Mahkamah Agung Republik Indonesia
PN.JKT.SEL TANGGAL 22 JULI 1988 TIDAK DAPAT DIJADIKAN DASAR DALIL SERTA MEMBUKTIKAN GUGATAN PENGGUGAT
D. TUNTUTAN GANTI RUGI DAN DWANGSOM, PERMOHONAN SITA JAMINAN, SERTA PERMOHONAN PUTUSAN PROVISI DAN PUTUSAN
SERTA MERTA YANG DIAJUKAN OLEH PENGGUGAT HARUSLAH DITOLAK
42.Bahwa karena seluruh dalil pokok gugatan Penggugat adalah tidak berdasarkan hukum dan dapat dibantah berdasarkan hal-hal yang disampaikan dalam Jawaban di atas, maka secara hukum tuntutan ganti rugi dan dwangsom, permohonan sita jaminan, serta permohonan putusan provisi dan putusan serta merta yang diajukan oleh Penggugat seluruhnya juga haruslah ditolak. Namun demikian, disamping hal tersebut dalam hal ini terdapat alasan-alasan khusus untuk ditolaknya tuntutan ganti rugi dan dwangsom, serta permohonan putusan provisi dan putusan serta merta, yang akan disampaikan pada uraian selanjutnya.
Tuntutan Ganti Rugi yang diajukan oleh Penggugat tidak rinci dan tidak berdasar hukum sehingga harus ditolak
Hal. 147 dari 238 hal. Putusan No. 245/Pdt.G/2011/PN.Jkt.Sel.
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 147
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
43.Bahwa dalam Posita butir 16 hlm. 6-7 dan Petitum butir 7 hlm 9-10 Surat Gugatan, Penggugat pada intinya telah mengajukan tuntutan ganti rugi materiil sebesar Rp.201.236.000.000,- (dua ratus satu milyar dua ratus tiga puluh enam juta Rupiah) yang berasal dari perhitungan luas tanah seluas 28.748 m2 (dua puluh delapan ribu tujuh ratus empat puluh delapan meter persegi) X (dikali) Rp.
7.000.000,- (tujuh juta Rupiah) per meter persegi.
44.Bahwa atas jumlah tuntutan ganti rugi sebesar Rp.201.236.000.000,- (dua ratus satu milyar dua ratus tiga puluh enam juta Rupiah) tersebut, Penggugat hanya menuntutkannya kepada Tergugat II, Tergugat IV dan Tergugat V, dengan masing-masing tuntutan ganti rugi yang ditujukan terhadap Tergugat II dan Tergugat IV sebesar Rp.80.494.400.000,- (delapan puluh milyar empat ratus sembilan puluh empat juta empat ratus ribu Rupiah), dan yang ditujukan terhadap Tergugat V sebesar Rp.40.247.200.000,- (empat puluh milyar dua ratus empat puluh tujuh juta dua ratus ribu Rupiah).
45.Bahwa selain tuntutan ganti rugi tersebut tidak mempunyai dasar hukum, ternyata Penggugat dalam Surat Gugatannya juga tidak dapat menguraikan dan menjelaskan secara rinci asal muasal dan dasar dari perhitungan ganti rugi sebesar Rp.7.000.000,- (tujuh juta Rupiah) per meter persegi dan tidak dapat menguraikan dasar mengenai perbedaan jumlah yang dituntutkan kepada Tergugat II, Tergugat IV dan Tergugat V, serta tidak dapat menjelaskan dan menguraikan pula alasan mengapa hanya Tergugat II, Tergugat IV dan Tergugat V yang dituntut untuk membayar ganti rugi, oleh karenanya petitum tersebut sudah selayaknya menurut hukum untuk ditolak, sesuai dengan Yurisprudensi Mahkamah Agung RI Nomor: 117 K/
Sip/1971 tanggal 2 Juni 1971, yang pada pokoknya memberikan kaidah hukum sebagai berikut:
148
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 148
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Suatu gugatan baik dalam positanya maupun dalam petitumnya, pihak Penggugat tidak menjelaskan dengan lengkap dan sempurna tentang ganti rugi yang dituntutnya, maka gugatan yang menuntut uang ganti rugi ini, tidak dapat dikabulkan atau ditolak oleh hakim.
