• Tidak ada hasil yang ditemukan

4.3. Implementasi Kebijakan Stelsel Aktif Pada Pelayanan

4.3.2. Perubahan Apa Yang Terjadi? (What’s

4.3.2.5. Faktor-faktor Kendala yang Terjadi Diluar

implementasi adalah faktor yang tidak terkendali (yang telah melampaui batas kontrol dari implementor) yang secara tidak langsung berhubungan dengan implementasi, sehingga dapat menghambat, bahkan menggagalkan implementasi program yang telah dirancang sebelumnya.

Untuk menggali perihal tersebut diatas, peneliti menanyakan faktor-faktor diluar kontrol implementator kepada Yanueli Nazara, BA. Yang bersangkutan mengemukakan:

“masih banyaknya didapati warga masyarakat yang mempercayakan pengurusan KK, KTP dan akta melalui calo menjadi salah satu faktor yang membuat pelayanan terkadang terkendala. Mengapa?

namanya juga calo. Memanfaatkan kekurangtahuan masyarakat tentang syarat dan prosedur pengurusan. Mereka meminta uang bensin kepada warga. Yang sulitnya, apabila setelah diverifikasi, berkas yang dibawa calo ini memerlukan klarifikasi data lebih lanjut. Makanya banyak nanti yang ditolak dan harus berulang datangnya” (wawancara tanggal 27 Juni 2016)

Senada dengan hal tersebut, Agusniar Harefa, A.Md, staf Dinas Kependudukan dan Catatan Sipl Kabupaten Nias yang sehari-hari terlibat dalam pelayanan adminitrasi kependudukan, mengatakan:

“Keberadaan perantara pengurusan dokumen kependudukan atau calo ini pada dasarnya tidak pernah kita persoalkan. Malah saya pikir sangat membantu masyarakat. Masalah akan muncul apabila berkas-berkas yang mereka bawa tidak memenuhi syarat. Nah, jika ada data yang akan kita verifikasi, mereka (para perantara) sulit untuk menjawabnya. Sedangkan masyarakat si empunya berkas tidak ada”. (wawancara 30 Juni 2016) Dari wawancara tersebut, terlihat bahwa keberadaan calo atau pihak perantara berkas menjadi salah satu faktor yang justru dapat menghambat masyarakat dalam mengurus dokumen kependudukannya melalui kegiatan pelayanan langsung. Apabila ditelisik lebih jauh, banyaknya warga masyarakat yang meminta bantuan orang lain untuk mengurus dokumen kependudukan miliknya atau keluarganya disebabkan oleh banyak hal yang begitu kompleks untuk diurai satu persatu.

Keberadaan calo ini dikarenakan pemahaman masyarakat yang kurang tentang syarat dan prosedur pengurusan, walau sebelumnya sosialisasi tentang pelayanan administrasi kependudukan sering dilakukan dalam setiap kesempatannya. Selain itu dipengaruhi oleh permasalahan tingkat pendidikan penduduk Kabupaten Nias yang mayoritas berpendidikan sekolah dasar.

Disamping itu, keseharian mereka yang bergelut dengan mata pencaharian di sektor pertanian dan perkebunan, sangat meminimalkan persinggungan kehidupan mereka dengan dunia birokrasi pemerintahan.

Faktor kendala lainnya dalam pelaksanaan pelayanan langsung ini, muncul dari internal pelaksana pelayanan. Patut menyimak apa yang dikatakan oleh Tehesokhi Hulu, S.IP berikut ini:

