• Tidak ada hasil yang ditemukan

MENGENAL ETNIK BADUY DALAM

2.3. Pola Tempat Tinggal

2.3.2. Rumah Etnik Baduy

Gambar 2.9.

Denah Pola Tata Letak Ruang Rumah Adat Tradisional Baduy Dalam

Sumber: Visualisasi Peneliti

Keterangan:

1. Parako, tempat tungku memasak.

2. Imah, ruang utama menggunakan dinding bambu (bilik). 3. Tepas, ruang tidur, ruang makan.

4. Tangkes, ruang tamu, ruang tidur, ruang makan 5. Papangge, teras untuk santai.

6. Taraje, tangga naik turun .

7. Sosoro, ruang tamu, ruang tidur.

6 3 5 7 4 1 1 2

Adapun posisi arah hadap semua rumah di Baduy selalu menghadap Utara dan Selatan, yang secara logika rumah menghadap Utara - Selatan maka proses pergantian dan penyinaran sinar matahari sangat baik. Apabila pagi sinar matahari masuk dari arah Timur dan sore hari sinar matahari masuk dari arah Barat. Dengan posisi rumah yang demikian membuat masyarakat Baduy memiliki tingkat kesehatan yang baik. Ini didukung dengan aktivitas sehari-hari yang kemanapun perginya pasti berjalan kaki dengan naik turun perbukitan di pegunungan Kendeng.

Bangunan rumah dibuat tinggi, berbentuk panggung, mengikuti kontur/tinggi rendahnya permukaan tanah. Pada tanah yang miring dan tidak rata permukaannya, bangunan disangga menggunakan tumpukan batu. Batu yang dipakai adalah batu kali (basalt), berfungsi sebagai tiang penyangga bangunan dan menahan tanah agar tidak longsor.

Atapnya terbuat dari daun nipah yang disebut sulah nyanda. Nyanda berarti sikap bersandar, sandarannya tidak lurus melainkan agak merebah ke belakang. Salah satu sulah nyanda ini dibuat lebih panjang dan memiliki kemiringan yang lebih rendah pada bagian bawah rangka atap.

Bilik rumah dan pintu rumah terbuat dari anyaman bambu yang dianyam secara vertikal. Teknik anyaman bambu yang dikenal dengan nama sarigsig ini hanya dibuat berdasarkan perkiraan, tidak diukur lebih dulu. Kunci pintu rumah dibuat dengan memalangkan dua kayu yang di dorong atau ditarik dari luar bangunan rumah.

Ada 4 bagian pemilahan ruangan dalam bangunan rumah adat Baduy Dalam, yaitu ruangan yang dikhususkan untuk ruang tidur kepala keluarga sekaligus dapur yang disebut Imah, ruang tidur untuk anak-anak sekaligus ruang makan yang disebut tepas dan ruang untuk menerima tamu yang disebut sosoro, dan

pangkeng. Di depan rumah ada teras yang berfungsi untuk menempatkan kele (bambu untuk tandon air minum) dan berbincang-bincang santai disebut papangge. Di bawah papangge ada tangga yang dipergunakan naik turun dan keluar masuk rumah yang disebut taraje.

Gambar 2.10.

Sketsa Rumah Tradsional Adat Baduy Dalam Sumber: Visualisasi Peneliti

Seluruh bangunan rumah dibuat saling menghadap satu dengan yang lain, hanya diperbolehkan membangun rumah menghadap ke Utara-Selatan saja. Menghadap ke arah Timur-Barat tidak diperbolehkan secara adat.

Fungsi Rumah

Rumah menurut bahasa Baduy disebut juga dengan imah. Kata imah diucapkan untuk menyebut unit rumah secara utuh apabila berada di luar rumah. Sebutan imah akan berubah makna apabila diucapkan di dalam rumah. Imah dituturkan di dalam rumah berarti untuk menununjukkan ruang utama dalam suatu rumah (lihat denah tata ruang rumah Baduy Tangtu).

Gambar 2.11.

