NESTRA-JURNAL
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
I. Hasil Penelitian
4.1Pelaksanaan Komunikasi Perawat Terhadap Pasien Di Ruang Bedah rumah Sakit Umum Daerah Deli Serdang Lubuk Pakam
Tabel 4.1 Distribusi Responden Berdasarkan Kategori Penilaian Pelaksanaan Komunikasi Perawat Terhadap Pasien Di Ruang Bedah rumah Sakit Umum Daerah Deli Serdang Lubuk Pakam N o Komunika si Perawat Frekuen si (f) Persentas e (%) 1 Baik 6 60,0 2 Kurang Baik 4 40,0 Total 10 100,0
Tabel 4.1 di atas menunjukkan bahwa komunikasi terapeutik baik sebanyak 6 orang (60,0%) dan komunikasi terapeutik kurang baik sebanyak 4 orang (40,0%).
4.2Kecemasan Pasien Pra Operatif Di Ruang Bedah rumah Sakit Umum Daerah Deli Serdang Lubuk Pakam
Tabel 4.2 Distribusi Responden Berdasarkan Kategori Penilaian Kecemasan Pasien Pra Operatif Di Ruang Bedah rumah Sakit Umum Daerah Deli Serdang Lubuk Pakam
No Kecemasan Frekuensi (f)
Persentase (%)
1 Tidak ada kecemasan - -
2 Kecemasan ringan 7 70,0
3 Kecemasan sedang 3 30,0
4 Kecemasan berat - -
Total 10 100,0
Tabel 4.2 di atas menunjukkan bahwa responden yang mengalami kecemasan ringan sebanyak 7 orang
(70,0%) dan kecemasan sedang sebanyak 3 orang (30,0%).
4.3Hubungan Komunukasi
Keperawatan Dengan Tingkat Kecemasan Pasien Pra Operatif di Ruang Bedah Rumah Sakit Umum Daerah Deli Serdang Lubuk Pakam Tahun 2015
Hubungan Komunukasi
Keperawatan Dengan Tingkat Kecemasan Pasien Pra Operatif di Ruang Bedah Rumah Sakit Umum Daerah Deli Serdang Lubuk Pakam Tahun 2015 dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 4.3 Hubungan Komunukasi
Keperawatan Dengan
Tingkat Kecemasan Pasien Pra Operatif di Ruang Bedah Rumah Sakit Umum Daerah Deli Serdang Lubuk Pakam Tahun 2015
Berdasarkan hasil uji statistik dengan menggunakan uji Chi Squere
menunjukan bahwa pValue (=0.006) < α (=0,05). Maka dapat disimpulkan bahwa Ha diterima yaitu ada Hubungan Komunukasi Keperawatan Dengan Tingkat Kecemasan Pasien Pra Operatif.
II. Pembahasan
4.4Pelaksanaan Komunikasi Perawat Terhadap Pasien Di Ruang Bedah rumah Sakit Umum Daerah Deli Serdang Lubuk Pakam
Berdasarakan analisis dan interpretasi data yang didapat bahwa komunikasi terapeutik baik sebanyak 6 Komunuk
asi Keperawa tan
Kecemasan Pasien Pra
Operatif Total p Value
Ringan Sedang f % F % f % 0,006 Baik 5 50,0 1 10,0 6 60,0 Kurang Baik 2 20,0 2 20,0 4 40,0 Total 7 70,0 3 30,0 10 100,0
24 Komunikasi yang baik dari perawat kepada pasien yang akan menghadapi operasi dapat menciptakan suatu persepsi yang baik bagi pasien terhadap perawat. Komunikasi yang disampaikan kepada pasien secara baik diharapkan dapat menurunkan tingkat kecemasan kepada pasien. Persepsi yang terbagun dari adanya penilaian yang baik pada akhirnya akan menjadikan meningkatnya kepercayaan pasien terhadap proses operasi (Nurjanah, 2009).
Berdasarkan penelitian dari Woro Hapsari di RSD Panembahan Senopati bantul dari bulan Juli - Agustus dengan sampel 30 pasien, didapatkan hasil pasien dengan kecemasan ringan 70% (21 responden), kecemasan sedang 26,7% (8 responden) dan kecemasan berat 3,3% (1 responden). Hal ini menunjukkan bahwa ternyata ada hubungan yang bermakna antara pemberian pendidikan kesehatan pre operasi terhadap tingkat kecemasan pada pasien. Salah satu tindakan keperawatan yang merupakan tindakan pokok dari seorang perawat ialah memberikan komunikasi terapeutik karena merupakan komponen esensial dalam asuhan keperawatan dan diarahkan pada kegiatan meningkatkan, mempertahankan dan memulihkan status kesehatan, mencegah penyakit dan membantu individu untuk mengatasi efek sisa penyakit.
