• Tidak ada hasil yang ditemukan

MENGENAL ETNIK BADUY DALAM

2.8. Mata Pencaharian

Jenis Mata Pencaharian Penduduk

Sistem perladangan berpindah atau perladangan daur ulang telah dipraktekkan selama berabad-abad dan merupakan bentuk pertanian yang paling awal di wilayah tropika dan sub tropika. Sistem pertanian dilakukan adalah tanaman pangan dalam waktu dekat (pada umumnya 2 – 3 tahun), dan kemudian diikuti dengan fase regenerasi atau masa bera yang lebih lama (pada umumnya 10 – 20 tahun). Pembukaan hutan biasanya menggunakan alat sederhana, dilakukan secara tradisional, dan menggunakan cara tebang bakar.

Pada waktu hutan dibuka maka tumbuhan alam yang berguna biasanya dibiarkan atau sedikit disiangi dan dimanfaatkan hasilnya. Lama waktu perladangan dan masa bera atau masa lahan diistirahatkan adalah sangat bervariasi, dan lama masa bera merupakan faktor kritis bagi regenerasi kesuburan tanah, keberlanjutan, dan hasil pertanian yang didapatkan. Regenerasi kesuburan tersebut melibatkan tumbuh kembalinya tanaman tahunan atau tumbuhan asli.

Masyarakat Baduy yang masih mengikuti pola pertanian tradisional zaman Kerajaan Sunda (Pajajaran), telah mempraktekkan sistem perladangan berpindah tersebut sejak kurang lebih 600 tahun yang lampau. Mereka membuka huma untuk ditanami padi selama 1 sampai 2 tahun, dan kemudian ketika hasil panen telah menurun akan meninggalkan huma tersebut dan membuka kembali huma baru dari bagian hutan alam yang mereka peruntukkan bagi kepentingan tersebut. Huma yang ditinggalkan pada suatu saat akan diolah kembali dan periode masa bera tersebut pada awalnya 7 sampai 10 tahun.

Sebagaimana masyarakat agraris lainnya di Indonesia, masyarakat Baduy mempunyai jadwal pertanian yang tertentu setiap tahunnya dan didasarkan kepada letak benda astronomi tertentu, seperti kemunculan bintang tertentu dan letak matahari. Adapun patokan bintang yang digunakan adalah bintang kidang (Waluku atau Rasi Orion) dan bintang Kartika atau bintang Gumarang. Dalam prakteknya bintang kidang lebih banyak dipakai karena lebih jelas terlihat. Kemunculan bintang kidang tersebut menandai dimulainya proses berladang karena masyarakat mulai bersiap-siap turun ke ladang dan mulai mengolah lahan pertanian. Dalam ungkapan mereka disebutkan:

“Mun matapoe geus dengek ngaler, lantaran jagad urang geus mimiti tiis, tah dimimitian ti wayah eta kakara urang nanggalkeun kidang, tanggal kidang mah

laju turun kujang”. (Terjemahan: “Jika matahari telah condong ke Utara, ketika bumi kita telah mulai dingin, mulai saat itu baru kita mengamati penanggalan dengan munculnya bintang kidang, waktu muncul bintang kidang kita mulai menggunakan alat pertanian (kujang)”

Adapun alat pertanian yang mereka gunakan adalah terbatas sekali, dan prinsip pengolahan lahan mereka adalah sesedikit mungkin mengganggu tanah. Mereka membuka huma dengan bedog atau parang panjang dan kujang (parang pendek atau pisau), dan menanam benih padi dengan cara menugal atau melubangi tanah dengan sepotong kayu. Pengolahan lahan dengan cara mencangkul atau membajak adalah terlarang.

Kalender sebagai penanda waktu pada masyarakat Baduy adalah kalender yang berpatokan pada perputaran bulan (Qomariah). Satu tahun dibagi menjadi 12 bulan. Menurut Narja, seorang penduduk kampung Cibeo, urutan bulan-bulan tersebut adalah sebagai berikut: Kapat, Kalima, Kanem, Katujuh, Kadalapan, Kasalapan, Kasapuluh, Hapit Lemah, Hapit Kayu, Kasa, Karo, Katiga. Urutan bulan tersebut juga mengikuti tahapan dalam proses perladangan. Bulan Kasa, Karo, dan Katiga, yang merupakan bulan-bulan akhir masa berladang dan masa panen disebut pula masa Kawalu yang dipenuhi dengan berbagai upacara adat dan berbagai bentuk larangan. Pada masa tersebut tamu atau pengunjung dari luar biasanya tidak diterima.

