• Tidak ada hasil yang ditemukan

Industri Peternakan Sapi Potong di Indonesia

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.5. Industri Peternakan Sapi Potong di Indonesia

Industri peternakan sapi potong dapat diartikan sebagai kegiatan bisnis yang rantai kegiatannya tidak terbatas pada kegiatan budidaya saja, namun sampai kegiatan industri berikut beserta kegiatan pendukungnya.

Perkembangan Kebijakan Peternakan Sapi Potong

Usaha pengembangan terhadap sapi potong di Indonesia menurut Arifin (2010) telah dimulai sejak tahun 1970-an meskipun hasil yang diperoleh tidak begitu menggembirakan. Sebelum tahun 1974, pemerintah pernah meluncurkan program Bantuan Presiden (Banpres) sapi potong, Crash Program Sapi Potong Impor, maupun Proyek Kredit Pedesaan yang tujuannya adalah untuk meningkatkan produksi ternak potong untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Pada tahun 1974/1975 hingga 1980/1981, pemerintah Indonesia mengeluarkan kebijakan pengembangan sapi potong dalam bentuk program Panca Usaha Ternak (PUTP). Berbeda dengan pernyataan Arifin (2010), Rahmanto (2004) menyatakan bahwa pemerintah Indonesia melakukan kebijakan pengembangan ternak sapi potong sejak awal periode 1990-an untuk memenuhi kebutuhan daging sapi yang terus meningkat. Kebijakan tersebut melalui dua pola pengusahaan, yaitu pola

pengusahaan yang dilakukan oleh peternakan rakyat, dan pola pengusahaan yang melibatkan perusahaan-perusahaan besar swasta (feedlot).

Pada tahun anggaran 2002 pemerintah telah merencanakan upaya pengembangan ternak sapi potong melalui kegiatan Program Pengembangan Kawasan Agribisnis Berbasis Peternakan, dan kegiatan tersebut diaplikasikan pada berbagai bentuk kegiatan pengembangan ternak potong. Pengembangan Kawasan Agribisnis Berbasis Peternakan pada dasarnya merupakan suatu model atau pola pengembangan wilayah atau daerah yang diarahkan pada keterpaduan usaha tani antara peternak dan tanaman pangan, perkebunan, dan perikanan (kawasan peternakan terpadu) dan kawasan peternakan khusus yang memiliki kegiatan utama usaha peternakan sapi seperti lahan umum, ranch, dan kawasan khusus peternak (KUNAK). Pengembangan dan pelaksanaannya dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan sehingga mengarah kepada wilayah atau daerah yang berkembang mandiri dan memiliki nilai ekonomis (Ditjennak, 2002).

Dalam rangka upaya pengembangan ternak sapi potong, pada tahun 2003 upaya pengembangan ternak tersebut menyebar di 29 provinsi. Pada awalnya upaya ini dilakukan melalui proyek pengembangan sapi potong sistem “Sumba

Kontrak”. Program tersebut cukup berhasil dalam memicu kinerja peternak rakyat.

Program tersebut kemudian diikuti oleh program-program susulan seperti Proyek Panca Usaha Ternak Potong (PUTP) dan terakhir adalah Program Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) yang meliputi Program Peningkatan Rakyat Terpadu (P2RT).

Program lainnya yang bertujuan untuk pengembangan ternak potong adalah Program Pengembangan Kawasan Agribisnis Peternakan yang didalamnya terdapat Sistem Integrasi Padi-Ternak (SIPT). Kebijakan terakhir yang dikeluarkan pemerintah untuk peternakan sapi potong adalah kebijakan swasembada daging oleh pemerintah yang konsep dasarnya adalah optimalisasi penggunaan sumber daya lokal untuk memenuhi kebutuhan daging sapi dalam negeri.

Usaha Peternakan Sapi Potong

Peternakan sapi potong di Indonesia terdiri dari peternak besar dan peternak rakyat. Peternak besar atau peternak komersial (yang memelihara >1.000 ekor/peternak per tahun) terdiri atas peternak penggemukan (feeder) dan peternak pembibitan (breeder). Para peternak penggemukan umumnya mendapatkan ternak sapi bakalan melalui impor berupa sapi jantan/betina Brahman cross dan hanya sedikit peternak komersial tersebut yang menggunakan sapi bakalan dalam negeri, terutama karena alasan nilai ekonomis yang rendah. Dari pengalaman pada peternakan penggemukan inilah, akhirnya berkembang peternakan sumber bibit atau bakalan (Talib, Inounu, dan Bamualim, 2007).

