• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penelitian

Cecep Hidayat, Abdul Patah, Sofiya Hasani

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penelitian

Rata-rata suhu harian di tempat penelitian 25,89⁰C dan rata-rata kelembaban 75 %. Beberapa hama dan penyakit yang terdeteksi menyerang tanaman diantaranya, hama ulat tanah, ulat grayak, kutu daun,dan thrips sedangkan penyakit penyakit bercak daun, penyakit busuk kuncup dan penyakit patek buah atau antraknosa.

Berdasarkan hasil analisis, pupuk kompos paitan memiliki pH yaitu sebesar 8,09 H2O dan 7,88 KCL, kadar air sebesar 40,59%, C-organik sebesar25,58%, N-total yaitu 2,81%, C/N rasio sebesar 9%,P2O5sebesar 0,80% dan kandungan K2O 3,40%. Hasil analisis pupuk kompos eceng gondok memiliki nilai derajat kemasaman (pH) yaitu sebesar 8,89 H2O dan 8,73 KCL, kadar air sebesar 33,87%, C-organik sebesar 22,16%, N-total yaitu 1,42%, C/N rasio sebesar 16%, P2O5 sebesar 0,85% dan kandungan K2O sebesar 1,98%. Hasil analisis pupuk kompos kirinyuh memiliki nilai derajat kemasaman (pH) yaitu sebesar 8,58 H2O dan 8,38 KCL, kadar air sebesar 25,72%, C-organik sebesar 31,89%, N-total yaitu 3,08%, C/N rasio sebesar 10%, P2O5sebesar 1,14% dan kandungan K2O sebesar 2,41%.

Tinggi Tanaman (cm)

Hasil sidik ragam menunjukan bahwa perlakuan pupuk organik berpengaruh tidak nyata terhadap tinggi tanaman umur 10 HST, sedangkan pada 20, 30 dan 40 HST penambahan pupuk organik memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap tinggi tanaman (Tabel 1).

Berdasarkan Tabel 1 pemberian pupuk organik baik pupuk kompos paitan, pupuk kompos eceng gondok dan pupuk kompos kirinyuh memberikan pengaruh tidak nyata pada 10 HST, sedangkan pada 20, 30 dan 40 HST sangat nyata terhadap kontrol pada parameter pertumbuhan tinggi tanaman cabai merah. Pada umur 10 HST unsur hara pada kompos belum tersedia untuk tanaman, sedangkan pada pengamatan selanjutnya, hara telah tersedia untuk pertumbuhan tanaman.Selain itu, pertumbuhan signifikan ini dikarenakan nitrogen yang terkandung dalam pupuk kompos paitan, pupuk kompos eceng gondok dan pupuk kompos kirinyuh.Nitrogen merupakan unsur hara makro yang sangat penting untuk pertumbuhan vegetatif tanaman, seperti batang, daun dan akar.Unsur N berguna dalam pembelahan dan pembesaran sel-sel yang terjadi pada meristem apikal sehingga memungkinkan pertambahan tinggi tanaman serta pertumbuhan cabang dapat berlangsung dengan pesat, dimana batang dan cabang merupakan tempat tumbuh atau melekatnya daun. Hal ini menyebabkan tinggi tanaman dan jumlah daun dapat terbentuk dengan pesat, demikian pula dengan adanya perkembangan sel-sel yang menyebabkan pertumbuhan ke samping dan ditandai dengan bertambah lebarnya diameter batang, Gardner et. al., (1991) dalam Haris, (2010).

Tabel 1. Pengaruh Pupuk Kompos Paitan, Pupuk Kompos Eceng Gondok dan Pupuk Kompos Kirinyuh terhadap Rata-rata Tinggi Tanaman Umur 10, 20, 30 dan 40 HST.