“...banyak hal yang menjadi kesulitan dalam pelayanan di Nias ini. Jika kita melihat dan membaca beberapa peraturan dalam undang-undang, misalnya proses pelaporan yang sudah melampaui batas waktu yang harus memperoleh penetapan pengadilan, ketika yang bersangkutan sudah lahir tetapi ayah ibunya belum menikah secara negara, hanya secara adat atau secara agama, apa yang harus dilakukan? Bagaimana mencatat kelahirannya? Kemudian, dia lahir, tetapi ayahnya tidak jelas, itu banyak kan, bagaimana mencatat itu? Inilah yang kadang-kadang membuat kita rancu dalam pelayanan, karena kita libatkan perasaan. Satu satunya instansi yang seharusnya tidak melibatkan perasaan adalah Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil. Contoh lain perubahan tempat dan tanggal lahir serta tahun lahir. Permendagri Nomor 74 yang mengatakan hal itu tidak boleh dirubah kecuali ada penetapan pengadilan, tapi kita abaikan selama ini...itu tadi karena perasaan, banuada...” (wawancara tanggal 25 Juli 2016)

Hasil wawancara dengan Tehesokhi Hulu, S.IP., menggambarkan bagaimana implementator mengedepankan perasaan dalam pelaksanaan pelayanan. Contoh yang dikemukakan Tehesokhi Hulu, S.IP adalah terkait pemrosesan perubahan tempat, tanggal lahir dan tahun lahir seseorang. Peneliti mensinkronkan hal tersebut dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 74 Tahun 2015 tentang Tata Cara Perubahan Elemen Data Penduduk Dalam Kartu Tanda Penduduk Elektronik.

Dijelaskan dalam Permendagri Nomor 74 Tahun 2015 bahwa elemen data penduduk terdiri dari elemen data statis yaitu nomor induk kependudukan

(NIK), tempat tanggal lahir, golongan darah, dan elemen data dinamis yaitu nama, jenis kelamin (laki-laki atau perempuan), agama, status perkawinan, alamat, pekerjaan, kewarganegaraan, pas foto, masa berlaku, tempat dan tanggal dikelurkannya KTP-el, serta tanda tangan pemilik KTP-el.

Apabila terjadi kesalahan dalam penulisan tempat tanggal lahir dan golongan darah, perbaikannya dapat dilakukan dengan melampirkan dokumen yang sah75:

a. Untuk tempat tanggal lahir melampirkan Kutipan Akta Kelahiran dan/atau Ijasah; dan

b. Untuk golongan darah melampirkan surat keterangan medis.

Pasal 4 ayat (1) Permendagri Nomor 74 Tahun 20015 disebutkan bahwa elemen data dinamis dapat dilakukan perubahan melalui perbaikan kesalahan tulis redaksional dan penetapan pengadilan atau penetapan dari instansi yang berwenang. Selanjutnya dijelaskan pada Pasal 5 bahwa:

(1) Perbaikan kesalahan tulis redaksional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf a, dilakukan dengan melampirkan persyaratan dokumen pendukung;

(2) Penetapan pengadilan atau penetapan dari instansi yang berwenang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf b, dilakukan dengan melampirkan persyaratan:

a. fotocopy salinan penetapan pengadilan dan menunjukkan salinan penetapan pengadilan; dan

75 Pasal 3 ayat (3) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 74 Tahun 2015 tentang Tata Cara Perubahan Elemen Data Penduduk Dalam Kartu Tanda Penduduk Elektronik

b. fotocopy penetapan dari instansi yang berwenang dan menunjukkan penetapan dari instansi yang berwenang.

Data dan hasil wawancara tersebut memperlihatkan bahwa apa yang sudah diatur dalam peraturan perundang-undang merupakan pedoman bagi implementator dalam memberikan pelayanan. Menegakkan peraturan perundang-undangan yang ada merupakan kewajiban implementator. Akan tetapi, seringkali pelaksana pelayanan administrasi kependudukan melibatkan perasaaan, humanity, dalam mengimplementasikan kebijakan di lapangan, terlebih jika berhadapan dengan masyarakat yang realitas kehidupannya serba pas-pasan, berpendidikan rendah dan sulit memahami segala tetek bengek prosedural birokrasi yang diamanatkan peraturan perundang-undangan.