Indonesia masih belum memiliki peternakan breeder murni. Di Indonesia, peternak komersial yang memanfaatkan sapi-sapi betina produktif ex-impor untuk menghasilkan keturunan. Sapi-sapi betina tersebut diseleksi dengan seksama akan sifat-sifat reproduksinya, kemudian diinseminasi dan dijual sebagai ternak betina bunting. Sapi-sapi betina tersebut diminati oleh banyak pemerintah daerah untuk dikembangkan dan digunakan untuk menambah populasi sapi potong di wilayahnya masing-masing. Pasar kedua produk tersebut, baik sapi penggemukan maupun sapi bunting adalah pasar yang sangat prospektif (Talib, Inounu, dan Bamualim, 2007).

Peternak rakyat atau peternak tradisional menurut Talib, Inounu, dan Bamualim (2007) juga mempunyai peran yang hampir sama, tetapi dalam skala usaha yang sangat berbeda. Peternak penggemukan lebih dikenal sebagai peternak sapi kereman karena waktu yang dibutuhkan untuk mencapai bobot potong cukup lama yaitu lebih dari 6 bulan. Sementara itu peternak penghasil sapi bakalan lebih tepat disebut sebagai peternak budidaya karena praktek seleksi untuk peningkatan produktivitas belum ada dan memang tidak tepat untuk dilaksanakan karena skala pemilikan yang kecil (1–5 ekor/peternak). Menurut Yusdja dan Ilham (2006), sebagian besar ternak sapi lokal di Indonesia dipelihara secara tradisional dalam bentuk usaha rakyat.

Pembibitan dan Pakan Ternak Sapi Potong

Pembibitan sapi potong dapat dilakukan secara alami maupun dengan menggunakan teknologi atau buatan. Menurut Rahmanto (2004), pembibitan yang dilakukan oleh peternak-peternak kecil umumnya bertujuan untuk tabungan. Teknik kawin suntik (inseminasi buatan-IB) yang dilakukan biasanya berhasil dengan frekuensi 2-4 kali penyuntikan dengan biaya persuntik adalah Rp 30.000. Sapi bakalan jantan biasanya dipelihara selama 1,5 hingga 2 tahun untuk siap dijual. Sebagian besar bibit sapi potong lokal betina dijual dari umur 4 bulan hingga 2 tahun, bergantng kepada kebutuhan peternak. Di daerah Magetan, ternak diberikan pakan hijauan berupa jerami padi, jerami jagung, dan rumput serta pakan konsentrat seperti katul, ubi kayu, dan garam. Selama masa pemeliharaan (720 hari), sapi bakalan menghabiskan 1800 Kg pakan dengan harga rata-rata untuk daerah tersebut adalah Rp 1500/kg.

Berikutnya dijelaskan oleh Rahmanto (2004), usaha penggemukan sapi potong di wilayah Magetan umumnya dilakukan dengan memelihara 1-2 ekor sapi bakalan. Pemeliharaan dalam sistem penggemukan ini lebih bersifat komersil dibandingkan dengan sapi bakalan atau bibit. Dalam 1 periode penggemukan atau sekitar 6 bulan, satu ekor sapi dapat menghabiskan 73 Kg hijauan dan 800 kg pakan konsentrat.

Apabila dibandingkan dengan sapi impor atau jenis sapi limousin (di daerah yang sama dan peternakan yang sama) satu ekor sapi dapat menghabiskan 220 Kg pakan hijauan dan 2384 kg pakan konsentrat selama 12 bulan, atau setara dengan 110Kg pakan hijauan dan 1192kg pakan konsentrat selama 6 bulan. Menurut Yusdja et al (2001), untuk daerah Nusa Tenggara Barat, Jawa Timur, dan Sumatera Utara, akan menunjukkan bahwa usaha sapi kreman akan mengalami kerugian jika seluruh biaya usaha tani diperhitungkan dalam analisis, kecuali untuk daerah Jawa Timur pada skala usaha 6 ekor/ peternak.

Peternakan semi intensif yang banyak dikembangkan di daerah Garut, menurut Permana (2002) kebanyakan menggunakan jerami padi dan ampas tahu sebagai pakan utama. Pakan tersebut banyak digunakan dengan alasan merupakan sumber daya lokal atau potensi daerah setempat. Sebagian besar peternak di daerah tersebut (96,43 persen ) menggunakan jerami padi dan ampas tahu sebagai

pakan ternak, dan hanya 3,57 persen yang menggunakan konsentrat secara rutin. Perbedaan dalam pemberian pakan selain akan mempengaruhi kualitas sapi potong yang dihasilkan, juga akan mempengaruhi tingkat harga jual dan pendapatan peternak.

