• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemeriksaan kehamilan

Dalam dokumen Catatan Kuliah Obstetri (Halaman 53-58)

angat ideal bila seorang wanita hamil mau memeriksakan dirinya ketika haidnya sudah terlambat sekurang-kurangnya satu bulan. Keuntungannya ialah cukup waktu untuk mengobati dan memperbaiki kelainan-kelainan yang mungkin ada atau yang timbul sebagai akibat kehamilannya. Hal - hal yang kiranya mempunyai hubungan dengan kehamilan yang sekarang hendaknya ditanyakan secara hati - hati. Riwayat kehamilan, hendaknya ditanyakan secara hati - hati. Riwayat kehamilan, persalinan, nifas yang lalu dan berat anak yang dilahirkan perlu diketahui. Penyakit-penyakit yang pernah diderita seperti Penyakit-penyakit jantung, penyakit ginjal, diabetes mellitus, TBC paru, dan lain - lainnya.

Pada setiap pemeriksaan selalu diperhatikan keadaan umum, dan seluruh tubuh wanita harus diperiksa dengan teliti. Pemeriksaan pada ibu harus dicatat : tekanan darah, nadi, suhu dan pernafasan; diperiksa jantung , paru - paru, mamae dan abdomen. Berat badan harus diketahui dan dilihat berapa naiknya berat badan. Perhatikan pula apakah ada udema di mata kaku dan tangan. Pada umumnya pemeriksaan ulangan dilakukan satu kali sebulan sampai kehamilan 28 minggu, dua minggu sekali sampai 36 minggu dan selanjutnya satu minggu sekali, tetapi bila terdapat kelainan pemeriksaan ulangan lebih sering dilakukan.

PEMERIKSAAN OBSTETRIK.

Pemeriksaan pada hamil muda dilakukan pemeriksaan luar dan pemeriksaan dalam (pemeriksaan ginekologik). Dilihat vulva, vagina dan portio diperiksa in speculo. Diperhatikan letak, besar, bentuk dan konsistensi uterus. Adneksa diraba dengan seksama kanan dan kiri. Pada kehamilan lanjut dikenal beberapa cara pemeriksaan palpasi, tapi yang lazim dipakai ialah cara palpasi menurut LEOPOLD, karena dapat dikatakan dengan cara ini hampir semua yang diperlukan dapat diketahui. Pada waktu ini pemeriksaan kehamilan dengan peralatan yang canggih seperti ultrosound sudah banyak dipergunakan, namun pemeriksaan secara Leopold ini masih dapat dipandang cukup memadai. Cara pemeriksaan menurut Leopold ini dibagi dalam 4 bagian: Leopold I,II,III dan IV. Pada pemeriksaan Leopold I,II, dan III pemeriksa menghadap ke arah muka pasien, sedangkan pada Leopold IV pemeriksa menghadap ke arah kaki penderita.

Setelah wanita hamil yang akan diperiksa tidur telentang, dilihat apakah uterus berkontraksi atau tidak. Bila berkontraksi ditunggu sebentar, sebab pemeriksaan baru dapat dilakukan dengan teliti bila dinding perut lemas. Tungkai dapat ditekuk pada pangkal paha dan lutut. Pada Leopold I pemeriksa berdiri di sebelah kanan penderita, dan melihat ke arah muka penderita. Dengan jari - jari tangan meraba fundus uteri dan menentukan tinggi fundus untuk mengetahui tua kehamilan. Selanjutnya ditentukan bagian janin apa yang terletak pada fundus, bila kepala teraba keras dan bulat, tetapi jika bokong terasa besar, tidak bulat dan lunak. Pada Leopold II, kedua telapak tangan diletakkan pada sisi perut ibu. Ditentukan di mana punggung dan bagian - bagian kerut ibu. Ditentukan di mana punggung teraba sebagai tahanan keras, sedangkan di daerah perut teraba sebagai tahanan keras, sedangkan di daerah perut teraba bagian - bagian kecil pada janin dengan letak memanjang. Bila janin dengan letak melintang, ditentukan letak kepala dan bokong pada sisi perut. Pada Leopold III, dipergunakan satu tangan saja. Bagian bawah perut di atas simfisis pubis ditentukan bagian apa yang terletak di bawah janin sudah terpegang oleh pintu atas panggul atau belum atau bagian bawah masih dapat digoyangkan. Pada Leopold IV di mana sipemeriksa melihat melihat ke arah kaki penderita, dengan kedua ujung - ujung jari masing -masing tangan ditekankan ke arah sumbu panggul. Di samping dapat menentukan bagian apa dari janin yang terdapat di bagian bawah, dapat ditentukan apakah bagian bawah sudah masuk ke dalam pintu atas panggul, dan sudah berapa jauh masuknya bagian bawah ke dalam rongga panggul. Pemeriksaan Tua Kehamilan.

