• Tidak ada hasil yang ditemukan

Good Corporate Governance Istilah Corporate Governance

TERHADAP RETURN STOCK Ariza Roni Taufik

2.3 Good Corporate Governance Istilah Corporate Governance

pertama kali diperkenalkan oleh Cadbury Committee ditahun 1992 yang menggunakan istilah tersebut dalam laporan mereka yang kemudian dikenal sebagai Cadbury report. Laporan ini dipandang sebagai titik balik (turning point) yang sangat menentukan bagi praktik Corporate Governance di seluruh dunia. Good Corporate Governance merupakan :

1. Suatu struktur yang mengatur pola hubungan harmonis tentang peran dewan komisaris, direksi, pemegang saham dan para stakeholder lainnya

2. Suatu sistem pengecekan dan perimbangan kewenangan atas pengendalian perusahaan yang dapat membatasi munculnya dua peluang: pengelolaan yang salah dan penyalahgunaan aset perusahaan

3. Suatu proses yang transparan atas penentuan tujuan perusahaan, pencapaian, berikut pengukuran kinerjanya.

Dari pengertian diatas pula, ada beberapa aspek penting dari Good Corporate Governance yang perlu dipahami beragam kalangan di dunia bisnis, yakni:

1. Adanya keseimbangan hubungan antara organ-organ perusahaan di antaranya Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), komisaris, dan direksi. Keseimbangan ini mencakup hal-hal yang berkaitan dengan struktur kelembagaan dan mekanisme operasional ketiga organ perusahaan tersebut (keseimbangan internal)

2. Adanya pemenuhan tanggung jawab perusahaan sebagai entitas bisnis dalam masyarakat kepada seluruh stakeholder. Tanggung jawab ini meliputi hal-hal

PROSIDING

Seminar Nasional dan Call for Papers “Tantangan Pengembangan Ilmu Akuntansi, Inklusi Keuangan, dan Kontribusinya Terhadap Pembangunan Ekonomi Berkelanjutan”

179 yang terkait dengan pengaturan

hubungan antara perusahaan dengan stakeholders (keseimbangan eksternal). Diantaranya, tanggung jawab pengelola/pengurus perusahaan, manajemen, pengawasan, serta pertanggung jawaban kepada para pemegang saham dan stakeholders lainnya

3. Adanya hak-hak pemegang saham untuk mendapat informasi yang tepat dan benar pada waktu yang diperlukan mengenai perusahaan. Kemudian hak berperan serta dalam pengambilan keputusan mengenai perkembangan strategis dan perubahan mendasar atas perusahaan serta ikut menikmati keuntungan yang diperoleh perusahaan dalam pertumbuhannya

4. Adanya perlakuan yang sama terhadap para pemegang saham, terutama pemegang saham minoritas dan pemegang saham asing melalui keterbukaan informasi yang material dan relevan serta melarang penyampaian informasi untuk pihak sendiri yang bisa menguntungkan orang dalam (insider information for insider trading).

Berdasarkan Pedoman Umum GCG Indonesia yang dikemukan oleh Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG, 2006) GCG memiliki asas sebagai berikut:

1. Transparency, untuk menjaga objektivitas dalam menjalankan bisnis, perusahaan harus menyediakan informasi relevan dengan cara yang mudah diakses dan dipahami oleh pemangku kepentingan. Perusahaan harus mengambil inisiatif untuk mengungkapkan tidak hanya masalah yang disyaratkan oleh peraturan perundang-undangan, tetapi juga hal yang penting untuk pengambilan keputusan oleh pemegang saham, kreditur, dan pemangku kepentingan lainnya.

2. Accountability, perusahaan harus dapat mempertanggungjawabkan kinerjanya secara transparan dan wajar. Untuk itu

perusahaan harus dikelola secara benar, terukur dan sesuai dengan kepentingan perusahaan dengan tetap memperhitungkan kepentingan pemegang saham dan pemangku kepentingan lain. Akuntabilitas merupakan pra syarat yang diperlukan untuk mencapai kinerja yang berkesinambungan,

3. Responsibility, perusahaan harus mematuhi peraturan perundang- undangan serta melaksanakan tanggungjawab terhadap masyarakat dan lingkungan sehingga dapat terpelihara kesinambungan usaha dalam jangka panjang dan dapat pengakuan sebagai good corporate governance.

