NESTRA-JURNAL
RAHMAD GURUSINGA STIKes MEDISTRA Lubuk Pakam
C. Pengaruh Tindakan Perawatan Luka Terhadap Penyembuhan Luka
C. Pengaruh Tindakan Perawatan Luka Terhadap Penyembuhan Luka Pada Pasien Dengan Ulkus Diabetik Di Rumah Sakit Umum Daerah Deli Serdang Lubuk Pakam Tahun 2013
Rata-rata pencegahan luka pertama 7,54 dengan standar deviasi (SD) 2,648 pada pengukuran kedua didapatkan rata-rata pencegahan luka 5,92 dengan standar deviasi (SD) 2,963, terlihat nilai mean antara pengukuran pertama dan kedua 1,62 dengan standar deviasi (SD) 0,315. Hasil Uji statistik didapatkan nilai p=
0,001 (α=0,05) maka dapat
disimpulkan ada pengaruh pemberian posisi miring kanan dan miring kiri untuk mengurangi luka dekubitus pada pasien stroke hemoragik.
48 akibat tirah baring lama adalah dengan memberikan perawatan yang baik diantaranya dengan merubah posisi miring kanan dan miring kiri setiap 2 jam. Tindakan pengaturan atau penggantian posisi bermanfaat untuk menghindari luka tekan (dekubitus) serta mencegah pemendekan otot dan ligament. Pada umumnya karena fase pemulihan stroke yang cukup lama dan pasien lama tidak bergerak, luka tekan pada tonjolan-tonjolan tulang tidak dapat terhindari. Daerah-daerah seperti tulang ekor, punggung, panggul dan tumit merupakan tempat paling sering untuk terjadinya luka tekan (Morison, 2009).
Hasil penelitian Dwiyanti (2012) menunjukan bahwa pada subyek yang mengalami dekubitus terjadi pada ketujuh perawatan dengan diagnosa stroke. Pasien stroke dengan gangguan mobilisasi beresiko tinggi terjadi dekubitus karena adanya penekanan pada bagian tubuh secara terus-menerus akibat ketidakmampuan pasien di dalam mengubah posisi tubuh secara mandiri. Pada pemberian perubahan posisi tirah baring didapatkan angka kejadian dekubitus sebanyak 13,3 % dari 15 pasien dengan stadium 1 pada hari ke-7 perawatan.
Penelitian dilakukan oleh Tarihoran E, (2010). Yang berjudul
pengaruh posisi miring 30 derajat terhadap kejadian luka tekan grade I pada pasien stroke di RS Siloam
Jakarta. Dengan metode quasy
eskperimen, pada 33 responden yang
terbagi dalam 2 group yaitu kelompok kontrol 16 responden dan kelompok intervensi 17 responden. Gambaran karakteristik dari 33 responden penelitian dimana rata-rata usia responden adalah 65 tahun, dengan usia paling muda adalah 45 dan yang tertua 85 tahun. Intervensi yang dilakukan adalah dengan posisi miring
jam dan miring kearah yang sehat 2 jam. Didapatkan hasil bahwa pemberian posisi miring 30 derajat untuk mencegah kejadian luka tekan, ditemukan bahwa terdapat 6 (37.5%) responden pada kelompok control mengalami luka tekan. Sedangkan pada kelompok intervensi terdapat 1 (5.9%) responden terjadi luka tekan. Hasil uji statistik diperoleh nilai p= 0.039, disimpulkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara pengaturan posisi dengan kejadian luka tekan. Diperoleh pula nilai OR= 9.600, artinya responden yang tidak diberi perlakuan posisi miring 30 derajat mempunyai peluang 9.6 kali untuk terjadi luka tekan dibanding dengan responden yang diberi perlakuan posisi miring 30 derajat. Pada kelompok intervensi ditemukan satu orang responden yang mengalami luka tekan
grade I (Non Blanchable Erythema)
pada area sakrum di daerah kuadran kanan atas. Sedangkan pada kelompok kontrol ada 6 responden yang mengalami luka tekan grade I (Non
Blanchable Erythema) masing-masing
dengan lokasinya: trokanter kanan, trokanter kiri + siku kiri, Trokanter kiri + tumit kiri, tumit kiri, trokanter kanan + siku kanan, sakrum kuadran kanan atas.
Penelitian yang dilakukan oleh Young, T (2011) tentang perbandingan posisi miring 30 derajat dengan miring 90 derajat pada 46 pasien. Intervensi yang dilakukan adalah dengan memberikan posisi miring pada 23 pasien dengan posisi miring 30 derajat dan 23 pasien lainnya dengan posisi miring 90 derajat. Yang dilakukan untuk mencegah luka tekan Gr I (nonblancakble Erythema). Hasil dari penelitian ini adalah bahwa posisi miring 30 derajat lebih efektif mencegah terjadinya luka tekan Grade
49 I pada pasien yang mengalami imobilisasi.
Penelitian lain dilakukan oleh Vanderwee (2010) tentang
Effectiveness of turning with unequal time intervals on the incidence of pressure ulcer lesions K. Vanderwee
(2010). Dengan menggunakan studi
eksperimen pada 235 responden yang terbagi dalam 2 group, yaitu 122 responden sebagai kelompok eksperimen dan 113 responden sebagai kelompok control, penelitian ini dilakukan pada tahun 2009 – 2010. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 16,4 % pada kelompok eksperimen mengalami luka tekan (gr 2-4). Sedangkan 21,2 % terjadi luka tekan pada kelompok control. Juga disebutkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan secara statistic antara reposisi 2 jam miring kanan, 4 jam terlentang dan 2 jam miring kiri dengan perubahan posisi secara bergantian setiap 4 jam.
KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil uji statistic dan pembahasan tersebut diatas bahwa dapat disimpulkan bahwa pengaruh pemberian posisi miring kanan dan miring kiri terhadap pencegahan luka dekubitus pada pasien stroke di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Deli Serdang Lubuk Pakam 2015:
4. Rerata nilai pencegahan luka dekubitus sebelum dilakukan pemberian posisi miring kanan dan miring kiri pada pasien stroke yaitu 7,54 dengan SD (2,648). .
5. Rerata nilai pencegahan luka dekubitus sebelum dilakukan pemberian posisi miring kanan dan miring kiri pada pasien stroke yaitu 5,92 dengan SD (2,963).
6. Ada pengaruh pemberian posisi miring kanan dan miring kiri terhadap pencegahan luka
dekubitus pada pasien stroke nilai p= 0,001 (α=0,05).
B. Saran
1. Bagi Pasien
Agar dapat lebih memeperhatikan kembali faktor yang dapat mencegah terjadinya luka dekubitus.
2. Bagi Rumah Sakit
Agar dapat lebih memperhatikan kemampuan perawat sehingga dapat menerapkan pelaksanaan pemberian posisi miring kiri dan kanan yang dapat mencegah terjadinya luka.
3. Bagi Perawat Rumah Sakit
Agar dapat memperhatikan perkembangan luka dan dapat menerapkan asuhan keperawatan terutama pada pasien yang mengalami luka.
4. Bagi Peneliti Selanjutnya
Agar dapat meningkatkan penelitian menegnai faktor penyebab terjadinya luka dekubitas dan cara penyembuhannya.
DAFTAR PUSTAKA
Alfon. 2008. Pengaruh Pengaruh Posisi
Lateral Inklin 300 Terhadap
Kejadian Dekubitus Pada Pasien Stroke.
http://etd.eprints.ums.ac.id/4462/1/ J210050012.pdf. Diunduh pada tanggal 21 April 2015.
Dwiyanti, S, 20012. Manajemen Penelitian. Jakarta : Rineka Cipta. Enny. 2008. Mengenal Penyakit
Hipertensi, Diabetes, Stroke dan Serangan Jantung Pencegahan dan
Pengobatan alternative.
Keenbooks.
Fitriani. 2006. Hubungan Dekubitus
dengan Stroke.
http://dinkesbanggai.wordpress.com. Diunduh pada tanggal 20 April 2015 Junaidi. 2006. Manajemen Luka. EGC,
50 Ilmu
Kanopi, Bambang. 2011. Keterampilan
Dasar Massage. Yogyakarta :
Muha Medika.
Lumbantobing, S.M. 2009. Stroke. Balai Penerbit FK UI, Jakarta.
Mukti. 2005. Pengaruh Irigasi Luka Pada Pasien dengan gangguan Mobilitas
Fisik.. http://www.medicastore.com.
Diunduh Pada Tanggal 21 April, 2015
Morison. 2009. Petunjuk Perawatan Pasien Pasca Stroke di Rumah.
Jakarta : Balai Penerbit FKUI. Notoatmodjo, Soekidjo. 2010. Metodologi
Penelitian Kesehatan. Jakarta : PT Rineka Cipta.
Nursalam. 2008. Konsep dan Penerapan
Metodologi Penelitian Ilmu
Keperawatan. Jakarta : Salemba
Medika.
Sastroasmoro, Sudigdo dan Ismael, Sofyan. 2008. Dasar-Dasar
Metodologi Penelitian Klinis.
Jakarta : Sagung Seto.
Setyajati. 2011. Pengaruh Irigasi Luka
Terhadap Luka Dekubitus.
http://www.medicastore.com. Diunduh Pada Tanggal 20 April 2015
http://www.medicastore.com. Diunduh pada tanggal 11 April 2015.
Sutanto, Hidayat. 2008. Pengaruh Irigasi Luka Pada pasien Imobilisasi.
http://etd.eprints.ums.ac.id/4462/1/ J210050012.pdf. Diunduh pada tanggal 13 April 2015.
Sutrisno, Alfred. 2007. Stroke ?You Must Know Before You Get It. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama. Suriadi. 2009. Perawatan Luka Edisi 1.
Sagung Seto, Jakarta.
Tarihoran, E. 2010. Kebutuhan Dasar
Manusia. Jakarta : Buku
Kedokteran EGC.
Vanderwee. 2010. Penyakit Pemicu
Stroke.Yogyakarta : Muha Medika.
Wahyuningsih. 2005. Pedoman Perawatan Pasien. Jakarta : Buku Kedokteran ECG.
Young, T. 2011. Awas Stroke, Pengertian, Gejala, Tindakan, Perawatan dan
51