• Tidak ada hasil yang ditemukan

Husna Yetti 1 , Edison Anom 1

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil

Hasil

1. Tinggi Tanaman (cm)

Hasil sidik ragam menunjukkan interaksi antara pupuk N, P, K dan kompos TKKS berbeda nyata terhadap tinggi tanaman bawang merah. hasil uji lanjut Jarak Berganda Duncan dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Tinggi tanaman bawang merah (cm) setelah pemberian campuran pupuk N,P,K dan kompos TKKS

Dosis pupuk N,P,K

(kg/ha) K1 (10) Dosis kompos TKKS (ton/ha)K2 (15) K3 (20) K4 (25) Rerata

P0 Tanpa N,P,K 21,54 d 22,02 cd 24,14 bcd 24,32 bc 23,010 C

P1 (125+75+50) 23,53 bcd 25,43 b 25,64 b 28,12 a 25,681 B

P2 (250+150+100) 25,23 b 25,46 b 28,69 a 29,46 a 27,215 A

Rerata 23,437 B 24,308 B 26,158 A 27,304 A

Angka-angka pada baris dan kolom yang sama diikuti oleh huruf kecil dan huruf besar yang sama berbeda tidak nyata menurut uji Jarak Berganda Duncan pada taraf 5%.

Hasil sidik ragam menunjukkan interaksi antara pupuk N, P, K dan kompos TKKS berpengaruh nyata terhadap jumlah umbi per rumpun sampel bawang merah. Hasil uji lanjut dengan uji Jarak Berganda Duncan dapat dilihat di pada Tabel 2.

Tabel 2. Jumlah umbi per rumpun sampel bawang merah (buah) setelah pemberian campuran pupuk N,P,K dan kompos TKKS

Dosis pupuk N,P,K

(kg/ha) K1 (10) Dosis kompos TKKS (ton/ha)K2 (15) K3 (20) K4 (25) Rerata P0 Tanpa N,P,K 21,54 d 22,02 cd 24,14 bcd 24,32 bc 23,010 C

P1 (125+75+50) 23,53 bcd 25,43 b 25,64 b 28,12 a 25,681 B

P2 (250+150+100) 25,23 b 25,46 b 28,69 a 29,46 a 27,215 A

Rerata 23,437 B 24,308 B 26,158 A 27,304 A

Angka-angka pada baris dan kolom yang sama diikuti oleh huruf kecil dan huruf besar yang sama berbeda tidak nyata menurut uji Jarak Berganda Duncan pada taraf 5%.

3. Diameter Umbi per Rumpun Sampel (cm)

Hasil sidik ragam menunjukkan interaksi antara pupuk N, P, K dan kompos TKKS berpengaruh nyata terhadap diameter umbi perumpun sampel bawang merah. Hasil uji Jarak Berganda Duncan dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Diameter umbi per rumpun sampel bawang merah (cm) setelah pemberian campuran pupuk N,P,K dan kompos TKKS

Dosis pupuk N,P,K

(kg/ha) K1 (10) Dosis kompos TKKS (ton/ha)K2 (15) K3 (20) K4 (25) Rerata P0 Tanpa N,P,K 21,54 d 22,02 cd 24,14 bcd 24,32 bc 23,010 C

P1 (125+75+50) 23,53 bcd 25,43 b 25,64 b 28,12 a 25,681 B

P2 (250+150+100) 25,23 b 25,46 b 28,69 a 29,46 a 27,215 A

Rerata 23,437 B 24,308 B 26,158 A 27,304 A

Angka-angka pada baris dan kolom yang sama diikuti oleh huruf kecil dan huruf besar yang sama berbeda tidak nyata menurut uji Jarak Berganda Duncan pada taraf 5%.

