IV. ANALISA DAN PEMBAHASAN OLEH MANAJEMEN
3. PRINSIP – PRINSIP PERBANKAN YANG SEHAT
Dalam rangka mewujudkan prinsip perbankan yang sehat maka bank wajib memelihara dan/atau meningkatkan Tingkat Kesehatan Bank dengan menerapkan prinsip kehati-hatian dan manajemen risiko dalam melaksanakan kegiatan usaha, bank wajib melakukan penilaian tingkat kesehatan dengan menggunakan pendekatan risiko (Risk Based Bank Rating). Penilaian tingkat kesehatan bank berbasis risiko dilaksanakan Sesuai Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No.4/POJK.03/2016 dan Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan No.14/SEOJK.03/2017 tentang Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum, Tingkat Kesehatan Bank Berdasarkan Risiko adalah hasil penilaian kualitatif dan kuantitatif atas berbagai aspek yang berpengaruh terhadap kondisi atau kinerja suatu bank melalui penilaian seperti : Profil Risiko Perseroan, Good Corporate Governance, Rentabilitas dan Permodalan. Sehingga akan menghasilkan peringkat tingkat kesehatan perseroan berdasarkan risiko.
Tingkat Kesehatan Bank Berdasarkan Risiko atau dikenal dengan Risk Based Bank Rating (RBBR) Perseroan, berdasarkan hasil self assessment secara keseluruhan per 31 Desember 2017 berada pada peringkat 2 (“Sehat”). Perseroan dinilai mampu menghadapi pengaruh negatif yang signifikan dari perubahan kondisi bisnis dan faktor eksternal lainnya tercermin dari ke-empat faktor penilaian, yang dapat diuraikan berikut ini.
1) Analisis Profil Risiko
Berdasarkan penilaian analisis profil risiko untuk periode 31 Desember 2017 diperoleh Peringkat Komposit Risiko “2” dengan kategori “Low to Moderate” dengan trend stabil dibanding periode sebelumnya.
2) Analisis mengenai Good Corporate Governance (GCG)
Selama semester II tahun 2017 berdasarkan hasil self assessment terhadap pelaksanaan Tata Kelola Perusahaan atau Good Corporate Governance (GCG) sudah dilakukan berbagai macam perbaikan dengan nilai “Baik” dan nilai komposit “2”, artinya mencerminkan bahwa Manajemen Perseroan telah melakukan penerapan GCG yang secara umum baik. Hal ini tercermin dari pemenuhan atas prinsip-prinsip dasar GCG.Apabila terdapat kelemahan dalam penerapan prinsip GCG, maka secara umum kelemahan tersebut kurang signifikan dan dapat diselesaikan dengan tindakan normal oleh manajemen Perseroan
3) Analisis mengenai Rentabilitas
Berdasarkan hasil penilaian sendiri terhadap Rentabilitas di Perseroan selama semester II/2017 menghasilkan kategori “Marginal”. Perolehan Laba mengalami penurunan dibandingkan tahun lalu. Pencapaian ROA , BOPO dan fee based income masih belum optimal.
4) Analisis mengenai Permodalan
Penilaian tingkat permodalan Perseroan semester II/2017 diperoleh nilai tertimbang 2 dengan kategori “Memadai”. Selama semester II/2017 Perseroan memiliki kualitas dan kecukupan permodalan yang relatif memadai. Rasio CAR mengalami penurunan jika dibandingkan dengan semester I/2017, namun posisi CAR bank masih jauh di atas ketentuan pemenuhan kecukupan modal minimum berbasis risiko (ICAAP). Penerapan strategi manajemen permodalan tergolong cukup memadai dengan strategi pertumbuhan laba organik sesuai dengan karakteristik, skala usaha, dan kompleksitas usaha dari Perseroan .
