• Tidak ada hasil yang ditemukan

SEBAGAI PENGEMBANGAN DAN PELESTARIAN KEARIFAN LOKAL (STUDI KASUS IMPLEMENTASI DI CIVITAS AKADEMIKA UNTIRTA)

Dalam dokumen Proseding Lokal Multikultural Des 2017 (Halaman 184-193)

Rangga Galura Gumelar1), Iman Mukhroman2) 1,2)

Prodi Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa e-mail: [email protected]

Abstrak

Jawara terkadang identik sebagai stereotype terkesan keras. Banyak orang tidak mengerti esensi dari kata dan nilai dari Jawara tersebut. Kebijakan untuk menanamkan makna Jawara yaitu Jujur, Adil, Wibawa, Amanah, Relijius dan Akuntabel dalam kebijakan administratif di implementasikan pada renstra Universitas serta dikembangkan di Fakultas dan Program Studi. Bagaimana konstruksi nilai Jawara tertanam pada kerangka dan pola berpikir di Civitas Akademika Untirta, menarik untuk diteliti. Pengembangan pola pikir pada perubahan budaya mutu bukanlah hal yang mudah. Proses pemahaman dan pengamalan nilai Jawara membutuhkan sebuah transformasi besar. Pendekatan kualitatif dan metode deskritif, berusaha menggambarkan bagaimana penekanan nilai jawara di Untirta. Wawancara mendalam serta observasi langsung dilapangan, akan menggambarkan hasil yang holistik pada pengembangan nilai kearifan lokal guna menjawab tujuan penelitian tentangbagaimana konstruksi nilai Jawara tertanam pada kerangka dan pola berpikir di Civitas Akademika Untirta. Adapun hasil penelitian memperlihatkan bahwa pondasi yang paling utama adalah penanaman nilai relijius sebagai pondasi awal, akan tetapi pada pembentukan konsep diri dalam pengamalan kearifan lokal, faktor lingkungan sangat menentukan. Harus ada evaluasi dan penyegaran dalam metode dan pendekatan guna meneguhkan nilai Jawara pada seluruh civitas akademika.

Kata Kunci: jawara, nilai kearifan lokal, Untirta Abstract

Sometimes Jawara identical as stereotyphard character. Many people don‟t understand the essence of the word and the value of Jawara. The policy to put Jawara's meaning is, Honest, Fair, Honorable, Trustworthy, Religion and Accountable, has been implemented on University's strategic plan and developed in Faculty and Study Program. How the construction of the value of Jawara is embedded in the framework and mindset in Untirta‟s civity. The development of the mindset changing to bebetter on qualityculture, isn‟t easy. The process of understanding and applying the value of Jawara needs alot transformation. Qualitative approach and descriptive method, try to illustrate how the emphasis of “Jawara” value in Untirta. In-depth interviews and direct field observations, will illustrate the holistic results on the development of local wisdom values to find out the answer of this research, of the constructions value of Jawara in Untirta. The result is, that the first and most important fondation of it, is Religion. It can built and develop the self concept according to applied of the local wisdom value, which is the environment also give alot inffluence to change of the self concept also. It needs the evaluation and new methods to approach of Jawara‟s value in all civity‟s Untirta.

PENDAHULUAN

Melestarikan nilai-nilai kearifan lokal pada saat ini sangatlah tidak mudah. Terpaan teknlogi informasi serta ketergantungan masyarakat pada perangkat teknologi, banyak sedikitnya memiliki pengaruh dan imbas pada lunturnya nilai-nilai kearifan lokal. Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), selain tempat untuk menimba ilmu, akan tetapi juga memiliki peran lain yaitu sebagai tempat bukan hanya berorientasi pada pengembangan kognitif semata, akan tetapi bertanggung jawab pada pelestarian nilai-nilai kearifan lokal. Berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor: 32 tanggal 19 Maret 2001 Universitas Sultan Ageng Tirtayasa secara resmi ditetapkan menjadi Perguruan Tinggi Negeri, dimana sebelumnya merupakan perguruan tinggi swasta.

