IV. ANALISA DAN PEMBAHASAN OLEH MANAJEMEN
1. UMUM
Kondisi Ekonomi dan Pasar
Pemulihan ekonomi global terus berlanjut diikuti dengan harga komoditas global yang tetap tinggi. Pertumbuhan ekonomi global 2018 diperkirakan relatif sama seperti tahun sebelumnya, dengan peningkatan sumber pertumbuhan yang berasal dari negara berkembang. Di negara maju, pertumbuhan ekonomi AS terus berlanjut ditopang konsumsi dan investasi. Sejalan dengan perkembangan tersebut, suku bunga Fed Fund Rate (FFR) diperkirakan akan kembali meningkat disertai penurunan neraca bank sentral sesuai rencana. Di sisi lain, pemulihan ekonomi Eropa diperkirakan sedikit tertahan dibayangi risiko politik di kawasan. Ekonomi Jepang 2018 diperkirakan tumbuh melambat karena kendala struktural
aging population dan stimulus fiskal yang semakin terbatas.
Sementara itu di negara berkembang, ekonomi Tiongkok diperkirakan tumbuh melambat pada 2018 seiring dengan perlambatan investasi akibat kebijakan pengetatan properti dan deleveraging. Secara keseluruhan, terdapat potensi pertumbuhan ekonomi global yang lebih tinggi terutama terkait dampak positif reformasi pajak terhadap pertumbuhan ekonomi AS. Berlanjutnya pemulihan ekonomi global tersebut akan mendorong volume perdagangan dunia dan harga komoditas global, termasuk minyak, yang lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2018 diperkirakan akan membaik bersumber dari menguatnya permintaan domestik sejalan dengan peningkatan investasi, konsumsi rumah tangga, dan stimulus fiskal. Sementara itu, ekspor diperkirakan tetap tumbuh positif seiring dengan berlanjutnya perbaikan ekonomi global dan harga komoditas yang masih tinggi. Secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi 2018 diperkirakan meningkat pada kisaran 5,1 – 5,5%.
Rupiah selama 2017 bergerak stabil. Untuk keseluruhan tahun 2017, Rupiah secara rata-rata harian relatif stabil dengan mencatat depresiasi tipis sebesar 0,60% menjadi Rp 13.385 per dolar AS. Pergerakan Rupiah yang stabil tersebut didukung oleh aliran modal asing ke Indonesia yang cukup signifikan sejalan dengan perkembangan eksternal dan domestik yang positif. Inflasi 2017 terkendali pada level yang rendah dan berada pada sasaran inflasi 4+1%. Inflasi IHK bulan Desember 2017 tercatat sebesar 0,71% (mtm), sehingga secara keseluruhan tahun inflasi 2017 mencapai 3,61% (YoY). Ke depannya, inflasi diperkirakan kembali berada pada sasaran inflasi 2018, yaitu 3,5+1%.
Stabilitas sistem keuangan tetap terjaga didukung tingginya rasio kecukupan modal. Pertumbuhan kredit akan lebih baik pada 2018 dan dapat berada dalam kisaran 10,0-12,0% (YoY), sejalan dengan perkiraan perbaikan ekonomi dan penerapan kebijakan makroprudensial terkait intermediasi dan pengelolaan likuiditas, serta progres program konsolidasi korporasi dan perbankan yang ditempuh. Sedangkan pertumbuhan DPK pada tahun 2018 diperkirakan lebih baik yakni dalam kisaran 9,00-11,00% (YoY).
Penghimpunan Dana Pihak Ketiga
Dana pihak ketiga dihimpun melalui berbagai bentuk produk simpanan dan tabungan yang ditawarkan kepada pihak ketiga. Perseroan senantiasa meningkatkan ragam dari produk penghimpunan dana serta meningkatkan fitur-fitur dan servis dari produk-produk tersebut. Secara umum, penghimpunan dana pihak ketiga baik perorangan maupun korporasi (perusahaan) mengandalkan seluruh jaringan kantor Perseroan yang saat ini berjumlah 60 kantor, dengan tingkat penyebaran yang cukup merata. Tingkat kepercayaan masyarakat terhadap Perseroan selama ini masih sangat baik,pertumbuhan DPK yang relatif stabil dan konsisten selama beberapa tahun terakhir, meskipun sedikit menurun dibandingkan tahun 2016.
