BAB IV HAMBATAN YANG TIMBUL SERTA UPAYA
A. Hambatan-hambatan yang Timbul dalam Pelaksanaan
PenggunaanRooftop
Dalam perjanjian sewa-menyewa rooftop antara pemilik bangunan dengan perusahaan telekomunikasi di kota Medan yang diteliti dalam tesis ini, umumnya ditemui hambatan-hambatan sebagai berikut :
1. Antara Operator Telekomunikasi dengan Pemilik Bangunan atau Pihak Ketiga
Pasal 17 Undang-undang Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi menyatakan bahwa penyelenggara jaringan telekomunikasi dan atau penyelenggara jasa telekomunikasi wajib untuk menyediakan pelayanan telekomunikasi berdasarkan prinsip :
a. perlakuan yang sama dan pelayanan yang sebaik-baiknya bagi semua pengguna b. peningkatan efisiensi dalam penyelenggaraan telekomunikasi
c. pemenuhan standar pelayanan serta standar penyediaan sarana dan prasarana. Dari uraian pasal tersebut, maka operator sebagai penyelenggara telekomunikasi diwajibkan untuk memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya kepada seluruh pengguna jasanya. Salah satunya adalah dengan memperluas kapasitas jaringannya dengan membangun tower BTS sebagaimana telah diuraikan pada bab sebelumnya.
Pasal 13 Undang-undang Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi menyatakan penyelenggara telekomunikasi dapat memanfaatkan atau melintasi tanah dan atau bangunan milik perseorangan untuk tujuan pembangunan, pengoperasian, atau pemeliharaan jaringan telekomunikasi setelah terdapat persetujuan di antara para pihak. Yang dimaksud dengan perseorangan disini adalah orang seorang dan atau badan hukum yang secara Iangsung menguasai, memiliki dan atau menggunakan tanah dan atau bangunan.
Wujud dari ketentuan tersebut terlihat dalam penelitian pada kedua perjanjian penggunaanrooftopdalam tesis ini. Kedua operator telekomunikasi baik operator XL maupun operator Smart yang hendak memperluas atau mengembangkan jaringan telekomunikasinya selanjutnya memanfaatkan bidang rooftop pada bangunan milik perseorangan yaitu masing-masing bangunan milik Bapak Hasan dan Ibu Ida untuk mendirikan menara BTS. Pemanfaatan lahan rooftop untuk pendirian menara BTS tersebut dilakukan berdasarkan kesepakatan atau persetujuan di antara para pihak. Kesepakatan antara operator selaku penyelenggara telekomunikasi dengan pemilik bangunan dituangkan dalam bentuk perjanjian sewa-menyewa rooftop yang dibuat secara notariil sebagaimana diuraikan sebelumnya.
Selain kesepakatan memanfaatkan lahan rooftop untuk tujuan pembangunan dan pengoperasian menara BTS, di dalam perjanjian sewa-menyewa tersebut juga disepakati mengenai kegiatan pemeliharaan jaringan telekomunikasi. Untuk menjaga kualitas pelayanannya, operator telekomunikasi wajib melaksanakan pemeliharaan secara rutin atas semua infrastruktur telekomunikasi miliknya. Salah satu bentuk
pekerjaan pemeliharaan yang dilakukan operator adalah kegiatan pemeliharaan menara BTS dan alat pendukungnya di lokasi rooftop objek sewa yang dilakukan secara berkala. Menurut keterangan Bapak Agus Manurung, pekerjaan pemeliharaan itu meliputi pengecekan fungsi antena, penangkal petir, kabel feeder, DC Fan, panel dan subpanel distribusi,standby genset,fire system, dan fasilitas pendukung lainnya. Selain itu juga dilakukan pengecekan atas struktur menara serta penambahan perangkat sepanjang sesuai dengan kebutuhan pihak operator.
