• Tidak ada hasil yang ditemukan

NEUROSAINS SISWA

KONSEP NEUROSAINS DAN KECERDASAN INTELEKTUAL E. Hakikiat Neurosains

G. Kecerdasan Intelektual

5. Hakikat Kecedasan Intelektual

Kecerdasan manusia terekam di dalam kode genetis dan seluruh sejarah evolusi kehidupan di bumi. Di samping itu kecerdasan manusia juga dipengaruhi oleh pengalaman sehari-hari, kesehatan fisik dan mental, porsi latihan yang diterima, ragam hubungan yang dijalin, dan berbagai faktor lain. Ditinjau dari segi ilmu saraf, semua sifat kecerdasan itu bekerja melalui, atau dikendalikan oleh otak beserta jaringan saraf lainnya yang tersebar di seluruh tubuh.99

Kecerdasan dalam arti umum adalah suatu kemampuan umum yang membedakan kualitas orang yang satu dengan yang lain.100 Seseorang dikatakan cerdas apabila ia mampu meng-akomodasi empat aspek lainnya yaitu, kecerdasan intelektual, emosional, moral, dan spiritual. Konkretnya seseorang dikatakan cerdas apabila ia mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan-nya dalam artian ia mampu berelasi dengan orang lain, mampu mengendalikan suasana hatinya, dan mampu melihat dirinya sedang dalam kondisi yang bagaimana. Apakah ia mampu melibatkan unsur intelektualnya, kognisinya, afeksinya, ataukah unsur-unsur lainnya.101

David Weschler memberikan rumusan tentang kecerdasan sebagai suatu kapasitas umum dari individu untuk bertindak, berpikir rasional dan berinteraksi dengan lingkungan secara efektif.102 Sedangkan Howard Gardner mendefinisikan kecerdasan sebagai kecakapan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dalam kehidupan, kecakapan untuk mengembangkan masalah untuk bisa dipecahkan, dan kecakapan untuk membuat sesuatu yang bermanfaat untuk kehidupan.103Gardener juga mendefinisikan bahwa inteligensi merupakan kemampuan untuk memecahkan masalah dan menghasilkan produk dalam suatu setting yang bermacam-macam dan dalam situasi yang nyata. Berdasarkan pengertian tersebut dapat dipahami inteligensi bukan hanya kemampuan seseorang dalam

99 Danah Zohar dan Ian Marshall, SQ Memanfaatkan kecerdasan Spiritual dalam Berpikir Integralistik dan Holistik untuk Memaknai Kehidupan, diterjemahkan oleh Rahmani Astuti, dkk, dari judul “SQ: Spiritual Intelligence–The ultimate Intelligence, Bandung:Mizan Pustaka, 2000, hal 35.

100 George Joseph, Interpreting Psychological Test Data,Vol 1, New York: VNR, 1978, hal 8.

101Tim Pustaka Familia, Warna-Warni Kecerdasan Anak dan Pendampingannya, Kanisius: Yogyakarta, 2006, hal 42.

102 Nana Syaodih Sukmadinata, Landasan Psikologi Proses Pendidikan, PT. Remaja Rosdakarya: Bandung, 2005, hal 93.

103 Immanuela F. Rachmani, Multiple Intelligences Mengenenali Diri dan Merangsang Potensi Anak, PT. Aspirasi Pemuda: Jakarta, 2003, hal 6.

79

menjawab soal-soal tes IQ dalam ruangan tertutup dan terlepas dari lingkungannya, melainkan inteligensi memuat kemampuan seseorang untuk memecahkan persoalan nyata, karena seseorang yang memiliki inteligensi yang tinggi bila ia dapat menyelesaikan persoalan hidup yang nyata, bukan hanya dalam teori saja. Semakin seseorang terampil dan mampu menyelesaikan masalah kehidupan yang situasinya bermacam-macam dan kompleks, maka semakin tinggi tingkat inteligensinya.104

Otak manusia memiliki lapisan terluar yang disebut neo-cortex. Otak neocortex disebut juga dengan otak primata. Dengan otak neocortex manusia mampu berfikir, berhitung, mempelajari aljabar, mengoperasikan komputer, belajar bahasa Inggris, dan lainnya. Melalui penggunaan otak neocortex maka lahirlah konsep kecerdasan intelektual.105 Kecerdasan intelektual atau dalam bahasa Inggris disebut Intelligence Quotient disingkat dengan IQ adalah istilah umum yang digunakan untuk menjelaskan sikap pikiran yang mencakup kemampuan dalam merencanakan, menggunakan daya tangkap, memecahkan masalah, berpikir abstrak, memahami gagasan, menalar, dan belajar. Secara garis besar kecerdasan intelektual adalah kemampuan potensial seseorang untuk mempelajari sesuatu dengan menggunakan alat-alat berpikir.106

Kecerdasan ini di temukan pada sekitar tahun 1912 oleh William Sterm. Terletak di otak bagian Cortex (kulit otak).