Lebih lanjut peranan pendidikan di Untirta juga mengedepankan pada pengembangan karakter anak didik, yang memiliki sikap moral yang bertanggungjawab secara profesional. Membangun karakter inilah yang kemudian tidak dapat dilakukan dengan mudah. Seluruh civitas akademika di Untirta, terdiri dari ragam budaya dan adat istiadat, sehingga menjadikan suatu ciri karakter dari Untirta tersebut tidaklah mudah. Entitas seseorang sangat ditentukan oleh budaya yang diembannya, sebagaimana pendapat dari Edi Sedyawati (2010: 328) yang menyatakan bahwa perkembangan masyarakat dalam skala kecil ataupun besar, sangat dipengaruhi oleh budaya yang dianutnya.

Proses budaya tersebut memiliki korelasi pada penguatan nilai-nilai kerarifan lokal. Jika kita perhatikan bahwasannya kearifan lokal yang berkembang disuatu daerah pasti akan memiliki kesamaan ataupun irisan budaya pada masyarakat tersebut. Karena pada kearifan lokal tersebut akan tersurat nilai-nilai norma dan etika yang dianggap benar oleh masyarakat tersebut. Penanaman nilai-nilai budaya di Kampus Untirta, tentunya akan selaras pada nilai- nilai budaya Banten. Karena Untira lahir di Banten yang secara otomotasi akan dipengaruhi pada ruh Banten yang religius. Pondasi dan konstruksi pada nilai-nilai yang dikembangkan di Untirta, akan merujuk pada pembentukan konsep diri yang sesuai denga nilai-nilai agamis.

Pembentukan konsep diri bukan saja ditujukan pada lulusan dari Untirta, akan tetapi harus dapat di implementasikan oleh seluruh civitas akademika Untirta. Konsep diri sangatlah penting, dikarenakan pada konsep diri tergambar bagaimana seseorang mengenali dan memberikan penilaian kepada dirinya sendiri (dalam Potter & Perry: 2010). Untirta dalam hal ini adalah universitas yang sifatnya umum, artinya bukan universitas yang memiliki kecenderungan pada universitas keagamaan. Oleh sebab itu, nilai-nilai religius dan profesionalisme yang diusung pun haruslah berlaku untuk segala golongan dan kepercayaan. Pondasi inilah yang kemudian diharapkan membentuk pada sebuah konsep diri, yang didalamnya mengakomodasi pada nilai dan etika kearifan lokal.

Oleh karenanya, kebijakan yang kemudian diambil adalah, dengan menyebarkan nilai- nilai Jawara (Jujur, Adil, Amanah, Relijius dan Akuntabel). Jawara terkadang identik keras, sehingga secara tidak langsung labelling negatif tersebut, setidaknya sulit untuk kemudian masuk dan terpatri pada alam bawah sadar kita untuk secara otomatis di implementasikan. Kebijakan untuk menanamkan makna Jawara yaitu Jujur, Adil, Wibawa, Amanah, Relijius dan Akuntabel dalam kebijakan administratif telah di implementasikan pada renstra Universitas serta dikembangkan di Fakultas dan Program Studi.Pengembangan pola pikir pada perubahan budaya mutu bukanlah hal yang mudah. Proses pemahaman dan pengamalan nilai Jawara membutuhkan sebuah transformasi besar.Akan tetapi,bagaimana konstruksi nilai Jawara tertanam pada kerangka dan pola berpikir di Civitas Akademika Untirta? Inilah yang sesungguhnyamerupakan tujuan dari penelitian ini.