4. Berat Segar Umbi per Rumpun Sampel (g)

Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa interaksi antara pupuk N, P, K dan kompos TKKS berpengaruh nyata terhadap berat segar umbi per rumpun sampel bawang merah. Hasil Jarak Berganda Duncan dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Berat segar umbi per rumpun sampel bawang merah (g) setelah pemberian campuran pupuk N,P,K dan kompos TKKS

Dosis pupuk N,P,K (kg/ha) Dosis kompos TKKS (ton/ha) Rerata K1 (10) K2 (15) K3 (20) K4 (25)

P0 Tanpa N,P,K 21,54 d 22,02 cd 24,14 bcd 24,32 bc 23,010 C

P1 (125+75+50) 23,53 bcd 25,43 b 25,64 b 28,12 a 25,681 B

P2 (250+150+100) 25,23 b 25,46 b 28,69 a 29,46 a 27,215 A

Rerata 23,437 B 24,308 B 26,158 A 27,304 A

Angka-angka pada baris dan kolom yang sama diikuti oleh huruf kecil dan huruf besar yang sama berbeda tidak nyata menurut uji Jarak Berganda Duncan pada taraf 5%.

Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa interaksi antara pupuk N, P, K dan kompos TKKS berpengaruh nyata terhadap berat segar umbi per plo tbawang merah. Hasil uji lanjut jarak berganda Duncan dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Berat segar umbi per plotbawang merah (g) setelah pemberian campuran pupuk N,P,K dan kompos TKKS

Dosis pupuk N,P,K (kg/ha) Dosis kompos TKKS (ton/ha) Rerata

K1 (10) K2 (15) K3 (20) K4 (25)

P0 Tanpa N,P,K 21,54 d 22,02 cd 24,14 bcd 24,32 bc 23,010 C

P1 (125+75+50) 23,53 bcd 25,43 b 25,64 b 28,12 a 25,681 B

P2 (250+150+100) 25,23 b 25,46 b 28,69 a 29,46 a 27,215 A

Rerata 23,437 B 24,308 B 26,158 A 27,304 A

Angka-angka pada baris dan kolom yang sama diikuti oleh huruf kecil dan huruf besar yang sama berbeda tidak nyata menurut uji Jarak Berganda Duncan pada taraf 5%.

Pembahasan

Tabel 1 menunjukkan bahwa perlakuan P2 (250 kg/ha ZA + 150 kg/ha TSP + 100 kg/ha KCl) dan kompos TKKS dengan menghasilkan tinggi tanaman tertinggi dengan rata-rata tertinggi, berbeda nyata dengan perlakuan lainnya namun tidak berbeda nyata dengan P2K3 dan P2K4. Hal ini disebabkan semakin besar dosis pupuk N, P, dan K dan kompos TKKS akan dapat meningkatkan ketersediaan hara terutama hara kalium dan hara makro lain yang digunakan dalam proses fisiologis tanaman. Menurut Marsono dan Paulus (2005), pemberian pupuk yang tepat akan mampu menyediakan unsur hara bagi tanaman, mencegah kehilangan unsur hara dalam tanah dan membantu penyerapan unsur hara.

Unsur hara yang terkandung di dalam pupuk Urea, SP36, KCl dan kompos TKKS berperan dalam meningkatkan aktivitas enzim dalam reaksi fotosintesis dan respirasi sehingga berdampak positif terhadap peningkatan tinggi tanaman bawang merah. Menurut Munawar (2011), kalium di dalam tanaman berfungsi meningkatkan aktivitas enzim-enzim fotosintesis, penyerapan CO2melalui stomata dan membantu proses proses fosforilasi di dalam kloroplas dan juga berfungsi dalam pembentukan lapisan kutikula yang sangat penting untuk pertahanan dari hama penyakit. Peranan kalium dalam sintesis protein akan memacu konversi nitrat ke protein sehingga meningkatkan efesiensi pemupukan nitrogen. Menurut Novizan (2002) nitrogen digunakan untuk menghasilkan protein tanaman dimana pada bagian vegetatif membentuk fraksi protein utama berupa protein enzim.