Masyarakat Baduy menerapkan cara pertanian ladang berpindah yang merupakan cara bercocok tanam tahap awal evolusi cara bertani. Sistem perladangan berpindah tersebut sangat tergantung pada keberadaan dan kelestarian hutan di wilayah tersebut. Dengan demikian hutan memegang peran penting dalam hubungan antara masyarakat Baduy dengan lingkungan alamnya. Keberadaan mereka menurut sejarah dan kepercayaan adalah dalam rangka menjaga hutan dan mata air

Sungai Ciujung yang menjadi sungai utama pada jaman Kerajaan Sunda/Pajajaran. Masyarakat Baduy diperintahkan untuk mengelola Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciujung yang berperan sangat penting dalam bidang transportasi dan pertanian, beserta hutan yang melindungi mata airnya, yang mereka sebut sebagai Sirah Cai atau kepala air.

Kebiasaan masyarakat Kanékés dalam membangun rumah pada hakekatnya merupakan pencerminan keteguhan masyarakat dalam melaksanaan peraturan peraturan adat sebagai tradisi turun temurun dari nenek moyangnya. Membongkar tanah adalah buyut. Apabila permukaan tanah tempat mendirikan rumah ternyata tidak rata, maka bukan permukaan tanahnya yang diratakan, melainkan tiang tiang panggung rumah yang disesuaikan tinggi atau rendahnya menurut kelerengan permukaan rumah. Rumah tradisional Baduy berupa panggung dengan lantai pelepah bambu dan berdinding bilik anyaman bambu. Atapnya terbuat dari daun rumbia dan ijuk. Konstruksi rumah tidak menggunakan paku dan cat, umumnya terdiri dari lima bagian; SOSORO atau Serambi, TEPAS atau Ruang Tamu, IMAH atau Ruang Utama yang juga berfungsi sebagai kamar, MUSUNG atau Tempat Penyimpanan Barang dan PARAKO atau Tempat Penyimpanan Barang diatas Tungku.

Bercocok Tanam dan Berladang

Masa tanam padi di kampung-kampung Baduy Dalam dimulai ketika Puun sudah menanam padi. Setelah Puun, warga mulai menanam. Beberapa warga memiliki hari baik yang mereka jadikan pegangan untuk mulai menanam padi. Mereka membersihkan ladang dari tumbuhan-tumbuhan yang bisa mengurangi produksi padi. Pengairan ladang dilakukan tanpa irigasi dan hanya mengandalkan hujan. Masa tanam padi sengaja dipilih pada awal musim hujan atau sekitar bulan Oktober.

Ladang tidak mendapatkan pengairan karena dimaksudkan untuk menjaga kebersihan air. Artinya apabila ladang-ladang tersebut disediakan irigasi maka aliran air akan mengalir ke sungai dan dianggap bisa menyebabkan terjadinya pencemaran sungai.

Warga Baduy, terlebih Baduy Dalam, tidak menggunakan obat-obatan kimia selama berladang. Adapun Baduy Luar sudah mengenal pestisida. Di Baduy Dalam, pemberantasan hama dilakukan dengan membacakan mantra-mantra. Hama pun jarang menyerang ladang. Alat pertanian yang digunakan di Baduy tergolong sederhana. Koret (arit/sabit), kayu untuk membuat lubang tempat benih, serta etem (ani-ani) adalah alat-alat yang digunakan dalam perladangan masyarakat Baduy. Mereka tidak boleh membajak tanah dengan hewan atau traktor dengan alasan akan merusak kesuburan tanah.