Kepercayaan masyarakat perlu ditingkatkan dengan pengelolaan bank yang sehat dan transparan serta peningkatan mutu layanan yang prima, produk-produk pilihan nasabah yang menarik, serta kebijakan suku bunga yang kompetitif.
• Giro
Produk yang memberikan sarana dalam mendukung transaksi bisnis baik perorangan maupun non-perorangan, yang tersedia dalam mata uang Rupiah dan Valuta Asing (USD, EUR, JPY, SGD, dan HKD)
• Tabungan
Produk tabungan Perseroan terdiri dari Tabungan Japan, Sakura, Dollar, Parahyangan, dan TabunganKu. Tabungan Japan merupakan produk simpanan investasi yang membantu nasabah dalam mengelola dananya dan melakukan rencana keuangan jangka panjang dilengkapi fasilitas manfaat pertanggungan asuransi jiwa. Tabungan Sakura menawarkan layanan transaksi perbankan dengan tingkat bunga premium. Tabungan Dollar merupakan produk simpanan untuk memenuhi kebutuhan simpanan dalam mata uang asing serta membantu nasabah yang melakukan bisnis di sektor ekspor impor. Tabungan Parahyangan merupakan tabungan konvensional yang dirancang untuk kemudahan nasabah bertransaksi. TabunganKu merupakan produk tabungan untuk perorangan yang diterbitkan secara bersama-sama oleh bank-bank di Indonesia guna menumbuhkan budaya menabung serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
• Deposito Berjangka
Merupakan simpanan investasi dalam mata uang Rupiah dan USD dengan tingkat suku bunga yang menarik dengan jangka waktu 1,3,6,12 dan 24 bulan.
Kondisi Persaingan
Pemulihan ekonomi global terus berlanjut diikuti dengan harga komoditas global yang tetap tinggi. Pertumbuhan ekonomi global 2018 diperkirakan relatif sama seperti tahun sebelumnya, dengan peningkatan sumber pertumbuhan yang berasal dari negara berkembang. Di negara maju, pertumbuhan ekonomi AS terus berlanjut ditopang konsumsi dan investasi. Sejalan dengan perkembangan tersebut, suku bunga Fed Fund Rate (FFR) diperkirakan akan kembali meningkat disertai penurunan neraca bank sentral sesuai rencana. Di sisi lain, pemulihan ekonomi Eropa diperkirakan sedikit tertahan dibayangi risiko politik di kawasan. Ekonomi Jepang 2018 diperkirakan tumbuh melambat karena kendala struktural aging population dan stimulus fiskal yang semakin terbatas. Sementara itu di negara berkembang, ekonomi Tiongkok diperkirakan tumbuh melambat pada 2018 seiring dengan perlambatan investasi akibat kebijakan pengetatan properti dan deleveraging. Ekonomi India diperkirakan mulai pulih seiring hilangnya dampak demonetisasi dan penerapan sistem pajak baru. Secara keseluruhan, terdapat potensi pertumbuhan ekonomi global yang lebih tinggi terutama terkait dampak positif reformasi pajak terhadap pertumbuhan ekonomi AS. Berlanjutnya pemulihan ekonomi global tersebut akan mendorong volume perdagangan dunia dan harga komoditas global, termasuk minyak, yang lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.
Perekonomi Indonesia pada triwulan IV 2017 diperkirakan tumbuh stabil dan akan meningkat pada 2018.