Kecerdasan ini adalah sebuah kecerdasan yang memberikan kita kemampuan untuk berlogika, berhitung, beranalogi, berimajinasi dan memiliki daya kreasi dan inovasi. Para pakar psikologi mengungkapkannya dengan What I Think?. Kecerdasan intelektual adalah suatu kemampuan kecerdasan seseorang dalam menyelesaikan suatu masalah matematis dan rasionalis atau kemampuan kognitif yang dimiliki oleh organisme untuk menyesuaikan diri secara efektif pada lingkungan yang kompleks dan selalu berubah serta dipengaruhi oleh faktor-faktor genetik.107

Menurut pendapat lain kecerdasan intelektual merupakan kecerdasan dasar yang berhubungan dengan proses kognitif,

104 Baharudin dan Esa Nurwahyuni, Teori Belajar dan Pembelajaran, Ar-Ruzz Media: Jogjakarta, 2007, hal 145.

105 Ary Ginanjar Agustian, Rahasia Sukses Membangkitkan ESQ Power, Jakarta:

Arga, 2007, hal 60.

106 Akhmad Muhaimin Azzet, Mengembangkan Keceerdasan Spiritual bagi Anak, Yogyakarta: Katahati, 2010, hal 30.

107 Suryabrata Soemadji, Psikologi Pendidikan, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1998, hal 66.

pembelajaran cenderung menggunakan kemampuan matematis-logis dan juga bahasa, pada umumnya hanya mengembangkan kemampuan kognitif (menulis, membaca, menghafal, menghitung, dan menjawab.108Kecerdasan tersebut dikenal dengan kecerdasan rasional karena menggunakan potensi rasio dalam memecahkan masalah.

Penilaian kecerdasan dapat dilakukan melalui tes atau ujian daya ingat, daya nalar, penguasaan kosa kata, ketepatan menghitung, dan mudah atau tidaknya dalam menganalisis data. Dengan ujian maka dapat dilihat tingkat kecerdasan intelektual seseorang.

Kecerdasan intelektual muncul sejak dalam kehidupan keluarga dan masyarakat, sejak anak di dalam kandungan (masa pranatal) sampai tumbuh menjadi dewasa. Setiap anak yang dilahirkan ke dunia ini sudah dibekali dengan satu triliun sel neuron yang terdiri dari seratus miliar sel aktif dan sembilan ratus miliar sel pendukung yang kesemuanya berkumpul di otak. Kecerdasan intelektual merupakan aspek psikologis yang dapat mempengaruhi kuantitas dan kualitas seseorang dalam perolehan pembelajaran.

Kecerdasan intelektual pertama kali diperkenalkan oleh seorang psikolog bernama Alferd Binet pada tahun 1964. Konsep inteligensi ini mempercayai bahwa kecerdasan itu bersifat tunggal dan dapat diukur dalam angka. Unsur-unsur yang terdapat di dalam IQ adalah: unsur kecerdasan numeris, pemahaman verbal, kecepatan persepsial, penalaran induktif, penalaran deduktif, visualisasi ruangan, dan juga ingatan.109 IQ atau disebut juga kecerdasan intelektual merupakan kecerdasan seseorang yang dibawa sejak lahir. Terdapat pengaruh didikan, dan juga pengalaman. IQ adalah kemampuan yang diperlukan untuk menjalankan kegiatan mental.