Gambar 2.20. Bekas Ladang Padi Gogo Sumber: Dokumentasi Peneliti

Baduy Dalam dan Baduy Luar memiliki areal tanah garapan masing-masing. Baduy Dalam tidak boleh berladang di Baduy Luar, demikian pula Baduy Luar tidak diperkenankan memiliki ladang di Baduy Dalam. Tanah perladangan di Baduy Luar boleh diperjualbelikan di antara mereka. Untuk tanah yang berkualitas baik, harga jualnya mencapai Rp 10.000 per meter persegi. Tanah ini tidak boleh dijual kepada orang yang bukan berasal dari Etnik Baduy. Sedangkan, Baduy Luar memiliki tanah di luar tanah Baduy. Berbeda dengan Baduy Luar, Baduy Dalam tidak mengenal perdagangan tanah. Tanah Baduy Dalam tidak diperjualbelikan, tetapi boleh digunakan secara bergantian oleh semua warga Baduy Dalam. Warga Baduy Dalam juga tidak diperkenankan membeli tanah di mana pun. Setiap kampung di Baduy Dalam mempunyai ladangnya masing-masing. Tanah yang dulu dikerjakan oleh seorang warga boleh ditempati orang lain pada musim tanam berikutnya. Hanya saja, tanaman yang telah ditanam oleh penggarap ladang sebelumnya tetap menjadi milik penanam sebelumnya.

Setiap keluarga di Baduy Dalam menentukan luas ladang yang sanggup dikerjakan keluarga itu. Bila ternyata keluarga itu tidak mampu mengerjakan ladangnya, ia dapat meminta bantuan warga lain. Orang yang diminta membantu mengerjakan ladang bekerja dari pukul 08.00 sampai 12.00. Penyewa tenaga ini harus membayar upah pekerja sebesar Rp 6.000,- hingga Rp 15.000,- per hari. Harga upah ini bisa dinego sesuai dengan tingkat kesulitan medan perladangan. Etnik Baduy mempunyai areal yang dijadikan hutan lindung atau hutan larangan (leuweng kolot). Hutan lindung atau hutan larangan ini berfungsi sebagai areal resapan air. Selain itu juga membantu menjaga keseimbangan air dan kejernihan air di Baduy, terlebih di Baduy Dalam. Oleh sebab itu pepohonan di areal ini tidak boleh ditebang, termasuk membuat ladang. Semua aturan ini sudah

dituangkan kedalam Peraturan Desa Kanékés No: 1 tahun 2007 tentang Saba Budaya dan perlindungan Masyarakat Adat Tatar Kanékés (Baduy) yang disyahkan di Kaduketug pada tanggal 15 Juli 2007 oleh Jaro Pamarentah/Kepala Desa Kanékés Daina, dan diundangkan di Kaduketug pada tanggal 15 Juli 2007 oleh Seketaris Desa Kanékés Haji Safin.

Hasil panen ladang di Baduy terutama padi. Padi ini disimpan di lumbung-lumbung dan bisa bertahan sampai puluhan bahkan ratusan tahun! Setiap keluarga mempunyai lumbung masing-masing. Jumlah lumbung yang dimiliki tiap keluarga tidak sama. Ada yang hanya memiliki satu lumbung, tapi ada juga yang punya 10 lumbung. Padi dimanfaatkan untuk mencukupi kebutuhan pangan warga Baduy. Adat juga mengatur bahwa padi yang dihasilkan Etnik Baduy tidak boleh diperjualbelikan, baik di dalam ataupun di luar Baduy. Padi hanya boleh diberikan secara gratis. Bila ada warga yang gagal panen atau kekurangan beras, warga lain membantu mencukupi kebutuhan beras mereka yang tertimpa musibah. Berkurangnya produksi padi sejak sekitar empat tahun lalu mendorong warga Baduy untuk membeli beras dari luar Baduy. Pembelian beras ini dilakukan untuk mencegah kekurangan stok beras mereka.