Namun penjelasan selanjutnya dari Tehesokhi Hulu, S.IP memberikan gambaran lain tentang persoalan perubahan nama, tempat lahir serta tanggal dan tahun lahir di Kabupaten Nias, seperti kutipan wawancara berikut:

“...saya melihat bahwa rata-rata pengurusan perubahan nama, tempat lahir, tanggal lahir dan tahun lahir, disebabkan oleh kesalahan kita dulu (sebelum SIAK diberlakukan). Besar kemungkinan saat itu, masa transisi (menuju sistem online) dan peralatan belum lengkap. Dipikiran masyarakat, yang penting dulu ada, sedangkan di sisi pegawai yang menangani, yang penting siap. Akibatnya terjadi kesalahan tanpa menvalidasi data lagi...”(wawancara tanggal 25 Juli 2016)

Perlu diperhatikan bahwa pelaksanaan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 yang memuat tentang pelaksanaan pendaftaran penduduk dan pencatatan sipil secara on line melalui suatu Sistem Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK) baru efektif lima tahun sejak undang-undang tersebut diundangkan.

Artinya pelaksanaannya baru dimulai tahun 2011. Walaupun demikian, tahun

2011 tersebut merupakan masa transisi mengingat masih banyak daerah yang belum terfasilitasi atau terkoneksi secara on line sehingga pembangunan data base kependudukan belum sempurna. Akibatnya, produk-produk dokumen kependudukan yang dicetak secara manual tanpa validasi data yang sangat rentan dengan kesalahan input nama, tempat lahir, tanggal lahir dan tahun lahir serta identitas lainnya.

Hal inilah yang dimasa sekarang ini kembali menjadi permasalahan pelayanan yang ditemui dilapangan. Hanya saja, untuk mengakomodir perubahan-perubahan tersebut, pelapor harus mendapatkan penetapan pengadilan terlebih dahulu. Namun tahapan ini dianggap oleh masyarakat sangat memberatkan dan menyita banyak waktu, tenaga dan materi. Mencermati beragam realitas keluhan masyarakat, seringkali para implementator pelayanan langsung, dalam hal ini staf pelayanan, mengabaikan ketiadaan penetapan pengadilan dalam menverifikasi berkas pelayanan dengan mengedepankan pertimbangan perasaan sebagai manusia sosial.

Pemekaran wilayah, baik itu kecamatan maupun desa, juga berpengaruh terhadap pelayanan langsung. Pada tahun 2012, pemekaran desa disahkan melalui Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2012. Terbitnya Perda ini menambah jumlah desa di Kabupaten Nias menjadi 170 desa. Tidak lama berselang, terbit Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2012 tentang Pembentukan Kecamatan Sogaeadu yang menambah jumlah kecamatan di Kabupaten Nias menjadi sepuluh kecamatan. Pemekaran wilayah memberikan dampak pada

perubahan nama desa dan nama kecamatan pada dokumen kependudukan seseorang.

Peneliti mewawancarai seorang warga masyarakat bernama Adilia Bawamenewi, umur 45 tahun, warga Desa Si‟ofaewali Selatan76, Kecamatan Bawolato:

“ saya sempatkan ke Kantor Camat hari ini daripada harus ke Gunungsitoli. Untuk mengurus KK dan KTP kami sekeluarga. Perbaikan KK dan KTP. Kami harus rubah nama desa di KK dan KTP karena pemekaran desa waktu itu. Sekarang dusun kami menjadi Desa Si‟ofaewali Selatan. Pemekaran dari Desa Si‟ofaewali...” (wawancara tanggal 30 Juni 2016)

Hasil wawancara tersebut menegaskan bahwa pemekaran wilayah, baik itu desa/kelurahan atau kecamatan, memberi pengaruh pada perubahan data dokumen kependudukan seseorang.

Kendala lain yang memberi pengaruh besar dalam pelaksanaan kegiatan pelayanan langsung di kecamatan adalah instabilitas arus listrik. Bukan berarti ke sepuluh kantor camat yang ada di Kabupaten Nias belum terpasang instalasi listrik, namun ketidakstabilitan arus listrik di hampir seluruh kantor camat menjadi salah satu kendala utama bagi kegiatan pelayanan ini. Bahkan listrik dapat padam dalam jangka waktu yang lama.