4. Independency, untuk melancarkan pelaksanaan GCG, perusahaan harus dikelola secara independen sehingga masing-masing organ perusahaan tidak saling mendominasi dan dapat diintervensi oleh pihak lain.

5. Fairness, dalam melaksanakan kegiatannya, perusahaan harus senantiasa memperhatikan kepentingan pemegang saham dan pemangku kepentingan lainnya berdasarkan asas kewajaran dan kesetaraan.

Ada dua hal yang ditekankan dalam konsep GCG, pertama, pentingnya hak pemegang saham untuk memperoleh informasi dengan benar dan tepat pada waktunya dan, kedua, kewajiban perusahaan untuk melakukan pengungkapan (disclosure) secara akurat, tepat waktu, transparan terhadap semua informasi kinerja perusahaan, kepemilikan, dan stakeholder. Dengan penerapan GCG diyakini dapat menciptakan kondisi yang kondusif dan landasan yang kokoh untuk menjalankan operasional perusahaan dengan baik, efisien, dan menguntungkan.

Terdapat beberapa manfaat dari Good Corporate Governance, antara lain:

a) Mengurangi agency cost, yaitu suatu biaya yang harus ditanggung pemegang

180

saham sebagai akibat pendelegasian wewenang kepada pihak manajemen, b) Mengurangi biaya modal (Cost of Capital), yaitu sebagai dampak dari pengelolaan perusahaan yang baik tadi menyebabkan tingkat bunga atas dana atau sumber daya yang dipinjam oleh perusahaan semakin kecil seiring turunnya tingkat resiko perusahaan, c) Meningkatkan nilai saham perusahaan sekaligus dapat meningkatkan image perusahaan tersebut kepada publik dalam jangka panjang,

d) Menciptakan dukungan para stakeholder (para pihak yang berkepentingan) dalam lingkungan perusahaan tersebut terhadap keberadaan dan berbagai strategi dan kebijakan yang ditempuh perusahaan,

e) Meningkatkan kinerja perusahaan melalui terciptanya proses pengambilan keputusan yang lebih baik, meningkatkan efisiensi operasional perusahaan dengan lebih baik, meningkatkan efisiensi operasional serta lebih meningkatkan pelayanan kepada shareholders,

f) Mempermudah diperolehnya dana pembiayaan yang lebih murah (karena faktor kepercayaan) yang pada akhirnya akan meningkatkan corporate value, g) Mengembalikan kepercayaan investor untuk menanamkan modal di Indonesia.

Corporate Governance Perception Index (CGPI) adalah suatu riset yang oleh Indonesian Institute of Corporate Governance (IICG) untuk menilai kinerja manajemen perusahaan (Laporan IICG, 2014). Adapun ruang lingkup dan fokus penilaian dalam CGPI antara lain : a. Aspek kepatuhan (compliance) dalam implementasi GCG merupakan pemenuhan atas berbagai tuntutan peraturan perundang-undangan yang ditetapkan oleh regulator. Aspek kepatuhan menyatakan kepastian bahwa seluruh operasional bisnis perusahaan sudah dilakukan dengan baik dan tidak bertentangan dengan aturan yang berlaku guna menciptakan nilai tambah bagi pemangku kepentingan perusahaan.

b. Aspek kesesuaian (conformance) dalam implementasi GCG merupakan keselarasan berbagai kebijakan dan operasional perusahaan dengan norma, etika, dan tata nilai yang dianut perusaahan. Aspek kesesuaian menyatakan kepastian kepatutan penyelenggaraan perusahaan guna menciptakan nilai tambah bagi pemangku kepentingan perusahaan. c. Aspek kinerja (performance) dalam implementasi GCG merupakan hasil- hasil capaian perusahaan dalam memenuhi tuntutan operasional secara etika dan bermartabat. Aspek kinerja menyatakan kepastian pencapaian kinerja perusahaan guna menciptakan nilai tambah bagi pemangku kepentingan perusahaan.

