Peradaban Majapahit merupakan puncak dari bentuk pengaruh India yakni; agama Budha dan Hindu pada kerajaan-kerajaan Kediri, Singasari, Malayu dan Daha di Nusantara, yang berlangsung pada abad V sampai dengan abad ke XV.Masa pengaruh India di Indonesia oleh para ahli sering disebut dengan istilah masa Indonesia Kuno, Masa Indonesia Kuno ini ditandai dengan masuknya pengaruh budaya India kemudian bertemu kebudayaan asli Indonesia. Pengaruh budaya ini bisa kita lihat dalam penggunaan bahasa sansekerta, dan arsitektur candi dan kuil.
Pengaruh budaya India terhadap budaya Indonesia berkembang pesat di pelau Jawa, sehingga kemudian memberi corak pada beberapa aspek kesenian, kemasyarakatan, pemerintahan dan politik. Periodesasi pengaruh tersebut oleh Effendhie (1999: 54) dibagi 2 (dua) yakni; Periode Kuna Tua (Jawa Tengah) dan Periode Kuna Muda (Jawa Timur).
Majapahit yang merupakan kelanjutan peradaban dari singasari dan Kediri yang bercorak Hindu, walaupun begitu Agama-agama lain tetap diakui sebagai agama yang hidup di tengah masyarakat, bahkan khusus Agama Budha berdampingan dengan Agama Hindu menjadi agama utama Negara.Kerajaan Majapahit merupakan suatu negara yang telah diketahui struktur pemerintahan dan birokrasi yang lengkap serta teratur, dengan kekuasaan bersifat territorial dan disentralisasikan dengan birokrasi terperinci. Menurut Kitab Negarakertagama pupuh 13 dan 14 wilayah kerajaan Majapahit meliputi seluruh kepulauan Nusantara dan semenanjung Malaya (Mulyana, 2005)
Raja dianggap sebagai penjelmaan Dewa di dunia memegang otoritas politik tertinggi dan menduduki puncak hirarki kerajaan. Dalam melaksanakan kekuasaan negara, ia dibantu oleh sejumlah pejabat birokrasi yang diisi oleh Putra dan kerabat dekatnya. Para Putra Mahkota sebelum menjadi Raja, biasanya diberi kedudukan sebagai raja muda (yuwaraja atau kumaraja) yang memiliki sebuah daerah lungguhan (apanage).
Dalam menjalankan tugas pemerintahan sehari-hari Raja dibantu oleh sekelompok Menteri berupa Dewan Menteri (Rakyan Mantri ri Pakirakiran) yang terdiri dari lima orang
pejabat yaitu: Rakryan Mapatih atau Patih Hamangkubhumi, Rakyan Tumenggung, Rakyan Demung, Rakyan Rangga, dan Rakyan Kanuruhan, kelima menteri ini dipimpin oleh Rakyan Mapatih yang memiliki kedudukan sebagai Perdana Menteri atau Menteri Utama (Mantri Mukya) yang bersama-sama Raja dapat ikut menjalankan kebijakan pemerintahan. Ia juga memimpin ―Badan Pelaksana Pemerintahan‖ yang disebut Wesapuri Kamantryning Amantya ring Sanagara.
Selain memiliki Pemerintahan yang terpusat, di tiap-tiap daerah terdapat Raja bawahan (paduka bhattara) yang memiliki kekuasaan terbatas atas daerah yang menjadi bawahannya. Raja-raja tersebut ditunjuk oleh langsung oleh Raja yang biasanya merupakan saudara-saudara atau para kerabat dekat raja yang memerintah. Mereka memiliki tugas dan tanggungjawab mengumpulkan penghasilan kerajaan dan penyerahan upeti, serta pertahanan dan keamana wilayah yang menjadi tanggungjawabnya. Oleh karena itu ia diperbolehkan mengangkat pejabat-pejabat daerah yang dapat membantunya.