Berdasarkan pengamatan (observasi) yang dilakukan peneliti pada pelaksanaan pelayanan langsung di Kecamatan Bawolato, terlihat bahwa faktor inilah yang menjadi alasan mengapa selama pelayanan langsung tidak lagi melakukan pencetakan dokumen kependudukan di tempat. Demikian pula halnya

76 Desa Si‟ofaewali Selatan merupakan salah satu dari 51 desa baru hasil pemekaran pada tahun 2012 berdasarkan Perda Nomor 2 Tahun 2012. Berjarak sekitar 4 km dari Desa Si‟ofaewali sebagai desa induk.

dengan pengiriman hasil perekaman data penduduk ke server Direktorat Jenderal Administrasi Kependudukan tidak dapat dilakukan.

Peneliti mewawancarai Martahani Matodang, SH yang ditemui di lokasi pelayanan, yang mengatakan:

“Kita berkaca dari pelayanan langsung tahun 2015 yang lalu, peralatan pencetakan dokumen kependudukan yang dibawa ke lokasi pelayanan banyak yang rusak akibat ketidakstabilan arus listrik. Kondisi ini memaksa kita hanya menerima dan memverifikasi berkas pengurusan dokumen kependudukan dari masyarakat. Sedangkan pencetakan dokumen kependudukan sebagai tindak lanjut dari pelayanan langsung dilakukan di Kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Nias..” (wawancara tanggal 30 Juni 2016)

Tentu saja keadaan ini menjadikan efektivitas dan efisiensi pelayanan menjadi lebih lama. Produk pelayanan langsung baru akan didistribusikan kepada masyarakat apabila pencetakan selesai dan dokumen kependudukan telah ditandatangani oleh kepala instansi pelaksana pelayanan. Pendistribusian ini baru bisa dilakukan antara 2 – 3 minggu setelah pelayanan langsung berakhir.77

Faktor lainnya yang sangat berpengaruh terhadap implementasi kebijakan stelsel aktif pada pelayanan di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Nias adalah kondisi geografi dan topografi wilayah Kabupaten Nias. Kondisi topografi berbukit-bukit sempit dan terjal serta pegunungan dimana tinggi dari permukaan laut bervariasi antara 0 – 800 m, yang terdiri dari dataran rendah sampai tanah bergelombang mencapai 24%, dari tanah bergelombang sampai berbukit-bukit 28,8% dan dari berbukit sampai pegunungan 51,2%.

77 Berdasarkan wawancara dengan Tehesokhi Hulu, S.IP, Kepala Bidang Pencatatan Sipil

Kabupaten Nias pada tanggal 28 Juni 2016 bertempat di Kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Nias.

Kondisi alam ini dipengaruhi oleh curah hujan yang tinggi, mencapai rata-arat 22 hari per bulan.78

Wilayah Kecamatan Gido, Kecamatan Idanogawo dan Kecamatan Bawolato berada di pesisir pantai dan telah dilalui oleh jalan propinsi. Sedangkan ketujuh kecamatan lainnya berada di dataran tinggi dengan topografi berbukit dan berlembah. Akses jalan menuju kecamatan telah tersedia walau kondisinya tidak begitu baik. Bahkan di tiga kecamatan, Ulugawo, Ma‟u dan Somolo-molo, pembangunan sarana dan prasana jalan baru dimulai sejak dua tahun belakangan ini. Belum lagi jika mencermati akses jalan dari kecamatan menuju desa-desa yang pada umumnya masih belum diaspal, hanya jalan setapak berbatu dan berlumpur. Hal ini jugalah yang mendasari kegiatan pelayanan langsung tersebut sampai saat ini hanya dapat dilaksanakan di kecamatan. Belum dapat menjangkau desa-desa.