Pasal 5 ayat 1b Perjanjian Sewa Menyewa Rooftop Bapak Hasan dengan operator XL berbunyi :
“Pihak Pertama wajib memberikan akses atas objek sewa kepada Pihak Kedua dan/atau pengguna dan keleluasaan serta kemudahan selama 24 jam dalam sehari dan 7 hari dalam seminggu untuk menempatkan, memasang, melakukan instalasi, mengganti, memelihara, menanam, dan mengoperasikan peralatan komunikasi, jalur grounding, jalur kabel fiber optik dan/atau kabel lainnya baik yang telah ada atau akan ada di kemudian hari, termasuk namun tidak terbatas pada peralatan radio, antena, kabelgrounding, dan perlengkapan lainnya yang berada pada objek sewa tanpa gangguan dari pihak manapun juga. Kemudahan dan keleluasaan tersebut termasuk namun tidak terbatas pada pemasangan tiang/pole PLN, penarikan kabel PLN, pemasangan dan penarikan kabel groundingdan/atau pekerjaan fisik lainnya apapun juga yang dianggap perlu oleh Pihak Kedua dan/atau pengguna.”
Ketentuan dalam Pasal 5 ayat 1b tersebut menurut Bapak Hasan tergolong memberatkan pihaknya karena mengganggu privasi pemilik bangunan, sehingga dirinya tidak boleh meninggalkan bangunan lokasi objek sewa tersebut berada, tetapi harus selalu siaga selama 24 jam penuh setiap hari seandainya pihak penyewa datang untuk melaksanakan pekerjaan pemeliharaan menara BTS.
Hambatan lain yang muncul adalah persoalan struktur atau pondasi bangunan milik pihak yang menyewakan. Pemilik bangunan yang rooftop-nya dimanfaatkan operator untuk mendirikan tower mengkhawatirkan bahwa kekuatan struktur bangunan miliknya lama-kelamaan akan berkurang karena menahan beban tower
yang berdiri di atasnya. Pemilik bangunan menganggap pekerjaan konstruksi tower
secara fisik akan melemahkan pondasi bangunannya seperti menimbulkan retakan-retakan pada dinding bangunan, terutama untuk bangunan yang telah berusia lama sehingga hal itu dikhawatirkan akan merusak struktur bangunan milik pihak yang menyewakan, bahkan yang terburuk adalah runtuhnya bangunan tersebut sehingga menimbulkan kerugian materiil maupun immateriil.
Selain itu, pada kedua perjanjian penggunaan rooftop yang diteliti dalam tesis ini, sebelum perjanjian sewa-menyewa antara operator telekomunikasi dengan pemilik bangunan tersebut dibuat, pemilik bangunan telah mengadakan perjanjian kredit di Bank terlebih dahulu dengan memberikan tanah dan bangunan miliknya sebagai agunan untuk Bank. Hal tersebut tercantum dalam kedua perjanjian sewa menyewa tersebut yaitu perjanjian sewa-menyewa antara operator XL dengan Bapak Hasan dan operator Smart dengan Ibu Ida.
Pasal 10 perjanjian sewa-menyewa antara operator Smart dengan Nyonya Ida berbunyi :
1. Pihak pertama menjamin bahwa objek sewa-menyewa menurut perjanjian ini merupakan hak milik atau hak-hak yang diperoleh secara sah menurut hukum yang berlaku. Bahwasanya apa yang disewakan tersebut pada saat ini sedang
dalam jaminan di Bank BII, sedangkan pihak penyewa telah mengetahui akan hal tersebut.
2. Apabila di belakang hari nanti bahwa tanah dan bangunan milik pihak pertama yang menjadi jaminan di bank tersebut disita oleh pihak bank, maka para pihak telah setuju bahwa untuk segala risikonya akan ditanggung oleh masing-masing pihak.