Jalan ditengah perkampungan Etnik Baduy Sumber: Dokumentasi Peneliti

Secara garis besar, yang dinamakan imah adalah sebuah ruangan atau bagian inti dari tata ruang dalam rumah tinggal Etnik Baduy. Hampir seluruh kegiatan berpusat pada ruangan tersebut, baik hal-hal yang bersifat lahiriah, seperti menyediakan makanan dan minuman, maupun hal-hal yang batiniah, termasuk menjalankan peran sebagai pasangan suami-istri dan kepala keluarga.

Rumah merupakan suatu tempat yang diidamkan oleh semua warga masyarakat Etnik Baduy, baik Baduy Tangtu ataupun Baduy Panamping. Rumah tidak berfungsi sebagai tempat untuk bertempat tinggal biasa, tetapi juga memiliki fungsi lain. Diantara fungsinya adalah, tempat sosialisasi keluarga inti maupun keluarga luas terkait dengan hak dan kewajiban keluarga sebagai warga Baduy. Termasuk pula sosialisasi budi pekerti untuk hidup bermasyarakat, berkeluarga, pergaulan pemuda,

menerima tamu, menghadap pimpinan adat atau pimpinan pamarentah.

Ukuran Luas Macam-macam Rumah di Pemukiman

Ukuran Luas rumah setiap warga kampung Baduy Dalam tidak sama satu dengan lainnya. Hal ini bukan tidak disengaja, diantara sebab adanya pebedaan luas rumah diantaranya karena lahan semakin terbatas, biaya yang tidak sedikit. Untuk mendirikan sebuah rumah, setiap warga tidak sembarang langsung membangun pada lahan yang kosong begitu saja. Melainkan harus ada suaru ijin khusus dari perangkat adat, termasuk pula pula untuk penentuan posisi rumahnya. Disebutkan oleh informan yang ditemui peneliti bahwa…

“...tidak bisa sembarang warga pak, untuk membangun sebuah rumah tinggal, meskipun kita sudah mempersiapkan bahan dan dananya. Itu semua tergantung perangkat adat boleh tidaknya untuk mendirikan rumah. Karena ada perhitungan sesuai penanggalan yang kami percayai...”

Adapun ukuran luas rumah pada umumnya berkisar 7 m x 7 m, 9 m x 10 m, bahkan ada yang 12 m x 10 m. Rumah Tumbuk Padi (saung lisung). Disebut dengan saung lisung karena rumah ini memang dipergunakan untuk menumpuk padi bila ada kegiatan-kegiatan adat yang memerlukan padi yang mengharuskan menumbuk sendiri. Diantaranya dapat dicontohkan, ketika pada hari ke tujuh dari kematian salah satu warga, maka nasi yang dipergunakan untuk selamatan berasal dari padi yang ditumbuk oleh ibu-ibu kampung setempat.

Adapun asal bahan yang digunakan untuk membangunan saung lisung ini berasal dari daerah sekitar pemukiman. Bahannya berupa daun rumbia, daun nipah yang digunakan

sebagai atapnya dan disebut hateup. Untuk tiang-tiang dan kerangka bangunan bahannya dari kayu dan bambu. Demikian pula sebagai alat tumbuknya berasal dari kayu kokosan. Wadah penumbuk disebut lisung dan alat untuk menumbuk disebut halu.

Gambar 2.12.

Saung Lisung

Sumber: Dokumentasi Peneliti Pola Pemukiman

Masyarakat Etnik Baduy Dalam, memiliki pola pemukiman klaster. Artinya rumah-rumah berhimpun terpusat berada dalam wilayah yang dibatasi dengan pagar alam. Pagar alam ini diletakkan mengelilingi kampungnya sekaligus sebagai batas antara wilayah pemukiman dan hutan. Orientasi rumahnya berpaku pada letak rumah dinas Puun yang berada di arah Selatan, sehingga rumah pejabat adat dan rumah warga tidak