Uraian berkaitan prinsip-prinsip perbankan yang sehat sebagai berikut : (i) Rasio Kewajiban Penyediaan Modal Minimum
Posisi Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (rasio kecukupan modal) per 31 Desember 2016 dan 31 Desember 2017 masing-masing sebesar 20.58% dan 17.49%. Rasio kecukupan modal Perseroan masih berada di atas batasan kecukupan modal minimum berdasarkan Profil Risiko yang ditentukan oleh Regulator, yaitu minimum sebesar 9.41% (pada posisi Desember 2017 dengan self
assesment nilai profil risiko peringkat 2). Perseroan senantiasa menjaga dan mengusahakan rasio
kecukupan modal pada posisi dua digit atau di atas 12%.
Posisi rasio Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (rasio kecukupan modal) pada tanggal 31 Desember 2017 dan 2016 masing-masing sebesar 17,50% dan 20,57%. Rasio kecukupan modal
Perseroan masih berada di atas batasan kecukupan modal minimum yang ditentukan oleh Bank Indonesia, yaitu 12%. Perseroan senantiasa menjaga dan mengusahakan rasio kecukupan modal pada posisi dua digit atau di atas 8%.
Perhitungan Risiko Operasional dalam menghitung rasio kewajiban penyediaan modal minimum dilakukan dengan menggunakan pendekatan indikator dasar sesuai Surat Edaran BI No. 11/3/DPNP tanggal 27 Januari 2009. Sejak 1 Januari 2011, beban modal Risiko Operasional diperhitungkan sebesar 15% dari rata-rata pendapatan kotor selama tiga tahun terakhir.
Perhitungan rasio kecukupan modal pada tanggal 31 Desember 2017 dan 31 Desember 2016 adalah sebagai berikut:
(dalam jutaan rupiah, kecuali dinyatakan lain)
Keterangan 2017 31 Desember 2016
Modal Inti 1.102.676 1.180.659
Modal Pelengkap 68.243 79.798
Jumlah Modal Inti dan Pelengkap 1.170.919 1.260.457
ASET TERTIMBANG MENURUT RISIKO
ATMR RISIKO KREDIT 5.714.471 5.188.953
ATMR RISIKO PASAR 8.539 3.126
ATMR RISIKO OPERASIONAL 967.786 935.062
TOTAL ATMR 6.690.796 6.127.141
Rasio Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM)Yang Tersedia
Untuk Risiko Kredit 20,49% 24,29%
Rasio Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM)Yang Tersedia
Untuk Risiko Kredit Dan Pasar 20,46% 24,28%
Rasio Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM)Yang Tersedia
Untuk Risiko Kredit,Pasar, Dan Operasional 17,50% 20,57%
(ii) Kualitas Asset
Peningkatan penyaluran dana menjadi agenda penting bagi Perseroan, agar fungsi intermediasi bank dapat berjalan lebih efektif dan memberikan pendapatan bunga yang lebih optimal. Perseroan tetap berpedoman pada asas konservatif dan prinsip prudential banking dalam pemberian kredit untuk menjaga kualitas aset terutama kredit. Portofolio pada surat berharga secara selektif dipilih dengan tingkat risiko yang minimum. Rasio non performing loan (NPL) Perseroan per 31 Desember 2016 sebesar 4.07% dan per 31 Desember 2017 sebesar 4.50%. Dengan demikian Perseroan masih dapat memenuhi Ketentuan Bank Indonesia yaitu NPL net dibawah 5%. Dalam penyaluran kredit, Perseroan senantiasa menerapkan prinsip kehati-hatian dan menjaga kualitas dalam peningkatan portofolio kredit.
Kualitas aset (dalam hal ini sebagai kualitas aset produktif) merupakan tingkat/ukuran kemampuan asset / asset yang dapat menghasilkan. Kualitas aset produktif di golongkan atas lancar, dalam perhatian khusus, kurang lancar, diragukan dan macet. Aset produktif bermasalah terdiri dari kurang lancar, diragukan dan macet.
