IV. ANALISA DAN PEMBAHASAN OLEH MANAJEMEN
4. MANAJEMEN RISIKO
Kegiatan usaha Perseroan sebagai bank senantiasa dihadapkan pada risiko-risiko yang berkaitan erat dengan fungsinya sebagai lembaga intermediasi. Oleh karena itu, kegiatan operasional Perseroan dikelola dengan baik agar tidak menimbulkan kerugian bagi Perseroan.
Berdasarkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No. 18/POJK.03/2016 tanggal 16 Maret 2016, Perseroanmelakukan penilaian peringkat risiko secara self assesment ke dalam 5 kategori peringkat, yaitu :
1. Peringkat 1 (low)
2. Peringkat 2 (low to moderate) 3. Peringkat 3 (moderate) 4. Peringkat 4 (moderate to high) 5. Peringkat 5 (high)
Untuk menyusun laporan profil Risiko yang merupakan salah satu output Sistem Informasi Manajemen Risiko, Perseroan dalam melakukan penilaian terhadap Risiko pada seluruh aktivitas Bank baik berupa aktivitas bisnis utama maupun aktivitas penunjang yang mencakup 8 (delapan) jenis Risiko yaitu : 1. Risiko Kredit 2. Risiko Pasar 3. Risiko Likuiditas 4. Risiko Operasional 5. Risiko Kepatuhan 6. Risiko Hukum 7. Risiko Reputasi 8. Risiko Stratejik
Perseroan juga memiliki kebijakan dan prosedur tertulis untuk mengelola risiko yang melekat pada produk dan aktivitas baru.
1. Pengelolaan Risiko Kredit
Pengelolaan risiko kredit bertujuan agar eksposur risiko kredit dapat dikendalikan serta dimitigasi sesuai dengan strategi dan kebijakan manajemen risiko. Agar risiko kredit dapat dikendalikan, maka segala kegiatan di bidang perkreditan perlu perhatian khusus dari manajemen Perseroan, komite kredit, termasuk anggota Dewan Komisaris dan Direksi serta wajib berpedoman pada kebijakan perkreditan Perseroan.
Manajemen risiko kredit antara lain dilakukan terhadap hal-hal sebagai berikut:
a) Organisasi pengelolaan risiko kredit akan mengikuti perkembangan pertumbuhan volume usaha, khususnya yang berpotensi menimbulkan eksposur risiko kredit. SKMR akan secara proaktif melakukan proses identifikasi, pengukuran, pemantauan dan pengendalian risiko kredit.
b) Penyiapan sumber daya manusia yang mampu mendukung manajemen risiko kredit sesuai dengan rencana bisnis Perseroan dalam pengembangan pemberian kredit yang berpotensi menimbulkan eksposur risiko kredit. Dimensi penambahan jumlah SDM melalui proses rekrutmen dan peningkatan kualitas SDM melalui proses pelatihan.
c) Adanya Kebijakan Perkreditan yang mengacu pada prinsip kehati-hatian serta penetapan batas wewenang pemutus kredit berdasarkan kompetensi, integritas dan kemampuan. Evaluasi secara berkala terhadap Kebijakan Perkreditan dan kemampuan pejabat Perseroan dalam pengambilan keputusan pemberian kredit akan terus-menerus dilakukan.
d) Penerapan mekanisme Early Warning Signal untuk memantau debitur-debitur yang perlu diwaspadai dari tahap awal. Hal ini berfungsi sebagai penanggulangan tahap awal untuk mengurangi debitur-debitur yang macet.
e) Penerapan Selected Target Market&Risk Acceptance Criteria untuk menetapkan kriteria-kriteria risiko yang dapat diterima oleh Bank.
f) Penetapan limit dan toleransi terhadap risiko kredit serta mekanisme pemantauan serta upaya mitigasi terhadap eksposur risiko kredit yang timbul dan diversifikasi risiko melalui manajemen portofolio kredit.