Sedangkan dalam perjanjian sewa-menyewarooftopantara operator XL dengan Bapak Hasan, hal ini diatur dalam pasal 12 yang berbunyi :
--Apabila objek sewa oleh pihak pertama dijaminkan kepada bank atau pihak kreditur lainnya untuk menjamin kewajiban pihak pertama dan/atau suatu pihak ketiga lainnya manapun juga, yang karena kelalaian pihak pertama atau pihak ketiga lainnya tersebut mengakibatkan harus dieksekusinya objek sewa, maka pihak pertama harus memastikan bahwa hak-hak pihak kedua berdasarkan perjanjian ini dan dalam kedudukannya sebagai penyewa yang beritikad baik sesuai dengan ketentuan Kitab Undang-undang Hukum Perdata Indonesia diakui oleh pihak yang akan melakukan eksekusi atas objek sewa tersebut.
--Dalam hal karena terjadinya eksekusi yang dimaksud dalam pasal ini, pihak kedua dengan pertimbangannya sendiri berkeinginan untuk mengosongkan objek sewa tersebut, maka pihak pertama seketika dan sekaligus wajib untuk :
a. mengembalikan uang sewa kepada pihak kedua untuk selama masa sewa yang belum dinikmati oleh pihak kedua
b. mengganti biaya pembongkaran dan biaya pindah kepada pihak kedua yang dikeluarkan oleh pihak kedua.
Bapak Hasan menerangkan bahwa tanah dan bangunan miliknya telah dijadikan sebagai agunan kredit di Bank Mandiri sebelum operator XL menyewa lahanrooftop -nya untuk mendirikan tower, hal yang sama juga terjadi dengan Ibu Ida yang telah mengagunkan tanah dan bangunan miliknya ke Bank BII sebelum rooftop
Perjanjian sewa rooftop bangunan antara operator telekomunikasi dengan pemilik bangunan/debitur yang diadakan belakangan setelah adanya hubungan perikatan yang timbul dari perjanjian kredit antara pemilik bangunan dengan bank tersebut mengharuskan pemilik bangunan/debitur untuk meminta persetujuan terlebih dahulu dari pihak Bank selaku pihak yang memegang hak tanggungan atas jaminan berupa tanah dan bangunan milik debitur. Hal ini dikarenakan bank selaku pemegang hak tanggungan harus diprioritaskan karena kedudukannya sebagai kreditur yang memiliki hak preferen atas objek hak tanggungan tersebut.
Ketentuan tentang hal tersebut diatur dalam Pasal 11 ayat (2) Undang-undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan yang berbunyi sebagai berikut :
Dalam Akta Pemberian Hak Tanggungan dapat dicantumkan janji-janji, antara lain:
a. janji yang membatasi kewenangan pemberi Hak Tanggungan untuk menyewakan obyek Hak Tanggungan dan/atau menentukan atau mengubah jangka waktu sewa dan/atau menerima uang sewa di muka, kecuali dengan persetujuan tertulis lebih dahulu dari pemegang Hak Tanggungan ;
b. janji yang membatasi kewenangan pemberi Hak Tanggungan untuk mengubah bentuk atau tata susunan obyek Hak Tanggungan, kecuali dengan persetujuan tertulis lebih dahulu dari pemegang Hak Tanggungan;
c. janji yang memberikan kewenangan kepada pemegang Hak Tanggungan untuk mengelola obyek Hak Tanggungan berdasarkan penetapan Ketua Pengadilan Negeri yang daerah hukumnya meliputi letak obyek Hak Tanggungan apabila debitor sungguh-sungguh cidera janji ;
d. janji yang memberikan kewenangan kepada pemegang Hak Tanggungan untuk menyelamatkan obyek Hak Tanggungan, jika hal itu diperlukan untuk pelaksanaan eksekusi atau untuk mencegah menjadi hapusnya atau dibatalkannya hak yang menjadi obyek Hak Tanggungan karena tidak dipenuhi atau dilanggarnya ketentuan undang-undang ;
e. janji bahwa pemegang Hak Tanggungan pertama mempunyai hak untuk menjual atas kekuasaan sendiri obyek Hak Tanggungan apabila debitor cidera janji ;
f. janji yang diberikan oleh pemegang Hak Tanggungan pertama bahwa obyek Hak Tanggungan tidak akan dibersihkan dari Hak Tanggungan ;
g. janji bahwa pemberi Hak Tanggungan tidak akan melepaskan haknya atas obyek Hak Tanggungan tanpa persetujuan tertulis lebih dahulu dari pemegang Hak Tanggungan ;
h. janji bahwa pemegang Hak Tanggungan akan memperoleh seluruh atau sebagian dari ganti rugi yang diterima pemberi Hak Tanggungan untuk pelunasan piutangnya apabila obyek Hak Tanggungan dilepaskan haknya oleh pemberi Hak Tanggungan atau dicabut haknya untuk kepentingan umum ; i. janji bahwa pemegang Hak Tanggungan akan memperoleh seluruh atau
sebagian dari uang asuransi yang diterima pemberi Hak Tanggungan untuk pelunasan piutangnya, jika obyek Hak Tanggungan diasuransikan ;
j. janji bahwa pemberi Hak Tanggungan akan mengosongkan obyek Hak Tanggungan pada waktu eksekusi Hak Tanggungan.