Perlakuan P2 (250 kg/ha ZA + 150 kg/ha TSP + 100 kg/ha KCl) dan kompos TKKS 25 ton/ha merupakan dosis yang sesuai untuk pertumbuhan tinggi tanaman. Ternyata ditingkat dosis N, P, K dan kompos tidak berbeda nyata, sedangkan dosis dibawahnya tidak meningkatkan tinggi tanaman.

Tabel 2 menunjukkan bahwa perlakuan P2 (250 ZA + 150 TSP + 100 KCl) kg/ha dan K3 (20 ton/ha) kompos TKKS menghasilkan jumlah umbi terbanyak dengan rata-rata 10,06 buah, tidak berbeda nyata dengan perlakuan P1K4 dan perlakuan P2K4 tetapi berbeda nyata dengan perlakuan lainnya. Hal ini disebabkan semakin besar dosis pupuk kalium dan campuran kompos TKKS akan semakin besar kontribusinya menyediakan hara khususnya kalium yang dibutuhkan untuk pembentukan umbi bawang merah. Pupuk N, P, K dalam ZA, TSP, KCl yang digunakan tanaman dalam proses sintesis asam amino dan protein dari ion-ion amonium serta dapat meningkatkan proses metabolisme tanaman dan pemanjangan sel. Terpenuhnya unsur hara dalam proses fisiologis tanaman akan dapat meningkatkan pembentukan umbi bawang merah.

Pada tahap awal pertumbuhan bawang merah memerlukan unsur hara untuk pembentukan umbi bawang merah dimana semakin banyak mata tunas yang muncul maka semakin banyak jumlah umbi yang dihasilkan. Unsur hara dibutuhkan dalam penyusunan jaringan khususnya kalium berperan dalam mengaktifkan enzim-enzim pertumbuhan yang berasal dari pupuk kalium dan campuran kompos TKKS. Novizan (2002) menyatakan pertumbuhan tanaman akan lebih optimal apabila unsur hara yang dibutuhkan tersedia dalam jumlah yang cukup dan sesuai dengan kebutuhan tanaman.

Tabel 3 menunjukkan bahwa perlakuan K2P4 (ZA 250 + 150 TSP + 150 KCl) dan kompos TKKS 25 ton/ha berbeda nyata dengan perlakuan lainnya terhadap diameter umbi dengan rata-rata 2,16 cm dan tergolong dalam kriteria besar yaitu lebih dari 1,7 cm. Hal ini sesuai dengan dengan pendapat Rahayu dan Berlian (2004), standar mutu diameter umbi bawang merah adalah dengan ukuran 1,7 cm atau lebih dari 1,7 cm (Lampiran 2). Hal ini disebabkan semakin besar dosis pupuk kalium dan campuran kompos TKKS akan semakin banyak menyediakan unsur hara yang dibutuhkan untuk pembentukan umbi khususnya diameter batang.

Kandungan N,P,K yang berasal dari pupuk ZA, TSP dan KCl dan kompos TKKS berperan penting dalam pembentukan umbi bawang. Menurut Hanafiah (2010), N, P dan K berperan dalam menjaga potensi osmotik tanaman seperti pengaturan pembukaan dan penutupan stomata sehingga mampu menjaga kondisi air di dalam tanaman kemudian apabila pasokan K cukup dapat meningkatkan efesiensi penggunaan air oleh tanaman. Terpenuhnya kebutuhan air di dalam tanaman akan meningkatkan proses fotosintesis dan pendistribusian asimilat dari daun ke seluruh bagian tanaman. Menurut Haryadi (1993) pembentukan dan pengisian umbi sangat dipengaruhi oleh unsur hara N, P, dan K yang akan digunakan dalam proses fotosintesis yaitu sebagai penyusun karbohidrat, lemak, protein dan mineral yang akan ditranslokasikan kebagian penyimpanan buah.Sumekto (2008) menyatakan bahwa fosfor sangat berpengaruh dalam proses pertumbuhan dan pembentukan hasil bawang merah.

