Sapi potong merupakan salah satu jenis usaha ternak yang potensial dikembangkan di Indonesia. Industri yang mulai berkembang pada tahun 1970-an ini terus menunjukkan perkembangan, baik dari potensi maupun perhatian pemerintah berupa kebijakan-kebijakan pengembangan. Industri peternakan sapi potong sebagai suatu kegiatan agribisnis mempunyai cakupan yang sangat luas. Agribisnis sapi potong lokal mencakup kegiatan yang saling terkait, yaitu pelestarian, pembibitan (breeding), pengembang-biakan (cow-calf operation), pembesaran, dan penggemukan (feedlot).
Pembibitan adalah kegiatan untuk menghasilkan bibit unggul dengan cara seleksi, atau persilangan untuk menghasilkan ternak komposit. Pembibitan sapi potong dilakukan pertama kali oleh peternak untuk menghasilkan anak sapi untuk dijual dan kemudian hasil penjualan digunakan sebagai modal biaya penggemukan induk dan sapi lainnya, maupun untuk kebutuhan hidup. Hingga tahun 2008, pembibitan sapi potong di Indonesia masih tidak berkembang. Rendahnya reproduktivitas dari sapi potong lokal yang disebabkan oleh fertilitas rendah, tingkat kelahiran rendah, dan tingkat kematian tinggi, menjadi alasan rendahnya perkembangan industri ini secara nasional.
Kondisi lain yang menghambat perkembangan pembibitan sapi potong di Indonesia adalah petenak cenderung menjual sapi betina produktif baik dalam kondisi yang mendesak maupun biasa. Terdapat sekitar 10 persen hingga 30 persen sapi betina produktif terjual setiap tahunnya. Kurangnya pengetahuan dan tingginya kebutuhan hidup membuat peternakan sapi potong lokal yang didominasi oleh peternak rakyat mengalami kesulitan menghasilkan pedet yang dibutuhkan dalam menjaga populasi ternak lokal.
Faktor-faktor ini berdampak pada produksi daging nasional. Sebagai pemecah masalah, pemerintah telah mendorong peternak sapi potong lokal untuk mulai mengembangkan usaha pembibitan sapi potong untuk meningkatkan populasi nasional, namun hal ini kembali mengalami hambatan dimana peternak sapi potong lokal merupakan peternak rakyat yang mengusahakan ternaknya sebagai kegiatan sampingan atau sekunder.
Usaha cow-calf operation (CCO)bertujuan untuk menghasilkan pedet atau sapi bakalan yang selanjutkan dipelihara untuk penggemukan. Usaha ini dapat dilakukan dengan mengembang-biakkan sapi se-bangsa (breed), atau dengan cara persilangan (cross breeding) antara sapi lokal dengan pejantan impor (Brahman, Simental, Limousin, dsb). Parameter keberhasilan usaha CCO ini adalah jumlah anak yang dapat dilahirkan induk sapi dalam kurun waktu tertentu (calf crop). Oleh karena itu keberhasilan usaha ini sangat terkait dengan performans reproduksi dan tingkat mortalitas induk dan anak. Performans reproduksi yang sangat penting antara lain adalah: (i) umur beranak pertama, (ii) jarak beranak atau calving interval (CI), (iii) service per conception atau S/C, serta (iv) masa produktivitas atau longivity (Diwyanto dan Inounu, 2009).
Masalah produktivitas reproduksi ternak merujuk pada pengembangan teknologi salah satunya yang sering digunakan adalah Artificial Insemination (AI). AI atau yang biasa dikenal dengan Inseminasi Buatan (IB) pada ternak di Indonesia dimulai pada tahun 1976. Teknologi IB dapat dipergunakan untuk membantu pelaksanaan program seleksi pada sapi potong, karena akan meningkatkan intensitas seleksi. Direktorat Pemuliaan Ternak dibawah Direktorat Jenderal Peternakan mengoperasikan sentral bibit sapi dan kerbau dan sentral AI di Jawa untuk memproduksi semen sapi, kerbau, dan sapi perah untuk didistribusikan ke seluruh daerah di Indonesia.