Identitas manusia secara sosial politik akan terbagi dalam 5 (lima) status kata Heater (Budimansyah, 2016: 2) yang kemudian akan mempengaruhi manusia dalam berperilaku soail yakni; (1) Feodalisme, suatu bentuk hubungan sosial yang terjadi karena adanya keterikatan antara budak dengan majikan, anak buah dengan tuan secara horizontal dan ada kaitannya dengan permasalahan kepemilikan; (2) Kerajaan dapat merupakan hubungan yang diikat oleh kesetiaan terhadap individu yang dikultuskan, sehingga menunjukkan kepatuhan pasif daripada anggotanya; (3) Tirani dapat dikatakan sebagai ikatan dukungan terhadap suatu rezim (kadangkala dipaksakan); (4) Nasionalisme adalah suatu bentuk ikatan yang didasarkan pada kecintaan akan tanah air (tempat dilahirkan, hidup dan berkembang), dan (5) Kewarganegaraan dapat dikatakan sebagai suatu bentuk ikatan karena memiliki hubungan antar individu yang dianggap memiliki hak dan kewajiban.
Masyarakat Majapahit secara sosial politik memiliki ciri identitas kerajaan dibandingkan feodalisme seperti apa yang terjadi pada masyarakat eropa di abad Ke XIV dan XVI, karena hubungan antara penguasa dan rakyat digambarkan dibaratkan Dewa dengan penyembahnya. Raja diibaratkan sebagai manifestasi Tuhan dalam rupa manusia, ini bisa kita lihat dalam gelar-gelar KeTuhanan yang disematkan pada Raja-Raja Majapahit.
Nuansa religius begitu terasa dalam susunan sosial kemasyarakatannya yang mendasar pada sistem kasta (Catur Warna) berdasarkan ajaran agama Hindu yang terbagi ke dalam; (1) Kasta Brahmana (Para Pemuka Agama), (2) Kasta Ksatria (Para Bangsawan atau yang memiliki jabatan dalam Kerajaan), (3) Waisya (Kelompok Profesi Penting seperti Pandai Logam, Pengrajin dan sebagainya), dan (4) Sudra (Buruh Tani dan para Budak), di mana untuk kasta Sudra terbagi lagi dalam delapan golongan yang disebut candela.
Penerapan Catur Warna pada tiap posisi kasta biasanya tidak berdasarkan garis keturunan, hanya pada posisi Sudra saja berdasarkan garis keturunan, namun ini tidak berlaku untuk para hamba sahaya (grehaja) yang dapat keluar dari posisinya dengan membayar tebusan dan dapat masuk pada kelompok yang ia kehendaki sesuai kemampuannya.Selain berdasarkan sistem Kasta (Catur Warna) yang lebih bernuansa religious, terdapat pula penggolongan berdasarkan profesi dan penggolongan berdasarkan tingkat intelektual seseorang dalam masyarakat (catur asrama). Yang terdiri dari (1) brahmacari merupakan kelompok warga yang hidup sebagai murid yang mencari bekal ajaran keagamaan, (2) grahastha, kelompok orang dewasa atau kebanyakan yang membentuk keluarga, (3) wabaprastha, merupakan individu yang pergi mengundurkan diri dari dunia ramai mencari kelepasan dan (4) sanyasin atau bhiksuka yakni seseorang yang mencapai kesempurnaan dalam ajaran bekal pengetahuan agama.
Walaupun tatanan masyarakat tersegmentasi dalam penggolongan masyarakat, di antara golongan tersebut mereka saling membutuhkan dan saling melengkapi sehingga menjelma sebagai masyarakat majemuk, yakni suatu berbeda-beda akan tetapi berasal dari
satu akar kebudayaan. Ini terlihat dalam slogan Bhinneka Tunggal Ika yang diwariskan kepada Bangsa Indonesia.Winaputra (2008:1011-1024) menjelaskan Bhinneka Tunggal Ika merupakan sebuah motto Negara yang terdapat dalam penggalan kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular yang secara harfiah diartikan ―Walaupun berbeda atau bercerai akan tetapi satu‖ yang mengilustrasikan bahwa Motto itu merupakan konsep generik dari masyarakat multikultural dan paham multikulturalisme yang dianut masyarakat majapahit.
