Mahkamah Agung Republik Indonesia
JAWABAN TERGUGAT VII DALAM EKSEPSI
5. Gugatan Penggugat Kabur dan Tidak Jelas (OBSCUUR LIBELS)
a. Bahwa gugatan Penggugat menyatakan atau menyebutkan IMB yang diterbitkan oleh Tergugat VII atas pembangunan Niffaro Apartemen yang didalilkan sebagai perbuatan melawan hukum, IMB Nomor berapa yang Penggugat Maksud ? Kapan terbitnya dan atas Nama Siapa ?, sungguh tidak jelas IMB yang mana dimaksud oleh Penggugat apakah IMB Khusus, IMB Bersyarat Sementara , IMB Bersyarat Sementara Berjangka ?
b. Bahwa sejak tanggal 13 Januari 1958 telah diterbitkan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1958 tentang Penghapusan Tanah -Tanah Partikelir, hal mana dalam Pasal 3 Undang-Undang tersebut menyatakan sejak berlakunya Undang-Undang ini demi pentingan umum hak-hak pemilik beserta hak-hak pertuanannya atas semua tanah-tanah partikelir hapus dan tanah-tanah bekas tanah partikelir itu karena hukum seluruhnya serentak menjadi tanah negara.
Hal. 173 dari 238 hal. Putusan No. 245/Pdt.G/2011/PN.Jkt.Sel.
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 173
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Selanjutnya Pada Pasal 1 huruf d angka 2 menyatakan, tanah eigendom yang luasnya 10 bau yang menjadi milik seseorang atau suatu badan hukum atau milik bersama dari beberapa orang atau beberapa badan hukum, diperlakukan sebagai tanah partikelir.
Artinya eigendom Verponding Nomor 6418 An.Koeroe Alimoedien dan Para Ahli Warisnya yang disomir oleh Penggugat berada atau terletak di Jl.Raya Pasar Minggu Kelurahan Pejatan timur Kecamatan Pasar Minggu Jakarta Selatan telah menjadi tanah milik negara sebagaimana dimaksud UU Nomor 2 Tahun 1958 tentang Penghapusan Tanah-Tanah Partikelir.
Mengingat ketentuan Pasal 24 ayat (1) Peraturan Pemerintah No.24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah, dapatlah dipertanyakan kepada Penggugat, seandainya benar bidang tanah tersebut milik Penggugat dan setelah sekian lama Penggugat tidak mempertahankan bidang tanah tersebut dengan mensertifikatkannya dengan pembuktian hak lama sebagaimana dimaksud Pasal 24 UU No.24 Tahun 1997 dapatkah dikategorikan Penggugat bukanlah Pemilik tanah aquo dan selanjutnya tidak ada catatan-catatan IPEDA atas bidang tanah tersebut An. Koeroe Alimoedien.
Dengan Demikian patutlah dipertanyakan bidang objek tanah yang digugat oleh Penggugat kabur dan tidak jelas.
Dengan demikian sesuai Putusan MARI tanggal 21 Agustus 1974 Reg No.565 K/ Sip/ 1973 menyatakan kalau objek gugatan tidak jelas, maka gugatan tidak dapat diterima.
Bahwa berdasarkan uraian-uraian Eksepsi Tergugat VII di atas, sudilah kiranya Majelis Hakim berkenan memutus Eksepsi atas perkara aquo dengan amar putusan sebagai berikut :
1. Menerima Eksepsi Tergugat VII untuk seluruhnya;
174
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 174
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
2. Menyatakan Objek Gugatan Penggugat Kabur dan tidak jelas (Obscuur Libels), Kurang Pihak, Salah Subjek (error in Subjekto), Kumulasi gugatan terlarang;
3. Menghukum PENGGUGAT untuk membayar biaya perkara ini untuk keseluruhan.
DALAM POKOK PERKARA
1. Bahwa TERGUGAT VII secara tegas menolak seluruh dalil-dalil gugatan Penggugat kecuali yang diakui dengan tegas kebenarannya ;
2. Bahwa menanggapi dalil gugatan Penggugat pada angka 11 halaman 5 bahwa Penggugat menyatakan mengirim surat kepada Tergugat II, Tergugat IV dan Tergugat V yang intinya Penggugat mencoba mengupayakan jalan damai tetapi tidak berhasil.
Bahwa pernyataan Penggugat tersebut jelas memperlihatkan Penggugat sendiri tidak yakin dan ragu akan kepemilikannya atas bidang tanah yang dikuasai oleh Tergugat II yang sudah mempunyai bukti hak kepemilikan atas yakni SHM 572/Pejaten Timur, SHM 573/Pejaten Timur dan SHM 574/
Pejaten Timur.
3. Bahwa menanggapi dalil gugatan Penggugat angka 12 halaman 5, terlihat jelas Penggugat meminta untuk mencabut dan membatalkan Site Plan, SIPPT dan IMB.kepada Tergugat VII.
