• Tidak ada hasil yang ditemukan

Geografi Dan Kependudukan 1. Geografi

MENGENAL ETNIK BADUY DALAM

2.2. Geografi Dan Kependudukan 1. Geografi

a. Gambaran umum menuju kampung Baduy Dalam

Tim menuju ke Cibeo dibantu dengan 6 tenaga bantuan orang sekaligus sebagai penunjuk jalan. Kondisi medan menuju Cibeo naik turun perbukitan diwilayah pegunungan Kendeng dengan berjalan kaki. Kondisi jalannya berupa tanah liat yang licin (karena hujan setiap sore) dan sesekali susunan batu kali besar kecil (makadam). Sepanjang jalan, di kanan kiri terlihat huma penduduk Baduy dan hutan primer maupun sekunder. Dalam perjalanan sering dijumai di sebuh saung (gubuk di tengah ladang yang menyerupai rumah). Saat istirahat itulah didatangi oleh Jaro Alim (Jaro Cikeusik) dan seorang baresan (polisi adat Baduy) bernama Ayah Kamik. Beliau berdua ingin mengetahui tujuan tim masuk dan mohon untuk dihubungkan dengan Jaro Dainah (Jaro Pamarentah). Setelah dijelaskan oleh Jaro Dainah melalui telpon selulernya baru paham tujuan tim masuk ke Baduy Dalam, akhirnya tim diperbolehkan untuk melanjutkan

perjalanan. Begitu tim tiba di jembatan yang menghubungan wilayah Tangtu Cibeo dan Cikartawana maka diingatkan lagi bahwa semua alat elektronik harap segera dinonaktifkan.

Desa Kanékés menjadi tempat tinggal masyarakat Baduy merupakan salah satu desa yang termasuk wilayah Kecamatan Leuwidamar Kabupaten Lebak Provinsi Banten. Luas keseluruhan wilayahnya lebih kurang 5.101,85 ha, sebagian besar tanahnya merupakan dataran tinggi yang berbukit-bukit dengan lembah-lembah yang merupakan daerah aliran sungai dan hulu-hulu sungai dan hulu-hulu sungai yang mengalir ke sebelah Utara. Bagian tengah dan Selatan Desa Kanékés merupakan hutan lindung yang mereka sebut dengan leuweung kolot (hutan tua).

Secara geografis desa ini terletak pada koordinat 6˚27’27’’ LU dan 108˚3’9” - 106˚4’55” BT. Posisinya berada pada ketinggian 300 – 600 m dpl dan mempunyai topografi berbukit dan bergelombang dengan kemiringan 45˚. Pada bagin Utara desa jenis tanahnya berupa vulkanik, sementara dibagian tengah berupa tanah endapan (sedimen), sedangkan bagian Selatan berupa tanah campuran. Suhu rata-rata di wilayah desa Kanékés adalah 20˚C, dengan kelembaban cukup tinggi. Curah hujan rata-rata tahunan di wilayah Baduy umumnya mencapai 4.000 mm/tahun. Daerah Baduy memiliki curah hujan tertinggi dibandingkan dengan daerah lain di Kecamatan Leuwidamar. Sedangkan musim kemarau terjadi pada bulan Juni-September dan bulan Oktober-Mei terjadi musim hujan. Pada daerah tersebut juga terdapat bulan-bulan kering dengan curah hujan kurang dari 60 mm dan suhu rata-rata bulanan lebih besar dari 18˚ C.

Desa Kanékés merupakan tanah ulayat yang dilindungi oleh SK Gubernur Jawa Barat tahun 1968 dan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 13 tahun 1990. Kedua Peraturan Daerah tersebut dikuatkan dengan peraturan Daerah Kabupaten Lebak Nomor 32

Tahun 2001 tentang Perlindungan Atas Hak Ulayat Baduy (Perda Ulayat Baduy). Batas-batas Desa Kanékés adalah sebagai berikut (Peraturan Daerah Kabupaten Lebak No. 32 tahun 2001):

1. Sebelah Utara:

a. Desa Bojongmenteng Kecamatan Leuwidamar. b. Desa Cisimeut Kecamatan Leuwidamar.

c. Desa Nyagati Kecamatan Leuwidamar.