Menentukan tuanya kehamilan dapat dengan mengukur tingginya fundus uteri dari pinggir atas simfisis pubis melalui garis tengah perut (linea mediana) dengan memakai pita ukur biasa. Pada kehamilan sampai 20 minggu tingginya fundus 20 cm. Selanjutnya tinggi fundus bertambah 3 cm untuk setiap penambahan umur kehamilan 4 minggu, jadi pada kejang 33 cm. Dapat diteketahui bahwa uterus pada kehamilan 12 minggu sudah dapat diraba dari luar di atas simfisis pubis dan perut sudah tampak membesar. Taksiran tuanya kehamilan berdarah tinggi fundus uteri sebagai berikut :

• Akhir bulan ke 3 (12 minggu) Fundus uteri 2 - 3 jari diatas simfisis pubis.

• Akhir bulan ke 4 (16 minggu) pertengahan antara simfisis pubis dan pusat.

• Akhir bulan ke 5 (20 minggu) 3 jari di bawah pusat.

• Akhir bulan ke 6 (24 minggu) setinggi pusat.

• Akhir bulan ke 7 (28 minggu) 3 jari di atas pusat.

• Akhir bulan ke 8 (32 minggu) pertengahan pusat dan prosessus sifoideus.

• Akhir bulan ke 9 (36 minggu) 3 jari di bawah prosessus si foideus atau sampai arkus kostarum.

• Akhir bulan ke 10 (40 minggu) pertengahan antara prosessus sifoideus dan pusat, atau 3 jari di bawah arkus kostarum.

Fundus uteri paling tinggi pada akhir bulan ke-9. Pada primigravida setelah bulan ke -9 fundus uteri turun karena kepala janin mulai turun ke dalam rongga panggul.

Untuk mengetahui seberapa jauh masuknya bagian bawah ke dalam rongga panggul dapat dilakukan Leopold IV dengan merapatkan kedua tangan pada permukaan bagian terbawah dari kepala yang masih teraba dari luar, maka didapatkan :

1.

Kedua tangan konvergent jika hanya sebagian kecil dari kepala turun ke dalam rongga panggul.

2.

Kedua tangan itu sejajar jika separuh dari kepala sudah masuk ke dalam penggul.

3.

Kedua tangan divergent jika bagian terbesar dari kepala sudah masuk ke dalam rongga panggul atau ukuran terbesar dari kepala sudah melewati pintu atas panggul.

Dengan demikian jelas bila kepala janin masih tinggi pemeriksaan Leopold IV tidak dilakukan.

PEMERIKSAAN DENGAR (AUSKULTASI)

Dengan stetoskop monoaural atau Doptone dapat didengarkan bunyi jantung janin. Cara menghitung bunyi jantung janin ialah dengan mendengarkan 3 kali 5 detik, kemudian jumlah bunyi

jantung dalam 3 x 5 detik dikalikan dengan 4. Bunyi jantung janin baru dapat didengar pada akhir bulan

kelima (minggu ke-19 atau ke 20). Dengan alat Doptone (Ultrosound) sudah dapat didengarkan awal minggu ke-12. Pada keadaan normal denyut jantung janin berkisar antara 140 - 160 per menit. Selain mendengar bunyi jantung janin pada kehamilan lanjut dapat pula didengar bising - rahim, bising usus, bunyi aorta dan bunyi gerakan janin.