Konstruksi nilai yang kemudian menjadi pijakan dan landasan orang untuk berpikir, tidak terlepas dari bangunan besarnya, yaitu dari sebuah realitas yang merupakan hasil dari konstruksi sosial (lihat Berger & Luckman:1990). Konsep yang dikembangkan pada konstruksi sosial merupakan bagian dari banyaknya indikator yang saling mempengaruhi,

baik di dalam diri dari objek tersebut atapun di luarnya (Ngangi, 2011:1). Artinya membangun konstruksi nilai Jawara yang tertanam di dalam seluruh civitas akademika Untirta, sangat dipengaruhi oleh diri dan lingkungannya. Nilai Jawara haruslah dapat di ejawantahkan pada sebuah gambaran dan bukti yang nyata. Bagaimana kemudian konstruksi nilai dari slogan Jujur, Adil, Amanah, dan Akuntabel itu terbukti secara empiris, inilah yang menjadi sebuah tantangan.

Proses penanaman bahasa, simbol dan makna dari Jawara tersebutlah yang harus dapat disinergikan pada konsep diri civitas akademika Untirta. Oleh karenanya setiap orang yang masuk dalam lingkungan civitas akademika Untirta akan selalu mengedepankan pada karakteristik tersebut. Konstruksi nilai dari Jawara tersebut akan menghasilkan pada konstruksi pola pikir dan perilaku dari seluruh civitas akademika Untirta. Dalam membangun sebuah konstruksi nilai, tentunya memiliki kepentingan positif didalamnya. Bangunan dan pembentukan nilai-nilai Jawara tersebut jika diasumsikan pada pemikiran Mead terdapat tiga komponen yang mendukung dan saling berkaitan yaitu : 1) Mind (pikiran), 2) Self, 3) Society (Masyarakat). Rangkaian dari ketiga komponen tersebut berperan besar bagaimana kemudian tatanan konstruksi nilai pada simbol dan makna JAWARA tersebut dapat diimplementasikan oleh civitas akademika Untirta.

Banten dahulunya memiliki kesultanan. Keberadaan pemuka agama memiliki peran yang sangat penting dan memiliki panggung yang sangat strategis. Setidaknya terdapat empat kategori kyai di Banten, yaitu kyai pesantren, kyai taraket, kyai politik dan kyai pangung (Turmudi:2003). Selain dari itu, kyai di daerah Banten memiliki kelebihan yaitu selain mereka mengajarkan ilmu keagamaan mereka juga mengajarkan ilmu beladiri (Karomah: 2004). Oleh karenanya dulu keberadaan dan status kyai di Banten sangat dihormati yang kelak dijadikan panutan dan pimpinan bagi masyarakat (Khudaeri: 2002). Saat ini memang kyai tidak langsung menjadi pimpinan formal di masyarakat Banten, akan tetapi kultur penghargaan kepada kyai hingga saat ini masih dilestarikan.

Bagaimana kemudian terbentuk istilah jawara? Tidak secara eksplisit darimana asal kata Jawara ini, akan tetapi banyak sumber menyatakan bahwa jawara berasal dari kata ―Jaro‖ yang artinya pemimpin desa (Karomah: 2004), dimana memang di Banten dulu banyak kepala Desa yang berlatar belakang seorang jawara. Tetapi kata Jawara ini juga berasal dari bagasa Arab, yakni mahjul jaharayang berati jagoan (Tihami: 1992). Labelling jawara sebagai jagoan tentunya dalam hal positif, akan tetapi terdapat pergeseran-pergeseran nilai dan persepsi masyarakat ketika kemudian Jawara ini disamakan dengan kekuatan premanisme. Hal ini terjadi karena dilatarbelakangi oleh strategi Belanda, yang memperalat para Jawara tersebut menjadi alat kekuasaan dan centengnya Belanda. Para Jawara tesebut tidak segan mengeksploitasi dan menindas masyarakat Banten. Persepsi dan labelling ini, hingga saat ini terus melakat, seolah-olah terjadi sebuah pergeseran bahwa Jawara dan Kyai itu berbeda. Bahwa kemudian Jawara hanya berlandaskan pada kekuatan lahir saja, bukan kekuatan spiritual.

