• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dalam menjalankan kegiatan usahanya, Perseroan tidak terlepas dari berbagai faktor risiko yang dapat mempengaruhi kinerja Perseroan. Semua faktor risiko baik risiko utama, risiko usaha yang bersifat material baik secara lanagsung maupun tidak langsung yang dapat mempengaruhi hasil usaha dan kondisi keuangan Perseroan serta risiko umum yang diuraikan dalam Prospektus ini disusun berdasarkan bobot risiko yang memberikan dampak paling besar hingga paling kecil terhadap kinerja usaha dan keuangan yang dihadapi Perseroan.

A. Risiko Usaha Yang Berkaitan dengan Perseroan

Risiko-risiko yang dihadapi oleh Perseroan antara lain:

1. Risiko Kredit

Risiko yang yang memiliki pengaruh signifikan terhadap kelangsungan usaha Perseroan adalah risiko kredit.

Risiko Kredit adalah risiko akibat kegagalan debitur dan/atau pihak lain dalam memenuhi liabilitas kepada Perseroan serta risiko akibat kegagalan setelmen yang melampaui batas waktu tertentu sesuai ketentuan Bank Indonesia yang berlaku. Perseroan mengelola eksposur risiko kredit per individual debitur atau counter party serta eksposur risiko secara portofolio.

Risiko Kredit dapat berdampak negatif terhadap kondisi keuangan dan kelangsungan usaha apabila debitur dan/atau pihak lawan transaksi tidak dapat memenuhi liabilitas keuangannya kepada bank secara tepat waktu sesuai dengan yang diperjanjikan. Hal ini dapat disebabkan oleh memburuknya kondisi keuangan dan/atau kondisi usaha debitur (risiko usaha yang dihadapi oleh debitur) atau dapat juga disebabkan oleh itikad buruk debitur yang tidak bersedia untuk memenuhi liabilitasnya kepada bank. Dengan perkataan lain, risiko ini terjadi apabila debitur mengalami insolvency dalam kegiatan usahanya. Insolvency ini akan menyebabkan debitur tidak mampu memenuhi kewajibannya kepada Perseroan, baik kewajiban membayar bunga maupun pokok pinjamannya. Semakin besar porsi kredit bermasalah karena adanya keraguan atas kemampuan debitur dalam membayar kembali pinjaman yang diberikan, semakin besar pula kebutuhan biaya cadangan kerugian penurunan nilai kredit, yang sangat mempengaruhi keuntungan Perseroan, sehingga dapat menurunkan kinerja dan bahkan kelangsungan usaha Perseroan.

Secara umum penyaluran kredit Perseroan tersebar pada sektor-sektor usaha yang potensial dan tidak bertumpu pada hanya salah satu sektor usaha saja. Berdasarkan sektor usaha debitur, sektor Perdagangan Besar dan Eceran menempati porsi tertinggi yaitu sebesar Rp. 1.9 triliun atau 32.27% dari total outstanding kredit, dengan kategori risiko konsentrasi sektoral ”Moderate”.

2. Risiko Persaingan

Industri perbankan di Indonesia merupakan industri yang kompetitif dan Perseroan senantiasa menghadapi persaingan yang cukup besar dari bank-bank lokal, bank asing. Perseroan jasa keuangan lainnya dan aliansi strategis antara berbagai bank domestik dengan bank asing yang menawarkan berbagai produk dan jasa perbankan. Persaingan yang kompetitif ini dapat mempengaruhi kemampuan Perseroan dalam mempertahankan pangsa pasar penyaluran kredit dan layanan perbankan lainnya. Sumber pendanaan juga semakin kompetitif yang akhirnya dapat menurunkan customer base, pendapatan bunga dan berdampak pada penurunan kinerja keuangan Perseroan secara keseluruhan.

3. Risiko Pasar

Perseroan sebagai bank devisa memiliki potensi risiko pasar yang disebabkan oleh pergerakan nilai tukar valuta asing dan perubahan tingkat suku bunga yang berlawanan posisi yang dimiliki oleh Perseroan, sehingga dapat berakibat timbulnya kerugian secara finansial.

Sebagian besar komponen aset dan kewajiban dalam neraca adalah komponen yang sensitif terhadap perubahan suku bunga. Peningkatan suku bunga dana yang lebih cepat daripada peningkatan suku bunga kredit, secara sistematis akan menimbulkan margin bunga bersih yang semakin kecil, bahkan negatif (negative spread). Penyesuaian terhadap suku bunga kredit mengandung risiko lain, yakni ketidakmampuan debitur untuk melakukan debt servicing secara baik.