Tuntutan pembayaran uang paksa (dwangsom) yang diajukan oleh Penggugat tidak tidak berdasar hukum sehingga harus ditolak
46.Bahwa dalam (i) Yurisprudensi Mahkamah Agung RI tanggal 1 September 1971, No. 496 K/Sip1971, (ii) Yurisprudensi Mahkamah Agung RI tanggal 26 Februari 1973, No. 791 K/Sip/1972, dan (iii) Yurisprudensi Mahkamah Agung RI tanggal 7 Desember 1976, No. 307 K/Sip/1976 telah memberikan kaidah hukum yang pada intinya:
Uang paksa (dwangsom) hanya mungkin diterapkan terhadap perbuatan yang harus dilakukan oleh Tergugat yang tidak berupa pembayaran sejumlah uang.
47.Bahwa terkait Yurisprudensi Mahkamah Agung RI tersebut di atas, telah pula ditegaskan di dalam doktrin dari para ahli hukum yang diantaranya sebagai berikut:
• Prof. Subekti, S.H., dalam bukunya “Hukum Acara Perdata”, Cetakan Kedua, Penerbit Bina Cipta, tahun 1992, halaman 133, menyatakan :
“Dalam pasal 606 a Rv. itu ditegaskan juga bahwa lembaga uang paksa itu tidak dapat diterapkan dalam suatu putusan yang mengandung diktum penghukuman membayar sejumlah uang.”
Hal. 149 dari 238 hal. Putusan No. 245/Pdt.G/2011/PN.Jkt.Sel.
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 149
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
• Prof. Dr. Sudikno Mertokusumo, S.H., dalam bukunya “Hukum Acara Perdata Indonesia”, Edisi Keenam, Penerbit Liberty Yogyakarta, Cetakan Pertama tahun 2002, halaman 62, yang menyatakan :
“Tuntutan agar tergugat dihukum untuk membayar uang paksa (astreinte, dwangsom). Apabila hukuman itu tidak berupa pembayaran sejumlah uang, maka dapat ditentukan bahwa pihak yang dikalahkan dihukum untuk membayar sejumlah uang paksa selama ia tidak memenuhi isi putusan. Pembayaran uang paksa ini hanya mungkin terhadap perbuatan yang harus dilakukan oleh tergugat yang tidak terdiri dari pembayaran sejumlah uang.”
48.Bahwa dalam Posita butir 16 hlm. 6-7 dan Petitum butir 7 hlm 9-10 Surat Gugatan, Penggugat pada intinya telah mengajukan tuntutan ganti rugi berupa sejumlah uang yaitu ganti rugi materiil sebesar Rp.201.236.000.000,- (dua ratus satu milyar dua ratus tiga puluh enam juta Rupiah) dan ganti rugi immateriil sebesar Rp.10.000.000.000,- (sepuluh milyar Rupiah).
49.Bahwa dengan demikian jelas tuntutan pembayaran uang paksa (dwangsom) dari Penggugat dalam perkara aquo sudah seharusnya ditolak, karena tuntutan yang diajukan oleh Penggugat terhadap Tergugat dalam perkara aquo bersifat tuntutan pembayaran sejumlah uang, sedangkan menurut hukum Uang Paksa atau Dwangsom itu hanya dapat diberikan/dikabulkan terhadap perintah dalam putusan terkait perbuatan yang harus dilakukan oleh pihak tergugat yang tidak berupa pembayaran sejumlah uang. Terlebih lagi, gugatan Penggugat sama sekali tidak mempunyai dasar hukum.
Permohonan Sita Jaminan (Conservatoir Beslag) harus ditolak karena objek Tanah E.V. 6418 yang dimohonkan telah hapus menjadi tanah 150
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 150
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
negara dan benda bergerak maupun tidak bergerak milik Tergugat II, Tergugat IV, dan Tergugat V yang dimohonkan sita jaminan tidak disebutkan secara rinci
50.Bahwa Tanah E.V. 6418 yang menjadi objek permohonan sita jaminan (conservatoir beslag) pada kenyataannya sudah hapus sejak tanggal 13 Mei 1930 dan menjadi tanah yang dikuasai langsung oleh Negara (Tanah Negara), sehingga Tanah E.V. 6418 saat ini sudah tidak eksis lagi¸sebagaimana telah diuraikan di atas sebelumnya.