Perlakuan Tinggi Tanaman Cabai Merah (cm)

10HST 20HST 30HST 40HST

A (Kontrol) 6,52a 8,19a 11,57a 15,14a

B (15 t ha-1pupuk kompos paitan ) 6,64a 10,36b 15,45b 21,14b

C (15 t ha-1pupuk kompos eceng gondok) 6,93a 10,57b 15,10b 20,29b

D (15 t ha-1pupuk kompos kirinyuh) 7,10a 11,05b 15,98b 23,30b Keterangan: Angka-angka yang diikuti oleh notasi huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan beda

tidak nyata berdasarkan Uji lanjut Duncan pada taraf 5%

Menurut Tjitrosoepomo (1984) pertumbuhan terjadi pada jaringan meristem apikal maupun lateral. Meristem ujung akar dan ujung batang merupakan bagian yang penting dari meristem apikal dimana meristem ujung akar dan ujung batang akan menyebabkan terjadinya pertumbuhan ke bawah yang akan memperpanjang akar dan ujung batang sehingga terjadi pertumbuhan ke atas yang dapat menambah tinggi tanaman, sedangkan unsur fosfor yang terkandung dalam pupuk kompos paitan, pupuk kompos eceng gondok dan pupuk kompos kirinyuh dapat meningkatkan efisiensi fungsi dan penggunaan dari unsur nitogen itu sendiri (Agustina, 1990). Selain itu pupuk kompos juga berfungsi untuk memperbaiki struktur tanah sehingga udara dan air dalam tanah berada dalam keadaan seimbang, mengikat air sehingga tanah tidak mudah kering dan dapat mengikat unsur-unsur kimia dalam tanah.

Luas Daun (cm2)

Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa pupuk kompos paitan, pupuk kompos eceng gondok dan pupuk kompos kirinyuh tidak menunjukkan pengaruh nyata terhadap luas daun (Tabel 2).

Tabel 2. Pengaruh Pupuk Kompos Paitan, Pupuk Kompos Eceng Gondok dan Pupuk Kompos Kirinyuh terhadap Rata-Rata Luas Daun Tanaman Cabai Merah

Perlakuan Luas Daun (cm2)

A (Kontrol) 2534,02a

B (15 t ha-1pupuk kompos paitan ) 4676,68a

C (15 t ha-1pupuk kompos eceng gondok) 4762,99a

D (15 t ha-1pupuk kompos kirinyuh) 5532,62a

Keterangan: Angka-angka yang diikuti oleh notasi huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan beda tidak nyata berdasarkan Uji lanjut Duncan pada taraf 5%

Pemberian pupuk kompos sebanyak 450 g tan-1 tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap luas daun pada setiap perlakuan.Hal ini disebabkan kandungan unsur hara yang terkandung dalam pupuk kompos paitan, eceng gondok dan krinyuh dalam kategori rendah sehingga tidak memberikan pengaruh nyata terhadap luas daun.

Unsur nitrogen yang dominan terkandung dalam pupuk kompos berfungsi dalam meningkatkan pertumbuhan vegetatif tanaman terutama untuk memacu pertumbuhan daun.Diasumsikan semakin besar luas daun maka makin tinggi fotosintat yang dihasilkan, sehingga semakin tinggi pula fotosintat yang ditranslokasikan. Fotosintat tersebut digunakan untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman, antara lain pertambahan ukuran panjang atau tinggi tanaman, pembentukan cabang dan daun baru (Sahari, 2005).

Peningkatan luas daun erat kaitannya dengan unsur hara terutama unsur N, P, dan Mg. Sesuai dengan pendapat Lakitan (2001), bahwa unsur N sangat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan daun. Konsentrasi nitrogen tinggi umumnya menghasilkan total luas daun yang lebih besar. Sutejo (2002) juga menyatakan bahwa nitrogen merupakan unsur utama dalam pertumbuhan tanaman untuk pembentukan bagian vegetatif tanaman seperti daun, sedangkan fosfor berfungsi sebagai penyusun protein dan magnesium sebagai penyusun molekul klorofil berperan dalam proses fotosintesis sehingga fotosintat yang dihasilkan dapat ditranslokasikan untuk mendukung pertambahan pertumbuhan daun.

Jumlah Buah Per Tanaman (buah)

Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa pupuk kompos paitan, pupuk kompos eceng gondok dan pupuk kompos kirinyuhmenunjukkan pengaruh sangat nyata terhadap jumlah buah per tanaman (Tabel 3).