Tabel 3 Data Impor Semen Sapi di Indonesia Tahun 2004-2008
Negara Asal 2004 2005 2006 2007 2008 Australia 34.962 7.782 0 0 0 New Zeland 0 2.411 0 0 15.611 USA 0 29.127 45.241 36.375 144.555 United Kingdom 0 0 0 0 13.768 FOB Value (US$) 34.962 39.320 45.241 36.375 173.934 Sumber: Stanton, Emms, dan Sia (2010)
Pemerintah menyatakan bahwa Indonesia memiliki suplai yang cukup untuk semen dalam negeri yang dihasilkan oleh ternak lokal, sehingga tidak membutuhkan impor semen dari negara lain. Namun pada kenyataannya, Indonesia masih melakukan impor semen beku dari negara lain. Data yang
ditunjukkan pada Tabel 2 menyatakan bahwa Indonesia masih melakukan impor dan cenderung mengalami tren yang meningkat dari tahun 2004.
Usaha meningkatkan populasi sapi potong nasional dengan menggunakan semen impor juga diikuti dengan impor sapi murni yang sebagian besar berasal dari Australia dan New Zeland (Tabel 3). Namun upaya peningkatan populasi dengan menggunakan sapi murni impor tersebut belum begitu berhasil karena kurang menarik bagi peternak lokal karena harus mengeluarkan biaya yang besar, tempat yang lebih luas, dan membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan mengimpor semen beku.
Tabel 4 Impor Sapi Murni di Indonesia Tahun 2004-2008
Negara Asal 2004 2005 2006 2007 2008 Australia 2.500 0 0 20 210 New Zeland 0 150 0 0 1.180 Jumlah (ekor) 2.500 150 0 20 1.390 FOB Value (US$) 992.265 181.972 0 65.467 2.921.944 Sumber: Stanton, Emms, dan Sia (2010)
Pada pertengahan tahun 1980-an Indonesia mulai mengembangkan penggemukan sapi potong menggunakan sapi FH jantan. Seiring dengan perkembangannya pada awal tahun 1990an mulai berkembang industri penggemukan sapi potong ini dengan menggunakan sapi bakalan import dari Australia. Perkembangan impor sapi potong khususnya sapi bakalan di Indonesia terus mengalami peningkatan. Hal ini selain disebabkan oleh kurangnya kemampuan ternak lokal untuk memberikan suplai sapi bakalan untuk penggemukan, terdapat kondisi lain yang mempengaruhi. Sebagai contoh, beberapa kondisi yang mempengaruhi tingginya jumlah impor sapi potong dari Australia sebagai importir terbesar, dimana pada tahun 1999-2000 Australia secara besar-besaran melakukan ekspor ke Timur Tengah sehingga Indonesia hanya mendapatkan sisa ekspor dengan harga yang ditawarkan rendah. Pada tahun tersebut impor sapi potong ke Indonesia mencapai 296 ribu ekor. Pada tahun selanjutnya, muncul kasus BSE (Bovine Spongiform Enchepalophaty) yang menggunang dunia peternakan sapi potong. Dampak dari munculnya isu ini
adalah konsumsi daging dunia yang menurun drastis, yang menyebabkan beberapa negara mengalami over supply. Australia sebagai salah satu negara dengan populasi sapi potong terbesar di dunia ikut mengalami dampak tersebut sehingga pada tahun tersebut harga sapi asal Australia mengalami penurunan drastis.
Impotir Indonesia yang tidak terganggu dengan isu penyakit BSE disamping kebutuhan untuk mencukupi permintaan daging nasional, tetap melakukan impor dengan kuota sebesar 289 ribu ekor di tahun 2001 tersebut. Selanjutnya pada tahun 2002, Australia mengalami masa kering yang sangat parah sehingga ternak dijual secara besar-besaran sehingga harga terus merosot. Impor Indonesia terhadap sapi Australia meningkat menjadi 430 ribu ekor di tahun tersebut. Selanjutnya pada tahun 2003, pasar sapi Autralia- Timur Tengah terganggu oleh perang di Irak, sehingga terjadi fluktuasi kurs mata uang di Mesir. Kondisi ini berakibat pada biaya transportasi untuk pengengkutan sapi dari Australia menuju Timur Tengah melambung tinggi. Selain Australia, Indonesia juga melakukan impor ternak dari New Zeland dan beberapa negara lainnya seperti Brazil. Kondisi perkembangan kuota impor bakalan sapi potong dapat dilihat dalam Gambar 6.
