• Tidak ada hasil yang ditemukan

4.4. Pembahasan

4.4.2. Perspektif Perubahan Apa Yang Terjadi? (What’s

Pendekatan ini mencermati perubahan apa yang sudah terjadi (whats happening?) setelah program kegiatan sebagai wujud implementasi kebijakan dilaksanakan. Hill dan Hupe83 senada dengan mengatakan bahwa salah satu obyek studi implementasi adalah hasil kebijakan.

Berdasarkan data dokumen yang diperoleh dan hasil wawancara yang telah dilakukan, peneliti menyimpulkan bahwa implementasi kebijakan stelsel aktif pada pelayanan administrasi kependudukan yang diwujudkan oleh Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Nias telah memberikan dampak pada pengurangan persentase penduduk yang belum memiliki dokumen kependudukan.

Implementasi kebijakan ditujukan untuk mewujudkan tujuan dari kebijakan dengan kompleksitasnya sendiri. Tujuan kebijakan menjadi titik akhir dan salah satu parameter penilaian keberhasilan implementasi kebijakan. Dalam konteks pelayanan administrasi kependudukan, output atau hasil pelayanan menjadi salah satu tujuan yang harus dicapai. Dalam penelitiannya di Nigeria,

83 Erwan Agus Purwanto dan Dyah Ratih Sulistyastuti, op. cit., hlm. 71

Taiwo Makinde84 menyimpulkan bahwa kejelasan tujuan kebijakan merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi berhasil tidaknya suatu implementasi kebijakan.

Di sisi lain, peneliti juga menemukan fakta bahwa pelaksanaan kegiatan ini mendapat apresiasi yang baik dan positif dari masyarakat. Bahkan terselip harapan dari warga supaya pelaksanaan pelayanan langsung tersebut ditingkatkan dengan lebih menjangkau masyarakat di tingkat desa atau dusun. Secara umum, warga masyarakat merasakan bahwa program kegiatan ini mampu membantu masyarakat dengan memperpendek jarak pelayanan administrasi kependudukan.

Untuk melihat perspektif apa yang terjadi? (what‟s happening?) sebagaimana dikemukakan Ripley dan Franklin, terdapat lima faktor yang mempengaruhi perubahan yang ditimbulkan oleh implementasi kebijakan, dalam hal ini yaitu program kegiatan pelayanan langsung pemrosesan dokumen kependudukan di kecamatan se-Kabupaten Nias.

1. Aktor Yang Terlibat

Aktor yang terlibat adalah mereka yang terlibat dalam pelaksanaan implementasi kebijakan. Dalam konteks ini, aktor yang terlibat merupakan pelaksana program kegiatan pelayanan langsung pemrosesan dokumen kependudukan di kecamatan se-Kabupaten Nias.

Dengan jumlah personil kepegawaian sejumlah 25 orang PNS dan 16 orang Tenaga Honorer, Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Nias

84 Taiwo Makinde, Problems of Policy Implementation in Developing Nations: The Nigerian Experience, Journal of Social Science, Vol. 11 (1), Nigeria: Kamla-Raj, 2005, hlm. 63-69

dituntut untuk bijak dalam menyikapi penugasan personilnya untuk melaksanakan kegiatan pelayanan langsung mengingat disisi lain pelayanan loket yang juga memerlukan personil harus tetap berjalan setiap hari. Fakta di lapangan memperlihatkan bahwa jumlah personil yang dibutuhkan untuk melaksanakan pelayanan langsung berkisar 10 – 15 orang setiap penugasan. Tentu dengan job description masing-masing yang sudah dipahami betul.

Secara kualitas, kemampuan sumberdaya manusia yang melaksanaan kegiatan pelayanan langsung ini sudah memadai. Personil yang berasal dari Bidang SIAK, Bidang Capil dan Bidang Dalduk serta Sekretariat merupakan personil-personil yang sudah memahami dengan baik syarat dan prosedur tatacara pendafataran penduduk dan pencatatan sipil.

Namun, secara kuantitas personil kepegawaian yang ada saat ini di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Nias belum cukup untuk dapat menopang kinerja tugas pelayanan adminitrasi kependudukan secara umum dan pelaksanaan pelayanan langsung secara khusus. Hal ini disebabkan karena sebagian personil PNS juga dipercaya pada penugasan yang bersifat lebih spesifik seperti bendahara pengeluaran, pejabat/panitia pengadaan barang, pejabat/panitia pemeriksa hasil pekerjaan, pejabat penatausahaan keuangan, dan pejabat pelaksana teknis kegiatan.

