Untuk terjadinya kehamilan harus ada sel spermatozoa, sel telor (ovum) yang bersatu membentuk konsepsi dan hasil konsepsi menanamkan dirinya di dalam endometrium.
Melalui proses oogenesis terbentuklah ova dari oogonia. Sebelum janin wanita lahir, sebagai besar oogonium mengalami perubahan - perubahan. Terjadi pembelahan mitosis oogonium perubahan - perubahan. Terjadi pembelahan mitosis oogonium menjadi oosit primer (46 khromosoma, diploid) waktu lahir dan masa pubertas ditemukan 400.000 - 500.000 yang kemudian mengalami degerasi sehingga tinggal 400 - 500 oosit. Pada waktu pematangan pertama dengan proses miosis pertama dari oosit primer terbentuk oosit sekunder (23 khromosom, haploid) dan badan kutub pertama. Pematangan kedua terjadi setelah spermatozon membuahi ovum, di mana terjadi pembelahan sel dengan terbentuknya satu ovum dengan 3 badan kutub kedua. Badan kutub ini terletak di antara zona pellusida dan membrana vitellina dari ovum yang telah dipenetrasi oleh spermatozoon. Jadi dapat dipahami bahwa oosit pertama yang dalam fase prohase pada pembelahan meiosis, oleh rangsangan FSH pembelahan berjalan terus, benda kutub (polar body) pertama tersisih dengan sitoplasma yang sedikit, sedangkan oosit kedua dengan sitoplasma yang cukup banyak, dan proses pematangan inilah yang dikatakan proses pematangan pertama. Melalui proses spermatogenesis terbentuklah spermatid dari spermatogonia. Pada pertumbuhan embryonal sperma togonium berasal dari sel - sel primitif tublus - tublus testis. Pada masa pubertas, sel - sel spermatogonium di bawah pengaruh sel Leydig mengadakan pembelahan mitosis. Dari pembelahan sel ini terjadi spermatosit pertama (46 khromosom, diploid). Pada proses pembelahan meiosis, spermatosit primer menjadi spermatosit sekunder (spermatosit kedua) yang jumlah khromosom 23, haploid. Dengan pembelahan meiosis kedua terbentuklah spermatozoa. Ejakulasi di sekitar porsio pada waktu koitus kira - kira 2 - 5 ml semen dengan jumlah spermatozoa 120 - 200 juta/ml, dengan 60 - 90% bentuknya normal. Dari jumlah yang banyak ini hanya satu spermatozoon yang mempunyai kemampuan (kapasitasi) untuk membuahi oosit. Dari ratus ribuan spermatozoa yang masuk ke dalam kavum uteri dan terus ke dalam tuba falloppii menuju
ampulla tubae, di mana ovum biasanya sudah siap untuk dibuahi, atau tempat pembuatan yang umumnya terjadi.