Selain menanam padi, lahan di ladang juga dimanfaatkan untuk menanam sayur atau buah, seperti kacang, durian, atau aren. Tanaman ini ditanam di antara padi. Lahan untuk menanam tanaman lain selain padi sering disebut kebon. Meskipun secara garis besar Etnik Baduy tidak mengenal perdagangan, pada kenyataannya jual beli hasil kebon sudah terjadi di Baduy, terutama Baduy Luar. Di Baduy Dalam, adat mereka melarang warganya menjual hasil kebon. Tetapi, bila ada orang yang datang dan tertarik membeli hasil kebon, perdagangan boleh dilakukan langsung di tempat.

Untuk meneruskan tradisi berladang, setiap anak di Baduy selalu diajak ke ladang dan diperkenalkan cara berladang sejak usia dini. Etnik Baduy juga mempunyai kebiasaan, setiap anak yang telah menikah dan membentuk keluarga baru harus mengerjakan ladang sendiri. Sebelum menikah, calon menantu laki-laki harus membantu keluarga perempuan di ladang. Tujuannya agar keluarga perempuan dapat menilai sejauh mana calon suami yang dipilihnya untuk putri mereka mampu menghidupi keluarga barunya kelak dari berladang.

Gambar 2.21.

Seorang Ibu Sedang Memetik Padi Gogo di Baduy Sumber: Dokumentasi Peneliti

Etnik Baduy mendirikan saung huma (gubuk) di ladang mereka. Saung ini digunakan sebagai tempat istirahat dan makan siang ketika berladang. Di saung huma ini warga Baduy menyimpan perlengkapan memasak dan persediaan beras. Kira-kira pukul 10.00, ibu-ibu atau anak perempuan mulai memasak. Setelah matang, mereka makan bersama di saung. Hampir setiap hari warga Baduy pergi ke ladang. Mereka bekerja di ladang sejak

pukul 07.00 hingga sekitar pukul 17.00. Saat itulah kampung-kampung di Baduy sepi.

Tidak setiap hari mereka bekerja di ladang. Di Baduy Dalam, setiap tanggal 15 dan 30 menurut kalender mereka ada larangan bekerja di ladang. Bagi beberapa keluarga, hari Jumat juga dijadikan sebagai hari libur. Tak jarang, warga Baduy -terutama laki-laki - meninggalkan ladangnya bila pekerjaan di ladang tidak terlalu banyak. Lewat sistem kepercayaan, adat, serta niat untuk menjaga keseimbangan alam, Etnik Baduy terbukti mampu menghidupi diri mereka sekaligus melestarikan alam.

Gambar 2.22. Saung Baduy

Sumber: Dokumentasi Peneliti

Pola bercocok tanam masyarakat Baduy masih tradisional dan memegang adat leluhur. Biasanya, sebagai penghormatan, masyarakat Baduy melakukan ritual khusus jika hendak memulai masa tanam. Upacara membersihkan lahan sebelum ditanami disebut dengan istilah nyacar serang. Kegitan nyacar serang ini dilakukan secara gotong royong, khususnya ketika membuka lahan ladang miliki adat, merupakan hal yang wajib dilakukan

oleh setiap warga Baduy untuk membantunya. Membakar lahan supaya subur disebut ngaduruk. Sementara, upacara proses mulai menanam padi disebut dengan ngaseuk.

1. Jenis Padi

Ada beberapa jenis padi yang dimiliki masyarakat Baduy. Bahkan, diperkirakan terdapat 40 jenis padi yang ditanam dan tumbuh di sekitar warga Baduy. Ada pun nama-namanya memanglah sangat kental dengan bahasa Sunda lokal, di antaranya pare koneng, pare salak, pare siang, dan pare ketan. 2. Perawatan Padi

Berbeda dengan petani kebanyakan yang melakukan perawatan padi dengan bahan kimia, Etnik Baduy tidaklah demikian. Mereka melakukan perawatan padi dengan cara tradisional. Biasanya, petani Baduy memakai ramuan yang dihasilkan dari oplosan aneka tanaman; cangkudu, tamiang, gempol, pacing tawa, dan lajak. Semua tanaman ini diaduk rata dengan campuran air tuak lalu ditebarkan pada tanaman yang mulai tumbuh dewasa.