Tabel 3. Pengaruh Pupuk Kompos Paitan, Pupuk Kompos Eceng Gondok dan Pupuk Kompos Kirinyuh terhadap Rata-Rata Jumlah Buah Per Tanaman Cabai Merah

Perlakuan Jumlah Buah Per Tanaman

A (Kontrol) 5,47a

B (15 t ha-1pupuk kompos paitan ) 17,38ab

C (15 t ha-1pupuk kompos eceng gondok) 29,81b

D (15 t ha-1pupuk kompos kirinyuh) 32,33b

Keterangan: Angka-angka yang diikuti oleh notasi huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan beda tidak nyata berdasarkan Uji lanjut Duncan pada taraf 5%

Dari Tabel 3 dapat diketahui bahwa penggunaan pupuk kompos eceng gondok dan pupuk kompos kirinyuh mampu memberikan pengaruh yang paling baik jika dibandingkan dengan pemberian pupuk kompos paitan dan kontrol. Hal ini disebabkan unsur hara P yang terkandung dalam pupuk kompos eceng gondok sebesar 0,84% dan kompos kirinyuh sebesar 1,14% bila dilihat dari kandungan unsur hara tersebut cukup rendah, namun dapat meningkatkan jumlah buah per tanaman.

Hal ini dikarenakan unsur hara P yang terkandung dalam pupuk kompos paitan sebesar 0,80%, eceng gondok sebesar 0,84% dan kirinyuh sebesar 1,14% mampu merangsang pertumbuhan bunga dan buah, sehingga berpengaruh terhadap jumlah buah yang dihasilkan. Unsur fosfor dibutuhkan oleh tanaman hortikultura terutama jenis sayuran yang dimanfaatkan buahnya termasuk salah satunya tanaman cabai merah, karena fosfor merupakan unsur pokok yang dibutuhkan oleh tanaman terutama pada fase generatif, khususnya untuk pembentukan bunga, buah dan biji.

Disamping kadar P yang harus cukup, unsur hara K pun menjadi hal yang dapat mempengaruhi pembentukan buah. Pupuk kompos eceng gondok dan pupuk kompos kirinyuh dipercaya mampu meningkatkan jumlah buah per tanaman, karena hasil analisis pupuk yang dilakukan terdapat kandungan unsur hara K yang terdapat dalam kompos eceng gondok yaitu sebesar 1,98% sedangkan pada pupuk kompos kirinyuh adalah 2,41%, namun unsur hara ini masih dalam kategori rendah. Unsur K ini berperan dalam memperlancar pengangkutan karbohidrat dan memegang perat penting dalam pembelahan sel dapat mempengaruhi pembentukan dan pertumbuhan buah sampai buah masak serta berperan dalam memperkuat dalam tubuh tanaman agar daun, bunga dan buah tidak mudah gugur (Nurjannah et al., 2012).

Berat Buah Per Tanaman (g)

Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa pupuk kompos paitan, pupuk kompos eceng gondok dan pupuk kompos kirinyuhmenunjukkan pengaruh nyata terhadap jumlah buah per tanaman (Tabel 4).

Tabel 4 menunjukan bahwa pemberian pupuk kompos berpengaruh nyata terhadap berat buah per tanaman.Pupuk kompos paitan, pupuk kompos eceng gondok dan pupuk kompos kirinyuh meningkatkan berat buah per tanaman dan berbeda nyata dengan kontrol. Hal ini dikarenakan unsur hara P yang terkadung dalam pupuk kompos paitan sebesar 0,80%, eceng gondok sebesar 0,84% dan kirinyuh sebesar 1,14% mampu merangsang pertumbuhan bunga dan buah, sehingga berpengaruh terhadap bobot buah yang dihasilkan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Kartasapoetra dan Sutedja (2000) yang menyatakan bahwa peranan fosfor dapat mempercepat pembungaan dan pengisian buah, biji atau gabah serta meningkatkan produksi tanaman.Sobir dan Siregar (2010) menambahkan pupuk K (kalium) mendukung pertumbuhan tanaman, pembungaan dan pembentukan buah.Menurut penelitian Santoso (2000), pada cabai merah bahwa penggunaan unsur hara fosfor pada tanaman cabai merah dapat mendorong terbentuknya bunga dan buah. Ditambahkan lagi oleh Marsono (2004) dan Samekto (2006) bahwa pemberian pupuk organik dapat mengubah struktur tanah menjadi lebih baik sehingga pertumbuhan akar lebih baik, meningkatkan serap dan daya pegang tanah terhadap air serta memperbaiki kehidupan organisme dalam tanah, sehingga berpengaruh terhadap pertumbuhan dan selanjutnya dapat memperbaiki produksi buah.

