NEUROSAINS SISWA
IMPLEMENTASI NEUROSAINS DALAM MENGEMBANGKAN KECERDASAN INTELEKTUAL PESERTA DIDIK
G. Tahap Pengembangan Kecerdasan Intelektual
5. Pembelajaran Pencarian (Inquiry Learning)
Strategi pembelajaran inkuiri (inquiry learning) adalah rangkaian pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir secara kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan. Proses berpikir itu sendiri
165
biasanya dilakukan melalui tanya jawab antara guru dan siswa.230 Di bawah ini dipaparkan contoh pembelajaran inkuiri:
Seorang guru IPA akan mengajarkan tentang ―perbedaan berat jenis antara air dan bensin‖. Setelah ia menyampaikan pokok bahasan kepada siswa yang diajarinya, guru tersebut kemudian menuangkan bensin dari dalam botol yang sengaja ia bawa ke dalam sebuah cangkir yang ada di mejanya. Setelah itu kemudian ia juga menuangkan air ke dalam tempat yang sama. Sambil berlaga seorang pesulap, pak guru kemudian menyalakan api, dan meletakkannya di atas cairan itu. Api pun menyala. Seluruh peserta didik merasa heran melihat peristiwa itu. secara serentak mereka bertanya: ― Mengapa bisa terjadi seperti itu? Bukankah bensin itu ada di bawah air?‖. Pak guru IPA tersenyum sambal mengangkat bahunya. ―Ya, mengapa api bisa menyala di atas air?‖ kata salah seorang siswa. ―Ya, mengapa?
Timpal pak guru. ―Coba siapa yang bisa menebak kira-kira apa sebabnya!‖. Seluruh peserta didik tampak seperti berpikir. Tiba-tiba seorang peserta didik bertanya sambil mengacungkan tangannya,
―Apakah air yang bapak tuangkan tadi lebih banyak dibandingkan bensin?‖. ―Oh, tidak…‖ jawab pak guru. ―Apakah itu disebabkan karena air bercampur dengan bensin,? ―Emh…Bapak kira tidak, tuh…!‖ seluruh peserta didik terdiam sambil menatap nyala api yang kian mengecil dan akhirnya padam.
―Nah, sekarang coba kalian lihat, api itu telah padam. Kita coba sekarang bakar lagi…‖ kata pak guru sambil menyalakan kembali apinya dan meletakkannya kembali di atas cairan itu. namun, ternyata api tidak mau menyala. ―Ternyata tidak mau menyala kan…!
‗Ya…! Kata peserta didik serempak. ―Apakah cairan itu telah habis…?‖ ―Coba kalian lihat sendiri‖ kata pak guru sambil memperlihatkan tempat air. ―Apa yang kamu lihat…?‖ ―Cairannya masih ada…!‖ ―Cairan apa yang masih ada itu?‖. kembali peserta didik terdiam untuk beberapa saat. Pak guru menatap peserta didik kembali sambil memancing peserta didik untuk menjawab atau mengeluarkan pendapat. Namun, tidak seorangpun yang berkata.
―Nah, kalau begitu bapak akan coba membakar kembali cairan ini‖
kata pak guru. Namun, lagi-lagi api tidak mau menyala seperti pada demonstrasi yang pertama tadi.
Tiba-tiba seorang peserta didik mengacungkan tangan sambal tersenyum. ―Saya tahu jawabannya, Pak!‖ ―Kenapa kamu bisa mengatakan demikian?‖ ―Sebab bensin sudah habis terbakar.‖
230 Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran; Berorientasi Standar Proses Pendidikan, Jakarta: Kencana Prenadamedia Group, 2006, hal 196.
―Bagus. Kembali pada permasalahan kita semula, mengapa ketika air dicampur dengan bensin tadi terjadi nyala api…?‖ ―Apakah itu disebabkan karena bensin ada di atas air?‖ ―Pendapatmu hampir tepat…! ―Bagaimana berat jenis air dan bensin itu?‖ ―Bagus, coba kamu perjelas pertanyaannya!‖ ―Apakah air memiliki berat jenis yang lebih berat dibandingkan bensin?‖ ―Menurut kamu bagaimana…‖
peserta didik berpikir lagi. ―Saya kira air memiliki berat jenis yang berbeda dengan bensin. Hal ini dapat dibuktikan dari proses menyalanya api tadi…‖ Pak guru tersenyum puas, sambil mengangkat ibu jarinya.
Strategi pembelajaran ini menekankan kepada proses mencari dan menemukan. Materi pelajaran tidak diberikan secara langsung.