Produksi Sapi Potong di Indonesia

Produksi sapi potong menurut Kariyasa (2004), dipengaruhi oleh harga daging sapi dalam negeri, suku bunga, populasi ternak sapi, harga ternak sapi, dan harga pakan. Menurut penelitian tersebut, hanya peubah teknologi dan tingkat upah yang tidak mempengaruhi produksi daging sapi. Nilai produksi daging sangat responsif terhadap perubahan harga daging sapi dalam negeri dan harga ternak sapi. Sesuai dengan hukum permintaan yang menyebutkan bahwa ketika harga tinggi, maka suplai barang akan meningkat, maka ketika harga daging sapi tinggi, maka nilai produksi akan ikut meningkat, begitu juga sebaliknya yakni ketika harga daging sapi mengalami penurunan, maka produksi daging akan ikut turun.

Harga sapi akan mempengaruhi jumlah sapi yang dapat atau akan dipotong. Ketika harga sapi tinggi maka pembelian sapi potong akan cenderung rendah, sehingga jumlah pemotongan akan berkurang, yang akibatnya jumlah produksi daging sapi akan berkurang, begitu sebaliknya (Kariyasa, 2004). Menurut Taufik (2010), produksi dari peternakan sapi potong dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti penggunaan hijauan, lama pemeliharaan, dan jumlah ternak. Sebaliknya, faktor yang tidak berpengaruh nyata menurut penelitian ini adalah konsentrat, tenaga kerja, umur ternak, dan bobot awal ternak.

Kondisi Pasar Sapi Potong di Indonesia

Saat ini ketergantungan peternak terhadap jasa pengumpul dalam memasarkan ternaknya masih cukup tinggi meskipun telah tersedia pasar ternak dengan fasilitas yang cukup memadai. Beberapa faktor penyebabnya menurut Rahmanto (2004) serta Yusdja dan Ilham (2006) diantaranya adalah; pertama, tingkat skala usaha peternak yang relatif kecil sehingga pengeluaran biaya pemasaran seperti biaya angkut dalam pemasaran ternaknya menjadi tidak efisien

dibandingkan dengan menjualnya pada pedagang pengumpul yang pembelian dan pembayarannya dilakukan di kandang.

Kedua, peternak tidak memiliki pengetahuan yang cukup mengenai kondisi pasar. Kurangnya informasi pasar dapat menyebabkan peternak mengalami kerugian dari sisi harga maupun penipuan. Ketiga, transaksi didasarkan pada taksiran pembeli. Tidak adanya ketentuan dalam penetapan harga seperti bobot ternak maupun kondisi-kondisi lainnya akan melemahkan posisi tawar dari peternak, sehingga peternak akan mengalami kerugian apabila penjualan dilakukan atas dasar kebutuhan, bukan pada sistem bahwa ternak sapi tersebut telah mencapai umur jual. Keempat, banyaknya makelar yang berada di pasar yang berpotensi mengurangi penerimaan dari peternak.

Usaha peternakan sapi potong, baik secara langsung maupun tidak langsung berkompetisi dengan perusahaan besar yang melakukan kegiatan impor. Di Jawa Timur, menurut penelitian yang dilakukan Rahmanto (2004), impor sapi hidup berpengaruh positif terhadap pengeluaran ternak di daerah tersebut. Hal ini disebabkan karena sebagian besar ternak impor sapi terdiri dari sapi bibit dan sapi bakalan yang menyumbang terhadap jumlah populasi ternak. Perbandigannya adalah bahwa setiap 1 ton berat hidup sapi impor (setara dengan 3-4 ekor sapi hidup) akan menyumbang peningkatan pengeluaran ternak dari Jawa Timur sebesar 0,976 ekor. Sebaliknya impor daging berpengaruh negatif terhadap pengeluaran ternak di Jawa Timur. Perbandingan pengaruh ini adalah tiap impor daging sapi sebesar 1 ton akan menurunkan jumlah pengeluaran ternak sebesar 3,7 ekor.

Keadaan tersebut akan sangat mempengaruhi pasar di daerah DKI Jakarta dan Jawa Barat yang merupakan daerah pemasaran utama ternak sapi potong. Pangsa pemasukan ternak sapi potong dikedua provinsi tersebut adalah pangsa terbesar di Indonesia, yaitu sebesar 31 persen dan 42 persen (Ilham et al, 2001). Menurut Yusdja et al (2001) 43 persen dari pengadaan daging sapi untuk kedua daerah tersebut berasal dari impor, sedangkan 57 persen lainnya berasal dari peternak domestik.

Pertukaran atau definisi pasar akan terjadi dengan adanya harga. Kondisi harga pada pasar dipengaruhi oleh faktor-faktor yang berbeda. Menurut Rahmanto

(2004), harga penjualan sapi potong di Jawa Timur, khususnya Magetan, didasarkan pada volume bobot karkas setelah pemotongan, atau bukan berdasarkan pada berat hidup. Harga sapi potong di pasar internasional, dipengaruhi oleh nilai tukar mata uang suatu negara. Sebagai contoh, melemahnya nilai tukar rupiah terhadap US$ menyebabkan harga paritas impor menjadi lebih mahal.

Dokumen terkait