Kecerdasan intelektual dapat diukur menggunakan alat psikometri yang biasa disebut dengan tes IQ. Tes yang sampai kini paling banyak dipakai oleh psikolog sekolah, konselor maupun psikologi klinis yaitu Skala-Skala Wechsler. Skala ini menyarankan tes IQ yang sarat dengan faktor g (general), yaitu faktor umum yang mewakili berbagai tes kecerdasan. Wechsler mendefinisikan kecerdasan sebagai kapasitas terpadu atau global yang dimiliki individu untuk bertindak dengan tujuan, berfikir secara rasional, dan

108 Djaali, Psikologi Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara, 2008, hal.18.

109 Muhammad Al-Ghazali, Pengaruh Kecerdasan Intelektual, Kecerdasan Emosional, dan Kecerdasan Spiritual Terhadap Kinerja Petugas Pada Direktorat Polisi Perairan (DITPOLAIR) Pekanbaru, dalam ―Jurnal Fekon‖, Vol 2 Nomor 2, Oktober 2015, hal 4.

81

berinteraksi dengan lingkungan secara efektif.110 Komponen kecerdasan intelektual adalah antara lain sebagai berikut:

a. Kemampuan memecahkan masalah

Kemampuan dalam memecahkan masalah yaitu kemampuan dalam menunjukkan pengetahuan mengenai masalah-masalah yang sedang dihadapi, kemampuan mengambil sebuah keputusan yang tepat, menyelesaikan masalah secara optimal, menunjukkan pikiran jernih.

b. Inteligensi verbal

Inteligensi verbal yaitu kemampuan memahami kosa kata, baik membaca dengan penuh pemahaman, ingin tahu secara intelektual, menunjukkan keingintahuan.

c. Inteligensi praktis

Inteligensi praktis yaitu secara situasi, mengetahui cara mencapai tujuan, sadar terhadap dunia sekeliling, menunjukkan minat terhadap dunia luar.

Menurut Daming, kecerdasan adalah salah satu kapasitas diantara kapasitas manusia dimana tujuannya sebagai alat dan sepasang skala pengetahuan untuk memahami hal yang benar dan salah. Cerdas dalam Al-Qur‘an dapat dimaksudkan sebagai media untuk memikirkan otorisasi dan ciptaan Allah SWT dalam segala keadaan. Kecerdasan bisa menunjukkan kasih sayang. Orang pintar akan belajar dari firman Allah SWT sebagai petunjuk menuju ke arah yang benar. Jika kecerdasan digunakan dengan baik, maka moral manusia akan menjadi sempurna.111Pentingnya kecerdasan intelektual diterangkan dalam QS. Az-Zumar ayat 9 :

ش خٓ ۡلأٱ س ز ۡؾ ٣ ب ٗٔ ئٓب ه ٝ ا ٗذ عب س َۡ٤َُّٱ ءٓب ٗا ء ٌذ َٰ٘ ه ٞ ٛ َّٖۡٓ أ َۡ ٛ َۡ ه ۗۦ ِّٚث س خ ٔ ۡؽ س ْاٞ ع ۡش ٣ ٝ ح

تَٰ ج ُۡ ۡلأٱ ْاٞ ُْٝ أ شًَّ ز ز ٣ ب َّٔٗ إ ۗ ٕٞ ٔ ِ ۡؼ ٣ لا ٖ٣ زَُّٱ ٝ ٕٞ ٔ ِ ۡؼ ٣ ٖ٣ زَُّٱ ١ ٞ ز ۡس ٣ (

٩ )

Apakah kamu hai orang-orang musyrik yang lebih beruntung ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (adzab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?”. Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.

110 Ahmad Zubaidi, Tes Inteligensi, Jakarta: Mitra Wacana Media, 2009, hal 5-6.

111 Muh Daming K, Akal Perspektif al-Qur‘an, dalam ―sZawiyah Jurnal Pemikiran Islam‖, vol 2 No.1, 2016:19.

Terjemah dalam ayat ini dalam tafsir Fi Zhilalil Qur‟an menjelaskan ini sebagai gambaran yang cemerlang dan kemilau.

Gambaran itu berupa kepatuhan, ketaatan, dan penghadapan diri kepada-Nya sambil bersujud dan shalat. Itulah kepekaan yang baik, sedang dia mencemaskan akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya. Kesucian dan kebersihan inilah yang membuka mata hati dan menganugerahi hati/qalbu dengan kenikmatan melihat Tuhan, berpapasan dan bertemu dengan-Nya. Inilah gambaran yang elok dan cemerlang dari seorang manusia. Gambaran ini berlawanan dengan gambaran sebelumnya tentang manusia yang malang seperti dilukiskan dalam ayat terdahulu. Maka terciptalah keseimbangan gambaran, “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?...”