Mengikuti ketentuan dari Undang-undang tentang Hak Tanggungan tersebut, maka dalam setiap Akta Pemberian Hak Tanggungan (APHT) yang ditandatangani oleh debitur dan kreditur pasti mencantumkan janji-janji sebagaimana telah disebut di atas. Format standar APHT yang dibuat di hadapan Pejabat Pembuat Akta Tanah khususnya terlihat dalam Pasal 2 berbunyi : “Pihak Pertama tidak akan menyewakan kepada pihak lain Objek Hak Tanggungan tanpa persetujuan tertulis terlebih dahulu dari Pihak Kedua, termasuk menentukan atau mengubah jangka waktu sewa dan/atau menerima uang sewa di muka jika disetujui disewakan atau sudah disewakan”.
Permohonan persetujuan/izin dari bank tersebut menjadi syarat mutlak yang harus dipenuhi karena antara debitur/pemilik bangunan dengan bank sebelumnya telah timbul hubungan perikatan terlebih dahulu berupa perjanjian kredit dengan objek jaminan berupa tanah dan bangunan milik debitur, sehingga jika objek jaminan tersebut hendak disewakan sebagian maupun seluruhnya kepada pihak ketiga (dalam hal ini operator telekomunikasi), maka pihak debitur harus meminta persetujuan
terlebih dahulu dari bank. Perikatan yang timbul terlebih dahulu harus diutamakan dari perikatan yang timbul setelahnya.
Apabila pihak bank telah memberikan persetujuan tertulis agar objek jaminan tersebut disewakan kepada pihak ketiga, barulah selanjutnya pihak pemilik bangunan berhak untuk menyewakan lahan bangunannya untuk dimanfaatkan oleh operator telekomunikasi dalam mendirikan BTS-nya. Dengan demikian perikatan antara pemilik bangunan dengan operator telekomunikasi tidak boleh merugikan perikatan kredit antara bank dengan pemilik bangunan yang timbul sebelumnya. Ini sesuai dengan asas itikad baik sebagaimana diatur dalam Pasal 1338 Kitab Undang-undang Hukum Perdata.
Wirjono Prodjodikoro membagi itikad baik menjadi 2 (dua) macam yaitu:113 1. Itikad baik pada waktu mulai berlakunya suatu hubungan hukum.
Itikad baik disini biasanya berupa perkiraan atau anggapan seseorang bahwa syarat-syarat yang diperlukan bagi dimulainya hubungan hukum telah terpenuhi. Dalam konteks ini hukum memberikan perlindungan kepada pihak yang beritikad baik, sedang bagi pihak yang beritikad tidak baik (te kwader trouw) harus bertanggung jawab dan menanggung risiko. Itikad baik semacam ini dapat disimak dalam ketentuan Pasal 1977 ayat (1) dan Pasal 1963 Kitab Undang-undang Hukum Perdata dimana terkait dengan salah satu syarat untuk memperoleh hak milik atas barang melalui daluwarsa. Itikad baik ini bersifat subjektif dan statis.