Tabel 4. Pengaruh Pupuk Kompos Paitan, Pupuk Kompos Eceng Gondok dan Pupuk Kompos Kirinyuh terhadap Rata-Rata Berat Buah Per Tanaman Cabai Merah

Perlakuan Berat Buah Per Tanaman (g)

A (Kontrol) 18,48a

B (15 t ha-1pupuk kompos paitan ) 42,62b

C (15 t ha-1pupuk kompos eceng gondok) 75,15b

D (15 t ha-1pupuk kompos kirinyuh) 80,02b

Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh notasi huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan beda tidak nyata berdasarkan Uji lanjut Duncan pada taraf 5%

Unsur hara K pun sangat penting dibutuhkan dalam proses pembentukan buah, kalium yang terkandung dalam pupuk kompos paitan sebesar 3,40%, eceng gondok 1,56% dan kirinyuh 2,41% unsur hara ini masih dalam kategori rendah jika dibandingkan dengan kebutuhan tanaman cabai, namun mampu memberikan pengaruh nyata terhadap berat buah per tanaman. Hal ini sesuai

buah tanaman cabai nyata dipengaruhi oleh kalium, dimana kalium mempertinggi pergerakan fotosintat keluar dari daun menuju akar, dan hal ini akan meningkatkan penyediaan energi untuk pertumbuhan akar, perkembangan ukuran serta kualitas buah sehingga bobot buah bertambah.

Ketersediaan hara P dipengaruhi oleh pH tanah, jumlah Al dan Fe bebas dalam tanah.Hasil analisis tanah awal kandungan Al dan Fe tinggi di dalam tanah maka menyebabkan P terikat menjadi Al-P dan Fe-P yang sulit untuk dilepas, sehingga P tidak tersedia bagi tanaman.Pemberian pupuk organik terutama pada tanah masam mampu meningkatkan efisiensi pemberian pupuk P. Asam organik yang terkandung pada pupuk organik mampu bertindak sebagai pengkelat senyawa Al dan Fe, sehingga P menjadi lebih tersedia.Secara umum dapat dikatakan bahwa bahan organik memperbesar ketersediaan fosfor tanah, melalui hasil dekomposisinya yang menghasilkan asam-asam organik dan CO2(Hanum, 2013).

Menurut Suharjo et al., (1993) ion-ion Al dan Fe yang bebas dalam tanah dapat diikat oleh bahan organik menjadi organo kompleks yang prosesnya secara kimiawi, sehingga kelarutan Al dan Fe dalam tanah yang semula tinggi dan bersifat racun dapat dikurangi. Serta menurut Laughlin dan James (1991) dalam Santoso, (2006) meningkatnya P tersedia, berasal dari bahan organik dan diperkirakan juga dari akibat berkurangnya pengingkatan P oleh Al. Lebih lanjut dikemukakan bahwa dekomposisi bahan organik menghasilkan asam-asam organik seperti asam organik terlarut, asam humat dan asam fulfat yang sifatnya polielektrolit. Ketiga asam ini memegang peranan yang penting dalam pengikatan Al, sehingga P menjadi bebas di dalam tanah.

Berat Segar dan Berat Kering Brangkasan (g)

Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa pupuk kompos paitan, pupuk kompos eceng gondok dan pupuk kompos kirinyuhmenunjukkan pengaruh sangat nyata terhadap berat segar dan berat kering brangkasan. Tingkat pengaruh penggunaan pupuk kompos kirinyuh memberikan hasil yang paling tinggi dibandingkan dengan pupuk kompos paitan dan dan pupuk kompos eceng gondok (Tabel 5).

Tabel 5 Pengaruh Pupuk Kompos Paitan, Pupuk Kompos Eceng Gondok dan Pupuk Kompos Kirinyuh terhadap Rata-Rata Berat Segar Brangksan Tanaman Cabai Merah

Perlakuan Berat Segar

Brangkasan (g) Brangkasan (g)Berat Kering

A (Kontrol) 112,60a 38,06a

B (15 t ha-1pupuk kompos paitan ) 179,09b 65,32b

C (15 t ha-1pupuk kompos eceng gondok) 195,59b 67,73c

D (15 t ha-1pupuk kompos kirinyuh) 286,38c 76.08d

Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh notasi huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan beda tidak nyata berdasarkan Uji lanjut Duncan pada taraf 5%

Berdasarkan rata-rata berat segar brangkasan yang dihasilkan oleh masing-masing perlakuan. Pemberian pupuk kompos kirinyuh mampu menghasilkan berat segar berangksan tertinggi dengan rata-rata yaitu 286,38 g tan-1 dan berat segar brngkasan terendah dicapai pada tanpa perlakuan (kontol) sebesar 112,60 g tan-1.