Dengan mendengar bunyi jantung janin yang dihubungkan dengan hasil palpasi dapat kiranya menentukan presentasi dan posisi janin di dalam kandungan. Bila mendengar bunyi jantung janin di samping kiri atau kanan di bawah pusat, maka presentasinya kepala, tetapi bila terdengar di kiri kanan setinggi atau di atas pusat presentasinya bokong atau

letak sungsang. Bila bunyi jantung janin terdengar di sebelah kiri punggung nya di kanan. Bila mendengar bunyi jantung janin di fihak yang berlawanan dengan bagian - bagian kecil, anak dalam sikap fleksi, tetapi bila terdengar pada fihak yang sama dengan bagian -bagian kecil anak dalam sikap defleksi. Pada kehamilan kembar bunyi jantung janin terdengar pada dua tempat sama jelasnya tetapi dengan frekuensi yang berbeda (perbedaan lebih dari 10 per menit). Dari sifat bunyi jantung janin dapat diketahui keadaan janin. Janin yang sehat bunyi jantungnya teratur dengan frekuensi antara 120 - 140 per menit. Bila bunyi jantung kurang dari 100/menit atau lebih dari 160/menit atau tidak teratur, maka janin dalam keadaan asfiksia (ada gawat bayi). Bila menghitung denyut jantung janin dalam 5 detik pertama, kemudian 5 detik ketiga, kelima, ketujuh dan seterusnya sampai satu menit akan diperoleh kesan apakah denyut jantung teratur atau tidak. Setiap menit mempunyai jumlah tertentu, dan bila jumlah per menit ini berbeda lebih dari 8 umumnya menunjukkan denyut jantung tidak teratur. Bila denyut jantung saja lebih dari 160/menit disebut takhikardi, dan bila kurang dari 120/menit disebut bradikardi.

PEMERIKSAAN PANGGUL.

Bila kehamilan masih muda pemeriksaan panggul untuk menilai atau untuk mengadakan evaluasi akomodasinya hendaknya ditunggu sampai kehamilan 32 - 34 minggu. Pemeriksaan panggul penting pada primigravida, karena panggulnya belum pernah dilalui oleh anak, lain halnya pada multipara yang dengan anamnesa persalinan yang lalu adalah gampang dapat memberikan kesan atau keterangan yang berharga tentang keadaan panggulnya. Bila seorang multipara mengalami beberapa kali persalinan yang spontan dan mudah dengan anak yang lahir cukup bulan, dapat dianggap mempunyai panggul yang cukup, namun jangan dilupakan dapat menjadi sempit bila ada misalnya timbul tumor tulang atau tumor dari jaringan lunak pada jalan lahir.

Pemeriksaan tambahan berupa pemeriksaan Rontgen dan pemeriksaan biologis tidak dilakukan secara rutin pada setiap pasien.

Rontgenografi dilakukan pada kasus - kasus yang

meragukan, misalnya pada wanita yang gemuk, perut tegang dan lain - lain. Bila hendak melakukan pemeriksaan Rontgen haruslah pada hamil tua, sebab sebelum kehamilan 4 bulan rangka janin belum tampak dan pada hamil muda pengaruh sinar Rontgen terhadap janin lebih besar.

Pemeriksaan Biologis. Pemeriksaan kehamilan pada wanita yang mengalami amenorrhea yang masih diragukan dapat dilakukan pemeriksaan dengan reaksi biologik, seperti dengan Galli Mainini. Akan tetapi

sekarang sudah banyak dipakai pemeriksaan dengan reaksi immunologik, seperti prognostikon, gravindeks dan lain - lain.