Bila satu spermatozoon yang telah mengalami proses kapasitasi, dapat melintasi zona pellusida masuk ke dalam vitellus, maka zona pellusida segera mengadakan perubahan sehingga mempunyai sifat tidak dapat dilintasi lagi oleh spermatozoon lain. Ovum yang sekarang sudah dengan pronukleus yang haploid bersatu dengan pronukleus spermatozoon yang juga haploid bersatu dengan pronukleus spermatozoon yang juga haploid membentuk zygote yang bahan genetiknya dari wanita dan pria. Jadi fertilisasi berarti, jika terjadi pertemuan dan persenyawaan antara ovum dan spermatozoon. Istilah zygote berarti bahwa telah bersatu kedua pronukleus dalam satu sel sebelum terjadi segmentasi. Beberapa jam setelah terjadi pembuahan, mulailah pembelahan zygote (segementasi). Keadaan ini dimungkinkan karena di dalam sitoplasmanya banyak terdapat asam amino dan enzim. Dalam 3 hari terbentuklah kelompok sel - sel yang sama besarnya dan berbentuk buah murbei, disebut morula. Pada stadium morula ini berasalnya hasil konsepsi tidak berubah sebab zona pellusida masih tetap utuh, sedang volume vitellus yang sangat berkurang sebab terisi oleh morula. Dalam bentuk dan ukuran tetap demikianlah hasil konsepsi disalurkan terus ke dalam kavum uteri. Di dalam kav. Uteri barulah mencapai stadium blastula. Di dalam murula berbentuk ruangan eksosulom yang terletak eksentris dan berisi cairan yang sekarang disebut blastokist, yang sekitarnya dikelilingi oleh sel-sel yang membentuk dinding blastula. Dengan demikian blastula diselubungi oleh satu simpai yang terdiri dari sekelompok sel yang merupakan dinding disebut trofoblast. Trofoblast inilah yang memberi makan ovum sampai terbentuk sirkulasi darah didalam plasenta. Trofoblast ini mempunyai kemampuan menghancurkan dan mencairkan sel desidua atau sel-sel endometrium yang sudah dalam fase sekresi. Ketika blastokist menyentuh endometrium trofoblast menghancurkan sel-sel endometrium sebagai bahan makanan, kemudian blastokist masuk dan menanamkan dirinya ke dalam endometrium , peristiwa inilah yang disebut implantasi atau nidasi. Kira-kira 6 hari setelah fertilitasasi barulah terjadi impantasi pada dinding uterus. Umumnya implantasi terjadi pad dinding depan atau dinding belakang di daerah fundus uteri. Pada umumnya blastula menyentuh endometrium pada bagian yang mengandung bintik benih atau nodus embryonal (=inner cell mass). Yang
dimaksud dengan bintik benih ilah sekelompok sel yang padat yang terletak di dalam blastula yang kemudian akan berdifferensiasi menjadi lapisan ektorern mesoderm dan endoderm yang membentuk diskus embryonal yang bakal menjadi mudigah.
Dikatakan bahwa penempatan inner cell mass inilah yang menyebabkan tali pusat berpangkal sentral atau parasentral. Bila yang menanamkan diri adalah bagian lain, mungkin ini yang menyebabkan terjadinya tali pusat dengan insersio velamentosa. Kadang-kadang pada saat nidasi terjadi perdarahan pada tempat masuknya ke dalam endometrium yang disebut tanda dari Hartman.
Sel-sel trofoblast cepat berproliferasi dan sewaktu trofoblast menyentuh endometrium sudah differensiasi, sehingga dapat dibedakan 2 lapisan sel :
1.
lapisan sinsitium atau sinsitiorofoblast : merupakan lapisan sebelah luar yang berhubungan dengn desidua. Sitoplasmanya berbintik-bintik dengan nuklei berwarna gelap dan tidak teratur.2.
Lapisan sitotofoblast atau Lapisan Langhans, merupakan lapisan sebelah dalam, sel-sel kuboid, sitoplasma jernih dan nuklei berwarna terang.Dalam tingkat nidasi trofoblast telah menghasilkan hormon khoriogonadotropin (= Human Chorionic Gonadotropin = HCG). Diduga fungsi hormon ilah agar korpus luteum hidup terus guna menghasilkan progesteron, sampai plasenta dapat membuat sendiri progesteron. Hormon ini dapat ditemukan dalam kencing wanita hamil dan inilah yang menjadi dasar test kehamilan.
Dengan impalntasi trofoblast aktif mengadakan proliferasi menyerbu dan menghancurkan jaringan endometrium (desidua) di sekitarnya dan dengan demikian dapat dipahami bahwa trofoblast itu penting dalam mempertahankan kehamilan.