2. Itikad baik pada waktu pelaksanaan hak-hak dan kewajiban-kewajiban yang termaktub dalam hubungan hukum itu.
Pengertian itikad baik semacam ini sebagaimana diatur dalam Pasal 1338 ayat (3) Kitab Undang-undang Hukum Perdata adalah bersifat objektif dan dinamis mengikuti situasi sekitar perbuatan hukum. Titik berat itikad baik disini terletak pada tindakan yang akan dilakukan oleh kedua belah pihak, yaitu tindakan sebagai pelaksanaan sesuatu hal.
Berpedoman dari pendapat Wirjono Prodjodikoro tersebut, maka pengertian itikad baik menurut Pasal 1338 ayat (3) Kitab Undang-undang Hukum Perdata hendaknya dibedakan dengan pengertian itikad baik menurut Pasal 1963 dan Pasal 1977 ayat (1) Kitab Undang-undang Hukum Perdata. Pengertian itikad baik menurut Pasal 1338 ayat (3) diberikan batasan dalam arti yang objektif-dinamis, sedangkan pengertian itikad baik menurut Pasal 1963 dan 1977 ayat (1) diberikan batasan arti subjektif statis. Pengertian itikad baik menurut Pasal 1963 adalah kemauan baik atau kejujuran orang itu pada saat ia mulai menguasai barang, dimana ia mengira bahwa syarat-syarat yang diperlukan untuk mendapatkan hak milik atas barang tersebut telah dipenuhi. Itikad baik semacam ini juga dilindungi oleh hukum dan itikad baik sebagai syarat untuk mendapatkan hak milik ini tidak bersifat dinamis melainkan bersifat statis.114
114Agus Yudha Hernoko,Hukum Perjanjian (Asas Proporsional Dalam Kontrak Komersial), Lambang Mediatama, Yogyakarta, 2008, hal. 86.
Terhadap setiap objek sewa-menyewa yang menjadi jaminan kredit yang diserahkan debitur dan disetujui Bank seharusnya mengikat objek jaminan kredit secara sempurna, yaitu dengan mengikuti ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang jaminan utang. Pengikatan atau penguasaan jaminan kredit harus dilakukan sebelum diizinkannya debitur menarik dana kredit.
Keharusan pengikatan dan penguasaan jaminan kredit merupakan bagian dari persyaratan administratif yang sudah diselesaikan sebelum kredit disalurkan kepada debitur. Sehubungan dengan adanya persyaratan administratif yang ditetapkan dalam peraturan internal Bank, untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan hendaknya bank tidak menyetujui permohonan penarikan kredit yang diajukan debitur sebelum seluruh persyaratan administratif diselesaikan oleh debitur, termasuk mengenai pengikatan dan penguasaan jaminan kreditnya.115
Selain itu perjanjian penggunaanrooftoptersebut harus lebih memprioritaskan perjanjian kredit yang lebih dahulu timbul. Dengan pengaturan yang jelas antara kedua perikatan yang berbeda tersebut, maka para pihak akan lebih mudah menentukan tanggung jawab masing-masing pihak apabila terjadi risiko selama jangka waktu perikatan tersebut belum berakhir.