PEMERIKSAAN LABORATORIUM Pemeriksaan Darah.

Perlu diperiksa kadar Hb dan hematokrit. Pemeriksaan serologik, seperti VDRL, Kahn dan Wasserman. Darah dan Rhesus faktor.

Pemeriksaan Urine.

Dilakukan pemeriksaan terhadap protein dan glukose. Hasil pemeriksaan protein terutama didapatkan pada nefritis, gestosis atau radang saluran kencing. Bila tekanan darah naik atau berat badan semakin bertambah. Hasil pemeriksaan glukose yang positif pada kehamilan harus dianggap sebagai gejala Diabetes, maka perlu diperiksa kadar gula darah puasa dan post prandial. Pemeriksaan reduksi positif pada urine wanita hamil tua dan pada masa laktasi disebabkann oleh adanya laktose.

MACAM - MACAM KELUHAN PENDERITA PADA KEHAMILAN.

Bila seorang wanita datang dengan keluhan tidak dapat bulan atau haid terlambat sekurang - kurangnya satu bulan, maka dengan mengetahui hari pertama haid terakhir dapat di ketahui perkiraan tanggal persalinan (partus) dengan memakai rumus Naegele bila siklus haid 28 hari. Perkiraan persalinan menurut rumus ini ialah : hari + 7, bulan - 3, dan bulan + 1. Misalnya hari pertama haid terakhir tanggal 1 - 5 - 85, maka perkiraan persalinannya ialah pada tanggal 8 - 2 - 86. Akan tetapi bila siklus haidnya panjang misalnya 35 hari maka harinya harus ditambah dengan 14. Misalnya hari pertama haid terakhir tanggal 9 -8-85, maka taksiran persalinannya akan jatuh pada tanggal 23 -5-86. Mual dan muntah.

Keluhan ini sering diderita wanita hamil pada bulan pertama sampai bulan ke-4. Faktor emosi dapat memperberat kadaan muntah - muntah ini. Untuk mengurangi keluhan tersebut dapat dianjurkan minum dan makan sedikit sebelum bangun tidur. Selagi tidak ada mual atau muntah dapat makan dengan porsi makanan yang kecil tapi sering. Jangan memakan yang rasanya dapat menimbulkan mual dan muntah. Untuk dapat menenangkan jiwanya dapat dikatakan bahwa keluhan ini akan hilang menjelang kehamilan 4 bulan. Petilisme.

Wanita hamil kadang - kadang mengeluh banyak ludah sehingga selalu ingin meludah. Hal ini mungkin karena rangsangan zat makanan (tepung) pada kelenjer ludah. Ngidam atau disebut juga pika adalah keadaan di mana muncul keinginan memakan makanan yang ganjil atau yang aneh - aneh.

Pirosis.

Dikatakan oleh pengaruh progesteron terjadi pengurangan motilitas sebab berkurangnya tonus pada saluran gastrointestinalis. Oleh karena uterus yang membesar lambung akan tertekan ke atas dan menambah regurgitasi. Oleh karena adanya refluks isi atau isi duodenum ke dalam usofagus maka terjadilah apa yang disebut pirosis. Untuk mengurangi keluhan ini dapat diberikan antasida.

Sakit Pinggang.

Sakit pinggang akan dialami oleh wanita hamil karena adanya perubahan sikap badan pada kehamilan. Perut yang membesar akan diimbangi oleh lordose yang berlebihan yang dapat menimbulkan spasme otot - otot di pinggang. Keadaan inipun dapat terjadi karena melonggarnya (bergerak) simfisis pubis dan artikulasio lumbosakralis karena pengaruh hormon kehamilan. Nyeri pada keadaan ini dapat dihilangkan dengan pemberian analgetika.