Bahwa permohonan tersebut di atas tidaklah dapat dipenuhi oleh Tergugat VII dengan serta merta karena Tergugat VII akan melakukan pencabutan atas produk pemerintahan yang nota bene putusan pejabat tata usaha negara berdasarkan hasil Putusan Pengadilan Tata Usaha Negara dan selanjutnya perlu kami sampaikan kepada Penggugat bahwa proses penerbitan IMB, SIPPT dan Siteplan kepada siapapun atau masyarakat Jakarta Selatan pasti Tergugat VII akan layani dan akan menerbitkan dokumen-dokumen tersebut di atas sesuai dengan ketentuan yang berlaku
Hal. 175 dari 238 hal. Putusan No. 245/Pdt.G/2011/PN.Jkt.Sel.
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 175
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
yakni berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 1991 tentang Bangunan Dalam Wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta Jo Peraturan Gubernur Gubernur DKI Jakarta Nomor 85 Tahun 2006 tentang Pelayanan Penerbitan Perizinan Bangunan.
Bahwa perlu kami jelaskan kepada Penggugat bahwa salah satu persyaratan dari terbitnya IMB suatu bangunan adanya syarat Sertifikat Tanah yang dikeluarkan oleh Tergugat VIII yang satu-satunya lembaga di Negara Republik Indonesia yang mempunyai kewenangan menerbitkan Sertifikat tanah sebagaimana diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2006 Tentang Badan Pertanahan Nasional.
4. Bahwa menanggapi dalil gugatan angka 14 halaman 6 terlihat jelas Penggugat memohon kepada Mejelis Hakim untuk mencabut Izin Mendirikan Bangunan dalam hal ini IMB Niffaro Apartemen dan menyatakan IMB tersebut tidak sah menurut hukum
Bahwa dalil Penggugat tersebut di atas jelas memperlihatkan tuntutan kepada Majelis Hakim aquo untuk mencabut IMB dan menyatakan tidak sah menurut hukum, keabsahan suatu produk pejabat Tata Usaha Negara bukanlah Pengadilan Negeri, tempatnya dipersilahkan Penggugat untuk mengajukannya kepengadilan Tata Usaha Negara.
Bahwa Yurisprudensi Mahkamah Agung RI No. 620 K/Pdt/1999 tanggal 29 Desember 1999 yang menyatakan sebagai berikut :
“Bila yang digugat adalah Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara dan objek gugatan menyangkut perbuatan yang menjadi wewenang pejabat tersebut, maka yang berwenang mengadili perkara tersebut adalah peradilan Tata Usaha Negara bukan wewenang Pengadilan Negeri.”
Terkait prosedur penerbitan suatu Izin Mendirikan suatu bangunan (IMB), Tergugat VII tidak menerbitkan produk hukum dengan sembarangan.
Tergugat VII mempunyai standar operasional Prosedur dan persyaratan-persyaratan wajib yang harus dimiliki oleh Pemohon IMB sesuai Peraturan 176
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 176
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Daerah Nomor 7 Tahun 1991 tentang Bangunan Dalam Wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta Jo Peraturan Gubernur Gubernur DKI Jakarta Nomor 85 Tahun 2006 tentang Pelayanan Penerbitan Perizinan Bangunan jo Keputusan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 76 Tahun 2000 tentang Tata Cara Memperoleh Izin Mendirikan Bangunan, Izin Penggunaan Bangunan dan Kelayakan Menggunakan Bangunan di Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta, dengan demikian dalil Penggugat tersebut haruslah ditolak sepenuhnya ;
5. Bahwa menanggapi dalil gugatan angka 15 halaman 6, menyatakan Para Tergugat termasuk Tergugat VII melakukan perbuatan melawan hukum ( Onrecht machtigedaad) sebagaimana dimaksud Pasal 1365 KUH Perdata.
Bahwa dalil perbuatan melawan hukum tersebut akan kami tanggapi sebagai berikut :(Darwin prinst,SH; Strategi Menyusun Dan Menangani Gugatan Perdata, Cetakan Ketiga Revisi halaman 95)
a. Ada Perbuatan Melawan Hukum
Tergugat VII tidak pernah sama sekali melakukan perbuatan melawan hukum baik terhadap Penggugat maupun ketentuan perundang-undangan yang berlaku, Apa yang dilakukan oleh Tergugat VII hanyalah semata dalam pelayanan kepada masyarakat sebagai Tupoksinya (Peraturan Gubernur Nomor 123 Tahun 2009 tentang Organisasi Tata Kerja Dinas Pengawasan dan Penertiban Bangunan).
b. Melanggar Hak Subjektif orang lain
Bahwa tidak satupun hak perseorangan yang dilanggar oleh Tergugat VII yang merugikan kepentingan Penggugat dalam perkara aquo karena secara hubungan hukum tidak ada perselisihan hukum yang terjadi antara Penggugat dengan Tergugat VII dan selanjutnya tidak ada hak-hak atas kekayaan Penggugat yang dilanggar oleh Tergugat VII baik sebelum dan sesudah gugatan ini ;
c. Ada Kesalahan
Hal. 177 dari 238 hal. Putusan No. 245/Pdt.G/2011/PN.Jkt.Sel.