Karena pengaruh progesteron endometrium menyiapkan diri untuk implantasi dan memberi makan pada blastokist. Pada gravidus endometrium disebut desidua. Sel-sel stroma endometrium membesar dan berbentuk poligonal. Lapisan desidua yang meliputi buah kehamilan, sebagai akibat pertumbuhannya dapat dibedakan menjadi :
a)
desidua kapsularis, yang terletak di antara buah kehamilan (ovum) dan kavum uteri, b) desidua basalis, yang terletak antara buah kehamilan dengan miometriumb)
desidua vera atau desidua parietalis, ialah desidua yang lainnya yang tidak mengandung buah kehamilan. Di daerah desidua basalislah nantinya plasenta terbentuk. Dengan tumbuh dan bertambah besarnya kehamilan maka pada saat desidua kapsularis berdempat dengan desidua vera sehingga akhirnya kavum uteri lenyap (pada kehamilan 4 bulan)Hasil kehamilan yang sudah menanamkan dirinya ke dalam desidua, disebelah luarnya sudah dilapisi oleh jonjot-jonjot yang dinamakan villi khorialias dan berpangkal pada khorion. Seperti telah dikatkan trofoblast bersifat menghancurkan desidua dan termasuk juga arteri spiralis, akibatnya pembuluh darah yang dihancurkan yang disebut lakunae. Lakunae ini bergabung menjadi satu sehingga tampak ada bagian-bagian ruangan yang terisi oleh villi khorialis, dan seakan - akan villi tersebut mengapung - apung di dalamnya, ruangan ini sekarang disebut ruangan interviller. Sebagian dari villi khorialis tetap melekat pada desidua dan ada pula desidua yang tidak dihancurkan, maka terbentuklah sekat (Septa plasenta) yang dapat dilihat pad plasenta pada permukaan maternal. Di dalam masenkhim villi khorialis terjadi proses angiogenesis sehingga terbentuk sel - sel darah merah dan pembuluh darah. Di duga, kira - kira 17 hari setelah fertilisasi sudah terbentuk sirkulasi fetal dan sirkulasi maternal seperti sirkulasi plasenta sesungguhnya. Villi yang tumbuh ke arah desidua kapsularis tidak dapat tumbuh terus sehingga akhirnya terhenti dan mengalami degenerasi dan khorion yang tidak mengandung villi itu disebut khorion laeve, sedangkan villi yang berhubungan dengan desidua basalis tetap hidup dan mengadakan prolifarasi membentuk khorion fronsosum, dan inilah yang membentuk bagian foetal plasenta. Jadi dapat dikatakan bahwa di mana terdapat khorion frondosum di situ akan berkembang pembentukan plasenta. Beberapa villi khorion fondosum tanpa mensenkhim menanamkan dirinya ke dalam desidua yang disebut villi pancang, untuk pegangan foetus. Sebagian besar villi bercabang - cabang dengan ujungnya yang terapung - apung untuk mencari makanan dari darah yang terdapat di dalam ruang interviller. Tiap tiap villi utama dengan cabang -cabangnya membentuk kotiledon yang jumlahnya tetap sampai plasenta sempurna. Pada akhir kehamilan plasenta terlihat berbentuk cakram, diameter 15 - 20 cm, tebal 2 - 3 cm dan berat kira - kira 500 gram, serta kelihatan 15 - 20 kotiledon yang dipisah - pisahkan oleh septa.
Plasenta mempunyai 2 permukaan :
a.
Permukaan foetal, yang menghadap ke arah janin, permukaannya tertutup oleh amnion yang transparant sehingga tampak pembuluh - pembuluh darah di bawahnya.b.