Dengan demikian dapat dikatakan Masyarakat Multikultural Majapahit dapat dikatakan sebagai masyarakat multikultural dimana interaksi sosial yang terjadi lebih berpusat pada nilai-nilai religious yang kemudian menjadi basis kulturalnya, di mana secara apabila ditinjau dari Antropologi akan berpengaruh perilakunya, secara sosiologis mempengaruhi sistem sosial dan pranata sosial, dan secara psikologis akan mempengaruhi konsep ego dan superego yang dianut masyarakatnya.
Internalisasi Nilai Kultural Majapahit
Mekanisme sosial tersebut berupa, konsep-konsep, nilai-nilai, dan norma yang menjadi landasan dalam melakukan komunikasi dan interaksi sosial antar kebudayaan di dalam masyarakat.Komunikasi dan Interaksi dipergunakan masyarakat Indonesia dalam membentuk struktur pembentuk masyarakat, seperti apa yang dikemukakan oleh Parson (Ranjabar, 2006: 125) sistem sosial merupakan proses interaksi sosial di antara anggota sosial dalam sebuah kelompok, sehingga dapat dikatakan Struktur relasi sosial adalah proses interaksi dan sistem jaringan yang terlihat. Interaksi Sosial tumbuh dan berkembang tak secara kebetulan akan disepakati diantara pelaku sosial.
Istilah Kemajemukan dalam masyarakat dijelaskan oleh Furnivall (Ranjabar, 2006: 125) sebagai suatu masyarakat yang disebut plural societies yakni; masyarakat yang terdiri dari dua atau lebih unsur hidup sendiri-sendiri tanpa ada pembauran satu sama lain dalam suatu kesatuan politik.Bagaimana menyikapi Kemajemukan yang terjadi, Kerajaan Majapahit, memiliki konsepsi dalam bentuk nilai-nilai, etika, dan Norma seperti apa yang tercantum dalam Kitab Negarakertagama, dan Kitab Sutasoma.
Nilai-nilai tersebut kemudian menjadi bahan inspiratif bagi Founding Fathers dalam menyusun dan membentuk Negara Republik Indonesia. Mereka menginternalisasikan nilai- nilai Multikulturalisme ala Majapahit ke dalam Konstitusi, ajaran Dogma Politik, dan Perilaku Politik yang mereka lakukan sebagai konsepsi Kewarganegaraan.Istilah Konstitusi berasal dari bahasa Yunani Kuno Politeia dan Bahasa Latin Constitutio yang berarti; 1) Batasan norma dalam Negara (The Natural frame of the State); dan 2) Batasan hukum dalam Masyarakat (The Public Law Of Realm). Konstitusi merupakan hukum yang tertinggi atau yang paling fundamental sifatnya, karena merupakan sumber legitimasi atau landasan otoriasasi bentuk-bentuk hukum atau peraturan perundang-undangan lainnya.
Selain melalui Konstitusi nilai-nilai diinternalisasikan ke dalam ajaran-ajaran dogma politik para pendiri bangsa sebagai bagian dari Pendidikan Politik yang memberikan pengajaran mengenai bagaimana sesorang bersikap dan berperan dalam kehidupan politik, dengan mengembangkan dan mentransmisi berbagai orientasi politik dasar yang harus dimiliki bersama.
Orientasi dasar politik (basic political orientation), menurut Easton (1957:311-12, Sirozi, 2007:49-50)., mencakup tiga elemen utama. Pertama, obyek politik (political objects) atau kesan yang dipersepsikan (perceived images) yakni; bagaimana orang-orang dan lembaga-lembaga dalam negara memiliki kesan mengenai kehidupan politiknya. Kedua, nilai-nilai (values) atau kesan yang diinginkan (desired images) yakni; sesuatu aspek kepercayaan atau doktrin mengenai bagaimana mereka bertindak dalam kehidupan politik. Ketiga, sikap politik (political attitude) yakni; bagaimana anggota-anggota itu memperlihatkan sikapnya terhadap obyek-obyek politik.
