Mahkamah Agung Republik Indonesia
DALAM EKSEPSI
III. GUGATAN PENGGUGAT KURANG PIHAK (EXCEPTIO PLURIUM LITIS CONSORTIUM)
22.Bahwa dalam dalil Posita Gugatan butir 7 hlm. 4, Penggugat menguraikan fakta-fakta yang pada pokoknya Tergugat I telah menjual tanah kepada Tergugat II berdasarkan Akta-Akta Jual Beli yang dibuat oleh Tergugat III;
23.Mohon perhatian Majelis Hakim bahwa berdasarkan fakta yang ada, sebelum Tergugat I menjual tanah kepada Tergugat II sebagaimana dimaksud di atas, Tergugat I memperoleh Tanah SHM No. 572/
Pejaten Timur, Tanah SHM No. 573/Pejaten Timur dan Tanah SHM No. 574/Pejaten Timur adalah dari pemilik sebelumnya yakni Ir.
Raden Mas Mohamad Prajitno Soejono berdasarkan Akta-Akta Jual Beli, sebagai berikut:
a. Untuk tanah SHM No. 572/Pejaten Timur, melalui Akta Jual Beli Nomor 811/XI/Pasarminggu/1990 tanggal 23 November 1990 yang dibuat oleh dan dihadapan Ny. Siti Pertiwi Henny Shidki, S.H. (Tergugat III), selaku Pejabat Pembuat Akta Tanah DKI Jakarta ;
b. Untuk tanah SHM No. 573/Pejaten Timur, melalui Akta Jual Beli Nomor 814/XI/Pasarminggu/1990 tanggal 23 November 1990 yang dibuat oleh dan dihadapan Ny. Siti Pertiwi Henny Shidki, 54
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 54
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
S.H. (Tergugat III), selaku Pejabat Pembuat Akta Tanah DKI Jakarta ; dan
c. Untuk tanah SHM No. 574/Pejaten Timur, melalui Akta Jual Beli Nomor 816/XI/Pasarminggu/1990 tanggal 23 November 1990 yang dibuat oleh dan dihadapan Ny. Siti Pertiwi Henny Shidki, S.H. (Tergugat III), selaku Pejabat Pembuat Akta Tanah DKI Jakarta;
24.Bahwa dalam Perkara ini, Penggugat mempermasalahkan mengenai keberadaan dan keabsahan SHM No. 572/Pejaten Timur, SHM No.
573/Pejaten Timur dan SHM No. 574/Pejaten Timur, serta mendalilkan bahwa penguasaan, kepemilikan dan pembangunan Apartemen Niffaro di atas tanah-tanah SHM No. 572/Pejaten Timur, SHM No. 573/Pejaten Timur dan SHM No. 574/Pejaten Timur (yang saat ini statusnya telah berubah menjadi tanah-tanah Hak Guna Bangunan yang dimiliki oleh Tergugat IV) adalah suatu Perbuatan Melawan Hukum. Oleh karena itu, Penggugat seharusnya juga mengajukan Gugatan terhadap Ir. Raden Mas Mohamad Prajitno Soedjono, atau dengan perkataan lain Ir. Raden Mas Mohamad Prajitno Soedjono seharusnya didudukkan juga sebagai Tergugat dalam Perkara ini;
25.Bahwa dasar hukum Ir. Raden Mas Mohamad Prajitno Soedjono juga seharusnya didudukkan sebagai Tergugat, adalah karena alur rangkaian peralihan hak dan/atau perubahan jenis hak atas tanah dari Tanah SHM No. 572/Pejaten Timur, Tanah SHM No. 573/Pejaten Timur dan Tanah SHM No. 574/Pejaten Timur bermula atau berpangkal dari Ir. Raden Mas Mohamad Prajitno Soedjono selaku pemilik awal dari Tanah SHM No. 572/Pejaten Timur, Tanah SHM No. 573/Pejaten Timur dan Tanah SHM No. 574/Pejaten Timur ;
Hal. 55 dari 238 hal. Putusan No. 245/Pdt.G/2011/PN.Jkt.Sel.
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 55
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Bahwa dalam Perkara ini, Ir. Raden Mas Mohamad Prajitno Soedjono secara hukum memiliki Urgensi untuk ditarik sebagai pihak Tergugat, yaitu untuk membuktikan hak kepemilikannya maupun asal-usul Tanah SHM No.
572/Pejaten Timur, Tanah SHM No. 573/Pejaten Timur dan Tanah SHM No. 574/Pejaten Timur yang menjadi objek sengketa ;
26.Bahwa berdasarkan Hukum Acara Perdata, penarikan subjek hukum yang merupakan sumber awal peralihan hak atas tanah sebagai pihak Tergugat, adalah suatu keharusan, karena apabila tidak ikut ditarik sebagai pihak Tergugat akan menyebabkan Gugatan menjadi Kurang Pihak dan patut dinyatakan tidak dapat diterima ;
Hal tersebut telah ditegaskan di dalam beberapa Yurisprudensi Mahkamah Agung RI, sebagai berikut :
• Yurisprudensi Mahkamah Agung RI Nomor: 1125 K/Pdt/1984 (jo. Putusan Pengadilan Tinggi Bandung No. 454/1982 tanggal 9 Juni 1983 jo. Putusan PN Bandung No. 6/1982 tanggal 25 Agustus 1982) yang pada pokoknya mengandung kaidah hukum, sebagai berikut:
“Judex facti salah menerapkan tata tertib beracara. Semestinya pihak ketiga yang bernama Oji sebagai sumber perolehan hak Tergugat I, yang kemudian dipindahkan Tergugat I kepada Tergugat II, harus ikut digugat sebagai Tergugat. Alasannya, dalam kasus ini, Oji mempunyai urgensi untuk membuktikan hak kepemilikannya maupun asal usul tanah sengketa serta dasar hukum Oji menghibahkan kepada Tergugat I.”
• Yurisprudensi Mahkamah Agung RI Nomor: 1078 K/Sip/1972 tanggal 11 November 1975, yang pada pokoknya mengandung kaidah hukum, sebagai berikut:
56
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 56
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
“Mahkamah Agung membenarkan Pertimbangan Pengadilan Tinggi bahwa Tergugat II-Pembanding mendalilkan bahwa tanah sengketa telah dijual kepadanya oleh Paultje Pinotoan dan Tergugat II-Pembanding meminta agar Saartje dan Paultje Pinotoan juga dipanggil dalam perkara ini. Bahwa seharusnya Paultje Pinotoan itu diikut sertakan dalam perkara sebagai pihak yang telah menjual tanah tersebut.”
• Yurisprudensi Mahkamah Agung RI Nomor: 200 K/Pdt/1988 tanggal 27 September 1990, yang pada pokoknya memberikan kaidah hukum sebagai berikut:
“Dengan tidak lengkapnya pihak Tergugat dalam perkara, maka gugatan perdata oleh hakim seharusnya dinyatakan tidak dapat diterima.”
27.Sehingga dengan demikian, karena ternyata Ir. Raden Mas Mohamad Prajitno Soedjono tidak ikut ditarik atau didudukkan sebagai pihak Tergugat oleh Penggugat di dalam perkara ini, maka sudah sepatutnya Majelis Hakim yang memeriksa dan mengadili Perkara ini menyatakan Gugatan Penggugat tidak dapat diterima (Niet Onvankelijk Verklaard) karena mengandung cacat hukum berupa kurang pihak (plurium litis consortium);