Gambar 6Pertumbuhann Impor Bakalan Sapi Potong di Indonesia (Kg) Sumber: Statistik Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjennak), 2000-2011
Tren yang meningkat dari impor sapi potong bakalan di Indonesia menjadi permasalahan tersendiri bagi pertumbuhan populasi sapi potong lokal. Pada tahun 2000 pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk meningkatkan potensi sapi potong khususnya sapi potong lokal di Indonesia untuk memenuhi kecukupan
-5000000 0 50000000 10000000 15000000 20000000 25000000 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Impor per KG
daging nasional melalui swasembada daging. Dalam operasionalnya, hingga tahun 2009 kebijakan tersebut dapat dikembangkan melalui program optimalisasi ekseptor dan Intensifitasi kawin alam (InKA), pengendalian pemotongan betina produktif, dan penanganan gangguan reproduksi. Dengan memperhatikan kinerja program pencapaian swasembada daging sapi (P2SDS) tahun 2010, program tersebut dipertajam menjadi lima kegiatan pokok, yaitu (1) penyediaan bakalan/ daging sapi lokal, (2) peningkatan produktivitas dan reproduktivitas ternak lokal, (3) pencegahan pemotongan betina produktif, (4) penyediaan bibit sapi lokal, dan (5) pengaturan stok daging sapi dalam negeri.
Ketahanan Pangan dan Pembangunan Peternakan
Ketahanan pangan pada tingkat nasional dapat diartikan sebagai kemampuan suatu bangsa untuk menjamin seluruh penduduknya memperoleh pangan yang cukup baik secara kualitas maupun kuantitas yang didasarkan pada optimalisasi pemanfaatan dan berbasis pada keragaman sumber daya lokal. Secara mikro, ketahanan pangan diartikan sebagai terpenuhinya kebutuhan pangan setiap rumah tangga untuk menjalani hidup yang sehat dan aktif. Aspek ketahanan pangan yang berkelanjutan identik dengan kebijakan dan strategi peningkatan kemandirian pangan nasional, sehingga perlu untuk diperhatikan (Ditjennak, 2010).
Ketahanan pangan dapat diukur dengan melihat ketergantungan ketersediaan pangan nasional pada produksi dalam negeri. Ketidakstabilan politik dan ekonomi yang merambat pada perdagangan dapat menyebabkan gangguan pada ketahanan pangan nasional. Terguncangnya industri peternakan sapi potong domestik akibat krisis moneter tahun 1997-1998 terjadi akibat ketergantungan yang tinggi terhadap bahan baku pakan dan bibit impor. Ketergantungan nasional terhadap daging dan sapi bakalan impor dapat melemahkan upaya peningkatan kemampuan produksi dalam negeri (Ditjennak, 2010). Jika dalam pelaksanaannya terjadi gangguan impor, maka sapi lokal akan digunakan dalam upaya pemenuhan kebutuhan daging nasional.
Kondisi peternakan sapi potong lokal yang lambat berkembang akibat masih tertutupinya kebutuhan oleh impor menyebabkan pengurasan pada populasi
sapi potong lokal itu sendiri yang berdampak pada kepunahan dalam jangka panjang. Oleh karena itu, ketahanan pangan hewani khususnya daging sapi tidak akan terwujud tanpa; (i) Penguatan sistem pembibitan yang benar, efektif, dan efisien, dan (ii) Pengembangan usaha pengembangbiakan sapi (cow calf operation) yang handal, berbasis pakan lokal, yang didukung oleh teknologi yang inovatif, sumber daya manusia yang lebih dinamis, dan kebijakan yang mampu menciptakan suasana kondusif (Ditjennak, 2010).
Program Swasembada Daging
Program swasembada daging merupakan upaya pemerintah dalam mewujudkan ketahanan pangan hewani asal ternak berbasis sumber daya lokal. kondisi impor yang tinggi dan memperlihatkan kecenderungan yang meningkat secara otomatis akan menguras devisa negara. Kondisi ini dapat menyebabkan kemandirian dan kedaulatan pangan asal hewan khususnya daging sapi semakin jauh dari harapan, yang dalam jangka panjang berpotensi masuk kedalam food trap negara eksportir (Ditjennak, 2010).