Berubahnya sistem demokrasi di Indonesia, dimana kemudian daerah memiliki otonomi daerah dan para pemimpin dapat dipilih secara langsung oleh rakyat, setidaknya memberikan ruang lebih besar untuk dapat mengaktualisasikan dirinya. Akan tetapi, banyak kemudian tokoh-tokoh jawara di Banten yang terseret pada arus kepentingan kekuasaan. Sehingga kesan kemudian para jawara yang tadinya telah melekat pada pergeseran makna dan simbol, semakin kuat. Jawara kemudian menjadi sebuah stereotypyang sifatnya keras dan kasar. Labelling inilah yang kemudian dipahami oleh masyarakat Indonesia pada khususnya. Walaupun hal ini salah, akan tetapi bagaimana penyebaran labelling ini secara masih terus dikembangkan dan tidak ada usaha untuk dilakukan counter, maka pada akhirnya akan melekat pada sebuah persepsi yang kuat.

Semangat perubahan inilah yang kemudian menjadi sebuah rujukan berpikir, bagaimana konteks dan makna dari Jawara ini dikembalikan pada kedudukannya semula. Nilai-nilai Jawara yang sesungguhnya memiliki filosofi yang sangat mulia, kemudian diterapkan pada sebuah makna yang sangat kuat untuk menjadikan sebuah karakter dan ciri khas para civitas akademika Untirta.

Kearifan lokal merupakan kekayaan dan entitas sebuah wilayah. Masyarakat dengan kekuatan budayanya pasti memiliki kearifan lokal yang sangat kaya. Memang tidak dapat kita jadikan sebuah parameter dalam sebuah keseragaman nilai dari setiap kearifan lokal setiap daerah, artinya mungkin saja akan ada sebuah nilai yang sangat berbeda dalam pemahaman dari suatu wilayah dengan wilayah lain. Menurut Moendardjito (lihat Ayatrohaed:1986), disebutkan bahwasannya beberapa ciri dari kearifan lokal adalah : (1) Dapat bertahan terutama terhadap pengaruh dari budaya luar; (2) Mempunyai kekuatan dan daya kemampuan dalam mengakomodasi unsur-unsur pengaruh budaya luar; (3) Memiliki kemampuan dalam mensinergikan dan mengintegrasikan pengaruh unsur budaya luar ke dalam budaya asli; (4) Memiliki kemampuan pada upaya pengendalian; (5) Dapat memberikan pada arah psoitif dalam perkembangan budaya.

Sesungguhnya dalam melihat kearifan lokal tidak terbingkai pada sebuah nilai kesopanan saja, akan tetapi merupakan landasan kuat dalam kita berkehidupan. Nilai kearifan lokal, senantiasa memberikan jalan pada bagaimana kemudian manusia dapat hidup secara damai dan dinamis. Seiring dengan waktu dan perkembangan teknologi, evolusi pada nilai kearifan lokal seakan tergerus dan seakan dipaksakan pada ranah dimana mereka harus mengikuti pada keadaan zaman, sedikit mendistorsi pada nilai dari kearifan lokal itu sendiri. Bagaimana kemudian kearifan lokal ini diselaraskan dengan di lingkungan Universitas? Nilai dan pondasi agamalah yang kemudian di tekankan untuk masuk dalam sendi para mahasiswa. Sehingga dengan nilai-nilai relijius yang dipadukan dengan budaya akan menghasilkan karakter orang yang bertanggung jawab dalam tingkah lakunya.