Peran peserta didik dalam strategi ini adalah mencari dan menemukan sendiri materi pelajaran, sedangkan guru berperan sebagai fasilitator dan pembimbing peserta didik untuk belajar. Sistem pembelajaran inkuiri dipengaruhi oleh aliran belajar kognitif. Menurut aliran ini belajar pada hakikatnya adalah proses mental dan proses berpikir dengan memanfaatkan segala potensi yang dimiliki setiap individu secara optimal. Belajar lebih dari sekedar proses menghafal dan menumpuk ilmu pengetahuan, tetapi juga bagaimana pengetahuan yang diperolehnya menjadi bermakna untuk peserta didik melalui keterampilan berpikir. Belajar pada hakikatnya merupakan proses mental seseorang untuk memaknai lingkungannya sendiri. Proses mental itulah sebenarnya aspek yang sangat penting dalam perilaku belajar.
Pembelajaran inkuiri berangkat dari asumsi bahwa sejak manusia lahir ke dunia, manusia memiliki dorongan untuk menemukan sendiri pengetahuannya. Rasa ingin tahu tentang keadaan alam di sekelililngnya merupakan kodrat manusia sejak ia lahir ke dunia. Sejak kecil, manusia memiliki keinginan untuk mengenal segala sesuatu melalui indera pengecapan, pendengaran, pengelihatan, dan indera lainnya. Hingga dewasa keingintahuan manusia secara terus menerus berkembang dengan menggunakan otak dan pikirannya. Pengetahuan manusia akan menjadi lebih bermakna (meaningfull) manakala didasari oleh keingintahuan itu. dalam rangka itulah strategi inkuiri dikembangkan.
Ada tiga hal yang menjadi ciri utama strategi pembelajaran inkuiri:
a. Pertama, strategi inkuiri menekankan kepada aktivitas peserta didik secara maksimal untuk mencari dan menemukan, artinya strategi inkuiri menempatkan peserta didik sebagai subjek belajar.
Dalam proses pembelajaran, peserta didik tidak hanya berperan
167
sebagai penerima pelajaran melalui penjelasan guru secara verbal, tetapi mereka berperan untuk menemukan sendiri inti dari materi pelajaran itu sendiri.
b. Kedua, seluruh aktivitas yang dilakukan peserta didik diarahkan untuk mencari dan menemukan jawaban sendiri dari sesuatu yang sedang dipertanyakan, sehingga diharapkan dapat menumbuhkan sikap percaya diri (self belief). Dengan demikian, strategi pembelajaran inkuiri menempatkan guru bukan sebagai sumber belajar, akan tetapi sebagai fasilitator dan motivator belajar peserta didik. Aktivitas pembelajaran biasanya dilakukan melalui proses Tanya jawab antara guru dan peserta didik. Oleh sebab itu, kemampuan guru dalam menggunakan teknik bertanya merupakan syarat utama dalam melakukan inkuiri.
c. Ketiga, tujuan dari penggunaan strategi pembelajaran inkuiri adalah untuk mengembangkan kemampuan berpikir secara sistematis, logis, dan kritis, atau mengembangkan kemampuan intelektual sebagai bagian dari proses mental. Dengan demikian, dalam strategi pembelajaran inkuiri peserta didik tidak hanya dituntut agar menguasai materi pelajaran , akan tetapi bagaimana mereka menggunakan potensi yang dimilikinya. Manusia yang hanya menguasai pelajaran belum tentu dapat mengembangkan kemampuan berpikir secara optimal, namun sebaliknya, peserta didik akan dapat mengembangkan kemampuan berpikirnya manakala ia bisa menguasai materi pelajaran. Seperti yang dapat disimak dari proses pembelajaran, tujuan utama pembelajaran melalui strategi inkuiri adalah menolong peserta didik untuk dapat mengembangkan disiplin intelektual dan keterampilan berpikir dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan dan mendapatkan jawaban atas dasar rasa ingin tahu peserta didik. Strategi pembelajaran inkuiri adalah merupakan bentuk pendekatan pembelajaran yang berorientasi kepada peserta didik (student oriented). Dikatakan demikian, sebab strategi ini peserta didik memegang peranan yang sangat dominan dalam proses pembelajaran. Pembelajaran inkuiri efektif manakala:
1) Guru mengharapkan peserta didik dapat menemukan sendiri jawaban dari suatu permasalahan yang ingin dipecahkan. Dengan demikian dalam strategi inkuiri penguasaan materi pelajaran bukan sebagai tujuan utama pembelajaran, akan tetapi yang lebih penting adalah proses belajar.
2) Jika bahan pelajaran yang akan diajarkan tidak berbentuk fakta atau konsep yang sudah jadi, akan tetapi sebuah kesimpulan yang perlu pembuktian.
3) Jika proses pembelajaran berangkat dari rasa ingin tahu peserta didik terhadap sesuatu.
4) Jika guru akan mengajar pada sekelompok peserta didik yang telah memiliki kemauan dan kemampuan berpikir.
Strategi inkuiri akan menjadi kurang berhasil diterapkan pada peserta didik yang kurang memiliki kemampuan untuk berpikir.
5) Jika jumlah peserta didik yang belajar tidak terlalu banyak sehingga bisa dikendalikan oleh guru.
6) Jika seorang guru memiliki waktu yang cukup untuk menggunakan pendekatan yang berpusat pada peserta didik.