3) Demobilisasi Peralatan
1.6. HASIL PELIBATAN MASYARAKAT
PT. Taman Harapan Indah sebagai pemrakarsa dan Kantor Kelurahan Pluit telah melaksanakan kegiatan konsultasi publik dan partisipasi masyarakat sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 17 Tahun 2012 tentang Pedoman Keterlibatan Masyarakat Dalam Proses AMDAL dan Izin Lingkungan. Konsultasi masyarakat ini telah dilakukan pada tanggal 11 Juni 2013, bertempat di Restoran Moonstar Jl. Pluit Utara Raya No. 56, Pluit dan dihadiri oleh Camat Penjaringan, Lurah Pluit, LMK, Pengurus RT/RW, BPLHD Provinsi DKI Jakarta, KLH Kota Administrasi Jakarta Utara serta Tokoh Masyarakat dan nelayan dari Kelurahan Pluit. Keterlibatan masyarakat dan keterbukaan informasi dalam proses AMDAL merupakan hal yang penting bagi kelanjutan dari rencana kegiatan Reklamasi Pulau H ini. Dialog berkesinambungan bersama masyarakat sekitar yang diprakirakan akan terkena dampak langsung dan tidak langsung telah dilaksanakan dan hubungan dengan masyarakat sekitar akan tetap dipelihara. Rangkuman hasil konsultasi publik tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Josef Mangondow Kabuloh (Rw.06/Rt.21, Jl.Taman Pluit Kencana Utara No.53, Pluit)
a. Dampak negatf banjir ROB harus diutamakan, antisipasi banjir pemukiman warga di daratan.
b. Sheetpile pantai mix dengan program Pemda DKI yaitu membangun terlebih dahulu dengan tanggul raksasa yang pembiayaannya sudah jelas (APBN dan APBD, Swasta/Consorsium)
c. Pengalaman: pembangunan Pluit City berdampak negatif bagi PLTU, supplier listrik Jawa-Bali. Sekarang akibat pembangunan Pluit City produktivitas PLTU tinggal 70%. Kalau reklamasi 15 pulau dilaksanakan, produktivitasnya mungkin tinggal 20%. Apakah dampak negatif seperti itu sudah masuk dalam kajian Amdal yang dimaksud, belum lagi dampak negatif bagi kehidupan komunitas kelautan: rumpon, biota laut, terumbu karang, dll.
2. Rudy Trisno (Rw.015, Muara Karang 3B/11)
a. Permasalahan banjir jika terjadi, apa jaminannya yang lebih konkrit.
b. Permasalahan lalu lintas jika bagian reklamasi yang lain belum selesai bagaimana penanggulangannya.
3. H. Fahyumi N (Ketua Rw.01/04, Muara Angke)
a. Harapan saya selaku Ketua Rw.01 Muara Angke: pada prinsipnya saya setuju, namun saya mohon kepada PT.Taman Harapan Indah agar bisa memperhatikan dampak
b. Saran saya, agar di pinggiran Teluk Jakarta ini ada nelayan yang mengembangkan budidaya kerang hijau dan bagaimana nanti kalau reklamasi pantai tersebut dilakukan, dimana tempat budidaya kerang hijau dan rajungan untuk bisa berkarya/bekerja.
4. Nugroho Syam Subagiyo (UPT. Pelabuhan Perikanan Muara Angke)
a. Reklamasi pulau harus mengacu pada UU No.28 Tahun 2007 tentang pengelolaan pantai, pesisir pulau pulau kecil khususnya Rencana Tata Ruang Pantai, Pesisir yang diimplementasikan melalui Perda.
b. Reklamasi Pulau H tidak mengganggu akses keluar masuk kapal, nelayan/perikanan yang basecampnya di Pelabuhan Perikanan Muara Angke.
c. Memberikan kompensasi kepada para nelayan yang terkena dampak lingkungan dari kegiatan reklamasi (berupa sarana operasional penangkapan ikan).
5. Suherman (Kelompok Usaha Bersama Nelayan Muara Angke)
a. Penyampaian materi sosialisasi oleh konsutan Amdal (bapak Susanto) sangat jelas tidak seperti sosialisasi amdal sebelumnya kurang jelas dan tidak menguasai materi.
b. Apa yang akan saya tanyakan semuanya sudah dijelaskan oleh konsultan amdal dengan baik sehingga tidak ada yang akan saya sampaikan lagi.
c. Saya hanya mengharapkan agar pengembang dapat menciptakan lapangan pekerjaan khususnya buat nelayan tradisional.
d. Agar lebih memperhatikan nasib nelayan-nelayan kecil dari segi pendidikan anak-anak nelayan.
6. Yudianto (Rw.011 Muara Angke Blok F/8, Rt.006/011, Kel. Pluit)
a. Harus ada jaminan terhadap nelayan tradisional Muara Angke untuk dapat keluar masuk lokasi kegiatan.
b. Pada saat pembangunan pulau, tidak mengganggu aktivitas nelayan tradisional. c. Harus ada solusi yang saling menguntungkan akibat dari pembangunan Pulau H.