Pada triwulan IV 2017, kinerja ekspor diperkirakan lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya di tengah pertumbuhan impor, terutama migas, yang masih cukup tinggi. Di sisi permintaan domestik, investasi membaik ditopang proyek infrastruktur pemerintah dan peran investasi swasta yang terus meningkat. Sementara itu, perbaikan konsumsi diperkirakan belum cukup kuat. Dengan perkembangan tersebut, untuk keseluruhan 2017, perekonomian domestik diperkirakan tumbuh sekitar 5,1%. Pada 2018, pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan membaik bersumber dari menguatnya permintaan domestik sejalan dengan peningkatan investasi, konsumsi rumah tangga, dan stimulus fiskal. Sementara itu, ekspor diperkirakan tetap tumbuh positif seiring dengan berlanjutnya perbaikan ekonomi global dan harga komoditas yang masih tinggi. Secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi 2018 diperkirakan meningkat pada kisaran 5,1-5,5%
Transmisi pelonggaran kebijakan moneter melalui jalur suku bunga terus berlangsung, tercermin dari berlanjutnya penurunan suku bunga deposito dan suku bunga kredit, meski belum dalam besaran yang diharapkan. Transmisi melalui jalur kredit juga masih belum optimal, tercermin pada pertumbuhan kredit yang masih terbatas sejalan dengan permintaan kredit yang belum tinggi dan perilaku bank yang masih selektif dalam memberikan kredit baru. Pertumbuhan kredit November 2017 tercatat sebesar 7,5% (yoy), lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yaitu sebesar 8,5% (yoy). Di tengah pertumbuhan kredit perbankan yang terbatas, pembiayaan ekonomi melalui pasar keuangan, seperti penerbitan saham, obligasi, dan medium term notes (MTN), terus tumbuh tinggi hingga mencapai 29,7% (yoy) pada November 2017. Sementara itu, pertumbuhan DPK pada November 2017 tercatat 9,8% (yoy), menurun dibandingkan bulan sebelumnya 11,0% (yoy). Dengan perkembangan tersebut, untuk keseluruhan 2017, DPK dan kredit diperkirakan tumbuh masing-masing sekitar 9,0% (yoy) dan 8,0% (yoy). Sejalan dengan perkiraan perbaikan ekonomi dan penerapan kebijakan makroprudensial terkait intermediasi dan pengelolaan likuiditas, serta progres program konsolidasi korporasi dan perbankan yang ditempuh, Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan DPK dan kredit akan lebih baik pada 2018, masing-masing dalam kisaran 9,0-11,0% (yoy) dan 10,0-12,0% (yoy).
Kebijakan Pemerintah
Kegiatan usaha yang dijalankan oleh Perseroan diatur oleh serangkaian kebijakan yang telah ditetapkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank Indonesia (BI) maupun ketentuan hukum dan peraturan perundang-undangan Indonesia lainnya. Selain itu, kegiatan usaha dan perkembangan bisnis Perseroan juga dipengaruhi oleh serangkaian kebijakan, hasil kondisi operasional dan kondisi keuangan Perseroan. Dalam rangka meningkatkan literasi keuangan untuk masyarakat umum dan nasabah khususnya, pada tanggal 14 Februari 2014 OJK mengeluarkan Surat Edaran No. 1/SEOJK.07/ 2014 tanggal 14 Februari 2014 tentang “Pelaksanaan Edukasi Dalam Rangka Meningkatkan Literasi Keuangan Kepada Konsumen Dan/atau Masyarakat”. Perseroan wajib untuk menyelenggarakan program edukasi dan rencana edukasi disusun dalam program tahunan.
Bank Indonesia mengeluarkan ketentuan tentang “Kewajiban Penggunaan Rupiah Di Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia” melalui Peraturan Bank Indonesia No. 17/3/PBI/2015 tanggal 31 Maret 2015 dan Surat Edaran Bank Indonesia No. 17/11/DKSP tanggal 1 Juni 2015, dalam rangka menjaga stabilitas Rupiah dan untuk lebih mengefektifkan pelaksanaan ketentuan dalam Undang-Undang mengenai mata uang yang mewajibkan penggunaan Rupiah dalam setiap transaksi untuk pembayaran yang dilakukan di Wilayah Indonesia.
Perkembangan terkini kondisi pasar valuta asing domestik menimbulkan tantangan terhadap upaya mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah. Salah satu tantangan yang muncul adalah tingginya permintaan masyarakat terhadap valuta asing untuk kegiatan yang tidak terkait secara langsung dengan kegiatan perdagangan dan investasi. Sehubungan dengan itu, Bank Indonesia melakukan penyempurnaan terhadap ketentuan terkait dengan Transaksi Valuta Asing Terhadap Rupiah Antara Bank dengan Pihak Asing maupun dengan Pihak Domestik. Penyempurnaan ketentuan yang berlaku mulai bulan Agustus 2015 berupa penurunan Threshold Transaksi Spot Nasabah Domestik dan Pihak Asing dari USD 100,000.00 (seratus ribu dolar Amerika Serikat) menjadi USD 25,000.00 (dua puluh lima ribu dolar Amerika Serikat), dan kelipatan nominal underlying dari USD 10,000.00 (sepuluh ribu dolar Amerika Serikat) menjadi USD 5,000.00 (lima ribu dolar Amerika Serikat).