g) Analisa kredit dilakukan dengan mengimplementasikan prinsip 5C yaitu Character, Capital,
Collateral, Capacity dan Condition of the Economy. Selain itu, analisa kredit juga akan dilakukan
dengan mempertimbangkan dampak pemberian kredit terhadap eksposur risiko selain risiko kredit, seperti risiko pasar, risiko likuiditas, risiko operasional, risiko hukum, risiko kepatuhan, risiko reputasi dan risiko stratejik.
h) Proses pengembangan dan implementasi sistem informasi manajemen risiko kredit yang terintegrasi sehingga mempermudah manajemen dalam melakukan monitoring kinerja perkreditan melalui tools dashboard Executive Information System (EIS).
i) Mengoptimalkan penanganan kredit bermasalah oleh “Workout and Recovery” unit agar pinjaman debitur bermasalah dapat diselesaikan dengan efektif dan efisien. Sejalan dengan hal ini, juga dibuatkan “lesson learnt” yang berguna sebagai bahan pelajaran yang berharga bagi segenap unit yang berkaitan dengan proses pinjaman.
j) Penerapan covenant monitoring system berbasis aplikasi untuk melakukan pemantauan
terhadap pemenuhan covenant yang dipersyaratkan dalam pemberian kredit.
2. Pengelolaan Risiko Pasar
Risiko pasar berkaitan langsung dengan aktivitas treasuri dan investasi dalam bentuk surat berharga dan pasar uang maupun penyertaan pada lembaga keuangan lainnya, penyediaan dana (pinjaman dan bentuk sejenis), kegiatan pendanaan dan penerbitan surat utang, serta kegiatan pembiayaan perdagangan.
Manajemen risiko pasar antara lain dilakukan terhadap hal-hal sebagai berikut:
a) Penetapan kebijakan pengelolaan risiko, limit risiko, pengendalian risiko, pemantauan risiko, yang timbul pada posisi trading book maupun banking book.
b) Penyiapan sumber daya manusia yang mampu mendukung manajemen risiko pasar sesuai dengan rencana bisnis bank untuk pengelolaan potensi risiko pasar.
c) Pada posisi banking book, penetapan suku bunga yang konservatif, baik pada posisi aktiva (penyediaan dana/pemberian kredit dan investasi) maupun pada sisi pasiva (dana pihak ketiga), sehingga potensi risiko pasar suku bunga dapat dikelola pada batas spread margin yang maksimal.
d) Pengembangan sistem pengukuran eksposur risiko pasar, antara lain melalui simulasi perhitungan VaR 99% dengan menggunakan metode statistical untuk mengukur kemampuan modal Bank mengabsorsi potensi kerugian hingga pada kondisi tertentu maupun kondisi terburuk.
e) Memastikan bahwa besarnya modal bank yang dibutuhkan cukup untuk mengcover risiko pasar trading book dan banking book.
3. Pengelolaan Risiko Likuiditas
Risiko likuiditas dapat dikategorikan menjadi :
a) Risiko likuiditas pasar, yaitu risiko yang timbul karena tidak mampu melakukan offsetting posisi tertentu dengan harga pasar karena kondisi likuiditas pasar yang tidak memadai atau terjadi gangguan di pasar.
b) Risiko likuiditas pendanaan, yaitu risiko yang timbul karena tidak mampu mencairkan asset atau memperoleh pendanaan dari sumber dana lain.
Perseroan mengelola risiko likuiditas agar dapat memenuhi setiap kewajiban finansial yang sudah diperjanjikan secara tepat waktu dan agar senantiasa dapat memelihara tingkat likuiditas yang memadai dan optimal. Pengelolaan likuiditas sangat penting karena kesulitan likuiditas dapat mengganggu kegiatan Bank dan dapat berdampak kepada sistem perbankan secara keseluruhan. Manajemen risiko likuiditas antara lain dilakukan terhadap hal-hal sebagai berikut:
a) Pengelolaan risiko likuiditas dilakukan melalui penetapan kebijakan, penetapan limit dan pemantauan atas pengelolaan risiko likuiditas.
b) Penyiapan sumber daya manusia yang mampu mendukung manajemen risiko likuiditas dan pembuatan perangkat untuk pengukuran dan pengendalian risiko likuiditas.