Pada akhirnya pergerakan instrumen suku bunga tersebut tidak terlepas dari kondisi perekonomian dan politik suatu negara secara keseluruhan yang juga tidak terpisahkan dari pengaruh kondisi perekonomian regional maupun global. Risiko yang terjadi akibat perubahan suku bunga dan harga pasar surat-surat berharga akan menurunkan pendapatan Perseroan dan bahkan dapat mempengaruhi tingkat kesehatan bank.

4. Risiko Likuiditas

Risiko Likuiditas adalah Risiko akibat ketidakmampuan Perseroan untuk memenuhi liabilitas yang jatuh tempo dari sumber pendanaan arus kas dan/atau dari aset likuid berkualitas tinggi yang dapat diagunkan, tanpa mengganggu aktivitas dan kondisi keuangan Perseroan.

Risiko Likuiditas antara lain dapat disebabkan oleh terganggunya likuiditas pasar keuangan sehingga Perseroan tidak mampu mendapatkan sumber pendanaan dengan tingkat suku bunga yang wajar dari pasar keuangan untuk memenuhi liabilitas keuangannya.

Risiko Likuiditas juga dapat disebabkan oleh kesulitan bank dalam menjual surat berharga atau instrumen keuangan di pasar keuangan dengan harga yang wajar karena aset tersebut tidak likuid. Risiko likuiditas pada prinsipnya dapat disebabkan oleh dua hal, yaitu adanya ketidakmampuan menghasilkan arus kas dari aset produktif yang berasal dari aset likuid, dan ketidakmampuan menghasilkan arus kas dari penghimpunan dana, transaksi antar Bank dan pinjaman yang diterima. Ketidakmampuan Perseroan memenuhi kewajiban dan komitmen ini akan menyebabkan turunnya kepercayaan nasabah dan mengakibatkan penarikan dana secara besar-besaran (rush) yang akan berpengaruh negatif terhadap kelangsungan usaha Perseroan yang tentunya juga berpengaruh pada menurunnya kepercayaan pemegang saham dan stakeholders lainnya.

5. Risiko Operasional

Risiko Operasional adalah Risiko akibat ketidakcukupan dan/atau tidak berfungsinya proses internal, kesalahan manusia, kegagalan sistem, dan/atau adanya kejadian-kejadian eksternal yang mempengaruhi operasional Perseroan.

Penyebab dari terjadinya Risiko Operasional, adalah :

• Proses Internal, terkait dengan kegagalan proses atau prosedur yang terdapat pada suatu bank, bisa karena pengendalian internal yang lemah, kesalahan penjualan/pemasaran produk, kesalahan transaksi, dokumentasi yang tidak memadai, tidak lengkap atau tidak tepat. Risiko juga terjadi apabila suatu proses terlalu rumit, tidak terstruktur atau tidak dilaksanakan dengan semestinya.

• Sumber Daya Manusia, merupakan risiko yang terkait dengan karyawan bank, baik disengaja maupun tidak dan tidak terbatas hanya pada suatu unit organisasi tertentu saja. Area-area yang umumnya terkait dengan risiko manusia adalah isu-isu kesehatan dan keselamatan kerja, tingkat perputaran karyawan yang tinggi, fraud internal, sengketa pekerja, praktek manajemen yang buruk, pelatihan karyawan yang tidak memadai dan ketergantungan pada karyawan tertentu saja.

• Sistem, terkait dengan penggunaan teknologi dan sistem. Penggunaan teknologi tidak saja sangat mendukung kegiatan operasional bank namun juga menimbulkan risiko bagi bank yang disebabkan oleh kesalahan pemrograman, kesalahan input data, kecocokan sistem (system

suitability), penggunaan teknologi yang belum diuji coba, ketergantungan pada teknologi black box, data yang tidak lengkap dan sebagainya. Secara teoritis, kegagalan secara menyeluruh

pada teknologi yang digunakan oleh Perseroan akan sangat mungkin menyebabkan terjadinya kerugian bank yang bersangkutan.