Pada pupuk kompos kirinyuh kandungan unsur nitrogennya lebih tinggi dibandingkan dengan pupuk kompos paitan maupun eceng gondok. Unsur nitrogen diperlukan untuk pertumbuhan vegetatif, dengan pertumbuhan vegetatif yang aktif hasil fotosintesis digunakan untuk pertumbuhan akar, batang dan daun sehingga berat segar brangkasan akan naik. Hal ini sesuai dengan pendapat Dwijosapoetra (1986), yang mengatakan berat segar brangkasan tanaman dipengaruhi oleh unsur N yang diserap tanaman, kadar air dan kandungan unsur hara yang ada dalam sel-sel jaringan tanaman.

Pada pupuk kompos paitan dan pupuk kompos eceng gondok berdasarkan analisis ragam yang terlihat pada Tabel 5 menunjukan bahwa keduanya berbeda tidak nyata. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan pupuk kompos paitan mampu memberikan hasil yang sama dengan pupuk

kompos eceng gondok, yaitu dengan rata-rata berat segar brangksan sebesar 179,09 g tan-1 dan 195,59 g tan-1.

Pada Tabel 5terlihat bahwa semua pemberian pupuk kompos memberikan pengaruh berbeda nyata terhadap kontrol. Sedangkan hasil terbaik didapat pada perlakuan pupuk kompos kirinyuh yaitu sebesar 76,08 g tan-1. Hal ini dikarenakan didalam pupuk kompos kirinyuh mengandung beberapa unsur hara, diantaranya yaitu unsur nitrogen dan fosfor.Fungsi unsur P yaitu meningkatkan daya serap tanaman terhadap unsur hara, dikarenakan unsur P dapat meningkatkan perkembangan akar.Selain itu unsur N yang terkandung dalam kompos kirinyuh juga berpengaruh dalam meningkatkan bobot kering brangkasan tanaman.Sejalan dengan pendapat Subhan dan Nikardi (1998), bahwa bobot kering brangkasan tanaman, tinggi tanaman, dan jumlah daun banyak dipengaruhi oleh pertumbuhan vegetatif akibat pengaruh dari pemberian nitrogen.

Unsur P pada pupuk kompos kirinyuh sebesar 1,14% berperan penting dalam pertumbuhan sel tanamanbaru pada tanaman cabai merah, sehingga dapat meningkatkan rata-rata berat kering brangkasan tanaman yang diperoleh. Selanjutnya Tisdale dan Nelson (1984) mengemukakan bahwa ketersediaan unsur yang baik dapat meningkatkan berat kering yang dihasilkan oleh tanaman karena unsur hara mineral berperan dalam proses pembentukan berat kering dan salah satu komponen pembentuk berat kering brangkasan tanaman.Berat kering brangkasan tanaman dapat dijadikan suatu acuan untuk menyatakan laju pertumbuhan vegetatif tanaman, karena paling sedikit 90% bahan keringtanaman adalah hasil dari fotosintesis,maka analisis pertumbuhan umumnya dinyatakan dengan bobot kering brangkasan, terutama untuk mengukur tanaman sebagai penghasil fotosintat (Goldsworthy dan Fisher, 1992).

Nisbah Pupus Akar (%)

Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa pupuk kompos paitan, pupuk kompos eceng gondok dan pupuk kompos kirinyuhmenunjukkan pengaruh tidak nyata terhadap nisbah pupus akar (Tabel 7).

Tabel 6menunjukan bahwa pemberian pupuk kompos paitan, kompos eceng gondok dan pupuk kompos kirinyuh sebanyak 450 g tan-1tidak berpengaruh nyata terhadap nisbah pupus akar tanaman cabai merah.Hal ini diduga keadaan cuaca yang kurang mendukung yaitu curah hujan dan kelembaban yang tinggi.Pertumbuhan akar tidak optimum, karena aerasi buruk dan tanah menjadi lembab.Kondisi ini kurang baik bagi perakaran tanaman, sehingga akar tidak dapat tumbuh dengan optimal (Intan, 2007).