Komunikasi merupakan alat yang efektif untuk memengaruhi tingkah laku manusia, sehingga komunikasi dikembangkan dan dipelihara secara terus menerus. (Mundakir 2006) Komunikasi therapeutik termasuk komunikasi interpersonal yaitu komunikasi antara orang-orang secara tatap muka yang memungkinkan setiap pesertanya menangkap reaksi orang lain secara langsung, baik secara verbal maupun non verbal.
Komunikasi terapeutik adalah kemampuan perawat untuk membantu klien beradaptasi terhadap stres, mengatasi
lain, Norhouse dalam Nunung Nurhasanah, (2010). Karena komunikasi merupakan proses yang sangat khusus dan paling bermakna perilaku manusia. Pada profesi keperawatan, komunikasi menjadi lebih bermakna karena merupakan metode utama dalam mengimplementasikan tindakan yang menyangkut dalam bidang kesehatan (Christina Lia Uripni 2003).
Komunikasi terapeutik didefinisikan sebagai komunikasi yang direncanakan secara sadar, bertujuan dan kegiatannya difokuskan untuk kesembuhan pasien, dan merupakan komunikasi profesional yang mengarah pada tujuan untuk penyembuhan pasien yang dilakukan oleh perawat atau tenaga kesehatan lainnya, (Christina Lia Uripni 2003). Hubungan perawat-pasien yang terapeutik adalah pengalaman belajar bersama dan pengalaman perbaikan emosi klien. Dalam hal ini perawat memaknai dirinya secara terapeutik dengan menggunakan berbagai teknik komunikasi agar perilaku klien berubah ke arah yang positif. Komunikasi terapeutik tidak dapat berlangsung dengan sendirinya, tapi harus direncanakan, dipertimbangkan, dan dilaksanakan secara profesional. Seorang perawat tidak akan dapat mengetahui tentang kondisi klien jika tidak ada kemampuan menghargai keunikan klien. Melalui komunikasi terapeutik diharapkan perawat dapat menghadapi, mempersepsikan, bereaksi, dan menghargai keunikan klien.
4.5Kecemasan Pasien Pra Operatif Di Ruang Bedah rumah Sakit Umum Daerah Deli Serdang Lubuk Pakam
Berdasarakan analisa dan interpretasi data yang didapat bahwa responden yang mengalami kecemasan ringan sebanyak 7 orang (70,0%) dan kecemasan sedang sebanyak 3 orang (30,0%).
Kecemasan adalah kebingungan, kekhawatiran pada sesuatu yang akan terjadi dengan penyebab yang tidak jelas
25 dan dihubungkan dengan perasaan tidak menentu dan tidak berdaya. Kecemasan juga merupakan respon individu terhadap suatu keadaan yang tidak menyenangkan dan dialami oleh semua makhluk hidup dalam kehidupan sehari-hari (Siti, 2010).
Kecemasan adalah keadaan dimana seorang mengalami perasaan gelisah/cemas dan aktivasi sistem syaraf otonom dalam berespon terhadap ancaman yang tidak jelas, tak spesifik. Seseorang yang mengalami ansietas tidak dapat mengidentifikasi ancaman. Ansietas dapat terjadi tanpa rasa takut namun ketakutan biasanya tidak terjadi tanpa ansietas. Kecemasan adalah suatu perasaan yang sifatnya umum, dimana seseorang merasa ketakutan atau kehilangan kepercayaan diri yang tidak jelas asal maupun wujudnya (Wiramihardja, 2010).
Menurut Kaplan kecemasan adalah respon terhadap situasi tertentu yang mengancam, dan merupakan hal yang normal terjadi menyertai perkembangan, perubahan, pengalaman baru atau yang belum pernah dilakukan, serta dalam menemukan identitas diri dan arti hidup. Kecemasan adalah reaksi yang dapat dialami siapapun. Namun cemas yang berlebihan, apalagi yang sudah menjadi gangguan akan menghambat fungsi seseorang dalam kehidupannya. Kecemasan merupakan suatu perasaan subjektif mengenai ketegangan mental yang menggelisahkan sebagai reaksi umum dari ketidakmampuan mengatasi suatu masalah atau tidak adanya rasa aman. Perasaan yang tidak menentu tersebut pada umumnya tidak menyenangkan yang nantinya akan menimbulkan atau disertai perubahan fisiologis dan psikologis ( Hawari, 2013).
4.6Hubungan Komunukasi
Keperawatan Dengan Tingkat Kecemasan Pasien Pra Operatif di Ruang Bedah Rumah Sakit Umum Daerah Deli Serdang Lubuk Pakam Tahun 2015
Berdasarkan hasil uji statistik dengan menggunakan uji Chi Squere
menunjukan bahwa pValue (=0.006) < α (=0,05). Maka dapat disimpulkan bahwa Ha diterima yaitu ada Hubungan Komunukasi Keperawatan Dengan Tingkat Kecemasan Pasien Pra Operatif.