7. Iis Aris (LMK 020, Rt.04/Rw.020, Perumahan Cinta Kasih Tzu-chi 2, Blok B1-3C, Muara Angke)
a. Pada dasarnya saya setuju saja, asalkan warga kami yang berasal dari ekonomi menengah ke bawah dapat menjadi bagian SDM di dalam pekerjaan Pulau H. Termasuk para nelayan tradisional yang nanti pada akhirnya dapat berpotensi di dalam Pulau H tersebut, mengingat jarak mata pencaharian nelayan dari daratan wilayah Muara Angke menjadi sangat jauh. Mohon diberi solusi untuk itu.
8. Andi Jefluddin (Muara Angke Rt.005/27 Rw.02, Pluit Jakarta Utara) a. Melibatkan warga setempat dalam proses pembangunannya. b. Ramah lingkungan dan ramah nelayan.
c. Agar nelayan pesisir diizinkan untuk mencari ikan di sekitar pulau yang akan dibangun dan dapat menjadi sarana untuk pariwisata.
d. Memberikan bantuan untuk kepentingan masyarakat guna untuk pendidikan warga yang berlokasi di Muara Angke.
e. Membuat jalan/akses jalan sendiri baik dalam masa pembangunan ataupun setelah selesai pembangunan.
9. Ponisih (Warga Kel. Pluit)
a. Jangan menghambat lalu lintas nelayan. b. Agar memperhatikan banjir ROB. c. Nelayan harus diperhatikan.
d. Dampak lingkungan harus diperhatikan. 10. Yati (Warga Rw.04/Rt.03, Muara Angke)
a. Reklamasi Pulau H sosialisasinya sangat diterima, beda dengan sosialisasi reklamasi yang sudah-sudah. Narasumber/ konsultan Amdalnya sangat menguasai bidangnya.
11. Riadi (Warga Rw.10, Muara Karang)
a. Penjelasan oleh konsultan/narasumber (bapak Susanto) sangat sistematis, penyampaiannya sangat jelas dan menguasai permasalahan reklamasi sehingga dapat kami terima. Berbeda dengan sosialisasi sebelumnya tidak jelas dan tidak menguasai permasalahan sehingga kami menolak.
b. Antara pulau-pulau dengan daratan akan terjadi pendangkalan/endapan, agar hal ini diperhatikan dan menjadi tanggung jawab siapa?
c. Akses nelayan tradisional jangan sampai terganggu akibat pendangkalan tersebut. d. Agar ada jaminan bagi nelayan untuk bisa masuk/mendekat ke lingkungan sekitar proyek. e. Agar diberi kebebasan bagi nelayan mendarat/berlabuh/sandar kapal.
12. Fauzi (Warga Rw.011)
a. Regulasi undang-undang pengelolaan pesisir (UU No.27 dan UU No.17 tentang pelayaran) agar diacu dalam kajian Amdal.
b. Akses nelayan agar tetap dipertimbangkan. 13. Subando (Warga Rw.06)
a. Implementasi Amdal agar diperhatikan.
b. Agar lebih berpihak kepada masyarakat dan lingkungan. c. Pemukiman penduduk eksisting cenderung terkena banjir ROB. d. Produktivitas PLTU Muara Karang agar diperhatikan
14. Nugroho (Warga Rt.06)
a. Bagaimana situasi lingkungan setelah reklamasi?
b. Banjir ROB dilingkungan pemukiman nelayan sering terjadi agar diperhatikan. c. Jarak pantai Mutiara dengan Pulau H ± 300 meter, agar diperhatikan.
15. H. Yan M. Sasmita
a. Banjir ROB saat ini cukup tinggi di lingkungan masyarakat/pemukiman nelayan. b. Harapan nelayan agar proyek ini jangan merusak tatanan kehidupan nelayan. c. Agar memperhatikan kekeruhan air laut agar tidak mematikan biota laut.
d. Agar memperhatikan kehidupan nelayan, jangan menghambat lalu lintas nelayan. e. Lingkungan pantai agar diperhatikan dari pencemaran.
16. PLN/GM PLTU Muara Karang (bpk Rudy)
a. Selama ini telah dilakukan koordinasi intensif dengan kami terkait dengan rencana Reklamasi Pulau H.
b. Kami berharap koordinasi yang sudah baik selama ini dapat dipertahakan/ditingkatkan sehingga dampak reklamasi terhadap lingkungan sekitarnya (PLTU Muara Karang) dapat dihindari.
17. Camat Penjaringan (Bpk. Rusdiyanto)
a. Pengembang agar lebih arif dalam memperhatikan kepentingan masyarakat dan lingkungan.
b. Penataan dan perbaikan infrastruktur perlu diperhatikan. c. Agar pengembang melakukan CSR bagi masyarakat sekitar. Tanggapan Konsultan PT Geo Mitrasamaya (Bpk Khoe Susanto)
1. Konsep Reklamasi Pantura Jakarta terintegrasi dengan konsep Revitalisasi, dua hal yang tidak dapat dipisahkan.
2. Pemrakarsa reklamasi (PT Taman Harapan Indah) mempunyai hak untuk melaksanakan reklamasi Pulau H, namun juga mempunyai kewajiban revitalisasi yang akan ditandatangani melalui Perjanjian Kerjasama (PKS) antar Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dengan PT Taman Harapan Indah. Di dalam PKS terdapat kewajiban-kewajiban yang harus dilaksanakan oleh pengembang (PT Taman Harapan Indah) yang nantinya diimplementasikan ke dalam Program-program CSR bagi Nelayan dan masyarakat pantai sekitar Pulau H (Kelurahan Pluit).
