5. HASIL PENELITIAN
5.2 Gambaran Umum Lokasi Penelitian
5.2.1 Gambaran Umum Kantin SMAN 2 Tangerang Selatan
Kantin SMAN 2 Tangerang Selatan sudah memenangkan lomba kantin sehat tingkat nasional. Penanggung jawab kantin adalah koperasi, dimana belum semua anggota koperasi mengikuti pelatihan terkait kantin sehat. Saat wawancara dan observasi dilakukan dapat dilihat bahwa dua anggota koperasi yang berjenis kelamin laki- laki dan perempuan keduanya berbadan sehat, tidak menderita penyakit menular yang terlihat (seperti batuk, flu, dan lain- lain), bersih, dan rapi. SMAN 2 Tangerang Selatan memiliki panitia yang terdiri atas guru- guru yang bertanggung jawab atas lomba sekolah sehat, termasuk di dalamnya pengawasan terhadap kantin sehat. Pengawasan kantin dilakukan terutama oleh koperasi, guru, serta murid. Pengawasan koperasi dan guru dilakukan dengan mengunjungi kantin, terkadang atas perintah kepala sekolah sewaktu- waktu sampel makanan diambil untuk diuji di laboratorium farmasi di sebuah universitas. Pengawasan oleh siswa sendiri hanya dengan memberitahu pada guru harapan pada kantin. Kepala sekolah turut berperan aktif dalam pengembangan kantin sehat, hal ini dibuktikan dengan beliau yang ikut merancang dan membangun kantin sehat, saluran air, dan tempat pembuangan sampah. Beberapa siswa yang mengikuti Focus Group Discussion (FGD) pernah mendapatkan penyuluhan terkait kantin sehat yang diberikan oleh puskesmas, yang lain hanya pernah mendengar guru membicarakan tentang kantin sehat atau jajanan sehat, dan sisanya merasa tidak pernah mendapat penyuluhan ataupun mendengar guru membicarakan hal tersebut.
Jenis makanan yang disajikan antara setiap kios berbeda antara yang satu dengan yang lain. Contoh jenis makanan yang terdapat di kantin adalah nasi warteg, nasi bungkus, bakso, spaghetti, pempek, gorengan, batagor, kwetiau, makanan snack bungkusan, kue- kue bolu, jagung rebus, minuman botol tidak bersoda, minuman kemasan yang harus diseduh, dan lain- lain. Di setiap etalase kios ditempelkan besaran energi, karbohidrat, protein, dan lemak makanan utama kios tersebut. Selama observasi berlangsung tidak ditemukan penggunaan saos ataupun minuman dengan warna mencolok dan ditemukan satu jenis makanan ringan tanpa merk, ataupun ijin edar BPOM yang dijual, makanan tersebut berupa
39
makanan makaroni goreng dan kerupuk dengan bumbu bubuk cabe yang terlihat berwarna merah mencolok. Dalam observasi pada informan pengolah makanan ditemukan bahwa penggunaan penyedap rasa dalam jumlah kecil pada makanan.
Gambar 5.1 Kantin SMAN 2 Tangerang Selatan
Kantin SMAN 2 Tangerang Selatan, seperti yang terlihat pada gambar 5.1, berdiri di atas sebuah lapangan yang luas, berada di belakang beberapa ruang kelas, namun tidak menempel pada kelas – kelas tersebut. Kantin sendiri merupakan kantin terbuka, tergambar dari tempat makan yang berdiri di sebuah lapangan dengan atap dari seng tanpa dinding, pintu, dan jendela, dan dikelilingi oleh kios- kios tempat mengolah dan menjual makanan dan minuman di dua sisi, serta tanaman- tanaman hias di sisi lainnya. Di sekitar kantin tidak terlihat jamban maupun kamar mandi. Tempat sampah diletakkan di beberapa tempat di sekitar kantin, di sisi luar tempat makan. Ruang pengolahan makanan yaitu berada dalam kios, yang seragam antara satu dengan yang lain, termasuk ruang tertutup, namun terbuka di sisi depan, dengan pintu berupa rolling door. Ventilasi dalam kios terdapat di ketiga sisi dinding tidak mencapai 20 % luas lantai, dan banyak pedagang yang menutup ventilasi tersebut baik dengan kasa ataupun dengan koran dan kardus. Lantai baik dalam kios maupun tempat makan merupakan lantai keramik, sedangkan dinding hanya terdapat dalam kios merupakan dinding pada umumnya, rata, dan halus, serta berwarna putih, namun jika ada minyak yang menempel pada dinding akan sulit dibersihkan. Langit- langit pada kios bukan
dari asbes berwarna putih dan tidak terlihat adanya kebocoran selama observasi, sementara langit- langit tempat makan terbuat dari seng.