Dalam pelaksanaan PSAK No. 55 (Revisi 2006) dan PAPI, Perseroan menggunakan ketentuan Bank Indonesia yang berlaku mengenai “Penilaian Kualitas Aset Bank Umum” untuk pembentukan cadangan kerugian penurunan nilai. Mulai tanggal 1 Januari 2010, Perseroan menerapkan ketentuan transisi dari BI tersebut. Penentuan kualitas aset dan cadangan kerugian penurunan nilai mengacu pada Peraturan Bank Indonesia No. 14/15/PBI/2012 tanggal 24 Oktober 2012. Berikut ini merupakan parameter Kualitas Aset Perseroan :
Keterangan 201731-Des2016
Kualitas Aset
Aset produktif bermasalah dan aset non produktif bermasalah terhadap total aset produktif
dan aset non produktif 4,44% 3,31%
Aset produktif bermasalah terhadap total aset produktif 5,48% 3,97%
Cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) aset keuangan terhadap aset produktif 2,23% 1,51%
NPL gross 6,57% 5,31%
(iii) Rentabilitas/Profitabilitas
Rentabilitas/Profitabilitas merupakan kemampuan Perseroan dalam meraih laba, merupakan salah satu indikator keberhasilan Perseroan dalam mengelola usaha. Perseroan berupaya meningkatkan rentabilitas dengan upaya efisiensi dalam operasional, meningkatkan portofolio penghimpunan dana dengan biaya yang lebih murah dan meningkatkan fee based income.
Rasio-rasio yang digunakan untuk mengukur rentabilitas secara umum antara lain ROA, ROE dan NIM.
Keterangan 2017 31-Des 2016
ROA -0,90% 0,15%
ROE -5,27% 0,70%
NIM 6,12% 6,13%
Rasio laba terhadap aset atau Return on Assets (ROA) Perseroan per 31 Desember 2016 dan 31 Desember 2017 masing-masing sebesar 0,15% dan -0,90%. Sedangkan rasio laba terhadap ekuitas atau Return on Equity (ROE) Perseroan per 31 Desember 2016 dan 31 Desember 2017 masing-masing sebesar 0,70% dan -5,27%. Disamping itu marjin bunga bersih atau Net Interest
Margin (NIM) Perseroan per 31 Desember 2016 dan 31 Desember 2017,masing-masing sebesar
6,13% dan 6,12%. (iv) Likuiditas
Likuiditas Perseroan masih dalam taraf aman dan dapat mengcover liabilitas jangka pendek. Dana yang belum dapat disalurkan ke kredit, dialokasikan pada SBI / FASBI, Deposit Facilitiesdan Obligasi Pemerintah (SUN), dimana ketiganya merupakan kategori alat likuid / High Quality Liquid
Asset (HQLA). Selain itu, sebagian dana lagi dialokasikan pada penempatan antar bank, yang
dipilih dengan margin yang menguntungkan dan tingkat risiko yang minimal.
Pengelolaan cash flow selama ini telah dilakukan dengan baik, dengan adanya koordinasi dengan kantor-kantor cabang apabila terdapat penarikan atau dana masuk dalam jumlah besar yang setiap saat dimonitor oleh Treasury guna menjaga posisi likuiditas Bank.
Pemantauan posisi likuiditas dilakukan secara harian, sedangkan analisa kebijakan yang berkaitan dengan likuiditas tersebut didiskusikan dan diputuskan dalam rapat-rapat ALCO (Asset dan Liability
Committee).
Perseroan tetap fokus mengelola risiko likuiditas maupun risiko pasar secara konservatif untuk mempertahankan pertumbuhan dan kestabilan usaha. Perseroan juga mengkaji potensi risiko dan mengambil langkah-langkah untuk mengurangi risiko tertentu, terutama yang berkaitan dengan
gapping suku bunga. Biaya pendanaan berhasil diturunkan secara signifikan, dengan stratejik penurunan suku bunga deposito secara bertahap, namun tetap mempertimbangkan stabilitas dana pihak sehingga likuiditas bank masih tetap terjaga.
Likuiditas perbankan antara lain dilihat dan diukur berdasarkan tingkat Giro Wajib Minimum, Rasio Kredit yang diberikan terhadap Dana Pihak Ketiga (LFR), Liqudity Coverage Ratio (LCR) dan Net
Stable Funding Ratio (NSFR).