1. Aspek Penilaian Dalam CGPI a. Self Assessment

Self-assessment adalah penilaian mandiri oleh seluruh organ, anggota, dan stakeholder perusahaan mengenai kualitas penerapan GCG dan penciptaan nilai tambah bagi pemangku kepentingan secara etikal dan bermartabat dalam rangka mewujudkan keberlanjutan perusahaan. Pada tahapan ini perusahaan mengisi kuesioner yang menggali persepsi responden terhadap aspek dan indikator yang dinilai secara jujur dan objektif guna memberikan umpan balik dan evaluasi yang baik kepada perusahaan.

b. Sistem Dokumentasi

Tahapan sistem dokumentasi adalah pemenuhan persyaratan penilaian berupa penyerahan berbagai dokumen yang telah dimiliki perusahaan terkait dengan pelaksanaan GCG dan dan penciptaan nilai tambah bagi pemangku kepentingan secara etikal dan bermartabat dalam rangka mewujudkan keberlanjutan perusahaan.

c. Penyusunan Makalah

Penyusunan makalah merupakan salah satu pemenuhan persyaratan penilaian yang menjelaskan serangkaian

PROSIDING

Seminar Nasional dan Call for Papers “Tantangan Pengembangan Ilmu Akuntansi, Inklusi Keuangan, dan Kontribusinya Terhadap Pembangunan Ekonomi Berkelanjutan”

181 proses dan program implementasi GCG

di perusahaan dan penciptaan nilai tambah perusahaan.

d. Observasi

Observasi adalah tahapan akhir penilaian sebagai salah satu bagian penting dari proses riset dan pemeringkatan CGPI 2014 berupa peninjauan langsung ke perusahaan oleh tim penilai CGPI 2014 untuk memastikan

kualitas penerapan GCG dan proses penciptaan nilai tambah perusahaan secara berkesinambungan yang diperoleh dari data dan informasi pada ketiga tahapan sebelumnnya (self assessment, sistem dokumentasi dan makalah). Berikut adalah komposisi penilaian CGPI:

Tabel 2.1 Bobot Tahapan Penilaian CGPI

Tahapan Bobot

Self Assessment 27%

Kelengkapan Dokumen 41% Penyusunan Makalah 14%

Observasi 18%

Total Overall Inconsistency 100%

Sumber: The Indonesian Institute for Corporate Governance 2016 2.4 Corporate Social Responsibility

Menurut Ghozali dan Chariri (2007) dalam Muid (2011) menjelaskan bahwa guna melegitimasi aktivitas perusahaan di mata masyarakat, perusahaan cenderung menggunakan kinerja berbasis lingkungan dan pengungkapan informasi lingkungan. Menurut Suharto (2008) dalam Muid (2011) CSR adalah operasi bisnis yang berkomitmen tidak hanya untuk meningkatkan keuntungan perusahaan secara fnansial, melainkan pula untuk pembangunan sosial ekonomi kawasan secara holistik, melembaga dan berkelanjutan. Pelaksanaan corporate social responsibility merupakan hal yang sangat penting karena berkaitan dengan pembentukan citra positif perusahaan. 2.5 Return Saham

Return merupakan imbalan yang diperoleh dari investasi. Return dibedakan menjadi dua yaitu return

realisasi (realized return) atau return ekspektasi (expected return). Return realisasi merupakan return yang telah terjadi dan dihitung berdasarkan data historis. Return ini penting karena digunakan sebagai salah satu alat pengukur kinerja perusahaan dan sebagai dasar penentuan return dan risiko dimasa mendatang. Sedangkan return ekspektasi adalah return yang diharapkan akan diperoleh investor di masa yang akan datang dan masih bersifat tidak pasti (Jogiyanto, 2010).

Sumber-sumber return saham terdiri dari dua komponen utama yaitu yield dan capital gain (loss). Yield merupakan komponen return yang mencerminkan aliran kas atau pendapatan yang diperoleh secara periodik dari suatu investasi. Keuntungan ini biasanya diterima dalam bentuk kas atau setara kas sehingga dapat diuangkan secara cepat. Jika kita berinvestasi pada sebuah obligasi maka besarnya yield

182

ditunjukkan dari bunga obligasi yang dibayarkan. Jika kita membeli saham, yield ditunjukkan dengan besarnya dividen yang kita peroleh. Sedangkan capital gain sebagai komponen kedua return merupakan kenaikan atau penurunan harga suatu surat berharga, yang bisa memberikan keuntungan atau kerugian bagi investor.

3. METODE PENELITIAN