Menjadikan sesuatu sesuai dengan kaidah memang terasa sangat sulit, saat ini kita selalu di terpa pada keadaan dan kondisi percepatan pada ranah kognitif semata, seakan abai pada pembentukan karakteristik dari individu itu sendiri, sehingga apa yang kemudian kita lihat hanya berdasarkan pada nilai dan angka pada kertas, seakan meninggalkan proses bagaimana mereka mendapatkannya. Inilah pentingnya menselaraskan antara pengetahuan dan penanaman nilai kearifan lokal dalam setiap civitas akademika Untirta.

Berikut kerangka berpikirnya: Filosofi Jawara (Jujur, Adil, Wibawa, Amanah,

Relijius dan Akuntabel)

Membangun Konsep Diri Menjadikan sebuah karakter Untirta Pengembangan dan pelestarian nilai-nilai kearifan lokal

METODE PENELITIAN

Pendekatan pada permasalahan pada penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, hal ini didasarkan pada bagaimana mengupas permasalahan yang terjadi pada masalah sosial. Metode yang digunakan adalah deskriptif, walaupun dalam penelitian kualitatif terdapat dua metode lainnya yaitu penelitian yang bersifat grounded dan verifikasi. Tujuan dari pendekatan kualitaif dengan metode deskriptif adalah untuk memahami pada fenomena sosial secara holistik yang dibentuk dalam sebuah rangkaian kata berdasarkan pada kaidah ilmiah (Moleong: 2007). Lebih lanjut menurut Bogdan dan Taylor (1975) bahwasannya metodologi kualitatif, merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif, terdiri dari kata-kata ataupun objek yang diamati. Objek penelitian ini adalah program pengembangan karakter JAWARA di lingkungan civitas akademika Untirta, sedangkan yang menjadi subjek penelitian adalah para pelaku yang terjun langsung ataupun yang terlibat langsung dalam pengambilan kebijakan Jawara tersebut. Dalam hal ini dilakukan dengan cara pengambilan sampling secara purposive. Pengambilan sampel dengan tehnik purposive sampling dilakukan berdasarkan pada kriteria dan pertimbangan kebutuhan penelitian (Sugioyono:2008) pemilihan sampel ini berpedoman pada syarat-syarat yang harus dipenuhi dan harus secara cermat (Arikunto: 2010). Berdasarkan pada kebutuhan penelitian diatas, maka terdapat tiga narasumber pada penelitian ini, yaitu satu orang sebagai perumus kebijakan (Syihabudin-Sekretaris Lembaga Pengembangan Pendidikan dan Penjaminan Mutu (LP3M) Untirta), satu orang dosen Agama (Nanah Sujanah, Dosen PAI dan Korpus MPK- Untirta), satu orang yang terlibat dalam pelaksanaan kebijakan (Ahmad Khaerudin, (Tendik dan Sekaligus Mentor),satu orang korpus LP3M bidang Dosen dan Tendik (Fitria) dan satu orang lagi adalah perwakilan mahasiswa (Lutifah-Mahasiswa Ilmu Komunikasi Untirta).

Tehnik pengumpulan data pada penelitian kualitatif ini dilakukan dengan cara (Sugiono: 2008) : (1) Observasi, (2) Wawancara Mendalam dan (3) Studi Pustaka. Adapun sumber data pada penelitian ini terbagi atas : (1) Data Primer, yaitu data dalam bentuk tulisan hasil dari wawancara mendalam yang didukung pada data-data hasil observasi; (2) Data Sekunder, yaitu data yang diperoleh dari hasil studi pustaka, ataupun dokumen yang dianggap diperlukan dalam peneltian ini.