Dalam rangka memperkuat produksi daging sapi lokal sehingga dapat menjamin ketersediaan daging sapi secara nasional, pemerintah mengeluarkan beberapa kebijakan antara lain;
1. Kebijakan Hulu : Adanya jaminan ketersediaan input produksi secara mudah, murah, dan berkelanjutan. Dukungan Kredit Usaha Pembibitan Sapi (KUPS) harus dioptimalkan dan terus dikembangkan. Kredit murah untuk usaha penggemukan juga sangat diperlukan agar tunda potong dapat diwujudkan dengan baik. Ekspor bahan pakan, seperti bungkil inti sawit (BIS), tetes, wafer (pucuk tebu), onggok, dan lain-lain harus dibatasi atau bahkan dilarang apabila kebutuhan dalam negeri berlum terpenuhi.
2. Kebijakan Budidaya : Adanya kepastian usaha, terkait pada tata ruang, pola integrasi tanaman-ternak, dan lain-lain.
3. Kebijakan Harga dan Perdagangan : Adanya kepastian kepada pelaku usaha agar harga daging tetap atraktif namun masih terjangkau. Praktek monopoli atau kartel, impor produk tidak berkualitas dengan cara dumping, impor daging ilegal, dan lain-lain harus dicegah sebagai bentuk
perlindungan bagi peternak kecil dan pelaku usaha lainnya. Selain itu, bentuk perlindungan dalam konteks perdagangan internasional dapat memanfaatkan instrumen non-tariff seperti ASUH / Aman Sehat Utuh dan Halal dan SPS / Sanitary & Phytosanitary (Ditjennak, 2010).
Pengembangan sumber daya lokal khususnya sapi potong memiliki potensi yang sangat besar. Diluar ketersediaan lahan yang masih cukup tinggi di Indonesia, sapi potong lokal memiliki kemampuan dalam berkompetisi dengan produk impor. Sapi lokal yang terdapat di Indonesia terdiri dari jenis sapi Bali (33,73 persen ), sapi Peranakan Ongole (PO) dan keturunannya (23,88 persen ), sapi Madura (5,96 persen ), dan sapi lokal lainnya sperti sapi Aceh dan sapi Pesisir (13,45 persen ), serta sapi persilangan (22,97 persen ) (Ditjennak, 2010).
Potensi pengembangan sapi potong lokal juga didukung oleh ketersediaan pakan dan lahan. Potensi pakan yang ada diantaranya berupa Tanaman Pakan Ternak (TPT), Limbah Tanaman Pangan (LTP) seperti jagung, padi, dan kedelai, serta limbah dari perkebunan sawit yang mencapai 89,20 juta ton bahan kering per tahun. Diperkirakan masih terdapat kelebihan potensi pakan mencapai 68 juta ton bahan kering pertahun (Ditjennak, 2010). Secara teoritis, potensi tersebut mampu menampung tambahan ternak sapi potong hingga 39,76 juta ekor. Pemanfaatan potensi ini perlu dilakukan pemilahan dan pemilihan wilayah yang layak secara teknis maupun ekonomis. Kekurangan dari potensi pakan tersebut adalah terpusat dalam satu daerah, sedangkan sapi potong lokal terdapat menyebar di seluruh Indonesia.
Dalam rangka menguatkan posisi daya saing sapi potong lokal terhadap impor pada kondisi yang ada, agar dapat mewujudkan program swasembada daging tahun 2014, pemerintah mengeluarkan beberapa kebijakan. Kebijakan tersebut ditujukan untuk memperkuat peraturan yang terkait dengan pengembangan sapi potong lokal. Kebijakan tersebut menyangkut dalam beberapa aspek, yaitu;
1. Pemasukan dan Pengeluaran Daging Sapi dan Sapi Hidup
Importasi dilakukan pemerintah dengan tujuan memenuhi kebutuhan daging dalam negeri dan mengatasi harga daging sapi yang semakin meningkat. Berdasarkan UU No.18/2009 tentang Peternakan dan
Kesehatan Hewan (PKH), importasi sapi bakalan dapat dilakukan dari negara manapun jika memenuhi persyaratan dan mengikuti tatacara pemasukan yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Indonesia.