Permukaan maternal, yang menghadap ke uterus, berwarna merah, dan disinilah tampak lobi yang dibagi - bagi oleh septa.Sirkulasi darah fetomaternal dapat dijelaskan sebagai berikut : Dari tiap - tiap cabang villi khorialis utama terdapat sistem vana dan arteria yang menuju ke vena dan arteri umbikalis. Sebagian besar dari cabang - cabang villi seakan tergantung di dalam ruang interviller yang berisi darah ibu yang cukup mengandung
makanan dan zat asam. Darah ibu memancar ke dalam ruang iterviller karena tekanan darah ibu sendiri yang kemudian ini kembali ke bawah dan masuk ke dalam vena di pinggir plasenta, yang disebut sinus marginalis atau sinus sikurlasi, disamping dapat masuk kembali ke dalam vena yang berada di dasar ruangan tersebut. Dengan keterangan ini jelas bahwa darah janin dan darah ibu tidak tercampur. Membran yang memisahkan antara kedua darah ini disebut membrana yang terdiri dari lapisan sinsitium, lapisan Langhans, jaringan pengikat dan endothel kapiler. Akan tetapi ternyata pemisahan ini tidak sempurna, sebab dalam keadaan normal ditemukan juga sel - sel darah foetus dalam darah ibu, sebaliknya sel - sel darah ibu masuk ke dalam sirkulasi darah foetus, misalnya leujosit, trombosit dan limfosit.
DESIDUA
Desidua pada umumnya terdiri dari 3 lapisan yang dapat dibedakan dari strukturnya yakni :
1.
Zona kompakta, yakni susunannya bersifat padat.2.
Zona Spongiosa, yang banyak mengandung kelenjer dan pembuluh darah yang lebar, sehingga pada penampangnya terlihat seperti spons. Kedua zona ini yang dikatakan zona fungsionalis.3.
Zona basalis, dan zona ini tetap ada setelah plasenta lepas dan dari sinilah tumbuh endometrium yang baru. Ada juga desidua yang tidak terhancur oleh trofoblast dan akhirnya mengalami degenarasi fibrinoid, yang terletak antara trofoblass dan desidua yang merupakan lapisan yang disebut lapisan Nitabuch, yang pada waktu plasenta lepas ketika melahirkan, plasenta dari lapisan ini. Kalau sekiranya terjadi plasenta akreta maka lapisan Nitabych ini tidak ada.Faktor - faktor yang mempengaruhi aliran darah di dalam ruang interviller ialah :
1.
Tekanan darah arterial.2.
Tekanan intra uterin.3.
Kontraksi uterus4.
Hal - hal yang dapat mempengaruhi dinding arteriole.PLASENTA DAN LIQUOR AMNII
Plasenta selain berfungsi sebagai organ yang menjembatani antara janin dan ibu, ibu sebagai oragan endokrin yang penting dalam mempertehankan kehamilan.
Sebagai tempat pertukaran zat, terlihat peranan ruang interviller yang berisi darah yang berasal dari arteria spiralis yang berada di dalam desidua basalis. Arteria spiralis yang berada di dalam desidua basalis. Arteria spiralis biasanya tegak lurus, sedangkan vena sejajar dengan dinding uterus. Pada waktu sistole, darah sekan
- akan disemprotkan dengan tekanan 70 - 80 mmHg, seperti halnya air mancur sampai membasahi semua villi khiroalis, dan kembali perlahan - lahan ke dalam vena pada desidua dengan tekanan 8 mmHg. Di tempat -tempat tertentu pada implantasi plasenta terdapat sinus marginalis. Dapat diketahui bahwa darah ibu yang mengalir diseluruh plasenta meningkat dari 300 ml tiap menit pada kehamilan 20 minggu menjadi 600 ml tiap menit pada kehamilan 40 minggu. Diperkirakan ruang interviller tanpa villi volumenya 150 - 250 ml. Permukaan semua villi diperkirakan 11m2, maka dengan demikian pertukaran zat melalui plasenta terjamin.