Menurut Miles dan Huberman dalam(Sugiono :2008) dinyatakan ada 3 cara dalam melakukan analisis data pada penelitian kualitatif, yaitu : (1) Reduksi data, yaitu kegiatan yang merangkum pada seluruh catatan yang diperoleh dalam penelitian; (2) Display data, yaitu gambaran tentang pola yang terlihat pada display data untuk keperluah penarikan kesimpulan; (3) Pengambilan Kesimpulan dan Verifikasi, yaitu menarik kesimpulan pada keabsahan data yang diterima dengan melakukan validasi pada setiap langkah dan data yang didapatkan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Penerapan pada bagaimana kemudian seluruh civitas akademika Untirta, adalah dengan memberlakukan pada sebuah kebijakan terlebih dahulu. Hal ini sangatlah penting, sebuah cita-cita yang baik terutama dalam hal membangun karakteristik dan ciri khas dari civitas akademika Untirta, harus dimulai dari sebuah kebijakan yang kemudian disyahkan dan diberlakukan kepada siapapun yang menjadi bagian dari civitas akademika Untirta tanpa terkecuali, hal ini didukung oleh pernyataan Syihabudin :

“Kebijakan Jawara, merupakan langkah kepentingan bersama dalam membangun seluruh insan Untirta menjadi orang-orang yang memiliki karakter JAWARA, sehingga langkah awal ditetapkan dalam sebuah rapat senat, kemudian diputuskan untuk menjadi parameter yang kemudian dijadikan program-program di lingkungan Untirta”

Hal tersebut merupakan salah satu agenda yang dijadikan oleh Lembaga Pengembangan Pendidikan dan Penjaminan Mutu (LP3M) dalam merumuskan bagaimana

kemudian penguatan pendidikan di Untirta, tidak berlandaskan pada segi lahiriah atau pada kerangka nilai semata, akan tetapi harus didorong pada kemampuan individu tersebut menjadi diri yang dapat dipertanggungjawabkan. Membangun sebuah terminologi kepintaran tidaklah sulit, saat ini telah banyak orang yang tersesat. Banyaknya kasus yang menjerat pada beberapa orang, ternyata terjadi bukan pada orang biasa, akan tetapi mereka yang memiliki pengetahuan. Mereka melakukan kesalahan seperti halnya para koruptor, ataupun penguasa dikarenakan mereka tidak memiliki jati diri. Berkaca pada kejadian di Banten, bahwasannya terdapat labelling yang kurang mengenakan bahwasannya orang Banten tidak lagi sama seperti semboyannya yang relijius, akan tetapi telah terkontaminasi pada belenggu kekuasaan. Menyikapi hal ini, maka Untirta mengambil langkah, dimana salah satu pondasi penting yang kemudian ditanamkan di civitas akademika Untirta adalah dengan mensosialisasikan arti dari kata JAWARA. Pengikatan nilai Jawara ini, kemudian di implentasikan dalam lorong penguatan agama.

Penguatan nilai agama dikampus ini tentunya akan selaras dengan penguatan nilai- nilai kearifan lokal. Hal ini dikarenakan : 1) Nilai agama akan kekal dan tidak tergerus pada perubahan zaman; 2) Budaya yang menjadi nilai dasar kearifan lokal di Banten, sangat memiliki sinergisitas pada nilai-nilai agama khususnya Islam; 3) Tidak akan ada pertentangan jika kemudian Nilai Agama, Kearfian Lokal dan Penguatan IPTEKS (Ilmu Pengetahian, Teknologi dan Seni) dipadukan (Sumber:Olahan Peneliti).

Untirta memang bukan merupakan kampus Agama, akan tetapi harus di ingat bahwa Sultan Ageng Tirtayasa adalah Sultan Banten yang Arif, Bijaksana dan Taat beribadah serta pada zamannya, beliau dapat mensejahterakan rakyat Banten. Oleh karenanya konstruksi nilai yang ada pada diri Sultan, yang kemudian terinterpretasikan pada nama Jawara sesungguhnya dapat dijadikan pilar penting bagi pendidikan karakter di civitas akademika Untirta. Kehidupan yang matrealitis, hedonis serta kebutuhan akan sanjungan dan penghargaan melalui jalan yang salah tentunya bukan hal yang baik.