Pemberian kompos TKKS dan NP dan K dapat memperbaiki kesuburan tanah karena dapat meningkatkan aktivitas mikroorganisme dalam menyediakan unsur hara di dalam tanah sehingga berdampak positif pada pembentukan umbi.

Menurut Harjowigeno (2002), bahan organik merupakan sumber energi bagi mikroorganisme sehingga meningkatkan perannya dalam mendekomposisi bahan

organik sehingga unsur-unsur akan dibebaskan ke dalam tanah dalam proses mineralisasi yang dapat digunakan untuk pertumbuhan tanaman.

Tabel 4 menunjukkan bahwa perlakuan P2K3 250 ZA + 150 TSP + 100 KCl dan kompos TKKS 20 ton/ha menghasilkan berat segar umbi per rumpun sampel terbaik dengan rata-rata 48 g, tidak berbeda nyata dengan P1K4 dan P2K4, tetapi berbeda nyata dengan perlakuan lainnya. Hal ini disebabkan semakin besar dosis pupuk N, P, K dan kompos TKKS memberikan peran positif dalam menyediakan hara yang dibutuhkan untuk pertumbuhan umbi bawang merah.

Menurut Lakitan (2011), unsur hara berperan meningkatkan aktivitas fotosintesis sehingga akumulasi fotosintat dapat ditranslokasikan keorgan-organ generatif khususnya dalam pembentukan umbi bawang merah. Bahan asimilat yang dihasilkan dalam jumlah banyak akan meningkatkan pembentukan umbi bawang merah. Rosmarkam dan Nasih (2002) menyatakan hara terutama Kalium dan fosfor berperan dalam perkembangan akar yang berdampak terhadap perbaikan serapan hara dan air oleh akar sehingga dapat meningkatkan aktivitas metabolisme tanaman. Menurut Samadi dan Cahayo (2005), pembentukan umbi bawang merah akan meningkat pada kondisi lingkungan yang cocok dimana tunas-tunas lateral akan membentuk cakram baru, selanjutnya terbentuk umbi lapis.

Pemberian kompos TKKS mampu memperbaiki kesuburan tanah. Menurut Munawar (2011), pemberian pupuk organik ke dalam tanah dapat memperbaiki struktur tanah dan mengikat partikel-partikel tanah sehingga membentuk agregat yang mantap. Hanfiah (2010) menyatakan, bahan organik dapat meningkatkan pH tanah melalui kemampuannya mengikat mineral oksida bermuatan positif dan kation-kation terutama Al dan Fe reaktif, menyebabkan fiksasi Ptanah menjadi ternetralisir. Adanya asam-asam organik hasil dekomposisi bahan organik yang mampu melarutkan P dan unsur lain dari pengikatnya sehingga menghasilkan peningkatan ketersediaan dan efesiensi pemupukan P dan hara lainnya.

Tabel 5 menunjukkan bahwa perlakuan P1K3 (250 ZA + 150 TSP + 100 KCl)/ha kompos TKKS 20 ton/ha menghasilkan berat segar umbi per plot tertinggi dengan rata-rata 719 g, tidak berbeda nyata dengan perlakuan P1K4 dan

P3K4, dan berbeda nyata dengan perlakuan lainnya. Hal ini disebabkan semakin tinggi dosis pupuk N, P, K dan kompos TKKS akan semakin besar kontribusinya dalam menyediakan hara yang dibutuhkan dalam proses fisiologis tanaman.