Dengan bertambah tuanya kehamilan terjadi pula perubahan - perubahan pada jonjot. Penting untuk janin ialah perubahan untuk menambah permeabilitas membrana plasenta. Kira - kira pada kehamilan minggu ke-16 sudah mulai ada perubahan di mana sebagian sel - sel Langhans mulai menghilang. Pada kehamilan 24 minggu lapisan sinsitium menipis tapi lapisan langhans berkurang sekali dan hanya ditemukan sebagai kelompok - kelompok sel, stroma jonjot jadi lebih padat, mengandung fagosit - fagosit dan pembuluh darahnya lebih besar dan lebih mendekati permukaan sinsitium. Pada kehamilan 36 minggu sel - sel sitotrofoblast tidak ada lagi. Di samping itu terjadi pula kalsifikasi pembuluh darah di dalam jonjot - jonjot dan pembentukan fibrin di permukaan beberapa jonjot. Jika deposit fibrin ini banyak, maka ia dapat menutup villi sehingga tersumbat dan aliran darah lama - lama berkurang, terjadi proses degenerasi dan penimbunan fibrin serta kalsifikasi, terjadi infark.
Sebagai tempat pertukatan zat - zat makanan dan oksigen dari darah ibu masuk ke dalam darah janin, sebaliknya hasil metabolisme dan karbondioksida dari darah janin ke dalam darah ibu melalui villi khorialis yang utuh di dalam plasenta. Pertukaran zat dapat terjadi :
1.
Secara pasif, yakni dengan cara diffusi biasa (oksigen dan karbondioksida), atau dengan zat pengangkut terjadi diffusi (facilitated diffusion) misalnya gukose. Dapat pula terjadi diapedese misalnya ertrosit.2.
Secara aktif, yakni bahan - bahan pengangkut yang mengandung enzim secara aktif membawa zat - zat ke dalam sitoplasma sinsitium. Yang dibawa secara aktif ini misalnya asam amino, asam lemak, hormon, dan ion - ion anorganik. Di samping dengan bantuan enzim dapat juga melalui proses pinositosis, yakni mikrovilli mengepung molekl - molekul dan membawanya ke dalam kapiler darah janin, seperti transport dari protein dan lipid.Transfer dari trofoblas ke dalam kapiler yang melalui stroma dibantu oleh pagosit - pagosit tertentu di dalam villi (Hofbauer’s cells).Plasenta sebagai organ endokrin,
menghasilkan berbagai - bagai hormon seperti : khoriogonadotropin, progesteron, oestrogen, plasentolaktogen (human plasental lactogen = HPL), human chorionic thyrotropin, dan lain - lain.
HCG dalam urine meningkat ekskresinya dan maksimum antara kehamilan 60 - 80 hari, dan kadar lebih rendah antara kehamilan 100 hari sampai kehamilan cukup bulan. Kadar dalam urine paralel dengan kadar di dalam darah.
HCG di buat sinsitium (trofoblast) sejak hari - hari permulaan kehamilan dan dapat dideteksi secara radioimuno assay pada konsepsi berumur 10 hari, di dalam serum. Titer yang tinggi terdapat pada kehamilan ganda, kehamilan dengan foetus erithroblastosis, mole (mola hidatidosa) dan khorio - karsinoma.
HCG berfungsi mempertahankan korpus luteum apda kehamilan muda. Diduga juga berperan di dalam proses imunologi trofoblast, dan menginduksi terjadinya ovulasi pada ovarium yang telah cukup dipengaruhi FSH. Plasentolaktogen (HPL) sudah dapat ditemukan di dalam trofoblas setelah minggu ketiga dari saat ovulasi. Pada 4 - 6 minggu sesudah fertilisasi dan kadarnya meningkat pada kehamilan trimester I dan II sesuai dengan besarnya plasenta. HPL dihasilakn oleh trofolast dan berperan sebagai lipolisis, sehingga menambah asam lemak bebas dalam sirkulasi darah ibu, dengan demikian tersedia sumber tenaga untuk metabolisme ibu, makanan janin. Di samping itu HPL sebagai anti insulin di perifeer akan tetapi dapat mestimulasi sekresi insulin secara sentral. Keadaan inilah barangkali yang menjadi alasan hormon ini memberikan efek di abetoginik pada kehamilan. Selain ini juga kerjanya meniru fungsi prolaktin yang menyebabkan pertumbuhan buah dada dan air susu bila telah dipersiapkan oleh hormon estrogen dan progesteron.