Varises

Biasanya varises timbul pada adanya faktor predisposisi (keturunan). Pada kehamilan terjadi varises karena pengaruh hormon progesteron dan adanya bendungan di dalam panggul. Keadaan ini terlihat pada wanita hamil yang usia lanjut dan berdiri yang lama. Dianjurkan wanita hamil tidak memakai pakaian yang sempit, dan tidak boleh bekerja lama berdirinya. Untuk mengurangi varises dapat dianjurkan banyak istirahat, kaki ditinggikan waktu istirahat atau memakai kaos yang elastik yang panjang.

Haemorrhoid.

Haemorrhoid agaknya tidak beda dengan varises, karena ini merupakan pelebaran dari pembuluh - pembuluh vena di anus. Hanya saja dapat bertambah besar dengan adanya kehamilan disebabkan oleh adanya bendungan darah di dalam rongga panggul. Obstipasi pada kehamilanpun dapat menambah besarnya haemorrhoid. Oleh karenanya dianjurkan defekasi yang teratur adalah usaha untuk mengurangi bendungan di dalam panggul.

Udema

Paling sering udema terdapat pada kaki dan tungkai kaki dan tungkai bawah. Udema yang disebabkan oleh tekanan dari uterus yang membesarkan pada vena - vena panggul, maka akan hilang dengan istirahat, karenanya tampak udema disore atau malam hari tapi hilang pada waktu bangun pagi hari. Seandainya terdapat udema pada kaki, sedangkan berat badan kenaikannya sesuai dengan kehamilan maka dianjurkan untuk tidak memakan makanan yang mengandung garam. Haruslah diperiksa apakah udema yang terjadi

bukan merupakan gejala preeklampsia. Sebaiknya kaki ditinggikan sewaktu tidur.

Sesak Nafas

Keadaan ini dapat disebabkan oleh diafragma yang terdesak ke atas oleh uterus yang membesar. Sesak nafas akan berkurang dengan anjuran tidur pakai bantal yang cukup tinggi.

Fluor Albus (Leukorrhea).

Umumnya cairan dalam vagina bertambah waktu hamil, tetapi tidak menimbulkan keluhan. Sekresi kelenjer serviks meningkat akibat ustrogen yang meningkat. Normal lendir dari seviks berwarna putih. Bila fluor ini sangat banyak dapat menimbulkan rasa tidak enak dan gatal atau menimbulkan eksema di sekitar kemaluan maka harus dicari penyebabnya. Pada leukorrhea yang disebabkan oleh Gonokokkus tampak cairan yang keluar seperti nanah. Kalau diperiksa memang Gonokukkus maka obat dengan obat yang sesuai. Pada leukorrhea yang disebabkan trikhomonas vaginalis, cairan yang keluar berwarna kuning, berbuih, gatal dan dapat menimbulkan iritasi. Pengobatan dengan metronidazol secara oral pada kehamilan trimester I sebaiknya dihindari karena mungkin bersifat teratogen. Pada leukorrhea yang disebabkan kandida albikans, terlihat kadang - kadang cairan yang keluar banyak sekali yang warnanya seperti susu atau dadih dan cairan ini juga bersifat iritatif. Untuk mengobati dapat dipakai Gentian violet 1% atau krim dari mi konazol nitrat. Pengobatan kandida pada kehamilan biasanya tidak sembuh sempurna,, sebab mudah kambuh dan pengobatan perlu berulang.

PEMERIKSAAN KEHAMILAN PADA KUNJUNGAN ULANG.

Seperti telah disebutkan di muka bahwa pemeriksaan kehamilan ulangan dilakukan sebulan sekali sampai kehamilan 6 bulan, 2 kali sebulan sampai kehamilan 9 bulan dan seminggu sekali sampai terjadi persalinan. Jika terdapat kelainan pada pemeriksaan, maka pemeriksaan ulangan harus sering. Pada penderita yang tempat tinggalnya jauh, oleh karena perjalanan jauh dapat terjadi hal - hal yang tidak diinginkan maka pemeriksaan dapat lebih jarang. Tiap kunjungan ulang harus dilakukan pemeriksaan kehamilan sebagai berikut :

1.

Tekanan Darah.

2.

Berat Badan untuk mengetahui pertambahan berat badan.

3.

Tinggi fundus uteri.

4.

Pemeriksaan urine dan Hb ditentukan sekali dalam 3 bulan.

Perlu pula diketahui gejala - gejala yang baru timbul apakah ada udema, obstipasi, perdarahan, sakit kepala dan lain - lain.

Ada baiknya pasien diberitahukan bahwa keadaan kehamilannya normal, kalau keadaannya memang normal. Tetapi sebaliknya harus diberitahu pula secara bijaksana akan tanda - tanda bahaya pada kehamilan seperti :

1.

Perdarahan dari kemaluan.

2.

Udema pada muka dan jari - jari tengan.

3.

Sakit kepala yang hebat.

4.

Penglihatan kabur.

5.

Nyeri epigastrium.

6.

Muntah berkepanjangan

7.

Panas atau menggigil

8.

Keluar air - air dari kemaluan

Bila ada salah satu dari gejala tersebut maka pasien harus segera memeriksakan dirinya.

Selain pemeriksaan kehamilan pada pemeriksaan ulang harus pula dilakukan pemeriksaan pada janin, berupa : denyut jantung janin, presentasi dan posisi janin, besarnya janin dan banyaknya air ketuban.

Agaknya perlu diketahui ibu hamil akan tanda - tanda mulainya persalinan, yakni munculnya kontraksi uterus yang teratur yang semakin lama semakin sering, yang disertai nyeri berasal dari pinggang menjalar ke perut bawah, bila dibawah berjalan rasa nyerinya bertambah sering dan keluar darah bercampur lendir atau keluar cairan yang banyak dari kemaluan.

Pemeriksaan Rontgenologi dan Ultrasonografi

Pada kasus - kasus tertentu yang meragukan pada pemeriksaan obstetri biasa kadangkala diperlukan pemeriksaan rontgen dan ultrasonografi. Harus diketahui bahwa pemeriksaan dengan sinar X pada kehamilan mengandung cukup bahaya, terutama terhadap janin.

Dengan pemeriksaan rontgen pada kehamilan di bawah 4 bulan belum terlihat jelas adanya kerangka janin. Bila mana pemeriksaan rontgenografi diperlukan maka dianjurkan dilakukan pada kehamilan lanjut. Setelah kehamilan 20 minggu gambaran kehamilan ganda sudah dapat ditentukan. Pada kehamilan lanjut dapat diketahui adanya kelainan atau cacat janin seperti : janin dengan hidrosefalus dan anensefalus. Untuk menentukan bentuk dan ukuran - ukuran panggul yang secara klinik tidak dapat ditentukan, tetapi dapat dilakukan secara pelvimentri rongenologik. Pada kematian janin intrauterin di atas 20 minggu akan terlihat rontgenogram dengan gamabran yang khas seperti tanda dari Spalding yakni tanda yang menunjukkan adanya tulang tengkorak yang saling menutup satu sama lain sebagai akibat dari mencairnya jaringan otak janin.

Sekarang pemakaian sinar X sudah banyak diganti dengan ultrasonografi. Denyut jantung janin

dapat diawasi dengan memakai prinsip Dopler ultrasonik. Dengan ultrasonografi dapat diketahui adanya kehamilan normal, kehamilan ektopik, kehamilan kembar, lokalisasi plasenta, kematian janin intrauterin, kehamilan molahidatidaso, hematomaretroplasenter, pertumbuhan janin terhambat dan penyakit - penyakit janin serta penyakit plasenta lainnya.

ASPEK KEJIWAAN PADA KEHAMILAN.

Selain dari pada memperhatikan fisik juga kesehatan mental harus diperhatikan. Sewaktu memeriksa kesehatan ibu perlu juga diperhatikan. Sewaktu memeriksa kesehatan ibu perlu juga diperhatikan keadaan jiwanya, orang - orang di sekitarnya dan sikapnya terhadap kehamilan dan persalinan. Tidak semua wanita mempunyai anak dan ingin punya anak. Keibuan masih memainkan hendaknya merupakan masa bahagia menanti kedatangan anak yang didambakan. Namun dia secara psikologis mengalami masalah jenis kelamin anak yang di inginkan. Mungkin kurang menyadari akan perubahan - perubahan yang terjadi dalam dirinya hingga dianggap misterius buncit, adanya gerakan - gerakan di dalam perut, timbulnya striae, dan keluarnya air susu. Ibu mungkin merasa dirinya tidak menarik lagi, atau ingin di manja, dan kelihatannya ada perubahan kelakukan. Pengertian terhadap keadaan perubahan ini dari keluarga terutama dari suami sangat di perlukan. Keseimbangan mental yang menjadi labil ini lebih tampak pada ibu - ibu yang cenderung psikhopat. Bagitu pula hendaknya terjalin hubungan yang baik antara ibu dan dokternya sehingga dia dapat mencurahkan isi hatinya.

Perasaan Takut.

Perasaan takut ini biasanya timbul pada primigravida atau pada multigravida yang pernah mengalami penyulit pada kehamilan dan persalina. Ketakutan terhadap kehamilan dan persalinan adalah merupakan reaksi yang fisiologis. Banyak ibu - ibu hamil merasa gelisah menghadapi persalinan. Tugas dokter bukanlah menghilangkan rasa takutnya akan tetapi berusaha membantu ibu untuk mengatasi rasa takutnya. Untuk mengatasi rasa takut tersebut perlu kiranya memberikan penjelasan kepada ibu hamil mengenai fisiologi kehamilan, persalinan dan nifas. Diusahakan agar siibu mengerti dan menyadari akan perubahan -

perubahan yang terjadi pada dirinya. Hindarkan siibu dari pengaruh cerita -cerita yang bukan - bukan tentang bahaya kehamilan dan persalinan. Sebaiknya ibu yang akan melahirkan melihat - lihat lebih dulu tempat bersalinnya untuk menghilangkan rasa takutnya, sebab lingkungan tempat bersalin atau rumah sakit merupakan hal yang asing baginya dan keadaan ini dapat pula menambah rasa takutnya.

Permasalahan wanita yang tidak ingin punya anak dengan alasan anak sudah cukup banyak, beban rumah tangga yang berat, akan memberatkan ekonomi rumah tangga dan lain - lain. Permasalahan anak yang dikandung ibunya belum kawin, hamil karena perkosan dan lain - lain. Hal - hal di atas akan dapat menimbulkan usaha ke arah abortus procokatus yang mungkin membahayakan jiwanya, atau menjelma sebagai hiperemesis, tidak mau tidur atau kurang tidur, dan persalinan akan dirasakan sebagai penderitaan. Wanita yang takut pada persalinan nyeri kontraksi otot - otot uterus di rasakannya hebat sekali bahkan dapat menimbulkan spasme otot - otot yang dapat mempersulit jalannya persalinan. Situasi ibu dalam keadaan hamil mempengaruhi hubungan antara ibu dan anak setelah persalinan. Faktor - faktor negatif lainnya seperti ketidak tahuan, ceritera - ceritera yang menakutkan atau kepercayaan akan tahyul. Dalam menghadapi pasien dengan masalah - masalah kejiwaan dokter hendaknya sabar dan harus pandai mendengarkan segala curahan isi hatinya. Dokter hendaknya menaruh perhatian dan pengertian terhadap persoalan yang dikemukakannya dan harus pandai memimpin pasien keluar dari kesukaran - kesukarannya. Hal - hal yang positif yang dapat membantu mengatasi masalah jiwa ini ialah adanya keinginan

Dalam dokumen Catatan Kuliah Obstetri (Halaman 53-58)