Salah satu bentuk konsistensi dari Untrita, diantaranya pada kurikulum tetap mempertahankan Mata Kuliah PAI (Pendidikan Agama Islam) dua semester, hal ini disebabkan Untirta masih ingin agar pondasi agama sangat kuat dan menjadi karakter para mahasiswa. Penguatan agama, pada hal ini bukan untuk agama Islam saja, atau semua mahasiswa harus mengikuti agama Islam, akan tetapi bagi non Muslim mereka tetap untuk serius belajar pondasi agama sesuai dengan keyakinannya. Seperti yang diungkapkan oleh Koordinator Pusat Mata Perkuliahan Kepribadian Untirta (Nanah):

“Bagi dosen pengampu mata kuliah agama baik Islam ataupun non Islam, terus melakukan konsolidasi dan persamaan persepsi pada penguatan keagamaan dan karakter dari mahasiswa. Pemantauan pada akhlak mahasiswa sangat kami jaga ketat, hal ini agar kemudian nilai-nilai keagamaan terutama yang tercantum pada kata JAWARA dapat terwujud dan terealisasikan”.

Oleh karenanya untuk mendukung pada konsep diatas maka terdapat sebuah program LSP (Lingkar Studi Pekanan/Mentoring) yang masih memiliki korelasi pada Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam. Hal tersebut telah sesuai dengan amanat Sisdiknas Nomor 20 tahun 2003 dan Peraturan Pemerintah Nomor 55 tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan, dimana Untirta sebagai perguruan tinggi negeri yang ada di provinsi Banten mengesahkan LSP sebagai bagian integral dari MPK PAI dengan diteritkannya SK Rektor nomor 066/UN43/LL/SK/2012.

Kebijakan program LSP (Lingkar Studi Pekanan) ini mengetengahkan pada konstruksi nilai-nilai seperti halnya : (1) Jujur, mahasiswa diajarkan untuk tidak plagiat. Mulai belajar sesuai dengan kemampuannya, tidak memanipulasi data atau nilai. Banyak contoh, dimana banyak oknum di negeri ini, demi popularitas yang cepat mereka tidak melakukan tindakan yang jujur. (2) Adil, mahasiswa ditekankan pada perbuatan yang adil.

Tidak terjebak pada kepentingan pribadi. (3) Wibawa, mahasiswa dilatih dengan pengenalan dasar kepemimpinan. Mereka harus dapat berkomunikasi dengan lantang dan tegas akan tetapi sesuai dengan tata budaya dan sopan santun. (4) Amanah, harus memiliki komitmen. Artinya dengan segala permasalahan dan kesibukannya, mahasiswa harus dapat menyelesaikan tugas-tugas perkuliahannya. (5) Akuntabel, dalam LSP ini diajarkan bahwa apa yang dihasilkan harus dapat dipertanggungjawabkan. Selain dari itu, pribadi-pribadi mahasiswa Untirta harus dapat dipertanggungkan baik secara moral ataupun secara pengetahuan.

Penguatan nilai-nilai ini tentunya tidak dapat kemudian akan berhasil 100% kepada seluruh mahasiswa yang menerimanya, akan tetapi dalam observasi yang dilakukan ternyata ada staf di Untirta yang juga merupakan salah satu mentor dalam kegiatan LSP, menyatakan:

“Banyak hal positif yang dapat dijadikan pelajaran dari LSP ini, pekerjaan yang saya lakukan saat ini sangat terbantu dari pengalaman saya ketika saya aktif di LSP. Selain saya dapat mendalami tentang Agama, di LSP kami mengenal dan belajar tentang cara berorganisasi dan berkemimpinan sesuai dengan konsep Islam”

Melihat pada pernyataan dan observasi di lapangan, bahwasannya nilai-nilai Jawara dapat dipahami dan diterima oleh seluruh Civitas Akademika Untirta, akan tetapi bagaimana itu

Dalam dokumen Proseding Lokal Multikultural Des 2017 (Halaman 184-193)

Garis besar

Dokumen terkait