Gambar 2. 3. Denah Provinsi Banten

Sumber: bantenculturertourisme.com, diakses tgl. 16/5/2014 2. Sebelah Barat:

a. Desa Parakanbeusi Kecamatan Bojongmanik. b. Desa Keboncau Kecamatan Bojongmanik.

3. Sebelah Selatan: Cikate Kecamatan Cijaku. 4. Sebelah Timur:

a. Desa Karangcombong Kecamatan Muncang. b. Desa Cilebang Kecamatan Muncang.

Gambar 2. 4. Denah Tata Letak Etnik Baduy

Sumber: pandu.rumahseni2.net diakses tgl. 10/5/2014

Selain batas desa tersebut, terdapat pula batas-batas dalam bentuk fenomena alam berupa sungai yaitu:

1) Sebelah Utara : Sungai Ciujung. 2) Sebelah Selatan : Sungai Cidikit.

3) Sebelah Barat : Sungai Cibarani. 4) Sebelah Timur : Sunagi Cisimeut.

Gambar 2. 5.

Medan menanjak dengan kemiringan 45˚ menuju wilayah Baduy Dalam sumber: Dokumentasi Peneliti

Sungai Mata Air dan Alam Sekitar.

Etnik Baduy Dalam sangat konsisten untuk melakukan konservasi alam. Khususnya terkait dengan pemeliharaan kebersihan aliran sungai. Mereka beranggapan bahwa aliran sungai harus dijaga kebersihannya, karena dengan sungai yang bersih inilah dapat mendukung kehidupan mereka. Kepedulian ini tampak dalam pemanfatan kali yang ada di samping kampungnya, baik di Cibeo, Cikartawana dan Cikeusik. Sebagai contoh nyata dalam pemanfatan sungai bisa diperhatikan dalam narasi berikut ini.

Ketika warga Cibeo memanfaatkan kali Ciparayang ternyata sudah dipilah-pilahkan, artinya bahwa wilayah sungai untuk mengambil air yang dikonsumsi berada ditempat paling atas/lebih hilir. Mereka mengambil air untuk konsumsi yang dibawa ke imah (rumah) tidak menggunakan ember, melainkan menggunakan kele (wadah air dari bambu menyerupai kentongan kecil). Bersebelahan dengan khusus tempat air yang dikonsumsi merupakan tempat untuk mandi kaum lelaki. Kurang lebih 50 meter arah ke hulu dari tempat mandi kaum lelaki, merupakan wilayah untuk kaum perempuan sekaligus untuk mencuci pakaian dan alat-alat dapur. Sedangkan untuk buang air besar (BAB) berada terbawah atau lebih mengarah ke hulu dari keduanya. Secara kasat mata, sungai Ciparahyang yang mengalir dan terletak di sisi Utara kampung Cibeo tampak jernih. Di atas kampung Cibeo tidak ada pemukiman, industri atau peternakan unggas ayam. Bahkan warga Baduy Dalam maupun warga Baduy Luar tetap patuh tidak memelihara sapi, kerbau, kuda dan kambing. Prinsipnya secara adat tidak dibenarkan untuk memelihara binatang berkaki empat seperti yang tersebut di atas. Karena ada larangan untuk memelihara binatang berkaki empat seperti sapi, kerbau, kambing dan kuda itu, maka polusi rumah tangga, kotoran binatang untuk sementara ini tidak mencemari sungai Ciparayang.

Bagi masyarakat Etnik Baduy Dalam penghargaan terhadap alam sangat dijunjung tinggi. Seperti telah terurai bahwa pembagian pemanfaatan wilayah sungaipun sudah diatur sedemikian rupa. Sehingga pelanggaran pemanfaatan air sungai menurut informasi warga setempat hampir tidak ada. Seperti dituturkan oleh Wakil Jaro Tangtu Cibeo:

“....kami bisa memastikan bahwa warga di sini (Cibeo, Cikartawana dan Cikeusik) sangat menghargai air. Karena air merupakan sumber kehidupan, oleh karena

itu harus ditata penggunaannya. Jangan sampai salah guna, seperti buang limbah, buang sampah di sungai. Itu semua akan merusak lingkungan, bukan hanya warga yang dekat dengan hulu sungai tetapi warga yang ada di sepanjang aliran sungai akan dirugikan karena buang sampah atau limbah di sungai....”