Orientasi Dasar Politik kemudian digunakan sebagai alat atau metode dalam merekonstruksi Konsep Kewarganegaraan seorang individu baik sebagai warga negara dari suatu negara, maupun sebagai bagian masyarakat global.Konsep Warga negara dalam perkembangan negara kebangsaan (Nation State) di kenal pertama kali sejak ada perjanjian Westphalia (salah satu Negara di benua Eropa dahulu) pada tahun 1648 sebagai kesepakatan untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung selama 30 tahun di Benua Eropa.
Makna ―Warga Negara‖ sering diinterpretasikan sebagai gambaran kepada Individu anggota (member) dari suatu Negara sebagaimana dinyatakan Turner (Wahab dan Sapriya, 2011:202) ―Warga Negara adalah anggota dari sekelompok manusia yang hidup atau tinggal di wilayah hukum tertentu‖. Dan karena dalam wilayah hukum atau tinggal di wilayah hokum tertentu ada yang mengatur dan memerintah, warga Negara sering diberi pengertian sebagai “a member of group living underthe rule of government”
Secara garis besar ada 2 (dua) sudut pandang tentang makna kewarganegaraan (Wahab dan Sapriya, 2011:196), Pertama Kewarganegaraan dalam arti terbatas (a strict sense) dan arti yang luas (a wide sense). Kewarganegaraan dalam arti terbatas merujuk pada makna kedudukan warga Negara yang sama dalam politik dan partisipasi sedangkan kewarganegaraan dalam arti luas merujuk pada kedudukan dan partisipasi warga Negara dalam kehidupan sosial yang lebih luas. Kedua, Kewarganegaraan dalam arti formal dan substantif. Dalam arti formal kewarganegaraan berarti kedudukan warga Negara dipandang dari aspek hukum dalam arti substantif, kewarganegaraan merujuk pada watak warga Negara yang riil dan pengaruh politik yang dimiliki atau tidak dimiliki seseorang.
Konsep-Konsep Kewarganegaraan sebagai Orientasi akan terlihat sebagai Perilaku Politik dan kemudian menjadi budaya politik, di mana keduanya akan menyatu sebagai kepribadian dalam kehidupan politik manusia Indonesia. Perilaku Politik oleh Surbakti (1999:15) digambarkan sebagai suatu bentuk perilaku interaksi yang terkait dengan proses politik. Proses Politik merupakan mekanisme bagaimana kehidupan bernegara dijalankan ditengah masyarakat.
Adapun Budaya Politik diartikan dalam 2 (dua) definisi (Supardan, 2008:502) Pertama mendefinisikan budaya politik sebagai persepsi subyektif tentang sejarah dan politik, keyakinan dan nilai-nilai mendasar, fokus identifikasi dan loyalitas, serta pengetahuan dan harapan politik yang merupakan produk dari pengalaman sejarah khusus dari bangsa atau kelompok; Kedua Budaya Politik dianalogikan sebagai matriks sikap dan perilaku di mana sistem politik berada.
Dengan demikian kajian Konseptual dalam studi ini apabila digambarkan atau diilustrasikan adalah sebagai berikut;
Budaya Politik yang mendasari diri pada nilai-nilai multikultural itu kemudian tersebut akan menjadi idealisme kultural yang melekatkan pada diri bangsa Indonesia, dan menjadi bagian dari Superego bangsa yakni; sebuah aktualisasi daripada perilaku yang mempresentasikan nilai-nilai yang junjung oleh para pendahulunya.
