MENGENAL ETNIK BADUY DALAM
2.4. Sistem Religi
Etnik Baduy yang merupakan Etnik tradisional di Provinsi Banten hampir mayoritasnya mengakui kepercayaan Sunda Wiwitan. Etnik Baduy memiliki “agama” yang masuk ke dalam kategori Kepercayaan Kepada Tuhan Yang Maha Esa dan disebut dengan nama Sunda Wiwitan. Kepercayaan ini meyakini akan adanya Allah sebagai “Guriang Mangtua” atau disebut pencipta alam semesta dan melaksanakan kehidupan sesuai ajaran Nabi Adam sebagai leluhur yang mewarisi kepercayaan turunan ini. Kepercayaan Sunda Wiwitan berorientasi pada bagaimana menjalani kehidupan yang mengandung ibadah dalam berperilaku, pola kehidupan sehari-hari, langkah dan ucapan, dengan melalui hidup yang mengagungkan kesederhanaan (tidak
bermewah-mewah) seperti tidak mengunakan listrik, tembok, mobil, dll.
Ada beberapa kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat Baduy menurut kepercayaan Sunda Wiwitan:
1) Upacara Kawalu yaitu upacara yang dilakukan dalam rangka menyambut bulan kawalu yang dianggap suci dimana pada bulan kawalu masyarakat Baduy melaksanakan ibadah puasa selama 3 bulan yaitu bulan Kasa, Karo dan Katiga.
2) Upacara ngalaksa yaitu upacara besar yang dilakukan sebagain uacapan syukur atas terlewatinya bulan-bulan kawalu, setelah melaksanakan puasa selama 3 bulan. Ngalaksa atau yang sering disebut lebaran.
3) Seba yaitu berkunjung ke pemerintahan daerah atau pusat yang bertujuan merapatkan tali silaturahmi antara masyarakat Baduy dengan pemerintah, dan merupakan bentuk penghargaan dari masyarakat Baduy.
4) Upacara menanam padi dilakukan dengan diiringi angklung buhun sebagai penghormatan kepada Dewi Sri lambang kemakmuran.
5) Kelahiran yang dilakukan melalui urutan kegiatan yaitu: a. Kendit yaitu upacara 7 bulanan ibu yang sedang hamil. b. Saat bayi itu lahir akan dibawa ke dukun atau paraji untuk
dijampi-jampi.
c. Setelah 7 hari setelah kelahiran maka akan diadakan acara perehan atau selametan.
d. Upacara Angiran yang dilakukan pada hari ke 40 setelah kelahiran.
e. Akikah yaitu dilakukannya cukuran, khitanan dan pemberian nama oleh dukun (kokolot) yang didapat dari bermimpi dengan mengorbankan ayam.
Gelang kapuru seperti terlihat dalam Gambar 2.16 memiliki dua fungsi, yaitu sebagai fungsi fisik dan fungsi non fisik. Fungsi pertama sebagai bentuk identitas sebagai warga Etnik Daduy, bila laki-laki menggunakannya dilengan sebelah kanan, bila wanita di sebelah kiri. Sedangkan fungsi kedua merupakan simbol sebagai ikatan bahwa si pemakai dinyatakan sudah terikat oleh segala aturan adat Etnik Baduy dan bila sampai melanggar maka risikonya akan ditanggung sendiri oleh si pemakai. Selain itu pada fungsi yang kedua juga berfungsi sebagai tolak bala bagi si pemakai.
Gambar 2.16. Gelang kapuru Sumber: Dokumentasi Peneliti
Perkawinan, dilakukan berdasarkan perjodohan dan dilakukan oleh dukun atau kokolot menurut lembaga adat (Tangkesan) sedangkan Naib sebagai penghulunya. Adapun
mengenai mahar atau seserahan yakni sirih, uang semampunya, dan kain poleng.
Dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari tentunya masyarakat Baduy disesuaikan dengan penanggalan:
1) Bulan Kasa 2) Bulan Karo 3) Bulan Katilu 4) Bulan Sapar 5) Bulan Kalima 6) Bulan Kaanem 7) Bulan Kapitu 8) Bulan Kadalapan 9) Bulan Kasalapan 10) bulan Kasapuluh 11) Bulan Hapit Lemah 12) Bulan Hapid Kayut 2.4.1. Kosmologi
Tempat yang Dianggap Memiliki Kekuatan Supranatural
Dari informasi di lapangan menunjukkan bahwa arah yang dianggap sakral adalah arah Selatan. Hal ini juga sesuai dengan pesan karuhun atau leluhur bahwa masing-masing daerah Tangtu memiliki tugas yang berbeda. Tiga Tangtu meliputi Kampung Cibeo, Cikartawana dan Cikeusik. Kampung Cibeo memiliki tugas terkait dengan administrasi dan hubungan keluar kampung.
Kampung Cikartawana lokasi pemukimannya berada di tengah antara kampung Cibeo dan Cikeusik. Adapun tugasnya adalah terkait dengan permasalahan kehidupan antar manusia, termasuk pula dalam hal pengobatan.
Kampung Cikeusik berada di arah Selatan, lokasi pemukimannya berada pada ketinggian yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan ke dua lokasi pemukiman Tangtu lainnya. Tugas yang diemban dari karuhun adalah menyelesaikan permasalahan terkait dengan religi. Di Selatan pemukiman kampung Cikeusik ini ada wilayah yang tidak semua orang boleh masuk dan lazim disebut leuweng kolot (hutan larangan/hutan lindung). Pada hutan lindung inilah dianggap merupakan tempat yang disakralkan.
Keberadaan Roh Menurut Konsepsi Budaya
Warga Etnik Baduy mengakui keberadaan roh nenek moyang, dan ini sangat diluhurkan. Diakui keberadaan roh nenek moyang ini karena selama hidupnya senantiasa akan melihat dan merestui bagi seluruh warga masyarakat. Bahkan segala aturan termasuk aturan adat juga merupakan warisan dari nenek moyang. Apabila tidak mengikuti dan mematuhi aturan adat tersebut diyakini akan terkena tulahnya. Ini juga dituturkan oleh informan dari Cibeo sebagai berikut;
“...kami senantiasa mematuhi secara turun temurun aturan-aturan dalam hidup berkeluarga, bermasyarakat. Ini semua memang sudah menjadi warisan dari leluhur kami, dari karuhun kami yang menjadi sanjungan warga bersama. Jangan sampai ada yang berani melanggarnya, bila ada yang berani melanggar maka segala risikonya biar ditanggung sendirinya. Prinsipnya kami sebagai orang tua sudah memberikan arahan tentang mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang boleh dan mana yang tidak boleh. Sebenarnya itu semua sudah disebut dalam pepatah panjang tak boleh dipotong, pendek tak boleh disambung, gunung tak boleh dihancurkan dan lembah tak boleh dirusak. adapun tempat karuhun atau
leluhur kami berada pada tempat yang suci dan tidak semua orang bisa mendekat ke daerah tersebut...”
Sebab Kematian Selain Usia Lanjut Menurut Konsepsi Budaya Setempat
Kematian selain sebab usia lanjut juga disebabkan karena sakit. Menurutnya, konsep sakit itu apabila seseorang sudah tidak bisa berjalan, tidak bisa bekerja ke ladang, pikiran tidak tenang dan hati gusar. Tetapi mereka juga mengetahui beberapa sebab terjadinya kematian. Diantara yang diketahui bahwa dengan sesak napas dapat menyebabkan kematian. Seperti bayi meninggal, berdasar dari cerita orang tuanya diawali dengan muriang (demam) yang berkelanjutan dan tiga hari kemudian meninggal. Selama pengamatan di lapangan bila diperhatikan secara geografis memang berada pada ketinggian 700 dpl, itu memungkinkan munculnya kabut dan suhu udara yang dingin. Belum lagi faktor sirkulasi udara di dalam rumah tradisional adat Baduy yang memang masih dirasa kurang lancar. Termasuk pula belum adanya ventilasi yang memadai sebagai lobang keluarnya asap dapur. Ini semua juga merupakan faktor penyebab eksteren kematian bayi. Hal seperti ini memang perlu studi tindak lanjut yang lebih mendalam terkait dengan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Ada yang menyebutkan bahwa kematian juga disebabkan karena adanya tulah dari karmanya sendiri. Artinya bila seseorang melakukan tindakan yang merupakan larangan adat maka risikonya akan ditanggung sendiri.