c) Penetapan strategi pendanaan.
d) Pengelolaan aset likuid berkualitas tinggi (HQLA).
e) Merancang Rencana Pendanaan Darurat (Contingency Funding Plan). f) Memelihara akses pasar yang mencukupi.
g) Memiliki Sistem Informasi Manajemen Likuiditas yang memadai.
h) Memelihara primary reserve dalam bentuk GWM sesuai ketentuan Otoritas Jasa Keuangan
dan penyediaan saldo kas yang optimal sesuai dengan pola perilaku nasabah.
i) Memelihara secondary reserve dalam bentuk Sertifikat Bank Indonesia, Fasilitas Bank
Indonesia lainnya, Surat-surat Berharga yang mudah untuk diperjualbelikan. Secondary
reserve merupakan alat dalam mengantisipasi kebutuhan likuiditas yang tidak terduga. 4. Pengelolaan Risiko Operasional
Penerapan manajemen risiko operasional akan dilaksanakan sejalan dengan penerapan rencana bisnis Perseroan, yang antara lain ditandai dengan pertumbuhan total asset, dana pihak ketiga dan permodalan Perseroan. Jenis produk dan layanan perbankan yang semakin beragam.
Manajemen risiko operasional antara lain dilakukan terhadap hal-hal sebagai berikut:
a) Peningkatan sistem pengendalian internal, antara lain dengan adanya kejelasan garis pelaporan dalam struktur organisasi dan proses pengawasan internal serta pertanggungjawaban tugas. b) Ketersediaan SDM dengan tingkat pengetahuan dan ketrampilan memadai untuk menunjang
kegiatan Perseroan. Melanjutkan program sertifikasi manajemen risiko kepada para pengurus dan pejabat Perseroan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
c) Meningkatkan produktivitas karyawan dengan pelatihan dan pengembangan, baik secara intern maupun ekstern.
d) Kecukupan ketentuan internal bank yang mencakup Kebijakan, Standar Operasional dan Prosedur (SOP), Manual dari masing-masing satuan kerja.
e) Pengamanan fisik pelaksanaan operasional dengan pembatasan akses sebagai restricted
area.
f) Menjaga dan mengembangkan pengamanan proses teknologi informasi pada electronic data processing seperti adanya prosedur back up rencana darurat yang diuji secara berkala. g) Tindak lanjut hasil pemeriksaan audit internal, audit eksternal, pemeriksaan Otoritas Jasa
Keuangan dan pemeriksaan otoritas lainnya.
h) Menciptakan budaya sadar risiko (risk awareness) melalui sharing kepada seluruh unit kerja baik secara langsung maupun tidak langsung melalui berbagai media yang disediakan oleh Perseroan diantaranya melalui media intranet Perseroan atau inhouse training/ workshop /
morning briefing.
i) Pemantauan terhadap kejadian fraud internal&fraud eksternal (jika ada), pelaksanaan mitigasi dan tindaklanjut terhadap proses penyelesaian kasus fraud dengan tujuan untuk efektifitas dan evaluasi pemberian mitigasi guna mengurangi munculnya fraud baru.
j) Penyiapan Business Continuity Program dan Disaster Recovery Plan sebagai salah satu
upaya mitigasi risiko operasional dalam keadaan darurat.
5. Pengelolaan Risiko Kepatuhan
a) Risiko kepatuhan ini melekat pada risiko Perseroan yang terkait pada peraturan perundang-undangan dan ketentuan lain seperti Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM), Posisi Devisa Netto (PDN), Penyisihan Penghapusan Aktiva (PPA), Kualitas Aktiva Produktif (KAP) dan Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK). Risiko kepatuhan juga berkaitan dengan penerapan Prinsip Mengenal Nasabah (PMN), Anti Pencucian Uang (APU) dan Pencegahan Pendanaan Terorisme (PPT).
b) Pengelolaan risiko kepatuhan akan dilakukan dengan menyempurnakan fungsi pengendalian intern yang independen serta mengoptimalkan pelaksanaan tugas dari Compliance Division.