• Kejadian Eksternal, terkait dengan kejadian-kejadian yang berada diluar kendali Perseroan secara langsung, misalnya kejadian pada bank lain yang memiliki dampak pada keseluruhan industri perbankan, pencurian dan eksternal fraud, kebakaran, bencana alam, kegagalan perjanjian outsourcing, kerusuhan dan unjuk rasa, terorisme dan sebagainya.

Lemahnya sistem operasional mengakibatkan meningkatnya biaya operasional yang pada akhirnya akan mempengaruhi laba usaha. Disamping itu, secara umum kelemahan ini akan mengakibatkan terganggunya kelancaran operasional dan mutu pelayanan kepada nasabah dan pada gilirannya akan menurunkan kinerja dan daya saing Perseroan.

6. Risiko Reputasi

Risiko Reputasi adalah Risiko akibat menurunnya tingkat kepercayaan pemangku kepentingan (stakeholder) yang bersumber dari persepsi negatif terhadap Perseroan, yang bersumber dari berbagai aktivitas bisnis perseroan, seperti pemberitaan negatif di media massa, pelanggaran etika bisnis, keluhan nasabah atau hal lain yang dapat menyebabkan terjadinya risiko reputasi misalnya kelemahan-kelemahan pada tata kelola, budaya perusahaan dan praktik bisnis perseroan.

Risiko Reputasi akan berdampak pada penurunan tingkat kepercayaan nasabah yang pada gilirannya akan berdampak negatif pada kinerja Perseroan.

7. Risiko Aksi Korporasi

Risiko Aksi Korporasi adalah Risiko yang diakibatkan oleh tindakan Perseroan yang berdampak pada jumlah saham investor atau harga saham Perseroan yang mana tindakan itu memiliki tujuan tertentu. Tujuan dari aksi korporasi yang dilakukan dapat memberi sinyal terhadap gambaran prospek dan kinerja Perseroan di kemudian hari. Risiko yang diakibatkan memang tidak secara langsung memberi dampak pada kinerja usaha, namun bila tindakan yang dilakukan Perseroan memberi penilaian akan Perseroan sebagai Perusahaan berrisiko tinggi, maka mempengaruhi keputusan para Investor untuk melepas kepemilikan sahamnya dan pada akhirnya harga saham Perseroan mengalami tekanan. Hal ini dapat berakibat menurunnya tingkat kepercayaan nasabah yang pada gilirannya akan berdampak negatif pada kinerja Perseroan.

8. Risiko kegagalan memenuhi peraturan perundang-undangan yang berlaku dalam industri perbankan

Risiko kegagalan memenuhi peraturan perundang-undangan yang berlaku dalam industri perbankan adalah risiko yang disebabkan oleh ketidak mampuan Perseroan menghindari atau melepas segala kendala yang menjadi penghalang Perseroan untuk menerapkan suatu peraturan. Risiko ini akan mempengaruhi kepastian akan kelangsungan jalannya usaha Perseroan dan akan menghambat kelancaran operasional terkait dengan pihak otoritas industri yang berakibat penghentian sementara atas kegiatan usaha Perseroan.

B. Risiko Umum yang dihadapi oleh Perseroan 1. Risiko Makro Ekonomi

Risiko makro ekonomi adalah risiko yang timbul sehubungan dengan perubahan kondisi perekonomian nasional yang berpengaruh baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap kinerja Perseroan. Risiko ini dapat saja timbul sebagai imbas dari faktor luar negeri, seperti krisis keuangan global yang mempengaruhi ekonomi dalam negeri.

Faktor makro ekonomi yang dapat berpengaruh negatif antara lain perubahan-perubahan tingkat suku bunga, tingkat pertumbuhan ekonomi nasional, tingkat inflasi dan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing. Faktor-faktor tersebut juga berdampak serius terhadap kemampuan debitur Perseroan dalam memenuhi kewajibannya, sehingga mengakibatkan peningkatan kredit bermasalah (non performing loan) yang mengakibatkan lambatnya pertumbuhan kredit Perseroan, serta dapat menurunkan pendapatan Perseroan apabila hal tersebut terjadi, selanjutnya target bisnis dan rentabilitas tidak dapat tercapai.