Pemasukan dan pengeluaran daging dan sapi hidup dari dan ke wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) juga diatur dalam berbagai peraturan perundangan dan kebijakan lainnya. Salah satunya adalah peraturan yang dikeluarkan oleh Menteri Pertanian dalam Permentan No.20/Permentan/OT.140/4/2009 tentang Pemasukan dan Pengawasan Peredaran Karkas, Daging, dan/atau Jeroan Dari Luar Negeri. Peraturan tersebut mencakup 7 ruang lingkup pengaturan yang meliputi: (i) Jenis karkas, daging, dan/atau jeroan yang dapat masuk ke wilayah NKRI; (ii) Persyaratan pemasukan yang mengatur tentang perilaku pemaskan; (iii) Kriteria negara dan/atau zona asal; (iv) Persyaratan unit usaha di negara asal dan persyaratan kemasan/label dan pengangkutan; (v) Tatacara pemasukan; (vi) Tindakan karantina hewan; dan (vii) Pengaturan tentang pengawasan peredaran-nya dan sanksi terhadap pelanggaran.
Untuk pengeluaran ternak dari wilayah RI, UU no.18/2009 tentang PKH menyatakan bahwa pengeluaran benih, bibit, dan/atau bakalan dari wilayah NKRI dapat dilakukan apabila kebutuhan dalam negeri telah dapat dicukupi dan kelestarian ternak lokal dapat terjamin. Operasional peraturan tersebut terdapat dalam Permentan No.07/Permentan/OT.140/1/ 2008 tentang Syarat dan Tatacara Pemasukan dan Pengeluaran Bibit, Benih, dan Ternak Potong.
2. Pembibitan dan Pembesaran
Kebijakan pembibitan sapi potong mengacu pada UU No.18/2009 dimana pemerintah berkewajiban untuk melakukan pengembangan usaha pembibitan dengan melibatkan peran masyarakat untuk menjamin ketersediaan benih, bibit, dan bakalan. Pembibitan sapi potong dilaksanakan berdasarkan pada Permentan No.36/Permentan/OT.140/8/ 2006 tentang Sistem Pembibitan Nasional. Sistem ini dimaksudkan untuk memberi jaminan kepada peternak untuk mendapatkan bibit unggul secara
berkelanjutan dan dapat mengoptimalkan keterkaitan dan saling ketergantungan pelaku pembibitan dalam upaya penyediaan benih dan/atau bibit ternak dalam jumlah, jenis, dan mutu yang sesuai dengan kebutuhan.
Dalam usaha pembibitan ternak, pemerintah selain berperan sebagai regulator dan fasilitator, juga bertindak sebagai penyedia bibit/benih unggul. Benih untuk sapi potong dapat berupa semen atau embrio yang berasal dari dalam maupun luar negeri. Usaha penyediaan dapat dilakukan oleh lembaga penelitian, pusat pembibitan, swasta/koperasi, atau oleh masyarakat dalam bentuk pembibitan rakyat (Village Breeding Center/VBC).
3. Penggemukan
Kebijakan pemerintah lainnya yang mendukung upaya pencapaian Program Swasembada Daging Sapi tahun 2014 adalah terus memfasilitasi pengembangan usaha penggemukan. Usaha tersebut dapat dilakukan oleh pihak swasta/koperasi yang pada umumnya melakukan importasi, kelompok-kelompok peternak sapi potong skala kecil/ menengah yang mendapat fasilitas dari pemerintah, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Pengembangan usaha penggemukan dapat memanfaatkan sapi lokal maupun hasil IB.
Kebijakan pemerintah untuk menjaga populasi sapi potong lokal adalah dengan kebijakan tunda potong. Angka populasi sangat mempengaruhi terwujudnya PSDS 2014 yang berkaitan dengan jaminan ketersediaan jumlah sapi potong yang dapat diproduksi, tanpa mengganggu populasi dalam jangka panjang.
4. Produksi dan Pemotongan
Kebijakan pemerintah dalam mendukung PSDS 2014 dalam produksi dan pemotongan adalah kebijakan penyembelihan ternak produktif. Kebijakan tersebut diatur dalam UU No.18/2009 tentang PKH yang menjelaskan tentang larangan penyembelihan ternak betina produktif
kecuali untuk keperluan penelitian, pemuliaan, atau pengendalian dan penanggulangan penyakit hewan. Kebijakan-kebijakan lanjutan dari UU tersebut adalah penyediaan dana talangan untuk penjaringan sapi-sapi betina produktif yang akan dijual oleh peternak. Ternak-ternak yang terjaring tersebut kemudian ditampung dan dijadikan indukan bagi penyediaan bibit.