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 177
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Bahwa tidak satupun kesalahan yang dilakukan oleh Tergugat VII baik kealpaan maupun kesengajaan kepada Penggugat sehingga Tergugat VII dijadikan pihak dalam perkara ini, karena Tergugat VII adalah pelayan masyarakat dan melaksanakan tugas pokok fungsinya sesuai dengan ketentuan yang berlaku ;
d. Ada Kerugian
Bahwa tidak satu kerugian apapun yang ditimbulkan atas kepentingan Penggugat karena tidak pernah Tergugat VII merugikan kepentingan Penggugat terhadap pembangunan Niffaro Apartemen. Perselisihan perdata yang terjadi antara Penggugat dengan Tergugat I, Tergugat II, Tergugat III, Tergugat IV dan Tergugat V bukanlah urusan Tergugat VII. ;
e. Ada Hubungan Kausal
Terkait gugatan aquo, tidaklah berdasar Penggugat menggugat Tergugat VII karena tidaklah ada hubungan hukum dari suatu perbuatan melawan hukum yang dilakukan Tergugat VII yang mengakibatkan suatu kerugian yang diderita oleh Penggugat.
Berdasarkan uraian-uraian perbuatan melawan hukum tersebut di atas serta tidak terdapatnya persilisihan hukum yang terjadi antara Penggugat dengan Tergugat VII, maka sesuai Yurisprudensi Mahkamah Agung No.4 K/Sip/1958 tanggal 13 Desember 1958 menyatakan “ Syarat mutlak untuk menuntut orang didepan Pengadilan adalah adanya perselisihan hukum antara kedua belah pihak”.
Oleh karena tidak adanya perselisihan hukum antara Penggugat dengannTErgugat VII maka sesuai Yurisprudensi Mahkamah Agung RI No. 239 K/Sip/1968 : bahwa suatu gugatan yang tidak berdasarkan hukum harus dinyatakan tidak dapat diterima. (Niet Onvankelijk Verklaard).
6. Bahwa menanggapi dalil gugatan angka 19 dan angka 20 halaman 8 yang mana Penggugat sangat yakin akan bukti kepemilikannya dengan mengacu 178
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 178
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
kepada Pasal 180 HIR merupakan dalil yang sangat prematur (Premature Prejudice) untuk diungkapkan mengingat Penggugat haruslah membuktikan sendiri bukti kepemilikannya bukannya menafsirkan sendiri atau menyakinkan diri sendiri, karena sesuai Pasal 1865 KUH Perdata yang menyatakan ” setiap orang yang mengaku mempunyai suatu hak atau menunjukkan suatu peristiwa untuk meneguhkan haknya itu atau untuk membantah suatu hak orang lain, wajib membuktikan adanya hak itu atau kejadian yang dikemukakan itu ”.
Selanjutnya atas pemohonan untuk putusan serta merta tidaklah semudah Penggugat sebutkan karena hal tersebut sesuai Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA) No.4 Tahun 2001 tanggal 20 Agustus 2002 tentang Permasalahan Putusan Serta Merta (Uit Voerbaar bij Voorrad) dan provisional dengan tegas menyatakan ” bahwa setiap kali akan melaksanakan putusan serta merta harus disertai dengan penetapan sebagaimana yang diatur dalam butir 7 SEMA No.3 Tahun 2000 dan harus disertai dengan adanya pemberian jaminan yang nilainya sama dengan nilai/
objek eksekusi sehingga tidak menimbulkan kerugian pada pihak lain apabila ternyata dikemudian hari dijatuhkan putusan yang membatalkan putusan Pengadilan Tingkat Pertama. Dengan demikian jelas bahwa tanpa disertai uang jaminan yang sama nilainya dengan objek sengketa, maka pelaksanaan putusan serta merta dan provisional tidak dapat dijalankan”.
Bahwa berdasarkan uraian atau dalil-dalil Tergugat VII tersebut di atas, mohon kiranya Majelis Hakim berkenan memutus Dalam Pokok perkara aquo dengan amar putusannya sebagai berikut :
1. Menerima seluruh dalil-dalil Pokok Perkara TERGUGAT VII untuk seluruhnya;
2. Menolak seluruhnya dalil-dalil Pokok Perkara gugatan Penggugat atau setidak-tidaknya menyatakan gugatan Penggugat tidak dapat diterima (Niet Ovankelijke Verklaard);
Hal. 179 dari 238 hal. Putusan No. 245/Pdt.G/2011/PN.Jkt.Sel.
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 179
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
3. Menyatakan Tergugat VII tidak melakukan perbuatan melawan hukum;
4. Menghukum Penggugat untuk membayar seluruh biaya perkara yang timbul atas perkara aquo ;