Misalnya salah satu risiko yang pernah terjadi yaitu musibah kebakaran yang melanda bangunan milik Bapak Hasan. Fisik bangunan milik Bapak Hasan adalah rumah toko (ruko) setinggi 3½ tingkat. Lahan rooftop yang disewakan kepada
115 M. Bahsan, Hukum Jaminan dan Jaminan Kredit Perbankan Indonesia, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2007, hal. 132.
operator XL untuk memasangtoweradalah sebagian lahan terbuka dari tingkat 3 ruko tersebut. Setengah bagian lainnya dari tingkat 3 ruko berfungsi sebagai ruangan untuk menyimpan stok barang dagangan Bapak Hasan. Kejadian kebakaran tersebut terjadi saat berlangsungnya masa sewa menara BTS tersebut. Sebelumnya dalam perjanjian kredit antara bank dengan debitur (Bapak Hasan) telah mewajibkan debitur untuk mengasuransikan objek jaminan sehingga bila terjadi risiko atau keadaan yang dapat merugikan atau mengurangi nilai objek jaminan tersebut, maka objek jaminan tersebut akan mendapat pertanggungan dari perusahaan asuransi sehingga bank tidak dirugikan.
Selain itu, operator telekomunikasi selaku pemilik BTS dan perangkat pendukungnya turut mengasuransikan segala peralatan dan perlengkapan miliknya yang didirikan di atas objek sewa terhadap segala risiko kerugian atau kerusakan yang mungkin timbul. Hal ini tercantum dalam Pasal 8 Perjanjian Sewa Menyewa Rooftop antara Bapak Hasan dengan operator XL yang berbunyi : “Pihak Kedua akan mengasuransikan segala peralatan dan perlengkapan milik Pihak Kedua yang dipasang di atas objek sewa dalam perjanjian ini terhadap segala kerugian atau kerusakan oleh perusahaan penyedia jasa asuransi”.
Kebakaran yang terjadi tersebut melanda tingkat tiga ruko Bapak Hasan. Dalam kejadian tersebut seluruh stok barang dagang yang terdapat pada ruangan lantai tiga rumah Bapak Hasan hangus terbakar, selain itu sebagian lantai tiga
bangunan yang menjadi lahan rooftopjuga turut terkena dampak karena api sempat menjalar ke seluruh tingkat tersebut.116
Setelah kebakaran dipadamkan, Bapak Hasan menemukan bahwa meskipun hampir seluruh lantai tiga bangunannya turut terkena efek kebakaran, namun menara BTS dan segala perangkat pendukungnya berada tidak terkena dampak kebakaran. Bahkan kabel-kabel jaringantoweryang terpasang di dinding yang diperkirakan akan hangus terbakar masih dalam keadaan normal dan tidak rusak sama sekali.
Atas terjadinya peristiwa kebakaran tersebut kemudian menimbulkan kesulitan untuk menentukan asuransi dari pihak manakah yang akan menanggung kerugian dari kejadian tersebut, apakah perusahaan asuransi dari pihak operator atau perusahaan asuransi yang ditunjuk bank dalam perjanjian kredit tersebut. Hal ini disebabkan oleh karena pada saat terjadinya musibah tersebut ada dua perlindungan asuransi yang berlangsung dan penyebab terjadinya kebakaran belum diketahui sehingga sulit membedakan perlindungan dari perusahaan asuransi manakah yang akan dimanfaatkan.
Pengertian asuransi menurut Pasal 246 Kitab Undang-undang Hukum Dagang (KUHD) Republik Indonesia yaitu :
“Asuransi atau pertanggungan adalah suatu perjanjian, dengan mana seorang penanggung mengikatkan diri pada tertanggung dengan menerima suatu premi, untuk memberikan penggantian kepadanya karena suatu kerugian, kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan, yang mungkin akan dideritanya karena suatu peristiwa yang tak tertentu.”
116 Wawancara dengan Bapak Hasan, pemilik bangunan/pihak yang menyewakan rooftop
Berdasarkan definisi tersebut, maka unsur-unsur yang terdapat dalam asuransi adalah sebagai berikut :
1. Pihak tertanggung (insured) yang berjanji untuk membayar uang premi kepada pihak penanggung, sekaligus atau secara berangsur-angsur.
2. Pihak penanggung (insure) yang berjanji akan membayar sejumlah uang (santunan) kepada pihak tertanggung, sekaligus atau secara berangsur-angsur apabila terjadi sesuatu peristiwa yang mengandung unsur tak tertentu.