berada di belakang atau di samping rumah Puun. Rumah pejabat adat dan rumah warga berada di depan rumah Puun. Adapun tata letaknya bahwa rumah Dinas Girang Seurat (staf ahli Puun) berada di depan sebelah kanan rumah Dinas Puun. Demikian pula dengan letak Rumah Dinas Jaro. Rumah para mantan pejabat adat berada di depan kanan dan kiri rumah Dinas Puun. Perlu diketahui bahwa para pejabat adat seperti Puun, Girang Seurat dan Jaro selama menjabat dapat dipastikan wajib menempati rumah dinasnya. Para pejabat ini akan tidak menempati rumah dinas bila sudah tidak menjabat. Adapun waktu menjabatnya disesuaikan dengan kemampuan fisik dan non fisiknya, bila merasa sudah tidak mampu lagi maka berhak mengajukan ke kokolot adat untuk undur diri. Rumah Puun berhadapan langsung dengan Balai adat. Balai Adat ini berfungsi untuk melaksanakan berbagai kepeluan adat, seperti rapat adat, prosesi sunatan, prosesi lamaran. Balai Adat terletak di arah Utara, Rumah Puun terletak di arah Selatan dan di tengah-tengahnya terdapat alun-alun. Pada halaman depan rumah Puun merupakan salah satu wilayah yang disucikan di kampungnya, tidak semua waktu warga kampung bisa bermain atau menggunakan halaman tersebut. Sehingga terjaga kebersihannya, tidak ramai berlalu lalang warga masyarakat. Alun-alun dipergunakan untuk berbagai kegiatan warga masyarakat, seperti mendirikan saung pesajen atau saung pepajangan ketika kampung Tangtu tersebut melaksanakan prosesi sunat lobaan.

Saung lisung (balai untuk menumbuk padi) berada di belakang sebelah kanan Balai adat. Rumah warga berbentuk panggung dengan menggunakan bahan-bahan alami, seperti kayu digunakan sebagai tiang dan kerangka rumah. Bambu digunakan sebagai sebagian kerangka, dnding dan tali-temali. Daun nipah digunakan untuk atap. Rumah tradisional adat Etnik Baduy tidak memiliki jendela, namun memiliki lubang berbentuk

kubus atau persegi dengan ukuran yang beragam tiap rumah tidak sama. Perkiraan ukurannya lebih kurang 10 cm x 10 cm, atau 10 cm x 15 cm. Lubang tersebut dipergunakan untuk memantau keamanan lingkungan rumahnya.

Gambar 2.13.

Saung Pepajangan yang Digunakan untuk Prosesi Sunatan, Peperan dan Cukur

Sumber: Dokumentasi Peneliti

Rumah pada Etnik Baduy Dalam hanya memiliki satu pintu keluar masuk, pintu itu disebut dengan Panto. Pintu ini tidak terletak di depan persis tetapi di kiri dan di depan pintu terdapat terasan yang disebut papange. Di depan papangge terdapat tangga untuk naik turun yang disebut taraje.

Hutan berada di sekeliling komplek pemukiman, adapun tumbuhan yang ada dalam hutan diantaranya, pohon durian, pohon bambu yang tumbuh dipinggir kanan kiri sungai. Demikian pula dengan tumbuhan untuk pengobatan, seperti pohon

Kiseureh, Hanjuang, Honje, Hantu Kalabang, Harendang, Harendong, Palungpung, Jukut Bau, Jambu Biji.

Gambar 2.14.

Denah Pola Pemukiman Etnik Baduy Dalam Sumber: Visualisasi Peneliti

Keterangan:

1. Rumah Dinas Pu’un. 2. Rumah Girang Seurat. 3. Rumah mantan pejabat adat. 4. Rumah Jaro Tangtu. 5. Rumah masyarakat Tangtu. 6. Balai Adat. 7. Saung Lisung. 8. Hutan. 9. Alun-alun. 10. Sungai. 11. Parit.

Gambar 2.15. Pemukiman Etnik Baduy Sumber: Dokumentasi Peneliti