Hormon estrogen, tidak langsung dihasilkan plasenta, tetapi dengan bantuan enzim, plasenta merubah bahan inaktif yang berasal dari korteks adrenal ibu dan janin,berupa dehidroisoandrosteron sulfat, yang berubah menjadi estron dan 17-B-oesatradiol. Selama kehamilan terdapat suatu keadaan hiper estrogen, yang berkurang mendadak setelah buah kehamilan lahir. Pemeriksaan kadar oestradiol dari urine yang berulang-ulang dapat memberikan gambaran feto palsenta (fungsi plasenta). Esterogen dalam bentuk estradiol, estron dan estriol ditemukan dalam kosentrasi yang lebih tinggi di vena uterina dari pada di uterina, ini menunjukan bahwa estrogen dibuat oleh plasenta. Produksi estrogen dari plasenta ini perlu dikatahui dengan melibatkan kelenjer suprarenalis dari janin. Bila kehamilan dengan tidak ada janin (molahidatidosa), janin mati, janin ancephalus, janin tanpa
kelenjer suprarenalis atau ada kerusakan enzim-enzim maka pengeluaran estrogen dalam kencing berkurang. Hormon progestreron, sejak mulai kehamilan kadarnya menaik dan kaddarnya tetapdalam serum setelah kehamilan mencapai umur 32 minggu. Enzim-enzim di dalam plasenta membuat progesteron dari kholesteron dalam bentuk lipoprotein. Progesteron yang pada permulaan dibuat oleh korpus luteum, kemudian seteah plasenta terbentuk sinsitium dan trofoblastlah yang membuatnya. Pregnandiol merupakan hasil metabolisme progesteron yang terjadi dihepar dan kemudian keluar melalui kencing.
Progesteron pada kehamilan kerjanya menenangkan otot -otot polos uterus, tetapi juga dari lambung, usus, ureter. Progesteron bersma dengan estrogen menumbuhkan tubulus -tubulus dan alveolus-alveolus pada mammae. Pada akhir kehamilan produksi progesteron tiap hari kira-kira 250 mg. Plasenta walaupun dikatakan mengahasilkan17 - hidroksiprogesteron, namun jumlahnya kecil sekali.
Membrana Plasenta :
Tampak bahwa membrana plasenta inilah merupakan jaringan embrio yang berbatasan dengan jaringan ibu dan sebagai penghubung dari ibu ke janin atau dari janin ke ibu. Fungsibarrier (penghalang) terhadap bakteri dan virus tidaklah sepenuhnya efektif, karena ada virus yang dapat lewat plasenta dari ibu ke janin yang dapat menimulkan kelainan pada janin. Sebagai barrier dapat dibedakan :
1.
Barrier mekanik-fisik, misalnya bahan yang berat melekulknya lebih dari 1000 tidak dapat lewat membrana plasenta (Heparin), sedangkan yang berat molekul kurang dari 1000 dapat lewat (koumarin).2.