Ketentuan tentang Transaksi Valuta Asing Terhadap Rupiah Antara Bank Dengan Pihak Domestik, terdiri dari : Peraturan Bank Indonesia (PBI) No. 16/16/PBI/2014 tanggal 17 September 2014, sebagaimana telah diubah masing-masing dengan PBI No. 17/6/PBI/2015 tanggal 29 Mei 2015 dan PBI No. 17/13/ PBI/2015 tanggal 25 Agustus 2015, serta Surat Edaran Bank Indonesia (SE BI) No 16 14 DPM tanggal 17 September 2014 sebagaimana telah diubah dengan SE BI No. 17/15/DPM tanggal 12 Juni 2015 dan SE BI No.17/20/DPM tanggal 28 Agustus 2015.
Ketentuan tentang Transaksi Valuta Asing Terhadap Rupiah Antara Bank Dengan Pihak Asing, terdiri dari : PBI No. 16/17/PBI/2014 tanggal 17 September 2014 sebagaimana telah diubah dengan PBI No. 17/7/PBI/2015 tanggal 29 Mei 2015 dan PBI No.17/14/PBI/2015 tanggal 25 Agustus 2015, serta
Surat Edaran Bank Indonesia (SE BI) No. 16 15 DPM tanggal 17 September 2014 sebagaimana telah diubah dengan SE BI No. 17/16/DPM tanggal 12 Juni 2015 dan SE BI No.17/21/DPM tanggal 28 Agustus 2015.
Ketentuan tentang Peraturan Pemerintah Pengganti Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2017 tentang Akses Informasi Keuangan Untuk Kepentingan Perpajakan.
Ketentuan tentang Gerbang Pembayaran Nasional (National Payment Gateway), terdiri dari : Peraturan Bank Indonesia (PBI) No. 19/8/PBI/2017 tanggal 22 Juni 2017 dan Peraturan Anggota Dewan Gubernur (PADG) No. 19/10/PADG/2017 tanggal 20 September 2017.
Program Peningkatan Kinerja
Perseroan menyadari bahwa iklim persaingan akan menjadi semakin ketat di masa mendatang. Untuk mempertahankan dan meningkatkan kinerjanya, Perseroan telah mencanangkan beberapa strategi bisnis dalam menghadapi kompetisi dengan bank-bank lainnya.
Arah Kebijakan Perseroan
Arah Kebijakan Perseroan dalam jangka pendek
Berdasarkan Surat yang dikirimkan oleh perseroan No.0104/BNP-CPPM/2/2018 tanggal.26 Februari 2018 perihal Penyampaian Revisi Rencana Bisnis Bank Tahun 2018-2020, kebijakan Perseroan dalam jangka pendek diarahkan untuk :
Target Jangka pendek didefinisikan sebagai sasaran yang hendak dicapai dalam kurun waktu sampai 1 (satu) tahun ke depan, diantaranya:
a. Pertumbuhan total aset mencapai Rp 8,08 triliun;
b. Pertumbuhan Loan sebesar 7,00% atau mencapai Rp 6,25 triliun;
c. Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga sebesar 5,86% atau mencapai Rp 6,58 triliun; d. Perolehan Laba sebelum pajak Rp 10,13 miliar;
e. Rasio NPL diproyeksikan menjadi 5,98% (Gross) dan 4,48% (Netto).
Arah Kebijakan Perseroandalam jangka menengah
Kebijakan Perseroan dalam jangka menengah diarahkan untuk mendorong :
Target Jangka Menengah didefinisikan sebagai sasaran yang hendak dicapai dalam kurun waktu sampai 3 (tiga) tahun ke depan, diantaranya:
a. Memiliki struktur permodalan yang mampu mendukung pertumbuhan bisnis di tengah persaingan pasar yang cukup ketat dengan prioritas mengandalkan pertumbuhan modal organik, Bank berharap upaya penambahan modal dalam bentuk saham sudah terlaksana sehingga dukungan terhadap akselerasi bisnis, rasio kecukupan modal, dan modal inti sudah optimal;
b. Pertumbuhan aset yang mengutamakan kualitas, yang mencapai angka Rp 9,36 triliun; c. Pencapaian positif perolehan Laba Operasional sebesar Rp 68,78 miliar;
d. Menjaga likuiditas yang sehat dengan mengelola penghimpunan dana dan penyaluran kredit yang baik;
e. Mengoptimalkan jaringan kantor yang ada, merelokasi kantor, melakukan perubahan status, dan melakukan penutupan kantor, sehingga dapat mendukung akselerasi bisnis yang lebih efektif; f. Kredit Tanpa Agunan menjadi ciri khas bisnis Perseroan dan secara bertahap kedepannya menjadi
salah satu produk unggulan Perseroan dengan total kredit diproyeksikan pada kisaran Rp259,90 miliar di tahun 2020;
g. Menerapkan tata kelola perusahaan dengan baik dan menjadikannya budaya organisasi dengan komitmen dan keterlibatan dari seluruh aspek organisasi mulai dari PSP, Dewan Komisaris, Direksi, dan seluruh level karyawan di Perseroan.