Selain itu, Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Nias juga mendapat dukungan dari Camat beserta jajarannya hingga aparatur pemerintahan desa. Demikian juga halnya dengan personil dari Koramil dan Polsek setempat yang turut mendukung pelaksanaan kegiatan tersebut.

2. Kejelasan Isi Program

Dari hasil observasi dan wawancara serta penelusuran dokumen, peneliti menyimpulkan bahwa program kegiatan Pelayanan Langsung Pemrosesan Dokumen Kependudukan di Kecamatan se-Kabupaten Nias merupakan suatu program yang jelas, terinci dan telah mendapat pengesahan dari lembaga legislatif. Ini berarti semakin jelas dan rinci sebuah kebijakan atau program akan mudah diimplementasikan karena implementator mudah memahami dan menterjemahkannya dalam tindakan nyata.

Merencanakan sebuah program diawali pemikiran apakah program tersebut tepat dan merupakan bentuk implementasi kebijakan serta masuk akal (reasonable). Weimer dan Vining85 menyebut hal ini sebagai logika kebijakan.

Tertampungnya kegiatan Pelayanan Langsung Pemrosesan Dokumen Kependudukan di Kecamatan se-Kabupaten Nias dalam P-APBD T.A. 2015 dan P-APBD T.A. 2016 merupakan bentuk legalisasi terhadap kegiatan tersebut setelah melalui proses perencanaan, pengusulan dan pembahasan yang matang (formulasi kebijakan).

3. Kerumitan Program Terkait Dengan Dinamisnya Petunjuk Pelaksanaan Yang Dibuat

Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya bahwa dari hasil pengamatan, peneliti mengasumsikan bahwa pelayanan langsung yang dilaksanakan pada prinsipnya merupakan kegiatan pelayanan loket yang

85 David Weimer dan Aidan R. Vining, Policy Analysis: Concept and Practice, New Jersey:

Prentice Hall, Third Edition Chapter 13, 1999, page396

dipindahkan aktivitasnya di kantor camat sebagai lokasi pelaksanaan kegiatan.

Apa yang dilakukan oleh personil yang bertugas di loket kantor tidak jauh berbeda dengan apa yang akan dilaksanakan oleh personil pelaksana pelayanan langsung di kecamatan yang pada umumnya adalah menerima dan menverifikasi berkas pengurusan dokumen kependudukan. Dengan kata lain, kegiatan pelayanan langsung yang berlokasi di kantor-kantor camat se-Kabupaten Nias ini merupakan program kegiatan yang sederhana yang tidak terlalu rumit apabila mencermati kedinamisan petunjuk pelaksanaan.

Kerumitan sebuah program dapat dilihat dari aturan-aturan program tersebut yang salah satu bentuknya berupa Standar Operation Prosedur (SOP).

Dalam pemahaman Edwards III86, SOP merupakan salah satu aspek penting dari setiap organisasi dan menjadi pedoman bagi setiap implementator dalam bertindak. Penelitian yang dilakukan Rusli Djaliluddin87 dan Eka Karlina88 menyimpulkan bahwa standar pelayanan yang terangkum dalam sebuah SOP apabila diterapkan akan menghasilkan pelayanan yang berkualitas. Pembuatan standar pelayanan ditujukan untuk memberikan kejelasan kepada masyarakat mengenai pelayanan adminitrasi kependudukan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa SOP dari program kegiatan pelayanan langsung yang dilaksanakan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Nias belum ada. Hal ini dapat berpengaruh terhadap pelayanan yang

86 AG. Subarsono, op. cit., hlm. 92

87 Rusli Djaliluddin, Evaluasi Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik (Studi pada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Banggai Kepulauan), Tesis, Yogyakarta:

Universitas Gadjah Mada, 2015.

88 Eka Karlina, Kualitas Pelayanan di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Pontianak, Tesis, Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada, 2014.

diberikan. Namun, ketiadaan SOP tersebut disikapi dengan mengadopsi SOP pelayanan loket serta dengan mempedomani beragam peraturan perundang-undangan yang mengatur pelayanan administrasi kependudukan.