Salah satu faktor kegagalan menjalankan terapi adalah ketidakpatuhan terhadap terapi yang disebabkan oleh kurangnya dukungan sosial dari keluarga atau kerabat. Hal ini didukung oleh penelitian Cahyadi 2006, di Ruang Cendana I RSUD Dr. Moewardi Surakarta tentang hubungan antara support system
keluarga dengan kepatuhan pengobatan pada pasien yang mendapat kemoterapi membuktikan ada hubungan yang bermakna antara support system keluarga dengan kepatuhan berobat jalan.
Berdasarkan penelitian Uli Asima Simanjuntak tentang Hubungan Pengetahuan Perawat tentang Komunikasi Terapeutik Terhadap Penurunan Tingkat Kecemasan Pasien Pre Operatif di RS.Elisabeth Medan 2011 menggambarkan bahwa situasi operasi merupakan situasi yang diwarnai suasana cemas, baik bagi pasien dan keluarganya. Sehingga peran perawat dan tenaga kesehatan lain perlu memberikan perhatian dalam upaya mengurangi kecemasan sekaligus menurunkan resiko operasi yang dapat timbul karena pasien tidak kooperatif dan mengganggu proses penyembuhan. Oleh sebab itu, bila perawat tidak berperan aktif dalam memberikan dukungan dan motivasi kepada pasien maka tingkat kecemasan pasien akan terus meningkat dan merasa takut dalam menjalani tindakan keperawatan sebelum operasi. Untuk itu, pasien yang akan menjalani operasi harus diberi komunikasi terapeutik untuk menurunkan atau mengurangi gejala kecemasan serta dapat meningkatkan pengetahuan kesehatan pada pasien.
Pasien yang diajak mendiskusikan masalah kesehatan yang dihadapinya, akan merasa terayomi dan mendapat perhatian
26 yang terjadi antara perawat dan pasien merupakan komunikasi yang mengarah pada penemuan masalah keperawatan melalui pengkajian sampai pada evaluasi dari hasil tindakan dari kebuntuan komunikasi terapeutik Abdul Nasir dalam Siti Fatmawati, (2010).
Disamping itu, perawat harus lebih berkompeten menjadi seseorang komunikator yang efektif, perawat memakai dirinya secara terapeutik dengan menggunakan teknik komunikasi agar perilaku pasien berubah kearah yang positif seoptimal mungkin dan perawat dapat menghadapi, mempersepsikan, bereaksi dan menghargai keunikan klien (Mundakhir, 2006).
Dengan demikian, komunikasi terapeutik perawat adalah hal yang sangat penting karena komunikasi terapeutik adalah salah satu bentuk intervensi dalam pemberian asuhan keperawatan pada pasien di suatu instansi/ rumah sakit. Studi pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti di Rumah Sakit Umum Daerah Lubuk Pakam. Pada tanggal 5 April 2015 dengan mewawancarai 5 angota keluarga mengenai komunikasi antara perawat dengan anggota keluarga, tiga anggota keluarga menyatakan perawat dirasakan kurang memberikan informasi terbaru mengenai kondisi pasien, kondisi tersebut menjadikan anggota keluarga menjadi lebih kahwatir. Dua anggota keluarga menyatakan bahwa justru anggota keluarga yang lebih aktif mencari informasi mengenai kondisi pasien, namun tidak mendapat informasi yang baik dari perawat, menurut anggota keluarga apabila perawat memberikan informasi kondisi pasien kurang bisa di pahami oleh anggota keluarga, dimana perawat masih banyak menggunakan istilah bahasa medis sehingga mempersulit pemahaman anggota keluarga.
Berdasarkan hasil uji statistik dan pembahasan tersebut diatas bahwa dapat disimpulkan bahwa Hubungan Komunukasi Keperawatan Dengan Tingkat Kecemasan Pasien Pra Operatif di Ruang Bedah Rumah Sakit Umum Daerah Deli Serdang Lubuk Pakam Tahun 2015:
1. Komunukasi Keperawatan yaitu mayoritas komunikasi terapeutik baik sebanyak 6 orang (60,0%).
2. Kecemasan Pasien Pra Operatif yaitu mayoritas responden yang mengalami kecemasan ringan sebanyak 7 orang (70,0%).
3. Ada Hubungan Komunukasi Keperawatan Dengan Tingkat Kecemasan Pasien Pra Operatif nilai p(=0,006) < α(=0,05) .
b. Saran 1. Bagi Pasien
Agar dapat mengendalikan tingkat kecemasan supaya pasien benar-benar siap dalam menghadapi masa operasi.
2. Bagi Institusi Pendidikan
Agar dapat meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam meningkatkan pengetahuan dan sikap mahasiswa dalam memeberikan asuhan keperawatan pada pasien.
3. Bagi Peneliti Selanjutnya
Agar dapat mengembangkan penelitian yang mengenai faktor lain yang dapat mengatasi tingkat kecemsan pasien pra operatif.