Ilmu yang haq ( benar) merupakan makrifat merupakan pemahaman atas kebenaran, merupakan terbukanya mata hati, dan merupakan keterkaitan dengan aneka hakikat yang kokoh di alam semesta ini. Ilmu terpisah dan hanya mengisi nalar, yang tidak sampai ke berbagai hakikat alam semesta, dan tidak menjangkau apa yang ada dibalik semua realita.

Inilah jalan menuju ilmu yang hakiki dan pengetahuan yang bercahaya. Inilah ketaatan kepada Allah, kepekaan qalbu, kewaspadaan terhadap akhirat, pencarian rahmat Allah dan karunia-Nya, serta perasaan diawasi oleh-Nya disertai keinginan dan ketakutan. Inilah jalan yang dimaksud. Karena itu, ia memahami dan mengenali substansi. Juga dapat mengambil manfaat melalui apa yang dilihat, didengar, dan dialaminya. Kemudian pemahaman ini berakhir pada hakikat yang besar dan kokoh melalui aneka panorama dan pengalaman kecil. Adapun orang yang terpaku pada batas pengalaman individual dan bukti-bukti lahiriah, berarti mereka sebaga pengumpul pengetahuan, bukan sebagai ulama. ―…Sesungguhnya orang-orang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” Yang dapat mengetahui adalah para pemilik qalbu yang senantiasa sadar, terbuka, dan memahami hakikat yang ada di balik lahiriah. Juga yang memanfaatkan apa yang dilihat dan diketahuinya, yang ingat kepada Allah melalui segala sesuatu yang dilihatnya , disentuhnya dia tidak melupakan-Nya, maka takan lupa saat kamu menemui-Nya.112

Dari ayat di atas jelas sekali betapa pentingnya kecerdasan intelektual dalam Al-Qur‘an. Sungguh berbeda orang-orang yang menggunakan akalnya untuk mencari pengetahuan dengan

112 Sayyid Quthb, Tafsir Fi Zhilalil Qur‘an Di Bawah naungan Al-Qur‘an (Surah Ash-Shaaffaat 102-AL-Hujuraat) Jilid 10, diterjemahkan oleh As‘ad Yasin, dkk, dari judul Fi Zhilalil Qur‟an, Jakarta: Gema Insani, 2004, hal 70-71.

83

orang yang tidak menggunakan akalnya untuk memperoleh pengetahuan. Dengan kecerdasan manusia dapat dengan mudah memahami ilmu Allah. Dalam ayat tersebut dijelaskan tidaklah sama orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu. Orang yang berakal adalah orang yang dapat mengkombinasikan antara zikir dan pikir, atau sebaliknya. Ketika ia berpikir, meneliti atau mengkaji alam sekitar muncullah zikirnya dan ketika ia berzikir muncullah pikirnya.

Maka Al-Qur‘an menafikan kesamaan antara orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu. Penafikan itu tidak hanya berarti keluasan wawasan dan kompetensi serta keterampilan, tetapi yang lebih penting lagi adalah ketidaksamaan antara orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu mengenai kesadaran diri sebagai makhluk Tuhan dan kemestian menyembah-Nya. Ayat ini juga tidak menyamakan antara orang musyrik dengan orang-orang yang taat kepada Allah, orang yang taat beribadah kepada Allah lebih beruntung daripada orang-orang musyrik. Selain tidak menyamakan antara orang musyrik dengan yang taat beribadah kepadaNya. Ayat ini juga tidak menyamakan antara orang berilmu dengan orang yang tidak berilmu. Ilmu semestinya dapat membangun pribadi yang menyadari akan kekuasaan dan kemahabesaran Allah sehingga akhirnya ia menjadi ulul albab.

Ayat di atas juga menggambarkan efek atau dampak dari kesolehan atau ketaqwaan terhadap pribadi yang sholeh, taqwa, dan ulul albab tersebut, yaitu kebahagiaan di dunia dan balasan di akhirat yang tiada terkira. Dalam surah yang lain ditegaskan pula, bahwa orang yang berilmu dan beriman itu akan terangkat derajatnya. Dan Allah menjanjikan bagi orang yang bertaqwa, sebagai hasil bentukan pendidikan Islam itu, akan diberikan kepadanya jalan keluar dari kesulitan yang dihadapi serta rizki yang tidak diduga sumbernya.