeda dengan pelaku tutur yang sudah menikah. Pelaku tutur yang baru lahir (usia anak-anak) sampai masa belum menikah akan disapa atau disebut dengan sapaan atau sebutan berbeda dengan pelaku tutur yang sudah menikah. Pelaku tutur yang belum menikah akan disapa dengan sapaan yang dikenal dengan istilah Juluk/Jejuluk, atau disapa dengan nama diri pelaku tutur, sedangkan pelaku tutur yang sudah menikah akan disapa dengan sapaan yang dikenal dengan istilah adok/adek.
Contoh:
Nama diri Juluk/Jejuluk
Azka Rafi Bahtiar Raja Purnama
Fitri Yunita Pengiran Permai
Nama diri Adok/adek
Ahmad Efendy Sanusi Suttan Siwo Mego
Sangun Ratu Pengiran Tihang Marga
9. Faktor Agama
Faktor agama yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah jenis dan gelar keagamaan, profesi kegiatan para pelaku tutur. Agama/profesi/kegiatan pelaku tutur yang berbeda akan berbeda pula istilah sapaan yang digunakannya.
Contoh:
Pak Haji/Aji : istilah sapaan, panggilan, sebutan untuk pelaku tutur yang beragama Islam, sudah melaksanakan ibadah haji, bergelar Haji.
Pak Ustad: istilah sapaan, panggilan, sebutan untuk pelaku tutur yang beragama Islam, sudah/belum melaksanakan ibadah haji, berprofesi guru/mengajar.
Pak Imam: : istilah sapaan, panggilan, sebutan untuk pelaku tutur yang beragama Islam, sudah/belum melaksanakan ibadah haji, berprofesi memimpin/mengimamisalat.
Contoh kalimat:
Sebetikni Pak Haji pedem di lamban metei gawoh. ‗Sebaiknya Pak Haji tidur di rumah kami saja.‘
Kunpa Pak Ustad ghatong?‗Kapan Pak Ustad datang?‘
Pak Imam, silahko solatni dimulai.‗Pak Imam, silakan salatnya dimulai.‘ 10.Faktor Situasi Pembicaraan
Situasi pembicaraan ikut merupakan hal yang harus diperhatikan dalam kegiatan bertutur sapa. Situasi formal/resmi akan menggunakan istilah sapaan yang berbeda dengan situasi nonformal atau tidak resmi. Penggunaan istilah gelar adat (adok/adek) dan istilah-istilah sapaan yang bermakna sopan untuk tujuan menghormati lawan tutur wajib digunakan dalam situasi formal/resmi termasuk dalam acara-acara adat.
Contoh:
Asalamualaikum, tabik puuun. Para puwakhi, para punyimbang adat, para hadirin sai sikam hurmati...Ijinko sikam ngewakili Suttan Siwo Mego rik keluarga balakni ngejuko sambutan dilom acara pernikahan sanak bebaini...‘Asalamualaikum, salam hormat. Saudara-saudara kerabat, para ketua adat, para hadirin, yang saya hormati. Ijinkan saya mewakili Suttan Siwo Mego dan keluarga besarnya untuk memberi sambutan dalam acara pernikahan anak perempuannya...
11.Faktor Tujuan Pembicaraan
Tujuan pembicaraan menentukan etika bertutur sapa. Tujuan pembicaraan untuk menyatakan rasa sayang yang mendalam kepada lawan tutur atau yang bertujuan untuk menghormat dan bersopan santun, penutur akan menggunakan sapaan yang berbeda. Tuturan yang bertujuan untuk menyatakan rasa sayang yang mendalam kepada lawan tutur Poedjosoedarmo menyebut istilah ini dengan iistilah sapaan pemesra (endearment).. Contoh kalimat:
Aguy, alangkah sikopni uppuku kakhut.‗Aduh, alangkah cakepnya cucuku sayang! Kelawei, dang ujan-ujanan, Anakku!‗Sayang, jangan hujan-hujanan, Anakku!‘
Ibu, puskam ago kilu ijin mak dacok kuliah hani sinji. ‗Ibu, saya mau minta ijin tidak bisa kuliah hari ini.‘
12.Faktor Asal Etnis
Asal etnis pelaku tutur ikut menentukan etika bertutur sapa. Etnis pelaku tutur berbeda akan berbeda pula sapaan yang digunakannya. Sapaan yang digunakan disesuaikan dengan asal etnis lawan tutur.
Contoh kalimat:
Yay, dipa Kiay ngebeli kawai sinji? „ Kak, di mana Kakak membeli baju ini?‘ Mas, di mana Mas membeli baju ini?‘
13.Faktor Tingkat Hubungan
Tingkat hubungan pelaku tutur menentukan etika bertutur sapa. Tingkat hubungan akrab akan berbeda dengan pelaku tutur yang tingkat hubungannya tiadak abrab atau biasa. Tingkat hubungan akrab menggunakan istilah yang bernada biasa, sedangkan tingkat hubungan tidak akrab akan menggunakan istilah bernada sopan.
Contoh kalimat:
Ris, kapan nikew lapah jakarta?‗Ris, kapan kamu pergi ke Jakarta?‘
Kapan Puskam lapah mit Jakarta, Pak Lurah? ‗Kapan Anda pergi ke Jakarta, Pak Lurah?‘
PENUTUP
Berdasarkan hasil penelitian, dalam kegiatan bertutur sapa masyarakat etnis Lampung mempunyai istilah sapaan dan etika yang unik dan sangat bervariatif berbeda dengan suku atau etnis lain. Dalam kegiatan bertutur tersebut, terdapat etika dan norma adat istiadat yang ketat berdasarkan faktor-faktor yang menentukan penggunaan istilah sapaan.
Penelitian ini belum mengungkap semua etika yang berhubungan dengan adat istiadat masyarakat etnis Lampung dikarenakan keterbatasan waktu dan kemampuan penulis. Oleh karena itu, diharapkan ada penelitian lanjutan untuk mengungkap kekayaan warisan nenek moyang bangsa Indonesia, khususnya etnis Lampung yang banyak menyimpan kearifan lokal yang sangat berharga dan perlu dilestarikan keberadaannya.
DAFTAR PUSTAKA