3. Suatu peristiwa (accident) yang tak tertentu (tidak diketahui sebelumnya).
4. Kepentingan (interest) yang mungkin akan mengalami kerugian karena terjadinya peristiwa yang tak tertentu.
Asuransi merupakan salah satu jenis perjanjian khusus yang diatur dalam KUHD. Sebagai perjanjian, maka ketentuan tentang syarat sahnya suatu perjanjian sebagaimana diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata berlaku juga bagi perjanjian asuransi. Karena perjanjian asuransi merupakan perjanjian khusus, maka di samping ketentuan syarat-syarat sah suatu perjanjian, berlaku juga syarat-syarat khusus yang diatur dalam KUHD. Syarat sahnya suatu perjanjian tercantum dalam Pasal 1320 Kitab Undang-undang Hukum Perdata, yaitu adanya kesepakatan para pihak, kecakapan bertindak, objek tertentu, dan kausa yang halal. Sedangkan syarat yang diatur dalam KUHD adalah kewajiban pemberitahuan yang diatur dalam Pasal 251 KUHD, yang berbunyi : “Setiap keterangan yang keliru atau tidak benar, ataupun setiap tidak memberitahukan hal-hal yang diketahui oleh si tertanggung, betapapun itikad baik ada padanya, yang demikian sifatnya, sehingga seandainya si penanggung
telah mengetahui keadaan yang sebenarnya, perjanjian itu tidak akan ditutup atau tidak ditutup dengan syarat-syarat yang sama, mengakibatkan batalnya pertanggungan”.
Perjanjian asuransi terjadi seketika setelah tercapainya kesepakatan antara tertanggung dan penanggung, hak dan kewajiban timbal balik juga timbul sejak saat itu, bahkan sebelum polis ditandatangani (Pasal 257 ayat (1) KUHD). Asuransi harus dibuat secara tertulis dalam bentuk akta yang disebut polis (Pasal 255 KUHD). Polis merupakan salah satu alat bukti tertulis untuk membuktikan bahwa asuransi telah terjadi (Pasal 258 ayat (1) KUHD).117
Risiko dalam asuransi dapat dibedakan dalam beberapa arti yang bermakna kemungkinan terjadinya kerugian, yaitu :118
1. Risiko dalam arti benda yang menjadi objek bahaya.
2. Risiko dalam arti orang yang menjadi sasaran pertanggungan. 3. Risiko dalam arti bahaya.
Pengertian risiko diberi batasan sebagai kemungkinan terjadinya suatu keuntungan yang semula diharapkan tetapi tidak tercapai karena di luar kuasa manusia (misalnya bencana alam seperti banjir dan gempa bumi), kesalahan sendiri atau perbuatan manusia. Resiko yang diderita dapat berupa kerusakan, kerugian atau kehilangan keuntungan yang diharapkan sehingga menyebabkan timbulnya upaya untuk menghindari dan mengalihkan risiko kepada pihak lain yang bersedia
117Man Suparman Sastrawidjaja,Aspek-Aspek Hukum Asuransi dan Surat Berharga, Alumni, Bandung, 1997, hal.1.
menanggungnya, yaitu pihak asuransi. “Hal ini dimaksudkan untukmemberikan perlindungan akan rasa aman kepada masyarakat, yaitu dengan mengadakan perjanjian pelimpahan resiko dengan pihak lain. Perjanjian macam ini disebut perjanjian asuransi”.119
Perjanjian asuransi sebagai lembaga pengalihan dan pembagian risiko mempunyai kegunaan positif baik bagi masyarakat, perusahaan maupun pembangunan negara. Mereka yang menutup perjanjian asuransi akan merasa tentram sebab mendapat perlindungan dari kemungkinan terjadinya atau tertimpa suatu kerugian. Suatu perusahaan yang mengalihkan risikonya melalui perjanjian asuransi akan dapat meningkatkan usahanya dan berani menggalang tujuannya yang lebih