4. Peran Unit-unit Pemerintah Dalam Implementasi Kebijakan

Dari hasi observasi dan wawancara, peneliti menarik suatu benang merah bahwa partisipasi dari para stakeholder yang terkait dengan pelaksanaan kegiatan pelayanan langsung pemrosesan dokumen kependudukan di kecamatan se-Kabupaten Nias sudah berjalan optimal. Peran dari lembaga DPRD se-Kabupaten Nias melalui Komisi A yang merupakan mitra dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Nias terlihat dari dukungan penganggaran kegiatan.

Peningkatan anggaran di T.A. 2016 dapat dimaknai sebagai bentuk perhatian dan dukungan legislatif terhadap kegiatan pelayanan langsung administrasi kependudukan.

Demikian juga halnya dengan peran serta camat dan jajarannya dalam mendukung pelayanan langsung administrasi kependudukan. Tidak bisa dilupakan pula keterlibatan personil Koramil dan Polsek dalam setiap pelaksanaan pelayanan langsung di kantor camat.

Partisipasi dari unit-unit pemerintah tersebut menegaskan terciptanya koordinasi kerja yang baik. Ketika tujuan kebijakan yang hendak diraih dalam bentuk program kegiatan telah dipahami dan dimengerti serta disetujui untuk dilaksanakan demi kepentingan masyarakat, maka kerjasama dari masing-masing unit pemerintah akan lebih mudah diperoleh. Selaras dengan penelitian Akhmad

Sarbini, dkk,89 yang menyimpulkan bahwa komunikasi dan koordinasi yang baik antara dinas dan kecamatan merupakan faktor pendukung implementasi Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2013 tentang Perubahan Atas Undang-Undang-Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan.

5. Faktor-faktor Kendala Yang Terjadi Di Luar Teknis Implementasi Berdasarkan hasil wawancara dan observasi yang dilakukan serta penelusuran data dokumen yang terkait dengan faktor-faktor yang terjadi di luar teknis implementasi, peneliti menyimpulkan bahwa terdapat beberapa faktor tersebut yang signifikan memberi pengaruh terhadap pelaksanaan kegiatan pelayanan langsung pemrosesan dokumen kependudukan di kecamatan se-Kabupaten Nias, yaitu:

1. Masih maraknya keberadaan calo atau pihak ketiga yang mengurus dokumen kependudukan masyarakat. Hal ini erat kaitannya dengan kurangnya pemahaman masyarakat terhadap persyaratan dan prosedur tata cara pengurusan dokumen kependudukan.

2. Faktor internal pelaksana pelayanan, dalam hal ini seringkali pelaksana pelayanan melibatkan perasaan untuk menolong penduduk yang berkasnya tidak lengkap dengan tidak mengindahkan syarat-syarat pengurusan dokumen yang sesuai prosedur.

89 Akhmad Sarbini, dkk., Implementasi Kebijakan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2013 Tentang Administrasi Kependudukan di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Kutai Kartanegara, dalam Jurnal eJournal Administrative Reform, Volume 4, No. 3, 2016, hlm.

301-313

3. Kesalahan-kesalahan input data penduduk dalam kegiatan pelayanan administrasi kependudukan sebelum Sistem Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK) berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 diberlakukan.

4. Pemekaran wilayah desa dan kecamatan yang berpengaruh kepada banyaknya masyarakat yang harus memperbarui dokumen kependudukan miliknya.

5. Instabilitas listrik yang memberikan pengaruh pada peralatan yang dipergunakan untuk pelayanan administrasi kependudukan. Hal ini senada dengan hasil penelitian yang dilakukan Akhmad Sarbini, dkk,90 yang menemukan fakta bahwa peralatan seperti alat perekam dan komputer server yang sering rusak serta signal internet yang masih belum dapat diterima di wilayah kecamatan merupakan beberapa kendala atau faktor penghambat pelayanan administrasi kependudukan.

Instabilitas listrik tersebut mengakibatkan:

- Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Nias tidak lagi melakukan pencetakan dokumen kependudukan di kantor camat sebagai lokasi pelayanan;

- Hasil perekaman data penduduk yang dilakukan oleh Dinas Kependudukan serta laporan-laporan kegiatan pelayanan langsung lainnya tidak dapat langsung dikirim ke server Pusat Data Direktorat Jenderal Administrasi Kependudukan, Jakarta.

90 Ibid, hlm. 301-313

6. Kondisi geografi dan topografi wilayah Kabupaten Nias yang menjadi salah satu pertimbangan utama mengapa kegiatan pelayanan langsung tersebut sampai saat ini baru dapat dilaksanakan di kecamatan. Belum dapat menjangkau desa-desa.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN