• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gambar II.9 Profil TDS dan TSS Air Sungai Kr Aceh (Agustus Oktober 2014)

Dalam dokumen LAPORAN SLHD 2014 PROVINSI ACEH (Halaman 37-41)

Bab II Kondisi Lingkungan Hidup dan Kecendrungan II- 28

Profil DO dan Total Phosphat dalam Air Sungai Kr. Aceh,Oksigen terlarut adalah suatu hal yang sangat diperlukan oleh makhluk hidup dalam air tergantung dari kemampuan air untuk mempertahankan konsentrasi oksigen minimal yang dibutuhkan untuk kehidupannya. Oksigen terlarut dalam air dapat berasal dari proses fotosintesis tanaman air, dimana jumlahnya tidak tetap tergantung dari jumlah tanamannya dan dari atsmosfer (udara) yang masuk ke dalam air dengan kecepatan terbatas. Konsentrasi oksigen terlarut dalam keadaan jenuh bervariasi tergantung dari suhu dan tekanan atmosfer. Semakin tinggi suhu air, semakin rendah tingkat kejenuhan. Hasil pengukuran (Gambar II.11), diperoleh bahwa DO air sungai Kr. Aceh tinggi dan berada dalam kondisi normal perairan.

Fosfat tidak memiliki daya racun, bahkan sebaliknya merupakan salah satu nutrisi penting yang dibutuhkan mahluk hidup. Namun demikuan, keberadaan fosfat yang berlebihan pada badan air menyebabkan suatu fenomena yang disebut eutrofikasi (pengkayaan nutrien). Sejatinya, eutrofikasi merupakan sebuah proses alamiah dimana danau mengalami penuaan

Gambar II.10 Profil BOD dan COD Air Sungai Kr. Aceh (Agustus - Oktober 2014)

Bab II Kondisi Lingkungan Hidup dan Kecendrungan II- 29 secara bertahap dan menjadi lebih produktif bagi tumbuhnya biomassa. Diperlukan proses ribuan tahun untuk sampai pada kondisi eutrofik. Proses alamiah ini, oleh manusia dengan segala aktivitas modernnya, secara tidak disadari dipercepat menjadi dalam hitungan beberapa dekade atau bahkan beberapa tahun saja. Air dikatakan eutrofik jika konsentrasi total phosphorus (TP) dalam air berada dalam rentang 35-100 µg/L. Kondisi eutrofik sangat memungkinkan alga, tumbuhan air berukuran mikro untuk tumbuh berkembang biak dengan pesat. Hal ini bisa dikenali dengan warna air yang menjadi kehijauan, berbau tak sedap, dan kekeruhannya yang menjadi semakin meningkat. Banyaknya eceng gondok yang bertebaran di rawa-rawa dan danau-danau juga disebabkan fosfat yang sangat berlebihan ini. Tanaman dapat menghabiskan oksigen dalam sungai pada malam hari ini, bila tanaman tersebut mati dan dalam keadaan sedang mencerna (digest ) pada siang hari pancaran sinar matahari kedalam air akan berkurang, sehingga proses fotosintesis yang dapat menghasilkan oksigen juga berkurang. Makhluk hidup air seperti ikan dan spesies lainnya tidak bisa tumbuh dengan baik sehingga akhirnya mati. Hilangnya ikan dan hewan lainnya dalam mata rantai ekosistem air menyebabkan terganggunya keseimbangan ekosistem air. Permasalahan lainnya, cyanobacteria (blue-green algae) diketahui mengandung toksin sehingga membawa risiko kesehatan bagi manusia dan hewan. Alga bloom juga menyebabkan hilangnya nilai konservasi, estetika, rekreasional, dan pariwisata. Total Phospat pada air Kr. Aceh di semua segmen pengukuran ditemukan rendah yang berkisar antara 0,31 – 4,10 mg/L dengan nilai rata-rata 1,46 mg/L. Konsentrasi ini pada bulan Agustus dan September masih berada di bawah baku mutu, namun pada bulan Oktober, nilai phosphat berada di atas baku mutu pada semua segmen. Kondisi ini rentang terjadinya eutrofik.

Profil Nitrat (NO3-N) dan nitrit (NO2-N) dalam Air Sungai Kr. Aceh, Nitrat dan Nitrit merupakan bagian dari siklus nitrogen berupa ion-ion anorganik alami. Aktifitas mikroba dalam air dapat menguraikan sampah yang mengandung nitrogen organik menjadi ammonia, kemudian dioksidasikan menjadi nitrit dan nitrat. Oleh karena nitrit dapat dengan mudah dioksidasikan menjadi nitrat dan senyawa ini adalah senyawa yang paling sering ditemukan di dalam air bawah tanah maupun air yang terdapat di permukaan.

Pencemaran oleh pupuk nitrogen, termasuk ammonia anhidrat seperti juga sampah organik hewan dan manusia, dapat meningkatkan kadar nitrat di dalam air. Hasil pengukuran (Gambar II.12), diperoleh bahwa nitrat air sungai Kr. Aceh kecil dan nilainya di bawah baku mutu lingkungan, sementara nitrit nilainya tinggi dengan kecendrungan meningkat dan nilainya berada di atas baku mutu lingkungan. Berdasarkan hasil ini diperoleh gambaran bahwa air sungai Kr. Aceh telah tercemar dengan ditemukan tingginya nilai nitrit. Konsentrasi Nitrat pada air Kr. Aceh di semua segmen pengukuran ditemukan rendah yang berkisar antara 0,80 – 1,80 mg/L dengan nilai rata-rata 1,11 mg/L. Konsentrasi ini masih berada di

Bab II Kondisi Lingkungan Hidup dan Kecendrungan II- 30 bawah baku mutu. Sementara itu, Konsentrasi Nitrit pada air Kr. Aceh di semua segmen pengukuran ditemukan rendah yang berkisar antara 0,014 – 0,91 mg/L dengan nilai rata-rata 0,13 mg/L. Konsentrasi Nitrit ditemukan tinggi pada Segmen Jembatan Pango, Jembatan Surabaya, Jembatan Pate Pirak, Jembatan Peunayong dan Segmen Gampong Jawa.

Profil Khlorida dan Sulfat dalam Air Kr. Aceh, Khlorida adalah suatu mayor anion anorganik yang terdapat diperairan alam. Pada umunya khlorida mudah larut di dalam air dan menimbulkan rasa asin. Sumber khlorida di dalam air juga dapat berasal dari pelapukan batuan dan pencucian tanah, limbah industri dan limbah domestik. Hasil pengukuran (Gambar II.13), diperoleh bahwa khlorida dalam air sungai Kr. Aceh berkisar antara 1,3 – 3.300 mg/L dengan nilai rata-rata 443,13 mg/L. Sulfat (SO4=) merupakan suatu bentuk

oksidasi belerang yang mempunyai sifat stabil. Senyawa tersebut dapat dihasilkan dari proses oksidasi senyawa sulfur yang tereduksi oleh bakteri. Ion sulfat sangat mudah larut dalam air. Sulfat dapat bersumber dari pencucian batuan yang mengandung sulfat seperti gibsum (CaSO4. 2H2O), hasil oksidasi zat organik, limbah industri dan air hujan yang berasal dari

udara yang tercemar oleh hasil pembakaran bahan bakar fossil. Hasil pengukuran (Gambar ii.13), diperoleh bahwa Sulfat dalam air sungai Kr. Aceh berkisar antara 0 – 0,0246 mg/L dengan nilai rata-rata 0,003 mg/L.

Bab II Kondisi Lingkungan Hidup dan Kecendrungan II- 31

Profil DHL dan H2S dalam Air Kr. Aceh,Daya Hantar Listrik (DHL) merupakan parameter yang menunjukkan kandungan ion dalam air sehingga suatu larutan mudah atau sukar dalam menghantarkan listrik. DHL bukan merupakan parameter yang relevan untuk mengukur polusi, akan tetapi dapat digunakan sebagai parameter untuk mengetahui tingkat keragaman dalam air (Indriatmoko dan Myra, 2005). Daya Hantar Listrik adalah sifat menghatanrkan listrik dari air. Air yang banyak mengandung garam akan mempunyai DHL tinggi. Hasil pengukuran (Gambar II.14), diperoleh bahwa DHL dalam air sungai Kr. Aceh berkisar antara 93,4 – 35.600 µmhos/cm dengan nilai rata-rata 9.946 µmhos/cm. Gas H2S terbentuk akibat

adanya penguraian zat-zat organik oleh bakteri. Keberadaan bakteri Coliform di dalam air diasosiasikan dengan organisme penghasil hidrogen sulfide/H2S. Nilai kandungan H2S air

sungai Kr. Aceh berkisar antara 0 – 0,0246 mg/L dengan nilai rata-rata 0,003 mg/L dan rata- rata berada di atas baku mutu yang ditetapkan pada bulan Agustus di setiap Segmen (Gambar ii.14). Nilai parameter H2S dijumpai tertinggi pada Segmen Jembatan Pante Pirak

(0,006 mg/L), kemudian nilai ini menurun hingga tidak terdeteksi adanya gas H2S di setiap

segmen pada bulan September dan Oktober.

Dalam dokumen LAPORAN SLHD 2014 PROVINSI ACEH (Halaman 37-41)