Tabel 6. Pengaruh Pupuk Kompos Paitan, Pupuk Kompos Eceng Gondok dan Pupuk Kompos Kirinyuh terhadap Rata-Rata Nisbah Pupus Akar Tanaman Cabai Merah

Perlakuan Nisbah Pupus Akar (%)

A (Kontrol) 10,10a

B (15 t ha-1pupuk kompos paitan ) 12,85a

C (15 t ha-1pupuk kompos eceng gondok) 10,96a

D (15 t ha-1pupuk kompos kirinyuh) 11,03a

Keteranga: Angka-angka yang diikuti oleh notasi huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan beda tidak nyata berdasarkan Uji lanjut Duncan pada taraf 5%

Nisbah pupus akar (NPA) merupakan perbandingan bobot kering bagian atas tanaman (pupus tajuk) dan bobot kering bagian akar tanaman. Pertumbuhan akar yang optimal tidak dapat dilepaskan dari pertumbuhan bagian pupusnya, karena energi yang digunakan untuk keperluan tersebut diperoleh dari hasil fotosintesis yang terjadi di bagian atas tanaman (pupus). Oleh karena itu pertumbuhan bagian atas tanaman (pupus) yang tinggi juga akan meningkatkankearah bawah bagian tanaman (akar).

Penyerapan unsur hara yang cukup dan seimbang akan menghasilkan pertumbuhan tanaman yang baik. Namun, hal ini tidak terjadi dengan sempurna karena bagian atas tanamanterkena serangan hama,yang mengakibatkan daun berlubang. Sehingga proses fotosintesis

tidak berjalan sempurna yang berakibat translokasi hasil fotosintat menjadi terganggu.Selain itu, hasil fotosintat pun diduga lebih diarahkan ke perkembangan bobot buah.Sehingga perkembangan tajuk dan akar pun kurang optimal.

Pengamatan nisbah pupus akar dilakukan untuk mengetahui tingkat perkembangan tanaman yaitu akar dan daun terhadap perlakuan yang diberikan.Menurut Fitter dan Hay (1998), nisbah pupus akar memiliki sifat yang sangat plastis (mudah berubah), sehingga menyebabkan pupuk kompos paitan, pupuk kompos eceng gondok dan pupuk kompos kirinyuh tidak berpengaruh nyata terhadap nisbah pupus akar.Nisbah pupus akar merupakan petunjuk yang baik tentang pengaruh lingkungan terhadap pertumbuhan tanaman.Meningkatnya nisbah pupus akar, dipengaruhi beberapa faktor seperti suplai nitrogen, suplai air, oksigen dalam tanah, dan suhu tanah.

Nisbah pupus akar mencerminkan pembagian hasil fotosintat dalam pertumbuhan tanaman.Nisbah pupus akar yang bernilai lebih dari satu menunjukkan pertumbuhan tanaman lebih ke arah pupus, sedangkan nisbah pupus akar yang bernilai kurang dari satu menunjukkan pertumbuhan tanaman lebih ke arah akar.Hasil nisbah pupus akar yang lebih dari satu pada semua perlakuan membuktikan bahwa distribusi fotosintat lebih ke arah pupus (Lizawati et al., 2014).

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

1. Pemberian pupuk organik baik berupa pupuk kompos paitan, pupuk kompos eceng gondok dan pupuk kompos kirinyuh mampu memberikan pengaruh nyata terhadap parameter pengamatan pertumbuhan berupa tinggi tanaman, berat segar brangkasan dan berat kering brangkasan, namun tidak berbeda nyata terhadap luas daun dan nisbah pupus akar.

2. Pemberian pupuk kompos paitan, eceng gondok dan kirinyuh meningkatkan jumlah buah per tanaman dan berat buah per tanaman secara nyata.

DAFTAR PUSTAKA Agustina, L. 1990. Dasar Nutrisi Tanaman. Rineka Cipta. Jakarta.

Badan Pusat Statistik. 2013. Produksi Cabai Besar Tahun 2012 Naik 7,37 Persen dibandingkan Tahun Sebelumnya. Melalui http://www.bps.go.id/?news=1030. (20-12-2013). Jakarta Belinda R. Maharani, Tini Surtiningsih, Edy Setiti Wida Utami. 2013. Pengaruh Pemberian Pupuk

Hayati (Biofertilizer) Dan Media Tanam Terhadap Pertumbuhan Dan Produksi Tanaman Tomat (Lycopersicum esculentum Mill.).Universitas Airlangga, Surabaya.