Langkah-langkah Strategis yang akan ditempuh Perseroan
• Pengembangan Bisnis
Dalam upaya untuk meningkatkan pencapaian kinerja bisnis, Bank BNP menetapkan strategi bisnisnya dengan fokus kepada perbaikan model bisnis yang lebih ideal dengan tetap comply terhadap ketentuan yang berlaku. Strategi yang diterapkan hendaknya dapat memberikan dukungan yang bersifat langsung pada upaya pencapaian target yang telah ditetapkan.
• Strategic Positioning
Kondisi Pasar yang semakin ketat sangat berpengaruh terhadap kinerja perseroan ditahun mendatang akan tetapi manajemen masih memfokuskan pada internal improvement yang bertujuan memiliki landasan yang kuat dengan menetapkan langkah-langkah strategis dalam upayanya memantapkan positioning Bank BNP sebagai Bank yang menjadi mitra usaha nasabah yang sehat dan terpercaya, diantaranya dengan peningkatan peran dan fungsi manajemen risiko, Melaksanakan tata kelola usaha yang baik dan benar seiring pertumbuhan dan perkembangan perusahaan yang berkesinambungan, serta meningkatkan kualitas produk dan layanan berbasis teknologi yang mampu melampaui harapan nasabah
• Strategi Produk
Kepuasan nasabah menjadi pokok utama dalam mengeluarkan produk-produk baru ini yang tentunya telah melalui analisa dan pengamatan yang seksama atas kebutuhan dari nasabah dan juga kondisi persaingan di pasar. Perseroan lebih mengoptimalkan produk-produk yang sudah ada. • Manajemen Sumber Daya Manusia
Rencana pemenuhan dan pengelolaan SDM serta rencana pengisian kekosongan pegawai setingkat kepala departemen adalah sebagai berikut.
DIVISI Department Kekosongan Posisi Keterangan
Financial Control 3 1 Rangkap Jabatan Financial Control Deputy Division Head dengan Accounting Department Head
Human Capital &
Corporate Services 7 3
1. Rangkap Jabatan antara Corporate Services Deputy Division Head dengan Corporate Services Dept. Head
2. Rangkap Jabatan antara HC Deputy Division Head dengan HCPD Department Head.
3. Field Collection Dept. Head Information
Technology 5 1 Rangkap Jabatan antara IT Deputy Division Head dengan SIDI Dept. Head
KTA Mirai+ 10 2
1. Rangkap Jabatan antara Sales Distribution Deputy Division Head dengan Area Sales III - (sudah ada kandidat)
2. Rangkap Jabatan antara Sales Distribution Deputy Division Head dengan Sales Support Dept. (akan dihapuskan di struktur) Regional Business
Area Jakarta 12 2
1. Kekosongan di Central lending Office VA (Penambahan Lending Manager)
2. Kekosongan Branch Manager di KCP Jatinegara
Regional Business
Area Jawa Barat II 22 5
1. Rangkap jabatan antara Area Business Lending dengan Central Lending Office II J - (sudah ada kandidat) 2. Kekosongan Branch Manager di KC Bekasi - (proses resourcing)
3. Kekosongan Branch Manager di KCP Pasar Baru 4. Kekosongan Branch Manager di KCP Gatot Subroto 5. Kekosongan Branch Manager KCP Jababeka - (sudah ada kandidat)
Regional Business Area Jawa Timur &
Bali 7 1
Kekosongan di Central lending Office IV B - (Penambahan Lending Manager)