Gambar 5.2 Kios Kantin SMAN 2 Tangerang Selatan
Di setiap kios disediakan bak cuci piring (Gambar 5.2) yang memiliki air mengalir. Sumber air merupakan air tanah yang digali sendiri oleh pihak sekolah. Berdasarkan observasi dan hasil wawancara mendalam diketahui air bersih untuk pencucian piring tidak ditampung melainkan langsung dilakukan di bak cuci piring, sementara untuk air minum, air bersih dimasak terlebih dahulu kemudian ditampung dalam wadah air minum. air di kantin tidak berwarna, berbau, dan berasa.
Tempat penyimpanan di kantin hampir semua berupa etalase (Gambar 5.3) yang di bawahnya terdapat laci dan rak, di beberapa kios terdapat freezer dan kulkas tambahan. Tempat penyimpanan makanan jadi hampir semua di dalam etalase, beberapa pedagang menyimpan bahan makanan di rak bawah etalase ataupun di freezer atau atau dan kulkas, sementara beberapa lainnya menyimpan barang- barang dalam rak tersebut, beberapa menyimpan barang- barang seperti peralatan masak digantung pada dinding, ataupun diletakkan di bawah. Tempat penyimpanan etalase, mudah dibuka, sehingga mudah dibersihkan, dan karena etalase terbuat dari kaca, terlihat jika kotor, namun rak di bawah etalase sulit dibersihkan, karena terkadang pintu suka terhalang di salah satu sisi. Saat
41
Gambar 5.3 Tempat Penyimpanan Kantin SMAN 2 Tangerang Selatan
Tempat pengolahan makanan berada dalam kios dalam kondisi bersih, namun tidak tertutup dan terpisah dengan ruang makan. Di dalam kios masing- masing terdapat meja permanen yang mudah dibersihkan. ruang pemasakan dapat dikatakan cukup luas bagi kios tanpa freezer ataupun kulkas, di setiap kios rata- rata memiliki dua orang pengolah makanan, dan keduanya dapat bergerak secara leluasa dalam kios tanpa berdesakkan.
Tempat penyajian makanan masih berada dalam kios masing- masing, alat makan biasanya diletakkan di pinggir etalase. Berdasarkan hasil observasi, terlihat peralatan makan sudah sesuai dengan jenis jajanan yang ada. Setiap kios telah memiliki etalase. Tempat makanan cemilan dan makanan utama ditampilkan dalam etalase yang sama namun dalam wadah yang berbeda. Pada tempat makan terdapat meja dan kursi yang cukup untuk siswa saat istirahat, terlihat bersih, dan tidak berdesakkan. Tempat makan dalam ruang terbuka, sehingga terlihat terang, dan dengan adanya atap tidak terpapar matahari langsung. Di sekeliling kantin terdapat tanaman – tanaman hias, dan poster mengenai PHBS.
Kantin memiliki wastafel untuk cuci tangan siswa sebanyak dua buah, dekat pintu keluar kantin, namun jarang terlihat siswa mencuci tangan. Tempat cuci tangan belum dilengkapi sabun, dan lap namun sudah mudah dijangkau oleh siswa. Disetiap kios terdapat bak cuci piring dengan air mengalir namun belum memiliki rak pengering, di atas bak cuci piring terdapat poster kecil cara mencuci
tangan yang baik. Tersedia alat pembersih seperti sapu, lap, dan sabun di beberapa kios. Petugas kantin memiliki jadwal piket selama seminggu untuk menjaga kebersihan kantin.
Pekerja wanita kebanyakan menggunakan jilbab, sementara pekerja pria dan wanita yang tidak menggunakan jilbab pendek, atau diikat. Tempat penyimpanan uang terletak di laci yang tertutup dan terpisah dengan display makanan. Terdapat beberapa tempat sampah di sekeliling tempat makan dan di kios Terdapat pemisahan sampah organik dan non organik. Sampah dari kantin akan dikumpulkan dalam sebuah gerobak dan diangkat ke tempat pembuangan sampah. Terdapat saluran air yang tertutup dan lancar ke depan sekolah. Memiliki lubang angin kecil di dalam kios dan bagian depan kios yang terbuka. Petugas tahu harus menggunakan celemek, namun masih banyak yang belum menggunakan celemek. Penggunaan sarung tangan masih jarang digunakan, dalam observasi tidak terlihat ada yang menggunakan sarung tangan, namun seorang pengolah makanann menyatakan dia menggunakan sarung tangan saat mengolah daging menjadi baso.