Daryono, H., dan Z. Hamzah. 1979. Studi Mengenai Gulma Eupotarium odoratum Lyang Terdapat di Hutan Tectana Grandis LF.Lembaga Penelitian Hutan Bogor. Bogor

Djojosuwito, S. 2000. Azolla, Pertanian Organik dan multiguna. Kanisius Yogyakarta Dwijosapoetra, D. 1986. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Gramedia. Jakarta

Gardner, F. P., Pearce, R. B. dan Mitchell, R. L. 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya. Terjemaah H. Susilo. Universitas Indonesia Press. Jakarta.

Goldsworth, P.R., and N.M. Fisher. 1992. Fisiologi tanaman Budidaya Tropik. Terjemahan Tohari. Yogyakarta. Gajah Mada University Press

Fitter, A.H., dan R.K.M. Hay. 1998. Fisiologi Lingkungan Tanaman. Terjemahan S. Andani dan E. D. Purbayanti.Gadjah Mada University Press.Yogyakarta.

Hakim N. 2000.Kemungkinan penggunaan kirinyuh (Eupatorium odoratum) sebagai baahan organik dan unsur hara. Laporan Penelitian. P3IN Unand. Padang.

Hanum C. 2013. Pertumbuhan, Hasil, dan Mutu Biji Kedelai dengan Pemberian Pupuk Organik dan Fosfor. J. Agron. Indonesia 41 (3) : 209-214.

Haris. 2010. Pertumbuhan Dan Produksi Kentang Pada Berbagai Dosis Pemupukan. Jurnal Agrisistem. Vol. 6 No. 1.

Intan R. D. A. 2007. Fiksasi N Biologis Pada Ekosistem Tropis. Program Pascasarjana. Universitas Padjajaran. Bandung.

Jama, B. Palm CA, Buresh RJ, Niang A, Gachengo C, Nziguheba G dan Amadalo B. 2000. Tithonia diversifolia as a green manure for soil fertility improvement in western Kenya. Agroforestry System 49 : 201-221

Kartasapoetra, A.G dan Sutedjo. 2000. Pupuk dan Cara Pemupukannya. Rineka Cipta, Jakarta.

Lakitan B. 2001. Fisiologi Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman.PT. Raja Grafindo Persada.Jakarta.89 hal.

Lizawati, Elis Kartika, Yulia Alia, dan Rajjitha Handayani. 2014. Pengaruh Pemberian Kombinasi Isolat Fungi Mikoriza Arbuskula terhadap Pertumbuhan Vegetatif Tanaman Jarak Pagar (Jatropha Curcas L.) yang Ditanam pada Tanah Bekas Tambang Batu Bara. Biospecies Vol. 7 No.1, hal. 14-21.

Marsono.2004. Pupuk Akar dan Jenis Aplikasi. Penebar Swadaya. Jakarta

Nurjannah, I. Y., E. Santoso, D. Anggrowati. 2012. Pengaruh Beberapa Jenis Pupuk Kandang Terhadap Pertumbuhan dan Hasil tanaman Cabai Merah pada Tanah Gambut.Jurnal Fakultas Pertanian Universitas Tanjung Putra Pontianak.

Sahari P. 2005. Pengaruh Jenis Dan Dosis Pupuk Kandang Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman Krokot Landa (Talinum Triangulare Willd.).

Samekto. R. 2006. Pupuk Kandang. PT. Citra Aji Parama. Yogyakarta

Santoso B. 2006. Pemberdayaan Lahan Podsolik Merah Kuning dengan Tanaman Rosela (Hibiscus

sabdariffa L.) di Kalimantan Selatan.Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat.Volume

5 No 1.

Santoso M. 2000. Pertumbuhan dan Hasil Cabai Merah (Capsicum annum) pada Andisol yang Diberi Mikoriza, Pupuk Fosfor dan Zat Pengatur Tumbuh.[Tesis]. Universitas Brawijaya. Malang Sobir dan Siregar F. D. 2010.Budidaya Melon Unggul. Penebar Swadaya. Jakarta.

Subhan, A.H. dan G. Nikardi.1998. Penggunaan Pupuk Nitrogen Dan Pupuk Kandang Ayam Pada Tanaman Cabai Di Lahan Kering. J. Hort. Vol 9 (2): 1178 - 1181.

Sutejo, M. M. 2002. Pupuk dan Cara Pemupukan. Reneka Cipta. Jakarta. 177 hal Tjitrosoepomo. 1984. Biologi Jilid 2. Erlangga. Jakarta.

Pengaruh Pemberian Kombinasi Pupuk Organonitrofos dan Pupuk Kimia