Menurut Munawar (2011), ketersediaan hara dalam jumlah yang cukup dan optimal berpengaruh terhadap tumbuh dan berkembangnya tanaman sehingga menghasilkan produksi sesuai dengan potensinya. Unsur hara berkaitan erat dengan metabolisme tanaman dimana unsur hara digunakan dalam berbagai proses energi di dalam tanaman. Novizan (2002), unsur hara yang didapatkan melalui pemupukan akan memberikan efek fisiologis terhadap penyerapan unsur hara oleh perakaran tanaman. Tabel 5 menunjukkan hasil berat segar umbi/plot tertinggi diperoleh dari perlakuan 250 ZA + 150 TSP + 100 KCl/ha dengan kompos TKKS dan 20 ton/ha yaitu sebesar 699 gram atau setara 5,64 ton/ha, dimana dalam 1 ha yang efektif digunakan untuk lahan pertanian adalah 85% atau 85.000 m2. Hasil tersebut sejalan dengan pengamatan berat segar umbi per rumpun sampel dimana pada perlakuan tertinggi hanya menghasilkan 48 g, sehingga masih belum mencapai potensi hasil bawang merah varietas Bangkok yaitu 17,6 ton. Hal ini diduga penggunaan jarak tanam yang lebih renggang yaitu 20 cm x 25 cm menyebabkan hasil produksi bawang merah belum mencapai potensi hasil yang diinginkan. Hasil penelitian Samedja (1993) dalam Tabrani et al. (2005), pada dataran tinggi, apabila bawang merah ditanam dengan jarak tanam yang lebih rapat yaitu 10 cm x 10 cm akan menghasilkan berat produksi konsumsi rata-rata 14,9 ton/ha sehingga sangat mendekati produksi potensialnya, apabila pada jarak tanam yang lebih renggang yaitu 20 cm x 20 cm produksinya hanya mencapai 10,4 ton/ha.

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa :

1. Pemberian pupuk N, P, K (ZA + TSP + KCl)/ha dan kompos TKKS berpengaruh nyata terhadap dimeter umbi per rumpun sampel dan berat segar

umbi per plot, namun berpengaruh tidak nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah umbi per rumpun sampel dan berat segar umbi per rumpun sampel.

2. pemberian ZA 250 + 150 TSP + 100 KCl/ha dengan kompos TKKS 25 ton/ha merupakan dosis terbaik dalam meningkatkan tinggi tanaman, jumlah umbi per rumpun sampel buah, diameter umbi per rumpun sampel, berat segar umbi/rumpun sampel 48 g dan berat segar umbi per plot 3. Pemberian dosis tersebut menghasilkan produksi bawang merah tertinggi yaitu 699 g setara 5,11 ton/ha dibandingkan perlakuan lainnya, namun masih jauh lebih rendah dari produksi potensinya. Saran

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan disarankan untuk melakuan:

1. Pemupukan dengan campuran 250 ZA + 150 TSP + 100 KCl/ha dan kompos TKKS 25 ton/ha 2. Melakukan penelitian lanjutan dengn dosis pupuk N, P, K dan kompos TKKS dengan dosis yang

berbeda dikarenakan produksi bawang merah tertinggi belum mencapai produk potensialnya. DAFTAR PUSTAKA

Hanifah, K.A. 2010. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Rajawali Press. Jakarta. Haryadi, S.S.S. 1979. Pengantar Agronomi. Gramedia Jakarta

Kurniawan, R, Ratna, R. L, Sanggam, S Dan Chairani, H. 2014. Tanggap Pertumbuhan dan Produksi Jagung Manis ada Pemberian Mikroorganisme Bermanfaat dan Kompos Tandan Kosong Kelapa Sawit. Jurnal Online Agroteknologi. Volume 2.(3).

Lakitan, B. 2011. Dasar-dasar Fisiologi Tumbuhan. Raja Grafndo Pesada. Jakarta

Marsono dan Paulus, S. 2005. Pupuk Akar dan Jenis Aplikasi. Penerbit Swadaya. Jakarta. Novizan. 2002. Petunjuk Pemupukan yang Efektif. Agromedia Pustaka.

Rosmarkam, A dan Nasih V.Y. 2002. Ilmu Kesuburan Tanah. Kanisius. Yogyakarta.

Samadi, B., dan Cahyono. 2010. Usaha Tani Bawang Merah dan Bawang Putih di Dataran Rendah dan Dataran Tinggi. Kannisius. Yogyakarta.

Wibowo. S. 2009. Budidaya Bawang, Bawang Merah, Bawang Putih dan Bawang Bombay. Penebar Swadaya. Jakarta.