3. Masyarakat harap bersabar, karena reklamasi saat ini belum dilaksanakan, nantinya setelah lahan reklamasi terbentuk akan dilakukan pembangunan di atasnya sekaligus dengan program Revitalisasi dan program CSR bagi masyarakat pesisir dan nelayan.
4. Saat ini Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah memanggil semua pengembang untuk meminta keseriusan membangun di Jakarta, tidak hanya memiliki izin semata. Tujuannya agar pengembang segera membangun dan berpartisipasi dalam program Revitalisasi dan CSR bagi masyarakat sekitar proyek.
5. Untuk penanggulangan ROB ada 2 (dua) skenario, yaitu jangka pendek melalui pembentukan/penguatan tanggul di pantai oleh Pemda Provinsi DKI Jakarta dan masing-masing pengembang dan jangka panjang Pemerintah Daerah dan Pemerintah Pusat membangun Tanggul Raksasa (Giant Sea Wall). Sedangkan untuk program pengendalian banjir di daratan melalui koordinasi wilayah Jabodetabekpuncur, Pengerukan dan Normalisasi
Sungai dan Waduk, pengendalian sampah, penyuluhan masyarakat di bantaran sungai dan waduk dan lain-lain.
6. Bentuk Pulau Reklamasi Pulau H berjarak 300 m dari daratan dan antar pulau merupakan hasil kajian Replanning Pulau Reklamasi yang kemudian ditetapkan Melalui Peraturan Gubernur No. 121 Tahun 2012 mengenai Penataan Ruang Kawasan Reklamasi Pantura Jakarta yang penetapannya melalui kajian, diskusi, koordinasi dan kesepakatan bersama antar stakeholder yang berkepentingan dibantu berbagai pakar dari Perguruan Tinggi ternama di Indonesia.
7. Sebelumnya telah dilakukan KLHS Pantura Jakarta bersama dengan wilayah Tangerang dan Bekasi pada tahun 2010, sebagai bahan masukan bagi penyusunan Peraturan Gubernur No, 121 Tahun 2012 mengenai Penataan Ruang Kawasan Reklamasi Pantura Jakarta. KLHS dan Peraturan Gubernur No, 121 Tahun 2012 mengenai Penataan Ruang Kawasan Reklamasi Pantura Jakarta juga telah diakomodir dalam Perda No. 1 Tahun 2012 tentang RTRW Provinsi Jakarta 2013.
8. Bentuk Pulau Reklamasi Pulau H ini yang berjarak dengan daratan dan jarak antar pulau 300 m, dengan demikian telah mengakomodir berbagai isu lingkungan seperti : Banjir, Alur pelayaran, Aktivitas Nelayan, keberadaan PLTU Muara Karang dan lain-lain.
9. Di sekitar pulau H tidak terdapat Rumpon dan terumbu karang.
10. Pengangkutan material dan peralatan reklamasi mayoritas melalui transportasi laut, untuk menghindari gangguan transportasi darat yang saat ini kondisinya sudah jenuh.
11. Nantinya akan dibuat jembatan sementara dari daratan ke Pulau H untuk jalan kerja reklamasi, sedangkan antar Pulau Reklamasi nantinya akan dibangun jalan penghubung dari Timur ke Barat.
Tanggapan Pengembang (PT Taman Harapan Indah)
1. Terimakasih atas berbagai saran masukan ibu dan bapak sekalian. Saran masukan ibu dan bapak akan kami perhatikan, terutama berbagai potensi dampak yang akan muncul pada saat reklamasi Pulau H.
2. Saat ini sesuai Persetujuan Prinsip Gubernur Provinsi DKI Jakarta mengenai Reklamasi Pulau H yang sudah kami peroleh, kami sedang melakukan berbagai kajian seperi : Kajian Hidrodinamika, kajian penanggulangan banjir, amdal, master plan dan Panduan Rancang Kota (UDGL) pemanasan global dan lain-lain.
3. Terkait dengan kewajiban kami sebagai pengembang, akan dibuat Perjanjian Kerjasama (PKS) antara PT Taman Harapan Indah dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
4. Program bantuan sosial kemasyarakatan (CSR) untuk masyarakat nelayan dan pesisir (Warga Kelurahan Pluit dan sekitarnya) akan kami perhatikan dan nantinya akan kami koordinasikan dengan pihak-pihak terkait.
5. Sebelum pelaksanaan reklamasi Pulau H kami akan berkoordinasi dengan instansi terkait dan kegiatan sekitar (PLTU Muara Karang).
6. Kami akan melaksanakan reklamasi sesuai arahan Persetujuan Prinsip dan rekomendasi dari berbagai Instansi terkait.
1.7. DAMPAK PENTING HIPOTETIK