Keterangan 201731 Desember2016
LDR 93,99% 84,18%
GWM Utama Rupiah 7,10% 6,68%
GWM Sekunder 8,48% 15,16%
GWM Valuta Asing 8,37% 8,10%
(v) Ketentuan Giro Wajib Minimum
Perseroan senantiasa memelihara primary reserve dalam bentuk Kas dan Giro Wajib Minimum (GWM) sesuai ketentuan yang berlaku. Bank Indonesia telah menerbitkan Peraturan No. 15/15/ PBI/2013 tanggal 14 Desember 2013dengan perubahan terakhir No.19/6/PBI/2017 tentang Giro Wajib Minimum Bank Umum dalam Rupiah dan Valuta Asing Bagi Bank Umum Konvensional. Berdasarkan peraturan tersebut, GWM terdiri dari GWM Rupiah dan GWM mata uang asing. GWM Rupiah terdiri dari GWM Utama, GWM Sekunder dan GWM LDR.
Pada tanggal 31 Desember 2016 dan 31 Desember 2017, GWM Perseroan dalam mata uang Rupiah untuk GWM Utama adalah masing-masing sebesar Rp 379.638 juta dan Rp 432.745 juta, untuk GWM Sekunder masing-masing adalah sebesar Rp 861.354 juta dan Rp 516.354 juta, sedangkan untuk GWM mata uang asing pada tanggal 31 Desember 2016 dan 31 Desember 2017 masing-masing adalah sebesar USD 4 juta dan USD 2,3 juta.
(vi) Batas Maksimum Pemberian Kredit
Dalam menjalankan kegiatan usahanya, Perseroan senantiasa memperhatikan dan memantau ketentuan Batas Maksimum Pemberian Kredit. Dalam melakukan beberapa transaksi penyediaan dana dengan pihak yang berelasi, Perseroan selalu menjaga rambu-rambu ketentuan dan transaksi tersebut dijalankan sesuai dengan prosedur yang berlaku, dan tidak ada perlakuan yang istimewa. Transaksi penyediaan dana dengan pihak berelasi mengacu pada Peraturan Bank Indonesia No.7/3/PBI/2005 tanggal 20 Januari 2005 dengan perubahan PBI No. 8/13/PBI/2006 tanggal 5 Oktober 2006.
Perseroan telah memiliki kebijakan mengenai penyediaan dana dengan pihak berelasi, dalam hal penyediaan dana tertentu kepada pihak berelasi wajib mendapatkan persetujuan dari Dewan Komisaris. Selain itu, guna meningkatkan dan mempermudah pengawasan terhadap penyediaan dana dengan pihak yang berelasi, Perseroan membuat serta mengkinikan daftar rincian pihak terkait (berelasi) yang merupakan rincian pihak-pihak yang memiliki hubungan pengendalian dengan Perseroan, baik secara langsung maupun tidak langsung, melalui hubungan kepemilikan, kepengurusan dan atau keuangan.
Perseroan memiliki sumber likuidtas diantaranya yaitu: 1. Penempatan pada Sertifikat Bank Indonesia
2. Penempatan pada Sertifikat Deposito Bank Indonesia 3. Interbank Call Money
4. Interbank Deposito 5. Nostro
6. Ekses GWM
Perseroan tidak memiliki sumber likuiditas yang material yang belum digunakan, mengingat Perseroan lebih menjaga Kecukupan Liquidity Reserves pada batas yang telah ditetapkan melalui kebijakan Internal. Hingga posisi 31 Desember 2017, kecukupan Likuiditas Perseroan dapat dijaga dan dikendalikan sesuai dengan batas yang telah ditetapkan. Langkah-langkah yang dilakukan Perseroan untuk mendapatkan modal kerja tambahan yang diperlukan yaitu melalui modal disetor dari Pemegang Saham dan pinjaman subordinasi.