Tempat Penyimpanan Padi

Gudang penyimpanan padi atau biasa dikenal dengan lumbung, dalam bahasa Baduy disebut dengan leuit. Bahan kerangka pokok bangunan itu dengan anyaman bambu yang dijadikan dindingnya. Sementara, bagian atapnya ditutup dengan hateup alias daun nipah dan ijuk yang terbuat dari serabut pada pohon aren sebagai penahan air hujan. Jika kita teliti, maka akan ditemukan papan bundar sebagai alas kaki-kaki lumbung yang disebut jalumpang. Gunanya sebagai anti hama, misalnya tikus. Meski rata-rata lumbung itu tidak terlalu besar, tetapi cukup banyak bisa menyimpan ikatan padi. Mereka tidak akan mengambil padi apabila benar-benar tidak dalam kesulitan

pangan. Dengan kata lain bahawa Etnik Baduy sudah memiliki kearifan lokal untuk memikirkan strategi cadangan pangan melalui keberadaan leuit.

Gambar 2.23.

Leuit (Lumbung)

Sumber: Dokumentasi Peneliti

Menjual Hasil Kerajinan

Masyarakat Baduy memang layak dikatakan sebagai masyarakat madani. Dengan berprinsip hidup dari apa yang ada di alam, mereka pun berusaha segala kebutuhannya dengan caranya sendiri tanpa banyak bergantung kepada orang lain. Secara tak langsung, hal ini memaksa mereka untuk berkreasi menciptakan sesuatu guna memenuhi kebutuhan hidup.

Bagi kaum wanita Baduy (baik Baduy Luar maupun Dalam) menenun telah menjadi bagian pekerjaan rutin sehari-hari. Kegiatan ini sudah berlangsung turun temurun dan masih dilakukan sampai sekarang. Biasanya para wanita akan menenun

di siang hari; setelah memasak, membenahi rumah, mengurus anak, mencari kayu bakar, dan pergi ke ladang. Dengan begitu, keluarga mereka dapat mengenakan pakaian untuk melindungi tubuh maupun untuk kelengkapan upacara adat.

Dulu, kain atau sarung Baduy dibuat dari dari kapas dan melalui proses yang sangat rumit. Kini, mereka telah menggunakan bahan dan teknik pengerjaan yang lebih singkat. Kalau dulu untuk membuat satu kain atau sarung bisa membutuhkan waktu sekitar seminggu atau lebih, kini bisa lebih singkat, hanya 4-7 hari. Namun prosesnya tetap menggunakan peralatan tenun tradisional.

Gambar 2.24. Seorang Ibu Sedang Menenun Sumber: Dokumentasi Peneliti

Untuk warga Baduy Dalam, warna putih polos menjadi warna dominan busana yang mereka gunakan. Selain sebagai simbol kesucian atau kebersihan, aturan adat memang melarang menggunakan pakaian dari luar dengan warna yang beraneka

ragam. Sedangkan kain maupun selendang buatan warga Baduy Luar memiliki warna yang lebih variatif. Selain warna hitam dan biru, warna kuning, oranye, merah, biru terang, abu-abu dan putih juga terlihat dalam kreasinya. Motif kainnya sederhana, berupa kotak-kotak kecil. Kain atau selendang inilah yang mudah dijumpai dan bisa dimiliki oleh para wisatawan. Selendang atau kain ini ditawarkan dengan harga antara Rp30.000,- hingga Rp 100.000,- .

Gambar 2.25. Koja dari kulit kayu teureup Sumber: Dokumentasi Peneliti

Selain hasil tenun, warga Baduy juga kerap membuat kantong layaknya tas yang dikenal dengan Koja atau Jarog. Benda ini dibuat dari bahan kulit kayu teureup (ardisia elastica) yang dihaluskan dan kemudian dirajut. Warnanya yang coklat tua adalah hasil pewarna alami, dari larutan kulit pohon Salam (eugenia cumini). Hasil karya ini dijual dengan harga dari Rp 30.000,- sampai Rp 100.000,- , tergantung besar kecilnya ukuran.