Seandainya ada warga yang sampai berani melanggar tatanan dalam pemanfaatan air sungai atau sumber air maka akan terkena sanksi. Mulai dari sanksi teguran hingga pengeluaran dari adat. Sanksi ini tidak hanya untuk yang berbuat terhadap pencemaran dan penyalahgunaan sungai tetapi juga penyalahgunaan kayu, lahan yang berada di wilayah ulayat. Bahkan sudah ada yang dikenai sanksi pengeluaran dari Tangtu. Dikenai sanksi bukan karena kasus penyalahgunaan pemanfaatan sungai tetapi karena kasus penyalahgunaan pemanfaatan kayu.

Sanksi yang dijatuhkan oleh adat setempat bukan hanya pada si pelaku tetapi keluarga inti tersebut ikut menanggungnya. Artinya bahwa keluarga inti pelaku yang terdiri dari Ayah, Ibu dan Anak yang belum menikah ikut keluar dari Tangtu asalnya. Sanksi dijatuhkan bukan dengan sewenang-wenang begitu saja, melainkan sudah melalui proses panjang dengan pertimbangan-pertimbangan adat dan kemanusiaan. Dengan kata lain bahwa sanksi benar dijatuhkan apabila memang sudah benar-benar keterlaluan bahwa tindakannya tersebut merugikan masyarakat warga Baduy Dalam pada khususnya, dan masyarakat umum di luar Etnik Baduy. Bahkan disebutkan, bila pelaku tersebut tidak dikenai sanksi maka akan membawa akibat bencana alam besar seperti banjir, banjir bukan saja melanda daerah kampung Tangtutetapi juga akan melanda masyarakat yang ada di dataran lainnya. Selain banjir juga akan merusak bahkan menghilangkan sumber mata air yang merupakan kebutuhan pokok hidup manusia. Sanksi dijatuhkan juga memiliki

unsur pendidikan bagi warga yang lain, tujuannya preventif, yaitu agar jangan melakukan perusakan lingkungan alam.

Kondisi Alam, Vegetasi, Pola Pemanfaatan Air, Pola Tanam Dan Cara Tanam

Kondisi Alam, berdasar dari pengamatan tim ahli geologi bahwa wilayah pemukiman Etnik Baduy berada di Pegunungan Kendeng. Untuk bagian Utara terdiri dari susunan struktur tanah vulkanik, di wilayah tengah terdiri dari struktur sedimen dan di wilayah Selatan terdiri struktur campuran.

Vegetasi yang ada lebih banyak dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Diantaranya dipergunakan untuk pengobatan, dikonsumsi, bahan rumah, bahan saung, bahan lisung dan penumbuknya, jembatan dan lain-lain. Diantara yang dijelaskan oleh informan adalah terkait dengan obat-obat tradisional yang umum digunakan oleh masyarakat warga Baduy Dalam atau Baduy Luar. Seperti bila sakit gigi (nyeri huntu) atau sakit perut (nyeri beuteung) akan diobati dengan daun harendong (Melastoma candidum D. Don), dipercaya akan cepat sembuh karena kemujaraban daun harendong bila daunnya bercabang tiga. Umumnya memang bercabang dua tapi dianggap masih kurang mujarab. Tumbuhan ini banyak dijumpai di kanan kiri kampung Cibeo, bahkan sepanjang perjalanan dari Cijahe menuju Cikartawana dan Cibeo di kanan kiri jalan ditumbuhi harendong tersebut. Demikian pula dengan daun harane dan beberapa dedaunan bahan obat-obatan lainnya. Manfaat dan cara penggunaan dijelaskan pada Bab selanjutnya.

Pola Pemanfaatan Air. Secara umum warga Etnik BaduyTangtudalam memanfaatkan air sungai relatif sama. Sehingga dalam uraian ini hanya diambil satu contoh kampung

Tangtu yaitu Kampung Cibeo. Warga kampung Cibeo didalam memanfaatkan kali Ciparayang ternyata sudah dipilah-pilahkan, artinya bahwa wilayah sungai untuk mengambil air yang dikonsumsi berada ditempat paling atas/lebih hulu. Mereka mengambil air untuk konsumsi yang dibawa ke imah (rumah) tidak menggunakan ember, melainkan menggunakan kele (wadah air dari bambu menyerupai kentongan kecil). Bersebelahan dengan khusus tempat air yang dikonsumsi merupakan tempat untuk mandi kaum lelaki. Kurang lebih 50 meter arah ke hulu dari tempat mandi kaum lelaki, merupakan wilayah untuk mandi kaum perempuan sekaligus untuk mencuci pakaian dan alat-alat dapur. Sedangkan untuk BAB berada paling bawah atau lebih mengarah ke hulu dari keduanya. Secara kasat mata, sungai Ciparayang yang mengalir dan terletak di sisi Utara kampung Cibeo tampak jernih. Di atas kampung Cibeo tidak ada pemukiman, industri atau peternakan unggas ayam. Bahkan warga Baduy Dalam maupun warga Baduy Luar tetap patuh tidak memelihara sapi, kerbau, kuda dan kambing. Prinsipnya secara adat tidak dibenarkan untuk memelihara binatang berkaki empat seperti yang tersebut di atas. Karena hal tersebutlah sehingga polusi sampah rumah tangga atau industri untuk sementara ini tidak mencemari sungai Ciparayang.

Pola Tanam dan Cara Tanam. Warga masyarakat Etnik Baduy di dalam melakukan cocok tanam tidak mengenal adanya pengairan irigasi ataupun mekanik. Karena hanya mengandalkan pengairan tadah hujan. Hal ini berlaku juga untuk tanam padi, padi gogo merupakan satu-satunya yang ditanam adapun jenis-jenis padi yang ditanam dan perawatan serta penyimpanannya sebagai berikut :

1. Jenis Padi.

Ada beberapa jenis padi yang dimiliki masyarakat Baduy. Bahkan, diperkirakan terdapat 40 jenis padi yang ditanam dan tumbuh di sekitar warga Baduy. Ada pun nama-namanya memanglah sangat kental dengan bahasa Sunda lokal, di antaranya pare koneng, pare salak, pare siang, dan pare ketan.

2. Perawatan Padi

Berbeda dengan petani kebanyakan yang melakukan perawatan padi dengan bahan kimia, Etnik Baduy tidaklah demikian. Mereka melakukan perawatan padi dengan cara yang sangat tradisional.

Gambar 2.6.

Seorang Ibu Etnik Baduy Memanen Padi Gogo Sumber: Dokumentasi Peneliti

Biasanya, petani Baduy memakai ramuan yang dihasilkan dari perpaduan aneka tanaman; cangkudu (morinda citrifolia L), tamiang, gempol, pacing tawa (gloriosa superba linn), dan

lajak. Semua tanaman ini diaduk rata dengan campuran air tuaklalu ditebarkan pada tanaman yang mulai tumbuh dewasa. Ini biasa mereka sebut dengan pestisida alamiah. 3. Tempat Penyimpanan Padi

Gudang penyimpanan padi atau biasa dikenal dengan lumbung, dalam bahasa Baduy disebut dengan leuit. Bahan kerangka pokok bangunan itu dengan anyaman bambu yang dijadikan dindingnya. Sementara, bagian atapnya ditutup dengan hateup alias daun kelapa kering atau juga ijuk yang terbuat dari serabut pada pohon areng.

Jika diamati benar maka akan ditemukan papan bundar sebagai alas kaki-kaki lumbung. Gunanya sebagai anti hama, misalnya tikus. Meski rata-rata lumbung itu tidak terlalu besar, tetapi sekitar 3.000 ikat padi bisa dimasukkan ke dalamnya dan bisa bertahan. Konon, hingga ratusan tahun. Berikut gambar variasi bentuk lumbung Etnik Baduy.

Gambar 2. 7.

Lumbung Padi Etnik Baduy (Leuit) Kp. Cipaler Sumber: Dokumentasi Peneliti

Akses dan Jenis Sarana Transpotasi

Akses menuju ke Desa Kanékés terlebih dahulu harus mencapai terminal Ciboleger yang terletak di Kecamatan Laeuwidamar. Disebut terminal Ciboleger karena berada di Desa Ciboleger. Dari terminal tersebut dilanjutkan berjalan kaki menuju wilayah terluar desa Kanékés dan wajib menemui Jaro Pamarintah (lurah) dan atau Carik (Sekretaris Desa) untuk ijin dan mengisi buku tamu. Apabila sudah selesai mengisi buku tamu selanjutnya dipersilahkan untuk menuju lokasi yang dituju setelah mendapat pengarahan dari pimpinan desa Kanékés tersebut. Untuk menuju wilayah Desa Kanékés baik kampung Baduy Tangtu atau Baduy Panamping hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Sarana transpotasi apapun tidak ada, dan memang merupakan larangan untuk naik kendaraan di wilayah desa Kanékés. Larangan ini memang sudah tertuang dalam Peraturan Desa Kanékés No. 1 tahun 2007 tentang Saba Budaya dan Perlindungan Masyarakat Adat Tatar Kanékés (Baduy) pada pasal 12.

Bagi pengunjung atau wisatawan bila akan masuk ke kampung Baduy sebaiknya melalui pintu masuk utama yaitu Ciboleger. Dari Ciboleger ini selanjutnya bisa menuju kampung Baduy Panamping dan Baduy Tangtu. Dari pengamatan di lapangan, pengunjung banyak yang masuk hingga kampung Baduy Dalam/Tangtu.

Berdasar dari peraturan Desa Kanékés alur yang dilewati oleh pengunjung ada dua; alur satu mulai dari Kaduketug – Balingbing – Marengo – Gajeboh; kawasan Tangtu, Leuwibuled – Cipaler – Cipiit – Cijengkol – Cikadu – Cikartawana – Cibeodan alur pulang sebaliknya dan atau alur satu. Sedangkan alur dua meliputi; Kaduketug – Dandang – Kaduketer – Kiara Lawang (kawasan Tangtu) Cibeo. Alur pulang sebaliknya dan atau alur dua.

Gambar 2.8.

Contoh medan menuju lokasi kampung Etnik Baduy Sumber: Dokumentasi Peneliti

2.2.2. Kependudukan

a. Wanita Usia Kawin dan Masa Produktif

Menurut masyarakat Etnik Baduy bahwa perkawinan merupakan bagian terpenting dalam hidupnya, karena dengan melaksanakan perkawinan ini bisa menciptakan kerabat baru dan menambah keeratan persaudaraan. Selain membentuk kekerabatan, perkawinan juga meningkatkan status sosial sekaligus mendapatkan hak dan kewajiban dalam kehidupan bermasyarakat.

Adapun usia kawin bagi wanita umumnya pada sekitar usia 14-16 tahun, sedangkan laki-laki pada sekitar 17-22 tahun. Apabila wanita belum menikah di atas usia tersebut tadi maka

dianggap sebagai perawan tua yang disebut cawene kolot dan bagi laki-laki disebut bujang kolot (bujang tua).

b. Interaksi dan Kontrol Sosial di masyarakat

Baik masyarakat Baduy Dalam atau masyarakat Baduy Luar sangat intensif melakukan komunikasi. Adanya ikatan budaya seperti bahasa, sistem religi, mata pencaharian, sistem kekerabatan ataupun teknologi. Meskipun lokasi kampung antara Baduy Dalam dan Baduy Luar saling berjauhan bukan merupakan masalah penghambat bagi mereka. Sebagai contoh, setiap ada kegiatan adat terkait dengan setiap hubungan kekerabatan antara warga Baduy Dalam dan Baduy Luar saling membantu. Demikian pula dengan kegiatan-kegiatan adat, seperti nyacar serang (membuka lahan perladangan milik adat) maka antara warga Baduy Dalam dan Baduy Luar saling bergotong royong untuk melaksanakan pekerjaan tersebut. Demikian pula dengan kegiatan memperbaiki atau membangun rumah, mereka saling bergotong royong tanpa mengharap upah sepeser pun.