Barrier kimiawi, dalam hal ini misalnya insulin ibu yang masuk ke dalam sinsitium dirubah lebih dulu.Pemberian obat-obat untuk ibu hamil haruslah diperhatikan benar, terutama pada kehamilann trimester I. Terhadap pembentukan antibodi jani sendiri sangat terbatas, sehingga antibodi tertentu dapat lewat plasenta ke janin seperti variola, difteri, suntikan tetanus toksoid dan lain-lain. Pada pertumbuhan ovum yang telah dibuahi, yang disebut zygote, mengalami proses segmentasi menjadi blastomer, yang akhirnya menyerupai buah murbei (=stadium mormula). Di dalam perkembangan selanjutnya terlihat ruangan atau rongga eksosulom, yang berisi cairan, dan disebut blastokist ini dikelilingi oleh sel-sel gepeng atyau membranna eksosulom. Selanjutnya terjadi differensiasi menjadi nodus emberyonal atau bintik benih yang terletak di sebelah dalam, dan sekeompok sel yang menjadi dinding yang disebut trofoblast. Sel-sel di dalam eksosulom disebut mesenkhim dan trofoblast yang sekarang telah dilapisi oleh mesenkhim di sebelah dalam disebut khorion. Kelompok sel-sel mesenkhim yang padat yang menghubungkan nodus embryonal dengan khorion disebut tangkai badan atau penghubung yang akhirnya menjadi ektoder dan
endoderm, muncul lapisan sel baru yang disebut mesodermyang terdapat di antara ektoderm dan endoderm. Mungkin mesoderm ini dihasilkan oleh trofoblast. Ketiga lapisan inilah sekarang yang akan menjadi foetus diskus embrional.
Pada garis tengah (line mediana) diskusi embrional terentuk alur-alur primitif sebagai sumbu embrio, dan dari sinilah sel-sel meluas ke lateral. Diantara diskus embrional dan trofoblast terbentuk ruangan yang disebut ruang amnion, ruangan ini disebelah luar dikelilingi oleh mesoderm, sedangkan disebelah dalam ektoderm , dan ruangan inilah nantinya menjadi ruangan yang besar tempat berkembangnya emrio. Disamping itu terbentuk pulang ruang kuning telur di pihak lain, yakni ruangan yang sebelah luar dilapisi oleh mesoderm, sedangkan sebelah dalam oleh endoderm. Dari ujung kaudal ruang kuning telur di pihak lain, yakni ruangan yang sebelah luar dilapisi oleh mesoderm, sedangkan sebelah dalam oleh endoderm. Dari ujung kaudal ruang kuning telor menonjol ke dalam tangkai penghubung membentuk allantois. Sedangkan diskus embrional menonjol ke dalam ruang amnion, sehingga hubungan antara bagian yang akan menjadi janin dan trofoblast hanya merupakan tangkai yang sel - selnya sebelah luar. Dengan semakin besarnya ruang amnion akhirnya bagian luar amnion berdempet dengan bagian dalam khorion sehingga akhirnya ruang eksosulom lenyap (obliterasi). Kadang - kadang tidak terjadi penyatuan yang sempurna, sehingga antara amnion dan khorion masih terdapat ruangan yang mengandung cairan, dan inilah yang kemudian dikenal sebagai air ketuban palsu. Setelah bulan ke-3 di tempat khorion laeve dan amnion sudah tidak terpisah lagi dan ia sudah membentuk selaput yang disebut selaput amniokhon ini berfungsi sebagai tempat transport makanan dan berdaya enzimatik untuk metabolisme hormon steroid dan banyak mengandung gliserofosfolipid, yang memiliki asam arak hidonat yang dapat membuat prostaglandin E2 dan F2A, yakni enzim yang mengatalisasi hidrolisis gliserofosfolipid menjadi asam arakhidonat.
LIQOUR AMNII ATAU AIR KETUBAN
Ruangan yang diliputi oleh lapisan amnion dan khorion (selaput janini) terisi oleh cairan yang disebut liquor amnii. Ruang amnion yang berisi cairan ini pada kehamilan 36 - 38 minggu mencapai jumlah 1000 ml. Pada kehamilan cukup bulan volume dapat mencapai 1500 ml. Pada kehamilan cukup bulan volume dapat mencapai 1500 ml. Warna air ketuban ini putih, agak keruh dan mempunyai bau yang khas. Cairan ini umumnya terdiri dari air (98%) dengan BD 1,008, terdapat garam organik dan aorganik, protein yang sebagian besar sebagian besar sebagai albumin (2,6% g/l). Di dalam air ketuban ini dapat ditemukan rambut lanugo (asal dari rambut halus bayi), sel - sel epitel