Baju orang Baduy Luar yang disebut dengan bayang kampret belakangan juga menjadi barang yang ditawarkan kepada para wisatawan. Ditawarkan dengan harga Rp 40.000,- hingga Rp 70.000,-.Baju ini berwarna hitam, berlengan panjang, belahan di depan dan berkancingkan dari bahan batok kelapa. Menjual Buah-Buahan

Etnik Baduy juga menjual buah-buahan yang mereka dapatkan dari hutan. Seperti Durian, Ranji (seperti buah asam), Rambutan, Nangka, Picung, Petai. Selain menjual buah dari hutan, mereka juga menjual buah pisang yang memang sengaja ditanam pada ladangnya. Penjualan buah pisang ini untuk menyokong pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari. Menurut masyarakat warga Baduy pisang (cau) berbuah tidak kenal waktu, sehingga sengaja ditanamnya selain untuk dijual juga dikonsumsi sendiri.

Jenis buah kuranji berada dihutan yang dipanen setiap tujuh tahun sekali. Kuranji memang berbuah setiap tujuh tahun sekali. Ketika menjelang berbuah, warga Baduy sangat menjaga dengan penuh hati-hati, bahkan untuk menjaga keamanan kebun kuranji ini dijaga oleh petugas yang berwajib. Dijaga oleh yang berwajib menurut warga Baduy sering kali ada pihak luar di luar Etnik Baduy ada yang berani mencuri buah kuranji tersebut. Harga buah kuranji sangat menggiurkan seperti disebutkan oleh informan Wadi (45 th);

“...wah kalau sudah menjelang musim panen kuranji pak, warga Baduy berani minta bantuan kepada pihak yang berwajib untuk membantu menjaga wilayah hutan yang ditumbuhi kuranji itu. Kuranji tumbuh dengan sendirinya, harga per kilonya bisa mencapai ratusan ribu rupiah...(tanpa menyebut nominalnya)...mereka kalau

baru panen kuranji biasanya pada beli se’eng sebagai tabungannya...”

Gambar 2.26.

Seorang warga Baduy Tangtu berbelanja di Pasar Kroya Sumber: Dokumentasi Peneliti

Menjual Madu

Selain buah-buah dan kerajinan tangan, warga Baduy Tangtu juga menjual madu hutan. Madu hutan yang dijual memang diambil dari lebah liar yang hidup di hutan sekitar pemukiman baik di kampung Cikeusik, Cikartawana atau Cibeo. Madu hasil perasan secara tradisional tersebut dijajakan hingga ke wilayah Baduy Luar bahkan ke luar wilayah Kecamatan Leuwidamar atau wilayah yang bersinggungan dengan Desa Kanékés, seperti daerah Keboncau yang masuk wilayah Kecamatan Bojongmanik.

Adapun harga jual madu sebotol ukuran 650 ml ditawarkan antara Rp 150.000,- hingga Rp 250.000,-. Bentuk hasil karyanya bisa diperhatikan dalam gambar 2.27.

Gambar 2.27. Madu Asli Baduy yang Dikemas dalam Botol Sumber: Dokumentasi Peneliti

Seba

Seba merupakan bentuk tanda kepatuhan/pengakuan kepada penguasa, masyarakat Kanékés secara rutin melaksanakan seba yang masih rutin diadakan setahun sekali dengan mengantarkan hasil bumi kepada penguasa setempat yaitu kepada Bupati Lebak dan dilanjutkan ke Gubernur Banten. Dari hal tersebut diharapkan akan terciptanya interaksi yang erat antara masyarakat Baduy dengan masyarakat pada umumnya.

Ketika pekerjaan di ladang sudah longgar, orang Etnik Baduy biasanya berkelana ke kota besar sekitar wilayah mereka dengan berjalan kaki, umumnya mereka berangkat dengan jumlah yang kecil antara 3 sampai 5 orang untuk menjual madu dan kerajinan tangan mereka untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Perdagangan yang semula hanya dilakukan dengan

barter kini sudah menggunakan mata uang rupiah. Orang Baduy menjual hasil pertaniannya dan buah-buahan melalui para tengkulak. Mereka juga membeli kebutuhan hidup yang tidak diproduksi sendiri di pasar. Pasar bagi orang Kanékés terletak di luar wilayah Kanékés seperti pasar Kroya, Cibengkung, dan Ciboleger.