PENUTUP
Majapahit sebagai suatu bangsa yang pernah hidup dalam gugusan kepulauan Nusantara telah memberikan warisan pemikiran multikultural kepada bangsa-bangsa yang mendiami kepulauan itu kemudian. Warisan itu tidak hanya bersifat nilai-nilai filosofis akan tetapi juga nilai-nilai implementatif yang melekat dalam sikap dan perilaku bangsa Indonesia. Sehingga dapat kita simpulkan studi mengenai warisan Majapahit dalam Pola Interaksi Multikultural menemukan; 1) Interaksi Multikultural Majapahit berpusat pada nilai- nilai religious yang secara kultural Antropologis, Sosiologis dan Psikologis mempengaruhi struktur sosial kemasyarakatannya, di mana kemudian konsep ini diwariskan kepada bangsa- bangsa selanjutnya yang bermukim di Nusantara, 2) Secara filosofis Interaksi Multikultural telah menjadi idealisme kultural dalam Konsep Kewarganegaraan Indonesia yang kemudian menjadi bagian superego masyarakat Indonesia.
Masyarakat Multikultural adalah suatu keniscayaan dalam struktur kebangsaan Indonesia, untuk itu segenap anak bangsa harus berupaya dan berupaya menjaga warisan ini sebagai bagian kearifan lokal demi menjaga keutuhan dan keberlangsungan negara dan bangsa sepanjang masa.
Nilai Multikultural Majapahit
The Founding Fathers Of Indonesia
Ajaran Politik Konstitusi Perilaku Politik
Sikap Politik Perilaku Politik / Sosial Sikap Politik
Interaksi Sosial antar Individu dalam Masyarakat
DAFTAR PUSTAKA
Budimansyah, Dasim. 2016. ―Sejarah Kewarganegaraan dan Pendidikan Kewarganegaraan‖ dalam Teori Sosial dan Kewarganegaraan. Bandung: Widya Aksara.
Effendhie, Machmoed. 1999. Sejarah Budaya 3 Untuk Sekolah Menengah Umum Kelas 3 Program Bahasa. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Lestari, Gina. 2015. Bhinneka Tunggal Ika: Khasanah Multikultural Indonesia Di Tengah Kehidupan SARA. Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Tahun 28 No 1 (Februari). Hal 31-37.
Mulyana, S. 2005. Menuju Kemegahan Sejarah Kerajaan Majapahit. Jakarta:LKiS.
Poesponegoro, Marwati Djoened dan Nugroho Notosusanto, 1984. Sejarah Nasional Indonesia II. Jakarta: Balai Pustaka.
Ranjabar, Jacobus. 2006. Sistem Sosial Budaya Indonesia. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Spradley, James P. 2007. Metode Etnografi. Terjemahan Misbah Zulfa Elizabeth. Yogyakarta:Tiara Wacana.
Sirozi. M. 2007. Politik Pendidikan Dinamika Hubungan antara Kepentingan Kekuasaan dan Praktik Penyelenggaraan Pendidikan. Jakarta:RajaGrafindo Persada.
Supardan, Dadang. 2008. Pengantar Ilmu Sosial Sebuah Kajian Pendekatan Struktural. Jakarta:Bumi Aksara.
Surbakti, Ramlan. 1999. Memahami Ilmu Politik. Cet IV. Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia.
Tim Penyusun Ditjen Dikti. 2013. Materi Ajar Mata Kuliah Pendidikan Pancasila. Jakarta : Direktorat Pembelajaran dan Mahasiswa Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.
Tuchman, Gaye. 2009. ―Ilmu Sosial Historis Metodelogi, Metode, dan Makna‖ dalam Handbook Of Qualitative Research. Terjemahan Dariyatno dkk. Yogyakarta:Pustaka Pelajar.
Wahab, Abdul Azis; dan Sapriya, 2011. Teori dan Landasan Pendidikan Kewarganegaraan. Bandung: Alfabeta.
Winataputra, Udin Saripudin. 2008. Multikulturalisme Bhinneka Tunggal Ika Dalam Perspektif Pendidikan Kewarganegaraan Sebagai Wahana Pembangunan Karakter Bangsa Indonesia. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan No 075 Tahun 14 Nopember 2008. Hal 1009-1027.
KEARIFAN LOKAL DALAM AGROFORESTRY UNTUK MENDUKUNG