51.Bahwa selain Permohonan Sita Jaminan yang diajukan oleh Penggugat tidak mempunyai dasar hukum dan gugatan Penggugat tidak berdasar, ternyata permohonan tersebut juga hanya menyebutkan objek harta kekayaan Tergugat II, Tergugat IV, dan Tergugat V berupa barang bergerak maupun barang tidak bergerak baik yang ada sekarang maupun yang diketemukan kemudian hari, oleh karenanya permohonan sita jaminan dimaksud adalah suatu permohonan yang tidak rinci dalam menyebutkan objek yang dimohonkan untuk disita jaminan.
52.Bahwa dengan demikian, menurut hukum Permohonan Sita Jaminan yang diajukan oleh Penggugat yang termuat dalam Surat Gugatan maupun Surat Permohonan Sita Jaminan sudah seharusnya DITOLAK.
Permohonan Putusan Provisi dan Putusan Serta Merta (Uitvoerbaar Bij Vooraad) dalam perkara ini haruslah ditolak
53.Bahwa Permohonan Putusan Provisi dan Putusan Serta Merta (Uitvoerbaar Bij Vooraad) dalam Perkara aquo secara hukum juga
Hal. 151 dari 238 hal. Putusan No. 245/Pdt.G/2011/PN.Jkt.Sel.
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 151
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
tidak dapat dikabulkan atau harus ditolak, karena permohonan dimaksud tidak mempunyai dasar hukum dan Gugatan yang diajukan oleh Penggugat tidak memenuhi syarat-syarat dan ketentuan sebagaimana diatur dalam Pasal 180 HIR dan Surat Edaran Mahkamah Agung RI No. 3 Tahun 2000 tentang Putusan Serta Merta (Uitvoerbaar Bij Vooraad) dan Provisionil.
DALAM REKONPENSI
Bahwa seluruh uraian yang telah disampaikan pada bagian Dalam Konpensi baik pada bagian Dalam Eksepsi maupun Dalam Pokok Perkara secara mutatis mutandis menjadi satu kesatuan dengan bagian uraian Dalam Rekonpensi ini.
Bahwa pada bagian Rekonpensi ini, Tergugat II Dalam Konpensi menjadi dan untuk selanjutnya disebut sebagai “Penggugat Rekonpensi I” dan Tergugat V Dalam Konpensi menjadi dan untuk selanjutnya disebut sebagai “Penggugat Rekonpensi II”, yang secara bersama-sama disebut sebagai “Para Penggugat Rekonpensi”, sedangkan Penggugat Dalam Konpensi menjadi dan selanjutnya disebut sebagai “Tergugat Rekonpensi”.
Bahwa adapun uraian Gugatan Rekonpensi secara lengkap adalah sebagai berikut:
Tergugat Rekonpensi telah mengirimkan Surat No. 138/P/ML/VIII/2011 tertanggal 04 Agustus 2011 perihal Permohonan/Pemberitahuan, yang ditujukan kepada Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dengan Up:
Majelis Hakim Perkara Perdata No. 245/Pdt.G/2011/PN.Jkt.Sel yang ditembuskan kepada Para Penggugat Rekonpensi serta pihak lain di luar pihak-pihak berperkara yang tidak memiliki kaitan dan tidak memiliki kewenangan untuk menyelesaikan sengketa yang sedang diperiksa di Pengadilan
152
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 152
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
1. Bahwa pada saat proses persidangan perkara No. 245/Pdt.G/2011/
PN.Jkt.Sel memasuki proses pemeriksaan awal (setelah dikembalikan dari Mediator kepada Majelis Hakim pemutus), Tergugat Rekonpensi dalam perkara aquo, telah mengirimkan Surat No. 138/P/ML/VIII/2011 tertanggal 04 Agustus 2011 yang ditujukan kepada Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dengan up: Majelis Hakim Perkara Perdata No. 245/Pdt.G/2011/
PN.Jkt.Sel perihal Permohonan/ Pemberitahuan.
2. Bahwa adapun isi dari Surat No. 138/P/ML/VIII/2011 tertanggal 04 Agustus 2011, yang dikirimkan oleh Tergugat Rekonpensi tersebut adalah sebagai berikut: ARTHA SENTOSA ( Tergugat IV ), PT.
PUTRA INDONESIA BERSAMA