6. Pengelolaan Risiko Hukum
a) Pengelolaan Risiko Hukum dilakukan antara lain oleh Corporate Legal Department yang berkewajiban melakukan review secara berkala terhadap kontrak dan perjanjian antara Perseroan dengan pihak lain guna melakukan pemeriksaan terhadap validitas hak dalam kontrak dan perjanjian.
b) Pemberian analisa dan legal opinion terhadap kegiatan operasional dan bisnis yang akan / telah dilakukan untuk meminimalisir munculnya gugatan hukum termasuk melakukan review terhadap Ketentuan Internal dengan mengacu pada Peraturan Perundang-Undangan yang berlaku
c) Peningkatan pemahaman para petugas Perseroan mengenai aspek-aspek yuridis yang perlu diperhatikan dalam membina hubungan dengan nasabah dan pihak-pihak eksternal lainnya. d) Pengelolaan atas dampak yang timbul dari Risiko Hukum antara lain pada proses penyelesaian
litigasi terkait dengan penyelesaian kredit bermasalah dan/atau penyelesaian gugatan dari nasabah yang muncul untuk segera diselesaikan.
7. Pengelolaan Risiko Reputasi
Pengelolaan risiko reputasi dilakukan antara lain oleh Corporate Secretary yang memiliki kewenangan dan tanggung jawab untuk memberikan informasi yang komprehensif kepada nasabah dan stakeholders lainnya dalam rangka mengendalikan risiko reputasi. Selain itu juga melakukan peningkatan kualitas pelayanan nasabah, dengan segera mengatasi keluhan nasabah dan gugatan hukum, menerapkan prinsip transparansi dan melaksanakan kebijakan komunikasi yang tepat dalam rangka menghadapi berita/publikasi yang bersifat negatif atau pencegahan informasi yang cenderung kontraproduktif.
8. Pengelolaan Risiko Stratejik
Dalam pengelolaan risiko stratejik, Direksi menetapkan rencana stratejik (corporate plan) dan rencana kerja (business plan) secara tertulis dan mengkomunikasikan kepada pejabat dan/atau pegawai Perseroan pada setiap jenjang organisasi, kemudian melaksanakan dan melakukan pemantauan atas rencana tersebut. Pemantauan dilakukan dengan mengidentifikasi kelemahan, kekuatan bank dan perkembangan kondisi eksternal secara langsung maupun tidak langsung yang dapat mempengaruhi strategi Perseroan yang telah ditetapkan serta memastikan penetapan strategi telah memperhitungkan dampaknya terhadap permodalan Perseroan.
Penilaian risiko perseroan yang disampaikan kepada Otoritas Jasa Keuangan dilakukan melalui proses self-assessment untuk menghasilkan profil risiko yang terdiri dari inherent risk yaitu risiko yang melekat pada aktivitas Perseroan dan Kualitas Penerapan Manajemen Risiko (KPMR), dalam meningkatkan kualitas KPMR-nya tidak hanya ditujukan bagi kepentingan Perseroan tetapi juga kepentingan nasabah, sehingga Perseroan diharapkan dapat mengukur dan mengendalikan risiko yang dihadapi dalam melakukan kegiatan usahanya dengan lebih baik.
Hasil penilaian profil risiko menunjukkan bahwa risiko keseluruhan bisnis Perseroan pada tanggal 31 Desember 2017 adalah Peringkat 2 (Low to Moderate) dengan kecenderungan tren stabil. Disamping itu untuk menghadapi risiko sebagaimana diuraikan di atas, Perseroan memiliki Komite-komite seperti Komite Pemantau Risiko, Komite Manajemen Risiko, Komite Kredit dan Komite Aset Liabilities (ALCO), Komite Strategi Anti Fraud, Komite Produk & Aktivitas Baru, Komite Kepatuhan , penyusunan dan evaluasi berkala terhadap kebijakan dan prosedur manajemen risiko, penetapan parameter dan limit risiko akan dapat mengantisipasi dan meminimalkan dampak negatif atas perubahan kondisi makro ekonomi yang disebabkan oleh kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah.