POTRET KESEHATAN ETNIK BADUY DALAM
3.3. Sistem Budaya Pelayanan Kesehatan Modern
3.3.2. Jejaring Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tumpuan
Latar belakang pendirian Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) Nangerang salah satu diantaranya terkait dengan upaya pemerintah daerah setempat agar warga masyarakat Baduy Dalam lebih pelayanan pengobatan modern. Adanya Poskesdes Nangerang oleh warga masyarakat Baduy Dalam dikenal sebagai Puskesmas Pembantu (Pustu). Berdasarkan Informasi dari Pak Carik Desa Kebon Cau Bapak Solihin, bahwa Poskesdes Nangerang merupakan bangunan yang dibiayai dengan anggaran yang diperoleh dari Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat PNPM Mandiri.
Poskesdes Nangerang
Gambar 3.4. Poskesdes Nangerang Sumber : Dokumentasi Peneliti
Gambar 3.4 menunjukkan kondisi Poskesdes yang telah dibangun memerlukan perbaikan fisik, seperti atap yang sudah mulai retak dan beberapa diantaranya sudah berlubang. Poskesdes secara administratif terletak dan masuk wilayah desa Kebon Cau Kecamatan Bojongmanik. Tentunya untuk
penempatan Sumber Daya Manusia (SDM) sebagai tenaga kesehatan berasal dari yang menaungi fasilitas tersebut yaitu Puskesmas Bojongmanik. Ditempatkanlah seorang bidan [Y] sebagai tenaga kesehatan yang melakukan pelayanan kesehatan kepada warga masyarakat setempat dan menempati gedung Poskesdes sebagai tempat tinggalnya. Namun patut disayangkan, setelah tiga kali tim peneliti berusaha menemui untuk melakukan wawancara mendalam terkait dengan pelayanan kesehatan pada masyarakat Baduy tidak berhasil.
Informasi yang sama diperoleh dari Bidan [I] yang bertugas di Puskesmas Cirinten dan Bidan [IR] yang bertugas di Puskesmas Bojongmanik, bahwa Poskesdes Nangerang pemilihan lokasinya sengaja dibangun berdekatan dengan beberapa kampung wilayah Desa Kanékés dengan tujuan menjaring masyarakat Baduy agar dapat menjangkau fasilitas pelayanan kesehatan tersebut.
Ciranji Pasir adalah nama salah satu kampung di wilayah Desa Kanékés yang didiami Etnik Baduy Luar. Letaknya yang berbatasan dengan wilayah Desa Kebon Cau, menjadi pertimbangan kuat pendirian Poskesdes. Beberapa kampung lainnya keberadaannya juga tidak jauh dari Kampung Ciranji Pasir, dengan harapan besar mempermudah akses masyarakat Baduy tersebut pada fasilitas pelayanan kesehatan yang telah disediakan pemerintah. Namun sangat disayangkan tenaga kesehatan (Nakes) yang ditempatkan di fasilitas kesehatan tersebut sering tidak berada di tempat ditambah beberapa warga masyarakat Baduy yang datang berobat merasa kurang puas.
“Sebenernya Pustu Nangerang itu sudah upaya pemerintah mendekatkan kan ya pelayanan untuk masyarakat Baduy tapi kenapa ya saya juga bingung itu petugasnya ga setiap hari disitu jadi susah juga…”
Gambar 3.5.
Kampung Ciranji Pasir, Baduy Luar Sumber : Dokumentasi Peneliti
Salah seorang kader kesehatan Puskesmas Cisimeut (AC, 38 tahun) menjelaskan ada beberapa hal yang mengakibatkan masyarakat kurang berminat untuk datang berobat ke Poskesdes, selain nakes jarang ada di tempat, juga kurang bisa “membumi” dalam hal berpakaian. Obat yang diberikan juga dirasakan kurang “endah” dimaksudkan dalam hal ini adalah kurang cocok, obat yang diberikan tidak langsung sembuh. Penuturan kader kesehatan tersebut mengingatkan bahwa kita harus pandai-pandai membawa diri di rantau “Dimana Bumi Dipijak Disitu Langit Dijunjung”
Pustu Karangnunggal
Puskesmas Pembantu (Pustu) Karangnunggal, menginduk ke Puskesmas Cirinten. Wilayah kerja Puskesmas Cirinten ada 10 desa meliputi Desa Cibarani, Desa Karangnunggal, Desa Nagerang, Desa Datar Cai, Desa Cirinten, Desa Kadu Damas, Desa
Parakan Lima, Desa Budur, Desa Karoya dan Desa Cempaka. Ada tenaga bidan lulusan Poltekkes Bandung, ditugaskan sejak tahun 1996. Satu tahun kemudian suaminya mengikuti dan menjabat sebagai staf administrasi di Puskesmas Cirinten. Keduanya berasal dari daerah yang sama yaitu Brebes, Jawa Tengah.
Beberapa informan yang terdiri dari warga masyarakat Baduy Dalam dan Baduy Luar ketika diwawancarai memberikan jawaban bahwa mereka suka berobat ke Pustu, ke Bu Bidan [I] di Parigi. Warga masyarakat Baduy memilih berobat ke Pustu Karangnunggal, karena beberapa kampung memang aksesnya relatif jauh, mereka merasa lebih dekat ke Pustu daripada berobat ke Puskesmas Cisimeut. Seperti penjelasan sebelumnya, luasnya wilayah Desa Kanékés maka ada beberapa letak kampung yang lebih dekat dengan wilayah desa lain, seperti kampung Cikeusik, salah satu Kampung Tangtu dimana mereka lebih sering keluar masuk kampung melalui pintu masuk kampung Cijahe Desa Kebon Cau daripada ke Ciboleger.
Hasil wawancara mendalam dengan bidan [I, 38 tahun] terungkap bahwa nama dia cukup dikenal oleh masyarakat Baduy. Pada tahun 2001 bidan tersebut pernah melakukan kegiatan pelayanan kesehatan berupa pengobatan pada warga Baduy atas bantuan dari salah satu Bank. Lokasi yang dipilih sebagai tempat pelayanan pengobatan adalah di sekitar desa Karoya. Adapun alasan pemilihan desa tersebut salah satunya adalah pada hari minggu di Desa Karoya bertepatan dengan hari pasaran yaitu kegiatan jual beli yang hanya ada setiap hari Minggu saja. Pada saat ada pasar tersebut tidak hanya masyarakat setempat yang meramaikan, tetapi juga masyarakat Baduy Dalam. Sehingga pelayanan pengobatan yang dilakukan oleh Bidan dapat diakses juga oleh Etnik Baduy Dalam, dan namanya selalu diingat dengan baik oleh warga masyarakat
setempat. Ketika program pelayanan pengobatan berakhir, masyarakat Baduy Dalam tetap mencari dan mendatangi Pustu.
Gambar 3.6. Penicillin Serbuk Sumber : Dokumentasi Peneliti
Ketiga warga kampung Baduy Dalam dari Cibeo, Cikeusik dan Cikartawana pernah datang dan berobat, demikian informasi yang disampaikan oleh bidan I. Adapun obat yang diminta adalah penicillin untuk mengobati luka dan penyakit frambusia/butul. Bidan I mengaku bahwa ia selama bertugas di masyarakat Baduy belum pernah menolong persalinan warga masyarakat Baduy Dalam.
“Ppc sih kita mah, ini kan untuk injeksi yah tapi orang sini mah dioles, jadi dicampur lagi dengan minyak kelapa. Untuk luka… yaa dengan aquabides ya dicampurnya. Jadi banyaknya orang sini untuk yang frambusia. Kadang mah untuk yang sunat gtu…”
3.4. Sistem Budaya Pelayanan Kesehatan Tradisional