Bagi kaum muda-mudi dalam pergaulan keseharian sangat patuh terhadap aturan adatnya. Bahkan sampai ke tingkat perkenalanpun tidak dibenarkan secara sembarangan. Ketika seorang pemuda berkunjung ke rumah seorang gadis tidak diperkenankan datang sendirian melainkan harus ada teman pemuda minimal dua orang. Demikian pula dengan pihak si gadis harus ada teman minimal dua orang. Teman-teman si pemuda atau teman-teman si gadis memiliki makna sebagai saksi di dalam pergaulan sosial. Ini juga menunjukkan adanya kontrol sosial bagi pergaulan muda-mudi.

Dalam rangkaian pejabat adat setempat, juga dibentuk adanya petugas keamanan dan ketertiban yang disebut dengan baresan seperti yang tertuang dalam Peraturan Desa Kanékés Nomor: 01 tahun 2007 Bab 1 Pasal 1.

c. Kependudukan Kampung Tangtu

Jumlah warga setiap kampung Tangtu Cibeo, Cikartawana dan Cikeusik tidak sama, demikian pula jumlah rumahnya. Adapun data yang terkumpul terkait dengan kependudukan kampung Tangtu dapat disajikan sebagai berikut:

Tabel 2.1. Jumlah Penduduk di Tiga Kampung Tangtu Tahun 2014 NamaKampung JumlahKK Jumlah Rumah

Cibeo 143 600

Cikartawana 30 160

Cikeusik 131 600

Jumlah 304 1360

Sumber: Data Primer

Jenis Penyakit Umum Beserta Kelompok Usia

Jenis penyakit yang dianggap umum dan diketahui oleh warga Etnik Baduy Dalam ada beberapa jenis, yaitu: cacingan, batuk, nyeri beuteung (sakit perut), nyeri hulu (sakit kepala), muriang (demam).

Untuk cacingan lebih banyak dialami oleh anak balita. Apabila dalam satu keluarga anaknya ada yang mengidap penyakit cacingan maka orang tua berusaha membelikan obat cacing. Kemauan membeli obat cacing tersebut memang telah menunjukkan bukti bahwa setelah mengkonsumsi obat cacing, si anak tersebut ketika BAB terlihat cacing yang mati bercampur dengan tinjanya. Selain meminum obat cacing juga memakan daun jambu biji yang muda beserta buahnya. Seorang informan menjelaskan beberapa obat yang berasal tumbuhan di sekitar pemukimannya.

“...kita kaya akan bahan obat-obatan, bahan tersebut hampir semua dapat dicari di sekitar pemukiman kami.

Sehingga apabila ada yang sakit bisa segera dicarikan dedaunan tersebut....”

Adapun beberapa jenis tumbuhan dan fungsinya menurut informan tadi sebagai berikut. Diantara yang dijelaskan oleh Ayah Mursyid adalah terkait dengan obat-obat tradisional yang umum digunakan oleh masyarakat warga Baduy Dalam atau Baduy Luar. Seperti bila sakit gigi (nyeri huntu) atau sakit perut (nyeri beuteung) akan diobati dengan daun harendong (Melastoma candidum D. Don), dipercaya akan cepat sembuh karena kemujaraban daun harendong bila daunnya bercabang tiga. Umumnya memang bercabang dua tapi dianggap masih kurang mujarab. Tumbuhan ini banyak dijumpai di kanan kiri Kampung Cibeo, bahkan sepanjang perjalanan dari Cijahe menuju Cikartawana dan Cibeo di kanan kiri jalan ditumbuhi harendong tersebut. Demikian pula dengan daun harane yang merupakan kelompok paku-pakuan (selanjutnya tentang daun harane akan dibahas lebih detail pada Bab 3).