2. Risiko Kepatuhan

Risiko Kepatuhan adalah Risiko akibat Perseroan tidak mematuhi dan/atau tidak melaksanakan peraturan perundang-undangan dan ketentuan yang berlaku, seperti ketentuan Kewajiban Pemenuhan Modal Minimum (KPMM), Kualitas Aset Produktif (KAP), ratio Non Performing Loan (NPL), pembentukan cadangan aset produktif maupun aset non produktif, Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK), Posisi Devisa Neto (PDN), dan sebagainya. Risiko ini selain akan berdampak pada pemberian sanksi oleh Bank Indonesia, juga berdampak pada penurunan tingkat kesehatan Perseroan.

Disamping itu, apabila terjadi pelanggaran terhadap salah satu ketentuan maka risiko yang mungkin terjadi adalah pengenaan sanksi bagi Perseroan yang dapat berupa sanksi finansial berbentuk denda material ataupun sanksi non finansial berbentuk terguran tertulis, sanksi ketidaklayakan dan ketidakmampuan (fit &proper test) Direksi Perseroan ataupun pembekuan kegiatan usaha tertentu, serta kehilangan reputasi. Hal ini dapat berpengaruh negatif pada Perseroan baik secara finansial maupun secara non finansial.

3. Risiko Hukum

Risiko hukum merupakan risiko yang disebabkan oleh adanya kelemahan aspek yuridis, yang antara lain disebabkan adanya tuntutan hukum, ketiadaan peraturan perundang-undangan yang mendukung, atau kelemahan perikatan seperti tidak dipenuhinya syarat sahnya kontrak dan pengikatan agunan yang tidak sempurna. Beberapa faktor yang mempengaruhi risiko hukum, antara lain adanya tuntutan hukum dari pihak ketiga atas transaksi yang dilakukan dan kesalahan/ kelalaian dalam membuat kontrak/perjanjian.

Risiko ini selain akan berdampak pada terganggunya kelancaran kegiatan operasional, juga akan menyebabkan membesarnya biaya operasional yang pada gilirannya akan merugikan Perseroan dan berdampak negatif pada keuntungan Perseroan.

4. Risiko Stratejik

Risiko Stratejik adalah Risiko akibat ketidaktepatan dalam pengambilan dan/atau pelaksanaan suatu keputusan stratejik serta kegagalan dalam mengantisipasi perubahan lingkungan bisnis. Apabila dalam menyusun perencanaan strategis, yang pada umumnya dituangkan pada Rencana Bisnis, terjadi kekeliruan, dapat berakibat tidak tercapainya tujuan perusahaan, termasuk tidak tercapainya target / proyeksi keuangan sesuai yang diharapkan, akibat perencanaan bisnis yang tidak tepat.

Risiko ini dapat dikatakan pula disebabkan adanya penetapan dan pelaksanaan strategi bank yang tidak tepat, pengambilan keputusan bisnis yang tidak tepat, atau kurang responsifnya bank terhadap perubahan eksternal. Risiko ini selain akan berdampak pada meningkatnya beban operasional yang pada gilirannya akan mempengaruhi tingkat keuntungan dan kinerja Perseroan, juga berdampak negatif pada tingkat kesehatan Perseroan.

5. Risiko Kebijakan Moneter dan Kebijakan Pemerintah

Industri perbankan dapat menghadapi risiko penurunan pendapatan sebagai akibat perubahan drastis kebijakan moneter yang dilakukan oleh Bank Indonesia. Selain itu, industri perbankan juga dapat menghadapi risiko penurunan pendapatan sebagai akibat perubahan kebijakan fiskal dan/ atau perubahan kebijakan ekonomi yang dilakukan oleh Pemerintah.

Tata cara dan pelaksanaan operasional Perseroan harus disesuaikan dengan peraturan perundang-undangan yang senantiasa mengalami pembaharuan. Kegagalan dalam mengantisipasi perubahan kebijakan tersebut dapat berdampak negatif pada kinerja Perseroan, yang tentunya akan berpengaruh terhadap tingkat kesehatan Perseroan.

MANAJEMEN PERSEROAN MENYATAKAN BAHWA FAKTOR RISIKO YANG MATERIAL YANG BERKAITAN TERHADAP PERSEROAN DALAM MELAKSANAKAN KEGIATAN USAHA TELAH DIUNGKAPKAN DAN DISUSUN BERDASARKAN BOBOT DARI DAMPAK MASING-MASING RISIKO TERHADAP KINERJA KEUANGAN PERSEROAN DALAM PROSPEKTUS.

VII. KEJADIAN PENTING SETELAH TANGGAL LAPORAN