Falsafah Hidup Etnik Baduy
Masyarakat Etnik Baduy pada prinsipnya memiliki falsafah hidup yang bermakna bahwa hidup ini penuh dengan
kesederhananaan sesuai dengan kodratnya. Pepatah yang mengandung falsafah sangat dalam tersebut berbunyi:
Gunung teu meunang dilebar, Lebak teu meunang dirusak, Larangan teu meunang dirempak, Buyut teu meunang diubah, Lojor teu meunang dipotong, Pondok teu meunang disambung, Nu lain kudu dilainkeun,
Nu ulah kudu diulahkeun, Nu enyak kudu dienyak. Artinya:
Gunung tak boleh dihancurkan, Lembah tak boleh dirusak, Aturan tak boleh diubah, Panjang tak boleh dipotong, Pendek tak boleh disambung, Yang bukan harus ditiadakan, Yang jangan harus dinafikan, Yang benar harus dibenarkan.
Dengan falsafah itulah warga masyarakat Etnik Baduy hingga kini bisa eksis dan berusaha sekuat tenaga untuk melestarikan alam lingkungannya. Karena mereka sangat yakin dengan melestarikan alam maka kebutuhan hidupnya akan terpenuhi. Mereka tidak berpikir banyak anak banyak rejeki, tetapi mereka beranggapan bahwa anak-anaknya akan membawa rejekinya sendiri-sendiri. Itu semua tergantung dari amal perbuatan dari orang tuanya.
Kehadiran anak sangat dinanti-nantikan oleh setiap keluarga pada masyarakat Baduy. Anak dianggap sebagai hadiah dari Yang kawasa atas perkawinannya untuk melestarikan keturunan dalam rangka menjaga keharmonisan hidup di alam
nyata/dunia ini. Anak juga dianggap sebagai pelanjut pemegang ahli waris keluarga, meskipun sistem kekerabatannya menganut patrilineal.
Merupakan hal yang menarik bila bicara tentang proses melahirkan pada masyarakat Etnik Baduy. Seorang bumil bila melahirkan tidak boleh dibantu oleh orang lain termasuk keluarga dan suami. Sehingga bumil melahirkan sendiri dengan cara duduk bersandar pada dinding rumahnya. Bila bayi sudah lahir maka suami baru menghubungi dukun bayi (paraji) dimana paraji tersebut bertempat tinggal. Selama menunggu kehadiran paraji, si ibu sama sekali tidak diperbolehkan untuk minum dan makan, termasuk tidak boleh menyentuh bayinya. Deskripsi lebih lengkap diulas lebih mendalam pada Bab 4 Pikukuh Budaya Kesehatan Ibu dan Anak.
Tata Cara dan Pelaksanaan Upacara Terkait Kematian
Menurut informasi yang disampaikan langsung oleh Pangulu (orang yang ditugaskan oleh adat Baduy untuk mengurusi jenasah mulai dari pensucian, penguburan hingga 7 harinya). Menurutnya apabila ada warga Baduy Tangtu yang meninggal maka diperintah, dirinya yang sudah menerima tugas untuk mengurus jenasah maka langsung melaksanakan tugas sebaik-baiknya. Pada awalnya jenasah disucikan kemudian dikenakan pakaian adat termasuk golok yag sering dipergunakan sehari-hari almarhum, bila sudah selesai dilanjutkan pembungkusan dengan kain kafan dan dimasukkan ke dalam keranda. Acara selanjutnya dikuburkan dengan kedalaman setinggi dada manusia dewasa. Saat dimasukkan ke dalam liang lahat kepala berada di arah Selatan dengan wajah dihadapkan ke arah Barat. Sebagai catatan; bahwa golok almarhum tidak disertakan dalam liang lahat, tetapi diambil oleh Pangulu. Sebelum ditimbun dengan tanah, liang lahat ditutup dengan kayu
pipih ditata miring sehingga berbentuk segitiga bila dilihat secara irisan. Apabila selesai ditimbun, maka sebagai tanda bahwa ada jenasah baru yang baru dimakamkan pada bagian kepala dan kaki ditanamlah pohon hanjuang. Selain pohon hanjuang diberi sesaji di atas ancak (para-para dari bambu yang dianyam regang) yang berisi nasi, lauk pauk, kue sesuai dengan kesenangan almarhum ketika masih hidup. Di permukaan makam pada bagian kepala diberi potongan bambu yang diisi air sebagai simbul pemberian air minum pada roh almarhum. Apabila sudah dimakamkan selama 7 hari maka areal pemakaman tadi bisa dipergunakan sebagai ladang warga seperti penggunaan ladang-ladang yang lainnya. Begitu pula selamatan di rumah duka, bila sudah 7 hari dianggap telah selesai.
Gambar 2.17.
Hanjuang/Andong (Cordyline terminalis)
Sumber: Wikipedia Indonesia
2.4.1.1. Upacara Adat Terkait Life-cycle dan yang Terlibat
Etnik Baduy Dalam (Tangtu) sangat menjunjung tinggi upacara adat, diantaranya terkait dengan ritus daur hidup. Ritus daur hidup yang dilakukan secara umum terdiri dari Kelahiran (dibahas lebih detail dalam Bab Budaya KIA); Sunatan, peper
(sunat perempuan) dan geser (dibahas lebih mendalam di Bab Tradisi Selebrasi Etnik Baduy); Pernikahan.
Pernikahan
Pernikahan merupakan cara untuk membangun kekerabatan. Demikan pula yang dilakukan oleh Etnik Baduy bahwa dengan melalui pernikahan ini dapat membentuk keluarga baru dan memperluas ikatan kekerabatan. Etnik Baduy untuk memperoleh pasangan hidup bisa dilakukan beberapa cara yaitu:
1) Melalui perjodohan ke dua belah pihak orang tua. 2) Memilih sendiri sesuai kehendak hati.
2.4.1.2. Tokoh Keagamaan dan Fungsi
Masyarakat Etnik Baduy sangat menjunjung tinggi Puun, karena Puun-lah secara formal yang diakui secara adat untuk memimpin dan menyelesaikan permasalahan keagamaan. Puun ini dipilih oleh adat dan merupakan pemangku adat tertinggi. 2.4.2. Keluarga Inti
Keluarga ini Etnik Baduy terdiri dari Bapak, Ibu dan anak-anak yang belum menikah. Mereka bertempat tinggal dalam satu rumah. Tidak menutup kemungkinan dalam satu rumah ditempati beberapa kepala keluarga yang merupakan pecahan dari keluarga intinya. Tinggalnya pecahan keluarga inti tersebut di antaranya disebabkan karena, belum mampu mendirikan rumah baru, terbatasnya lahan pemukiman di lingkungan pemukiman lama, belum dikehendaki oleh orang tua untuk memisahkan diri dari keluarga.
Sebab belum boleh pindahnya untuk memisahkan diri setelah menikah, biasa terjadi karena oleh orang tua diberikan suatu tugas untuk menjaga rumah dan menjaga orang tua. Seperti dikemukan oleh informan bernama Ayah Nardi sebagai berikut;
“...memang saya sengaja bahwa anak laki-laki dan menantu saya untuk tinggal di imah kami, karena kami sudah merasa usia tua, meskipun kami masih bisa ke ladang, saya lebih tenang kalau anak-anak tinggal di rumah...”
Contoh bagan komposisi keluarga inti Etnik Baduy.
Gambar 2.18. Bagan Keluarga Inti Sumber: Visualisasi Peneliti
2.5. Sistem Kemasyarakatan dan Politik Lokal